بسم الله الرحمن الرحيم
📚┃Materi : “Al-Adab Al-Mufrad”
✍🏼Karya : Imam Al-Bukhari رحمه الله تعال
🎙┃Pemateri : Ustadz Deka Mujahidin, S.Pdi حفظه الله تعالى
▪ Alumnus STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya
▪ Dosen aktif di MABAIS Surakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar’i Pondok Pesantren Khulafaurrosyidin Cemani
🗓┃Hari : Setiap Hari Ahad Malam Senin
🕰┃Waktu : Ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat : Masjid Al Firdaus Jaten Makamhaji, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo
بَابُ كَفَّارَةِ الْمَرِيضِ
Bab 226: Kafarah Orang Sakit
٤٩١. حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ: حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمٍ، عَنْ مُحَمَّدٍ الزُّبَيْدِيِّ قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَامِرٍ، أَنَّ غُطَيْفَ بْنَ الْحَارِثِ أَخْبَرَهُ، أَنَّ رَجُلًا أَتَى أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ، وَهُوَ وَجِعٌ، فَقَالَ: كَيْفَ أَمْسَى أَجْرُ الْأَمِيرِ؟ فَقَالَ: هَلْ تَدْرُونَ فِيمَا تُؤْجَرُونَ بِهِ؟ فَقَالَ: بِمَا يُصِيبُنَا فِيمَا نَكْرَهُ، فَقَالَ: إِنَّمَا تُؤْجَرُونَ بِمَا أَنْفَقْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَاسْتُنْفِقَ لَكُمْ، ثُمَّ عَدَّ أَدَاةَ الرَّحْلِ كُلَّهَا حَتَّى بَلَغَ عِذَارَ الْبِرْذَوْنِ، وَلَكِنَّ هَذَا الْوَصَبَ الَّذِي يُصِيبُكُمْ فِي أَجْسَادِكُمْ يُكَفِّرُ اللَّهُ بِهِ مِنْ خَطَايَاكُمْ. ضعيف
491. Ishaq bin al-‘Ala mengabarkan kepada kami, ia berkata,’ Amr bin al-Harits mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abdullah bin Salim mengabarkan kepada kami dari Muhammad az-Zubaidi, ia berkata:
Sulaiman bin “Amir mengabarkan kepada kami bahwa Ghuthaif bin al-Harits mengabarkan, seseorang menemui Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ketika ia sakit. Ia berkata, “Bagaimana pahala pemimpin negara?” Ia berkata, “Apakah kalian tidak tahu atas perbuatan apa kalian diberi pahala?” Ia lalu berkata, “Atas sesuatu yang tidak kita sukai yang menimpa kita.” Lalu ia berkata, “Kalian diberi pahala atas apa yang kalian infakkan di jalan Allah. yang dibelanjakan untuk diri kalian di jalan Allah, kemudian ia menghitung perangkat pelana, tak terkecuali tali kendali pedati. Akan tetapi, dengan derita dan sakit ini yang menimpa tubuh kalian, Allah mengampuni dosa-dosa kalian.”
Isnadnya dha’if. Ishaq bin al-Ala’, ia adalah Ibnu Ibrahim bin al-‘Ala’, Syaikhnya penulis, dan ia seorang shaduq namun banyak keliru.
📃 Penjelasan:
Dalam hadits ini yang sakit adalah Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah Radhiyallahu’anhu, salah satu sahabat yang dijamin masuk surga. Beliau Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah seorang sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang terkenal karena kejujuran, kepemimpinan, dan keberaniannya. Ia dikenal sebagai “Kepercayaan Umat” (Amin al-Ummah) dan memegang peranan penting dalam penyebaran Islam, terutama dalam penaklukan wilayah Syam (Suriah, Palestina, Yordania, dan Libanon).
Ia dikenal karena keberaniannya dalam berbagai pertempuran, termasuk Perang Badar, Uhud, dan Khandaq.
Keutamaan musibah di dunia adalah untuk menghapuskan dosa-dosa dan menaikkan derajat di akhirat. Dan para Nabi adalah yang musibahnya paling berat. Bahkan:
“Kelak pada hari Kiamat orang-orang yang tidak ditimpa musibah (saat di dunia –pent) ketika orang-orang yang (sewaktu di dunia) ditimpa musibah diberi pahala, akan menginginkan kalaulah dulu kulit mereka dipotong dengan gunting di dunia.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2326 dengan sanad yang hasan)
Bahkan para sahabat kalau tidak diberi sakit akan, bingung darimana dosa-dosanya akan dihapuskan. Subhanallah!
Dan hak muslim atas muslim lainnya ada enam:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]
Dalam hadits ini Rasulullah ﷺ menggunakan kata فَعُدْهُ maknanya menjenguk berulang kali, bukan hanya sekali.
