Bekal yang Sia-sia

Dalam perjalanan hidup menuju akhirat, setiap Muslim membutuhkan bekal berupa amal shalih yang diterima oleh Allah ﷻ. Namun, ada amalan yang tampak besar di mata manusia tetapi tidak bernilai di sisi Allah, yaitu amalan yang disertai riya. Riya adalah memperlihatkan ibadah dengan tujuan mendapatkan pujian, penghargaan, atau kedudukan di mata manusia, bukan demi mencari ridha Allah.

Allah ﷻ memperingatkan tentang bahaya riya dalam Al-Qur’an:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4-6)

Riya merusak niat dan menjadikan amal ibadah sia-sia. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, ‘Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Riya.'”
(HR. Ahmad, no. 23630)

Orang yang beramal dengan riya pada hakikatnya tidak beribadah kepada Allah, tetapi kepada manusia. Allah ﷻ memperingatkan bahwa amalan semacam ini tidak akan diterima:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka.”
(QS. Hud: 15-16)

Amalan yang disertai riya ibarat membawa bekal perjalanan yang kosong. Meski tampak penuh, di dalamnya tidak ada manfaat sama sekali. Seorang Muslim harus senantiasa menjaga niatnya, memastikan bahwa segala amal ibadahnya hanya untuk Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah ﷻ berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa yang melakukan suatu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain Aku dalam amalan tersebut, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.”
(HR. Muslim, no. 2985)

 

Mengapa Amalan dengan Riya Tidak Diterima?

  1. Tidak Ikhlas: Amal yang diterima Allah haruslah murni karena-Nya. Jika niatnya bercampur, amal itu batal.
  2. Merusak Tauhid: Riya adalah bentuk syirik kecil, karena menduakan Allah dalam niat ibadah.
  3. Hilangnya Pahala: Amal yang diniatkan untuk manusia tidak akan diganjar di akhirat, tetapi hanya mendapatkan balasan di dunia berupa pujian sementara.

Tips agar Terhindar dari Riya

  1. Periksa Niat Sebelum Beramal: Pastikan tujuan kita hanya mencari ridha Allah.
  2. Perbanyak Amal Rahasia: Lakukan kebaikan tanpa diketahui orang lain.
  3. Banyak Berdoa: Mohonlah kepada Allah agar menjaga hati dari riya. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.”
    (HR. Ahmad, no. 26691)

Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya selalu introspeksi diri (muhasabah) dan memperbaiki niat sebelum, selama, dan setelah beramal. Sebab hanya amal yang ikhlas karena Allah yang akan diterima sebagai bekal yang bermanfaat di akhirat.

Semoga Allah ﷻ senantiasa melindungi kita dari riya dan menjadikan amal-amal kita tulus ikhlas untuk-Nya semata. 🌿

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *