
بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
Materi : Kitab Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Pemateri : Ustadz Hamzah Al-Fajri, S.Pd Hafizhahullah (Pengajar Ilmu Syar’i Pondok Pesantren Imam Bukhori)
Hari/ Tanggal : Sabtu, 2 Mei 2026 M / 15 Dzulqa’idah 1447 H
Tempat : Masjid Al-Ikhlas – Adi Sucipto Jajar Solo.
Kitab Shalat | Qiyamul Lail (Shalat Malam)
Shalat malam termasuk sunnah yang sangat dianjurkan. Ia termasuk ciri-ciri orang-orang yang bertaqwa.
Para ulama mendapatkan kelezatan (kenikmatan/kekhusyukan) dalam shalat malam (Tahajud) yang merupakan puncak dari ibadah yang didasari cinta, bukan sekadar kewajiban.
Merindukan Malam: Anas bin Malik sangat menyukai malam hari karena itu adalah waktu yang tenang untuk bermunajat dan shalat. Kebiasaan ini adalah contoh langsung dari ajaran Nabi Muhammad ﷺ yang menganjurkan shalat malam sebagai kebiasaan orang-orang shalih.
Allah berfirman:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍآخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (Surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” [Adz-Dzaariyaat/51: 15-19]
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya di dunia ini ada surga; siapa yang tidak memasukinya, ia tidak akan masuk surga akhirat.” (Majmu’ al-Fatawa, 10/600)
Lalu beliau menjelaskan: “Surga dunia itu adalah kedekatan dengan Allah, kecintaan kepada-Nya, dan ketenangan dalam mengingat-Nya.”
Artinya, barang siapa di dunia ini tidak mengenal dan mencintai Allah, maka di akhirat ia tidak akan mendapatkan surga yang sebenarnya.
Dari Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفًا يُرَى ظَاهِرُهَـا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنِهَا مِنْ ظَاهِرِهَا، أَعَدَّهَا اللهُ تَعَالَى لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَلاَنَ الْكَلاَمَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ.
“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar. Allah Ta’ala menyediakannya bagi orang yang suka memberi makan, melunakkan perkataan, senantiasa berpuasa, dan shalat malam pada saat manusia tidur.” [Hasan: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 2123)] ].
Amalan yang mulia adalah amalan saat orang lain lalai sangat berdasar dalam ajaran Islam. Ibadah dalam situasi fitnah, kekacauan, atau ketika banyak orang lengah (zaman harj) memiliki kedudukan yang sangat istimewa, bahkan diibaratkan seperti hijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Perbedaan Istilah Shalat di Waktu Malam
- Qiyamul lail: Menghabiskan malam, meskipun hanya satu jam; dengan shalat atau ibadah lainnya. Oleh karena itu, shalat di malam hari merupakan bagian dari qiyamul lail.
- Shalatul lail (shalat malam):
shalat di waktu malam, waktunya mulai dari ba’da isya sampai sebelum subuh. Jumlah raka’at shalat malam tidak terbatas, lebih baik dilakukan 2 rakaat-salam — 2 rakaat-salam - Shalat witir: Shalat yang dilakukan antara shalat Isya dan terbit fajar, digunakan untuk mengakhiri shalat malam. Dinamakan “witir” (ganjil) karena jumlah rakaatnya ganjil, bisa satu, tiga, atau lebih. Dan tidak diperbolehkan menjadikannya genap.
- Shalat Tarawih: Shalat malam di waktu ramadahan. Dinamakan tarawih karena ada “istirahatnya’ karena dulunya bacaan ayat rakaatnya panjang-panjang
- Shalat Tahajjud: Shalat sunah yang dilakukan di malam hari setelah tidur, Lebih utama sepertiga akhir malam.
Tata Cara Shalat Tahajjud, berdasarkan kondisi
- Tidur – Shalat – Tidur lagi – Subuh (sesuai hadits Rasulullah mencontoh Shalat Nabi Daud).
- Tidur – Shalat – Subuh
- Shalat sebelum tidur – Tidur – Subuh
- Isya – Langsung Shalat
Tata Cara Shalat Tahajjud, berdasarkan Waktu: 1/3 Malam terakhir.
Cara menghitung 1/3 malam terakhir adalah membagi total jam dari Maghrib hingga Subuh menjadi tiga bagian. Umumnya, waktu mustajab ini jatuh sekitar pukul 01.00 hingga azan Subuh. Cara cepatnya: hitung selisih jam (Maghrib-Subuh), bagi 3, lalu kurangi waktu Subuh dengan hasil tersebut.
Contoh (Maghrib 18.00 – Subuh 04.00):
- Total waktu: 10 jam (18.00 ke 04.00).
- 10 jam / 3 = 3,33 jam (sekitar 3 jam 20 menit).
- Sepertiga malam terakhir: 3 jam 20 menit sebelum jam 04.00 = sekitar 00.40 atau 01.00 WIB.
Paling baik adalah setelah tidur agar fikiran fresh dan waktunya di awal 1/3 malam terakhir.
Cara termudah gunakan kalkulator online: https://tahajjudprayer.com/third-of-the-night-calculator/
Apakah bacaanya Sir atau Jahr?
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ketika ditanya tentang masalah ini, beliau rahimahullah menjawab, “Apabila seseorang melakukan shalat nafilah sendirian di malam hari maka dia boleh memilih yang paling baik antara jahr dan sir untuk (kekhusyuan) hatinya, dengan syarat tidak mengganggu orang lain, kalau bacaannya dibaca jahr, adapun shalat sunnah di siang hari seperti shalat sunnah Dhuha, shalat sunnah rawatib, maka di syari’atkan untuk dibaca dengan sir (suara lirih)…” [Majmu’ fatawa Ibnu Baz]
Mana yang Utama dalam shalat Tahajud: Bacaan Panjang dua rakaat atau Rakaat banyak pendek bacaannya.
Rakaat Sedikit dengan Bacaan Panjang (Lebih Utama bagi Sebagian ulama) Pandangan ini didasarkan pada keutamaan memperlama berdiri (qiyam) untuk membaca dan mentadabburi Al-Quran.
Jika merujuk pada hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering melaksanakan 11 rakaat (termasuk witir) dengan bacaan yang panjang, tenang, dan tumaninah, bukan terburu-buru.
A. Semakin Dianjurkan Pada Bulan Ramadhan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan shalat malam pada bulan Ramadhan tanpa memberi perintah yang mewajibkan. Lalu beliau bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa shalat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau.”
[Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/523 no. 759 (174))], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/250 no. 2009), secara marfu’. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/245 no. 1358), Sunan at-Tirmidzi (II/151 no. 805), Sunan an-Nasa-i (IV/156)]
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Tinggalkan Balasan