بسم الله الرحمن الرحيم
📚┃Materi : “Al-Adab Al-Mufrad”
✍🏼 Karya : Imam Al-Bukhari رحمه الله تعال
🎙┃Pemateri : Ustadz Deka Mujahidin, S.Pdi حفظه الله تعالى
▪Alumnus STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya
▪Dosen aktif di MABAIS Surakarta
▪Pengajar Ilmu Syar’i Pondok Pesantren Khulafaurrosyidin Cemani
🗓┃Hari : Setiap Hari Ahad Malam Senin
🕰┃Waktu : Ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat : Masjid Al Firdaus Jaten Makamhaji, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo
بَابُ الْعِيَادَةِ جَوْفَ اللَّيْلِ
Bab 227 – Menjenguk Orang Sakit di Tengah Malam
٤٩٦ – حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ مَيْسَرَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ قَالَ: حَدَّثَنَا حُصَيْنٌ، عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ خَالِدِ بْنِ الرَّبِيعِ قَالَ:
لَمَّا ثَقُلَ حُذَيْفَةُ سَمِعَ بِذَلِكَ رَهْطُهُ وَالْأَنْصَارُ، فَأَتَوْهُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ أَوْ عِنْدَ الصُّبْحِ، قَالَ: أَيُّ سَاعَةٍ هَذِهِ؟ قُلْنَا: جَوْفُ اللَّيْلِ أَوْ عِنْدَ الصُّبْحِ، قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ صَبَاحِ النَّارِ، قَالَ: جِئْتُمْ بِمَا أُكَفَّنُ بِهِ؟ قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: لَا تُغَالُوا بِالْأَكْفَانِ، فَإِنَّهُ إِنْ يَكُنْ لِي عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ بُدِّلْتُ بِهِ خَيْرًا مِنْهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْأُخْرَى سُلِبْتُ سَلْبًا سَرِيعًا ” قَالَ ابْنُ إِدْرِيسَ: أَتَيْنَاهُ فِي بَعْضِ اللَّيْلِ. ضعيف
496. Telah mengabarkan kepada kami Imran bin Maysarah, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Fudhail, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hushain, dari Sufyan bin Salamah, dari Khalid bin Rabi’, ia berkata, “Ketika penyakitnya Hudzaifah makin parah kaumnya dan orang-orang Anshar mendengarnya lalu mereka menjenguknya tengah malam atau waktu Shubuh. Ia bertanya, “Sekarang waktu apa? (Jam berapa sekarang?)” Kami menjawab, “Tengah malam atau waktu shubuh.” Ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari paginya api neraka.” Ia berkata lagi, ”Apakah kalian datang membawa kain kafan?” Kami menjawab, Ya.” Ia berkata lagi, “Jangan berlebihan kafannya, jika aku memiliki kebaikan di sisi Allah akan aku ganti dengan yang lebih baik dari itu, dan jika yang ada adalah keburukan maka akan diambil secepatnya.” Ibnu Idris berkata, “Kami menjenguknya pada sebagian malam.”
Dha’if. Khalid bin ar-Rabi’ seorang yang majhul. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (34803), Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya (1/282) dan al-Khathib dalam kitab Tarikh Baghdad (1/169).
💡 Kandungan Hadits:
1. Seorang muslim hendaknya menjenguk saudaranya apabila diketahui bahwa saudaranya itu sakit. Sebagaimana hadits Nabi ﷺ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” – (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]
Dalam hadits Nabi ﷺ menggunakan kata iyadah فَعُدْهُ yang maknanya mengunjungi secara berulang-ulang, bukan hanya sekali kunjungan saja. Karena besarnya pahala dan tujuan besuk si sakit yang sangat bermanfaat.
2. Dianjurkan (disunnahkan) agar memilih waktu berkunjung yang cocok agar saudaranya yang sedang sakit tidak merasa terganggu.
3. Larangan menggunakan kain kafan yang mahal untuk jenazah.
*****
٤٩٧ – حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ: حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ جُبَيْرِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا اشْتَكَى الْمُؤْمِنُ أَخْلَصَهُ اللَّهُ كَمَا يُخَلِّصُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ». صحيح
497. Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Mundzir, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Isa bin Mughirah, dari Ibnu Abi Dzib, dari Jubair bin Abi Shalih, dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Apabila seorang mukmin sakit maka Allah menghapus dosa-dosanya seperti ubupan (alat peniup api) membersihkan karat besi.”
📃 Penjelasan Kata:
- Makna الْكِيرُ : Alat yang terbuat dari kulit atau sejenisnya, yang digunakan untuk meniup api pembakaran.
- Makna خَبَثَ الْحَدِيدِ: Karat dan kotoran yang menempel pada besi atau emas yang bisa dirontokkan dengan api.
