Adabul Mufrad | Bab 226: Kafarah Orang Sakit | Hadits ke-494 ~ 495

بسم الله الرحمن الرحيم

📚┃Materi : “Al-Adab Al-Mufrad”
✍🏼Karya : Imam Al-Bukhari رحمه الله تعال
🎙┃Pemateri : Ustadz Deka Mujahidin, S.Pdi حفظه الله تعالى
▪ Alumnus STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya
▪ Dosen aktif di MABAIS Surakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar’i Pondok Pesantren Khulafaurrosyidin Cemani
🗓┃Hari : Setiap Hari Ahad Malam Senin
🕰┃Waktu : Ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat : Masjid Al Firdaus Jaten Makamhaji, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo



بَابُ كَفَّارَةِ الْمَرِيضِ

Bab 226: Kafarah Orang Sakit

Hadits ke-494: Musibah sebagai Penghapus Dosa

٤٩٤ – حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَدِيُّ بْنُ عَدِيٍّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ، فِي جَسَدِهِ وَأَهْلِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ». صحيح

494. Telah mengabarkan kepada kami Musa, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hammad, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Adi bin Adi, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Musibah yang menimpa orang mukmin laki-laki dan perempuan di badannya, keluarganya, dan hartanya, hingga ia akhirnya menghadap Allah dan tidak ada lagi dosa baginya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ طَلْحَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو مِثْلَهُ، وَزَادَ: «فِي وَلَدِهِ». صحيح

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ubaid, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Umar bin Thalhah, dari Muhammad bin Amr, ia meriwayatkan hadits seperti yang tersebut di atas, tetapi ada penambahan kalimat, “pada anaknya.”

📃 Penjelasan:

Setiap musibah adalah ujian bagi hamba-hambaNya. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-‘Ankabut Ayat 2:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Bahkan Rasulullah ﷺ diuji dengan banyak ujian dan kematian, seperti kematian Khadijah Radhiyallahu’anha.

Kisah Ibu yang Membakar Uang Anaknya

Di kota Riyadh, Saudi Arabia, ada seorang janda yang memiliki dua anak laki-laki yang bekerja sebagai sopir taksi. Dua pemuda tersebut sangat berbakti kepada ibunya. Mereka menabung untuk membayar kontrak apartemen yang harga sewa pertahunnya mencapai 24 ribu real atau sekitar 80 juta rupiah (th 2019).

Keduanya dengan susah payah menabung, sampai terkumpul uang sebesar sepuluh ribu real (sekitar tiga puluh delapan juta rupiah). Uang tersebut mereka ikat dengan karet, lalu mereka masukkan kedalam plastik, setelah itu direkatkan dengan lakban hingga benar-benar rapat dan tertutup, kemudian bungkusan uang tersebut disimpan di bawah bantal kamar mereka berdua.

Ketika keduanya pergi bekerja, si Ibu merapikan kamar anaknya. Tanpa sengaja beliau menemukan bungkusan tadi di bawah bantal. Ia terkejut, wajahnya langsung memerah dan alisnya mengerut.

“Baru beberapa hari lalu aku marah kepada mereka karena ketahuan main kartu di kamar! Hmm… Ini dia benda yang sudah membuat anak-anakku lalai!” Gumamnya. Dengan kesal ia menggenggam erat bungkusan yang disangka kartu domino.

Meskipun tanpa uang dan bukan judi, tapi bermain kartu itu melalaikan waktu dan termasuk permainan yang kurang terpuji. Masih banyak permainan lain yang lebih baik.

Ketika anak yang bungsu pulang ke rumah, langsung saja Ibunya menumpahkan amarahnya karena merasa perintahnya telah diacuhkan. Pemuda ini termenung, ia merasa tidak bersalah karena ia sudah meninggalkan kebiasaan main kartu. Ia menunduk diam tidak membantah saat dimarahi ibunya karena ia sangat memuliakan dan menghormati Ibunya.

Si anak rupanya menyadari bahwa hak orang tua adalah sesuatu yang agung setelah hak Allah untuk diibadahi semata dan tidak dipersekutukan dengan apapun.

Setelah Ibu selesai memarahinya, lalu si bungsu bertanya, “Ibu menemukan kartu dimana?”