📃 Kosa Kata:
- Makna اسْتُنْفِقَ لَكُمْ: Diinfakkan untuk kalian dalam jihad.
- Makna الرَّحْلِ : Pelana
- Makna العِذَارَ : tali kekang
- Makna الْبِرْذَوْنِ : Hewan Tunggangan
- Makna الْوَصَبَ : Rasa capek, lemah, dan sakit yang dirasakan badan.
📃 Kadungan Hadits:
- Anjuran agar menjenguk orang sakit dan mengunjungi saudara seagama.
- Sakit adalah penghapus dosa dan sebab mendapatkan ampunan dosa.
- Banyak hadits shahih yang jelas sekali menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala ketika mengalami musibah. Namun barangkali hadits-hadits tersebut belum terdengar oleh Abu ‘Ubaidah sehingga ia menyangka bahwa pahala tersebut tidak diperoleh kecuali jika disertai dengan kesabaran dalam musibah.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
٤٩٢ – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَّاهَمٍّ، وَلَا حَزَنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ» صحيح
492. ‘Abdullah bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata, ‘Abdul Malik bin ‘Amr mengabarkan kepada kami, ia berkata: Zuhair bin Muhammad mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin ‘Amr bin Halhalah, dari ‘Atha’ bin Yasar:
Dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
ما يَصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمْ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَم حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشأَكُهَا إِلَّا كَفَّرَ الله بها مِنْ خطاياه.
“Tidaklah seorang muslim mengalami kelelahan dan rasa sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, duka, hingga sekalipun hanya duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus dengan itu dosa-dosanya”.
📖 HR. Al-Bukhari, kitab al-Mardha, bab Ma Ja’a fi Kaffaratil Maradh (5641-5642) dan Muslim, kitab al-Birr wash Shilah, bab Tsawabul Mukmin fi Ma Yushibuhu (52).
Penjelasan Kata:
- Kata النّصب : Kelelahan.
- Kata الوصب: Capek, lemah, rasa sakit, atau penyakit yang tak kunjung sembuh (Terus menerus).
- Kata ّالهم: Al-hamm muncul dari fikiran, memikirkan sesuatu yang diduga akan menyakitkannya.
- Kata الغمّ: Rasa berat yang muncul dalam hati setelah melihat sesuatu kejadian dan kesedihan karena kehilangan sesuatu yang ia sukai.
📃 Penjelasan:
Hadits ini menunjukkan luasnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba hamba-Nya yang beriman dengan menjadikan ujian dan musibah itu sebagai penebus dosa dan penambah pahala.
Surga hanya untuk orang-orang yang suci, maka salah satu bentuk penghapusan dosa adalah dengan ditimpakan musibah dan kesulitan dunia.
Sabar adalah menahan diri dalam tiga perkara : (1) ketaatan kepada Allah, (2) hal-hal yang diharamkan, (3) takdir Allah yang dirasa pahit (musibah). Inilah tiga bentuk sabar yang biasa yang dipaparkan oleh para ulama.
Dan musibah yang terjadi sebenarnya karena kesalahan kita sendiri.
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)
Oleh karena itu, kita harus ridha atas segala musibah yang menimpa kita, karena itulah yang Allah ﷻ berikan kepada kita, dan apapun yang Allâh takdirkan, hakekatnya adalah kebaikan bagi kita, Berikut kisah yang bisa dijadikan bahan renungan:
Dahulu kala ada seorang raja yang suka berburu. Raja ini memiliki seorang penasihat yang dekat dengannya. Setiap berburu si penasihat ini selalu menyertainya. Suatu hari ketika berburu, jari kelingking raja terluka sehingga putus karena terkena pedangnya sendiri.
Si Raja bertanya kepada penasihatnya, “Apa makna dari kejadian ini?” Kemudian si penasihat mengatakan bahwa walau bagaimanapun buruknya kejadian ini, Raja harus tetap bersyukur, masih beruntung hanya jari kelingking saja yang putus.
Mendengar ucapan si penasihat, Raja menjadi marah karena Raja mengartikan si penasihat seakan senang raja mendapatkan musibah.
Saking murkanya, Raja memenjarakan penasihatnya tersebut seumur hidup dan mencari penasihat yang lainnya.
Seiring dengan perjalanan waktu, Raja dan penasihat barunya, tetap menjalankan hobinya berburu.
Pada suatu hari, karena keasyikan berburu Raja dan penasihat ini terpisah dari pasukan pengawal.
Raja tersesat sampai ke tengah hutan belantara, yang belum pernah dia lalui sebelumnya. Tiba-tiba Raja dikepung oleh sekelompok orang yang merupakan suku primitif pemangsa manusia.
Ketika akan memangsa Raja dan penasihatnya, mereka memeriksa seluruh tubuhnya karena mereka hanya memangsa manusia yang lengkap anggota tubuhnya.
Ketika mendapati Si Raja yang jari kelingkingnya tidak ada, akhirnya dia melepaskannya. Namun, mereka tetap menjadikan penasihat Raja sebagai mangsa karena seluruh tubuhnya utuh, tidak ada yang cacat.
Setelah dilepaskan, Raja berusaha mencari jalan keluar dari hutan. Akhirnya dia berhasil dan kembali ke istananya.
Sesampai di istana, si Raja merenungkan kejadian ini.
Di sinilah dia teringat akan nasihat penasihatnya terdahulu, yang mengatakan apapun kejadiannya patut disyukuri. Dia merasa menyesal telah memenjarakan penasihatnya, karena tidak mampu melihat apa makna dari rasa syukur yang disampaikan penasihatnya.
Segera Raja memerintahkan untuk membebaskan penasihatnya, kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya.
Bahkan, Raja meminta maaf kepadanya lalu mengangkatnya lagi sebagai penasihat dan memberinya hadiah sebagai kompensasi hukuman yang diterimanya selama ini.
“Saya telah memaafkan baginda, bahkan saya merasa bersyukur telah dipenjara. Kalau tidak, mungkin saya yang akan dijadikan mangsa oleh suku yang telah memangsa penasihat Raja, pengganti saya,” tutur sang penasihat.
Firman Allah:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
🏷 Kandungan Hadits:
- Setiap apa yang menimpa seorang muslim adalah penebus dosa dan maksiat hingga tusukan duri sekalipun.
- Kabar gembira bagi kaum muslimin berupa pengangkatan derajat, penghapusan dosa dan bertambahnya pahala dengan adanya bebagai penyakit musibah, dan kesulitan dunia.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
٤٩٣ – حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كُنْتُ مَعَ سَلْمَانَ، وَعَادَ مَرِيضًا فِي كِنْدَةَ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ: أَبْشِرْ، فَإِنَّ مَرَضَ الْمُؤْمِنِ يَجْعَلُهُ اللَّهُ لَهُ كَفَّارَةً وَمُسْتَعْتَبًا، وَإِنَّ مَرَضَ الْفَاجِرِ كَالْبَعِيرِ عَقَلَهُ أَهْلُهُ ثُمَّ أَرْسَلُوهُ، فَلَا يَدْرِي لِمَ عُقِلَ وَلِمَ أُرْسِلَ ” صحيح
493. Musa mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu “Awanaf mengabarkan kepada kami dari Abdul Malik bin Umar, Dari “Abdurrahman bin Sa’id, dari ayahnya, ia berkata, “Aku pernah bersama Salman, ia menjenguk orang sakit di Kindah. Ketika menemuinya, ia berkata, “Bergembiralah, karena sakitnya orang mukmin, Allah menjadikannya sebagai kaffarah dan pelajaran baginya, sedangkan sakitnya orang jahat adalah sepeti unta yang diikat oleh pemiliknya lalu mereka melepasnya, la tidak tahu mengapa diikat dan mengapa dilepas.”
Shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (10813) dan al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman (9914).
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
٤٩٤ – حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَدِيُّ بْنُ عَدِيٍّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ، فِي جَسَدِهِ وَأَهْلِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ» صحيح
494. Telah mengabarkan kepada kami Musa, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hammad, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Adi bin Adi, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Musibah yang menimpa orang mukmin laki-laki dan perempuan di badannya, keluarganya, dan hartanya, hingga ia akhirnya menghadap Allah dan tidak ada lagi dosa baginya.”
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ طَلْحَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو مِثْلَهُ، وَزَادَ: «فِي وَلَدِهِ» صحيح
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ubaid, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Umar bin Thalhah, dari Muhammad bin Amr, ia meriwayatkan hadits seperti yang tersebut di atas, tetapi ada penambahan kalimat, “pada anaknya.”
📃 Penjelasan:
Setiap musibah adalah ujian bagi hamba-hambaNya. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-‘Ankabut Ayat 2:
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).
Posisi anak dan istri dalam sebuah keluarga bisa menjadi satu diantara 4 hal:
1. Musuh
Sebagaimana dinyatakan di dalam firman Allâh, “Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka;” (QS at-Taghâbûn: 14)
2. Fitnah atau ujian.
Sebagaimana dinyatakan di dalam firman Allâh: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS At-Taghâbûn:15)
3. Perhiasan
Sebagaimana dinyatakan di dalam firman Allâh: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)
4. Qurratu A’yun (Penyejuk Mata).
Allâh menyifatkan orang-orang yang beriman yang berdoa, Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Furqon: 74)
📃 Kandungan Hadits:
Musibah yang menimpa seorang mukmin yang benar-benar beriman adalah penyebab dihapuskannya kesalahan-kesalahannya dan merupakan faktor yang sangat kuat untuk memperoleh pahala dan ampunan dari Allah Ta’ala.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Tinggalkan Balasan