💡 Kandungan Hadits:
Semakin berat suatu penyakit, maka pahalanya pun semakin besar dan dosa-dosa orang yang sakit akan dihapuskan. Itulah keadaan orang mukmin. Dalam keadaan apa pun adalah baik baginya. Jika ia sehat, maka ia bersyukur kepada Allah sehingga ia mendapat pahala. Dan jika ia sakit, maka ia bersabar sehingga ia pun mendapat pahala. Hal ini sejalan dengan hadits dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)
*****
٤٩٨ – حَدَّثَنَا بِشْرٌ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ: أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي عُرْوَةُ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ – وَجَعٍ أَوْ مَرَضٍ – إِلَّا كَانَ كَفَّارَةَ ذُنُوبِهِ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، أَوِ النَّكْبَةُ» صحيح
498. Telah mengabarkan kepada kami Bisyr, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abdullah, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Yunus, dari Az-Zuhri, ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Urwah, dari Aisyah, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah sakit kecuali itu menjadi penghapus dosa-dosanya walaupun (musibah itu hanya) duri yang menusuknya”.
📃 Penjelasan Kata:
- Makna النَّكْبَةُ : Segala macam bencana yang menimpa manusia.
🏷 Kandungan Hadits:
- Setiap apa yang menimpa seorang muslim adalah penebus dosa dan maksiat hingga tusukan duri sekalipun.
- Kabar gembira bagi kaum muslimin berupa pengangkatan derajat, penghapusan dosa dan bertambahnya pahala dengan adanya bebagai penyakit musibah, dan kesulitan dunia.
*****
٤٩٩ – حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا الْجُعَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدٍ، أَنَّ أَبَاهَا قَالَ: اشْتَكَيْتُ بِمَكَّةَ شَكْوَى شَدِيدَةً، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَتْرُكُ مَالًا، وَإِنِّي لَمْ أَتْرُكْ إِلَّا ابْنَةً وَاحِدَةً، أَفَأُوصِي بِثُلُثَيْ مَالِي، وَأَتْرُكُ الثُّلُثَ؟ قَالَ: «لَا» ، قَالَ: أُوصِي النِّصْفَ، وَأَتْرُكُ لَهَا النِّصْفَ؟ قَالَ: «لَا» ، قَالَ: فَأَوْصِي بِالثُّلُثِ، وَأَتْرُكُ لَهَا الثُّلُثَيْنِ؟ قَالَ: «الثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ» ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى جَبْهَتِي، ثُمَّ مَسَحَ وَجْهِي وَبَطْنِي، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، وَأَتِمَّ لَهُ هِجْرَتَهُ» ، فَمَا زِلْتُ أَجِدُ بَرْدَ يَدِهِ عَلَى كَبِدِي فِيمَا يَخَالُ إِلَيَّ حَتَّى السَّاعَةِ. صحيح
499. Dari “Aisyah binti Sa’d, bahwa ayahnya berkata, “Aku pernak mengeluh sakit keras di Makkah. Kemudian Nabi ﷺ mengunjungiku, lalu kutanyakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku meninggalkan harta, dan aku hanya meninggalkan seorang anak perempuan, bolehkah aku membuat wasiat dengan dua pertiga hartaku dan aku sisakan sepertiganya?’ Beliau menjawab, ‘Tidak‘. Lalu kutanyakan, “Kalau aku membuat wasiat dengan setengah dan aku sisakan untuknya setengah?’ Beliau menjawab,’ Tidak‘, Lalu kutanyakan, “Kalau aku membuat wasiat dengan sepertiga dan aku sisakan dua pertiga?” Beliau menjawab, “Sepertiga, dan sepertiga itu banyak.’ Beliau lalu meletakkan tangannya di dahiku lalu mengusap wajah dan perutku sambil berdo’a, Ya Allah, berilah Sa’d kesembuhan dan sempurnakanlah hijrahnya. ‘Maka aku masih terus merasakan kesejukan tangan beliau di hatiku atas apa yang digambarkan kepadaku hingga saat ini.”
– HR. Al-Bukhari, kitab al-Mardha, bab Wadh’ul Yadi ‘alal Maridh (5659) dan akan datang pada hadits no. (520).
📃 Penjelasan Kata:
- Kata فِيمَا يَخَالُ : Selalu terbayang-bayang.
- Kata بَرْدَ يَدِهِ : Yang dimaksud adalah terasa sejuk pada anggota badan atau telapak tangannya atau usapan tangannya.
🏷 Kandungan Hadits:
- Menjenguk orang sakit adalah suatu hak seorang muslim atas muslim lainnya.
- Dianjurkan mengusap orang yang sakit, karena itu dapat memberikan pengaruh dan ketenangan.
- Hikmah pembatasan harta yang diwasiatkan sebesar sepertiganya adalah apabila seseorang bershadaqah dengan sepertiga hartanya, maka berarti dia masih menyisakan dua pertiga hartanya untuk anak snaknya sehingga mereka tidak dikhawatirkan menjadi miskin. Lain halnya ketika ia bershadaqah dengan dua pertiga hartanya kemudian ternyata umurnya masih panjang, maka harta yang tersisa pun akan berkurang yang pada akhirnya habis. Ini berarti bahwa wasiat (shadaqah) tersebut telah merebut hak para ahli waris. Maka Rasulullah ﷺ menempatkan masalah ini pada posisi pertengahan, yaitu sepertiga.
- Hadits ini menganjurkan agar menyambung silaturrahim dan berbuat baik kepada kerabat serta belas kasih terhadap para ahli waris.
- Hadits ini menganjurkan agar benar-benar memperhatikan keadilan dalam membagi harta antara kepentingan ahli waris dan wasiat.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Tinggalkan Balasan