“Dibawah bantal!” jawab Ibunya dengan mantap.
“Dimana sekarang kartu tersebut?” tanya anaknya.

“SUDAH IBU BAKAR!”

Si bungsu menundukkan kepalanya, dengan suara perlahan ia meminta maaf kepada Ibunya dan berjanji tidak akan bermain kartu lagi. Amarah Ibu pun mereda lalu beliau melanjutkan kesibukan lainnya di rumah.

Ketika anak pertama pulang ke rumah, si adik langsung menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya bersama ibunya.

Kakaknya bertanya, “Apakah kau ceritakan bahwa yang dibakar oleh Ibu adalah uang?!”
Si adik menjawab, “Tidak! Saya hanya meminta maaf dan berjanji untuk tidak main kartu lagi.”
“Bagus! Jangan kau ceritakan hal itu agar Ibu tidak bersedih yang akan mengganggu pikirannya.”

Allah Akbar! Betapa halusnya perasaan kedua anak itu. Meskipun terlihat jelas bahwa Ibu yang bersalah tapi kedua anaknya tidak ingin mengeruhkan perasaannya, tidak ingin membuat Ibunya kepikiran dan sedih serta menyesali ketergesaannya dalam memvonis.

📃 Kandungan Hadits:

Musibah yang menimpa seorang mukmin yang benar-benar beriman adalah penyebab dihapuskannya kesalahan-kesalahannya dan merupakan faktor yang sangat kuat untuk memperoleh pahala dan ampunan dari Allah Ta’ala.

*****

Hadits ke-495: Sakit Berbuah Pahala

٤٩٥ – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ أَخَذَتْكَ أُمُّ مِلْدَمٍ؟» قَالَ: وَمَا أُمُّ مِلْدَمٍ؟ قَالَ: «حَرٌّ بَيْنَ الْجِلْدِ وَاللَّحْمِ» ، قَالَ: لَا، قَالَ: «فَهَلْ صُدِعْتَ؟» قَالَ: وَمَا الصُّدَاعُ؟ قَالَ: «رِيحٌ تَعْتَرِضُ فِي الرَّأْسِ، تَضْرِبُ الْعُرُوقَ» ، قَالَ: لَا، قَالَ: فَلَمَّا قَامَ قَالَ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ» أَيْ: فَلْيَنْظُرْهُ. حسن صحيح

495. Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Yunus, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Seorang Arab badui datang, lalu Nabi ﷺ bersabda, “Apakah engkau mengalami demam Ummu Mildam?’ Orang Arab badui itu bertanya, “Apa itu Ummu Mildam? Beliau menjawab, Panas antara kulit dan daging. ‘ Ia berkata, “Tidak.’ Beliau lalu bertanya, “Apakah engkau pusing?” Ia lalu bertanya, “Apa itu pusing?‘ Beliau menjawab, “Angin yang muncul di kepala lalu menyerang urat-urat.’ Ia menjawab, “Tidak. Ketika orang itu bangkit, beliau bersabda, “Barangsiapa yang ingin melihat salah seorang penghuni neraka.” Maksud beliau, “Lihatlah orang itu.”

Shahih lighairihi. Ini adalah isnad yang hasan. Muhammad bin Amr bin Alqamah rawi yang shaduq dan memiliki banyak kekeliruan. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/332) dan al-Hakim (1/ 347). Lihat kitab at-Ta’liqatul Hisan (2905).

📃 Kandungan Hadits:

  1. Seorang mukmin yang mengalami sakit atau tertimpa bencana akan mendapat pahala jika ia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah.
  2. Seorang mukmin adakalanya sakit dan adakalanya sehat. Maka menurut hadits ini, orang yang tidak pernah sakit berarti ia berada dalam ancaman besar.
  • Dalam hadits di atas, Nabi ﷺ memvonis penghuni neraka: beliau bersabda, “Barangsiapa yang ingin melihat salah seorang penghuni neraka.” Maksud beliau, “Lihatlah orang itu.” karena dia adalah orang kafir.
  • Kesembuhan bisa dilakukan dengan dua sebab:

1. Sebab kauni: berobat, makan yang bergizi dan beristirahat.
2. Sebab syar’i : dengan berdo’a atau ruqyah.

  • Kadar sakit yang membolehkan shalat di rumah: jika bisa memudharatkan diri sendiri dan orang lain.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *