بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
📚┃ Materi : Kitab Adabul Mufrad
🎙┃ Pemateri : Ustadz Deka Mujahidin, S.P.di Hafizhahullah (Pengajar Mabais Jajar Solo)
🗓┃ Hari / Tanggal : Ahad, 28 September 2025 M / 6 Rabi’ul Akhir 1447H
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Firdaus Makamhaji
٢٣٤. بَابُ عِيَادَةِ الْمَرْضَى
Bab 234: Mengunjungi Orang-orang Sakit
Hadits ke-516: Larangan Mencela Penyakit dan Keutamaannya.
٥١٦ – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَ: حَدَّثَنَا شَبَابَةُ قَالَ: حَدَّثَنِي الْمُغِيرَةُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ، وَهِيَ تُزَفْزِفُ، فَقَالَ: «مَا لَكِ؟» قَالَتِ: الْحُمَّى أَخْزَاهَا اللَّهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْ، لَا تَسُبِّيهَا، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا الْمُؤْمِنِ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ». صحيح
516. Ahmad bin Ayyub mengabarkan kepada kami, ia berkata: Syababah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mughirah bin Muslim mengabarkan kepadaku dari Abi Zubair;
Dari Jabir Radhiyallahu’anhu ia berkata, “Nabi ﷺ mengunjungi Ummu Sa’ib saat ia sedang menggigil kedinginan. Beliau lalu bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu?’ la menjawab, ‘Demam, semoga Allah menghinakannya.’ Beliau lalu bersabda, ‘Tahanlah, jangan engkau mencacinya, karena demam menghilangkan dosa- dosa orang mukmin sebagaimana alat peniup besi menghilangkan karat besi’.
📖 HR. Muslim kitab Al-Birr wash Shilah, Bab Tsawabul mukmin fii maa yushiibuhu (53).
Kosa Kata:
- Makna تُزَفْزِفُ, ترتعدٌ: menggigil (gemetar) pandai oleh digunalkan yang api)
- Makna الْكِيرُ: Zaq, (ubupan, alat untuk meniup api yang digunakan oleh pandai besi.
- Makna مَهْ : Tahanlah (berhentilah).
🏷 Fiqhul Hadits:
Seseorang hendaknya tidak mengeluh, mencaci, dan tidak memaki penyakit ketika menjangkiti dirinya, karena penyakit tersebut menjadi penyebab yang menghapus dosa-dosa orang mukmin dan membersihkannya dari berbagai kesalahan.
*****
Hadits ke-517: Keutamaan Membantu Orang yang Kesusahan
٥١٧ – حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ قَالَ: أَخْبَرَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” يَقُولُ اللَّهُ: اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمَنِي، قَالَ: فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، وَكَيْفَ اسْتَطْعَمْتَنِي وَلَمْ أُطْعِمْكَ، وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا اسْتَطْعَمَكَ فَلَمْ تُطْعِمْهُ؟ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ كُنْتَ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي؟ ابْنَ آدَمَ، اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي، فَقَالَ: يَا رَبِّ، وَكَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ فَيَقُولُ: إِنَّ عَبْدِي فُلَانًا اسْتَسْقَاكَ فَلَمْ تَسْقِهِ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ كُنْتَ سَقَيْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي؟ يَا ابْنَ آدَمَ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي، قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أَعُودُكَ، وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ، فَلَوْ كُنْتَ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي؟ أَوْ وَجَدْتَنِي عِنْدَهُ؟ “. صحيح
517. Ishaq mengabarkan kepada kami, ia berkata: An-Nadhr bin Syumail mengabarkan kepada kami, ia berkata; Hammad bin Salamah mengabarkan kepada kami dari Tsabit Al-Bananiy, dari Abu Rafi’:
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku meminta makan kepadamu tetapi engkau tidak memberi-Ku makan.’ la (seorang hamba) bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana Engkau memintaku memberi-Mu makan dan Engkau tidak aku beri makan padahal Engkau adalah Rabb alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku Fulan merninta makan kepadamu lalu engkau tidak memberinya? Tidakkah engkau tahu kalau sekiranya engkau memberinya makan engkau akan mendapatkan itu di sisi-Ku?’ (Allah lalu berfirman) ‘Wahal anak Adam, Aku meminta minum kepadamu tetapi engkau tidak memberiku minum.’ Hamba itu bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana aku memberi-Mu minum padahal engkau adalah Rabb alam semesta?’ Allah lalu menjawab, ‘Sesungguhnya hamba-Ku Fulan meminta minum kepadamu tetapi engkau tidak memberinya minum. Tidakkah engkau tahu kalau sekiranya engkau memberinya minum engkau akan mendapatkan itu di sisi-Ku? Wahai anak Adam, sesungguhnya Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku.’ Hamba itu berkata, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana aku menjenguk-Mu padahal Engkau adalah Rabb alam semesta?’ Allah berfirman, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku Fulan sakit? Kalau sekiranya engkau menjenguknya, engkau akan mendapatkan itu di sisi-Ku atau engkau mendapati-Ku padanya”.
📖 Diriwayatkan Muslim: Kitab Al-Birr wash Shilah. Bab Fadhli ‘iyaadatil mariidh (43).
🏷 Fiqhul Hadits:
Membantu orang yang sedang mengalami kesusahan dan membebaskan seseorang dari penderitaan adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah dan menjadi penyebab Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada hamba-Nya pada hari kiamat kelak.
*****
Hadits ke-518: Anjuran Menjenguk Orang Sakit dan Mengantarkan Jenazah
٥١٨ – حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبَانُ بْنُ يَزِيدَ قَالَ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو عِيسَى الْأُسْوَارِيُّ،
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «عُودُوا الْمَرِيضَ، وَاتَّبَعُوا الْجَنَائِزَ، تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ». صحيح
518. Musa bin “Isma’il mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aban bin Yazid mengabarkan kepada kami, ia berkata: Qatadah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu ‘Isa Al-Aswariy mengabarkan kepada kami:
Dari Abu Said, dari Nabi ﷺ beliau bersabda, “Jenguklah orang yang sakit dan antarkanlah jenazah, niscaya itu akan mengingatkan kalian pada akhirat.”
📖 Isnadnya hasan. Perwayatnya semua adalah tsiqaat, mereka periwayat di Shahih Al- Bukhari dan Shahih Muslim, kecuali Abu Isa Al-Aswaariy, Imam Muslim meriwayatkan sebagai penguat baginya, ia dianggap tsiqah oleh Ath-Thabarani dan Ibnu Hiban, dan sejumlah periwayat haditspun meriwayatkan hadits darinya. (Ash-Shahihah 1981). Diriwayatkan Ahmad (3/23, Ibnu Abi Syaibah (10841) dan (2955).
Dalam hadits Rasulullah ﷺ menggunakan عُودُوا bukan زيادة karena kunjungannya bolak balik sampai sembuh, bukan hanya sekali kunjungan. Inilah pentingnya berteman dengan kawan-kawan yang shalih.
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ
Dari Abu Sa’id dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 4832; Tirmidzi, no. 2395; Ahmad, 3:38; Ibnu Hibban dalam Sahih-nya, no. 554, 555, dan 560; dinilai hasan oleh Syekh Salim bin ‘Id Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhush Shalihin, 1:433, no. 366.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن القبر أول منازل الآخرة فإن نجا منه فما بعده أيسر منه وإن لم ينج منه فما بعده أشد منه
“Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari (siksaan)nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “Hasan gharib”. Syaikh al-Albani menghasankannya dalam Misykah al-Mashabih)
🏷 Fiqhul Hadits:
- Menjenguk orang sakit adalah bagian dari hak seorang muslim atas saudaranya yang muslim karena bisa membuat hatinya gembira dan terhibur.
- Mengiringi jenazah, menshalatkan dan menguburkannya salah satu fardhu kifayah.
*****
Hadits ke-519: Tiga Hak Seorang Muslim
٥١٩ – حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” ثَلَاثٌ كُلُّهُنَّ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ: عِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَشُهُودُ الْجَنَازَةِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ إِذَا حَمِدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ “. صحيح
519. Malik bin Isma’il mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu ‘Awanah mengabarkan kepada kami dari ‘Umar bin Abi Salamah, dari ayahnya: Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ beliau bersabda: ‘Tiga hal yang semuanya merupakan hak atas setiap muslim, yaitu menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah dan menjawab orang bersin (dengan mengucapkan ‘Yarhamukallaah’) jika ia memuji Allah ﷻ.
📖 Shahih lighairihi. Dalam isnad ini terdapat Umar bin Abi Salamah, dia shaduuq tapi sering salah dan dia diperkuat hadits lain dari Abu Mas’ud. Lihat Ash-Shahihah (1800). Diriwayatkan Ahmad (2/356), Abu Ya’la (878) dan Ibnu Hibban (239).
🏷 Fiqhul Hadits:
Hadits ini adalah dalil bahwa tiga amal yang disebutkan di atas termasuk hak-hak seorang muslim atas muslim lainnya. Maksud hak di sini adalah sesuatu yang tidak seharusnya ditinggalkan. Hak ini bisa wajib atau bisa juga sunnah mu`akkadah yang mendekati wajilb dan tidak selayaknya ditinggalkan.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Tinggalkan Balasan