Adabul Mufrad Bab 265-266 | Hadits 582-583 | Menutupi Rahasia, Hati-hati dan Cermat dalam Segala Hal

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

📚┃ Materi : Kitab Adabul Mufrad
🎙┃ Pemateri : Ustadz Deka Mujahidin, S.P.di Hafizhahullah (Pengajar Mabais Jajar Solo)
🗓️┃ Hari, Tanggal : Ahad, 29 Maret 2026 M / 9 Syawal 1447 H
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Firdaus Makamhaji
📗 | https://shamela.ws/book/12991/864#p1

Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu istiqomah dalam mengamalkan ilmu dan amal terutama setelah Ramadhan usai. Seperti yang telah Allah Ta’ala gambarkan dalam Firman-Nya dalam Surat An-Nahl Ayat 92:

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…

Setelah kita mulai merasakan betapa manisnya keimanan. Akankah semuanya itu kembali kita uraikan satu demi satu? Akankah kita dengan kedua tangan dan kaki kita meruntuhkan tumpukan pahala yang telah tersusun rapi di lembar catatan amal kita? Hanya kitalah yang mampu membuktikan berbagai pertanyaan ini.

Perlu diketahui bahwa seburuk-buruk kaum adalah mereka yang hanya mengenal Allah pada bulan Ramadhan.

قِيْلَ لِبِشْرٍ الحَافِيِّ: أَنَّ قَوْمًا يَتَعَبَّدُوْنَ فِي رَمَضَان وَيَجْتَهِدُوْنَ فِي الأَعْمَالِ، فَإِذَا انْسَلَخَ تَرَكُوْا! قَالَ: بِئْسَ القَوْم قَوْمٌ لَا يَعْرِفُوْنَ اللَّهَ إِلَّا فِي رَمَضَانَ

Pernah dikatakan kepada Bisyr al-Hafiy, bahwasanya ada sebuah kaum yang hanya beribadah pada bulan Ramadhan dan bersungguh-sungguh dalam beramal. Ketika Ramadhan berakhir mereka pun meninggalkan amal. Maka Bisyr mengatakan: “Seburuk-buruknya kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya pada bulan Ramadhan saja.” (Miftahul Afkar: 2/283)

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

٢٦٥. بَابُ مَنْ أَحَبَّ كِتْمَانَ السِّرِّ، وَأَنْ يُجَالِسَ كُلَّ قَوْمٍ فَيَعْرِفَ أَخْلَاقَهُمْ

265. Menutupi Rahasia Dan Bergaul Dengan Semua Orang Agar Mengetahui Akhlak Mereka

Hadits ke-582: Tidak menyebarkan rahasia setelah beranjak dari majelis

Abdullah bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata, ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami, ia berkata:

أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ وَرَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ كَانَا جَالِسَيْنِ، فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْقَارِيِّ فَجَلَسَ إِلَيْهِمَا، فَقَالَ عُمَرُ: إِنَّا لَا نُحِبُّ مَنْ يَرْفَعُ حَدِيثَنَا، فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ: لَسْتُ أُجَالِسُ أُولَئِكَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، قَالَ عُمَرُ: بَلَى، فَجَالِسْ هَذَا وَهَذَا، وَلَا تَرْفَعْ حَدِيثَنَا، ثُمَّ قَالَ لِلْأَنْصَارِيِّ: مَنْ تَرَى النَّاسَ يَقُولُونَ يَكُونُ الْخَلِيفَةَ بَعْدِي؟ فَعَدَّدَ الْأَنْصَارِيُّ رِجَالًا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ، لَمْ يُسَمِّ عَلِيًّا، فَقَالَ عُمَرُ: فَمَا لَهُمْ عَنْ أَبِي الْحَسَنِ؟ فَوَاللَّهِ إِنَّهُ لَأَحْرَاهُمْ – إِنْ كَانَ عَلَيْهِمْ – أَنْ يُقِيمَهُمْ عَلَى طَرِيقَةٍ مِنَ الْحَقِّ. ضعيف

Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdirrahman bin ‘Abd Al-Qariy mengabarkan kepadaku dari ayahnya, bahwa suatu saat ‘Umar dan seorang laki-laki dari kaum Anshar pernah duduk bersama. Lalu datanglah ‘Abdurrahman bin ‘Abd Al-Qariy dan duduk bersama keduanya. ‘Umar lalu berkata, “Kami tidak suka orang yang menyiarkan pembicaraan kami.” Abdurrahman berkata, ‘Aku tidak duduk bergabung dengan orang-orang seperti itu, wahai Amirul Mukminin.” Lalu, ‘Umar berkata, “Baik, duduklah engkau bergabung bersama orang ini dan itu dan janganlah engkau menyiarkan pembicaraan kami.” Lalu ‘Umar berkata kepada orang Anshar, “Siapakah orang yang engkau ketahui yang orang-orang mengatakan akan menjadi khalifah setelahku?” Lalu orang Anshar itu menyebutkan sejumlah nama dari kaum Muhajirin, kecuali ‘Ali. ‘Umar lalu berkata, “Mengapa mereka tidak menyebutkan ‘Ali? Demi Allah, ia adalah orang yang paling pantas di antara mereka -jika ia memimpin mereka. Ia akan membawa mereka kepada jalan yang haq (benar).”

💡 Kandungan Hadits

  1. Di antara adab dalam majelis adalah tidak menyebarkan rahasia setelah beranjak dari majelis. Akan tetapi hendaknya seseorang tetap menjaga pembicaraan yang terjadi dalam majelis tersebut. Hal ini sebagai bentuk pengamalan dari sabda Rasulullah ﷺ :

المجالس بالأمانة

“Majelis-majelis adalah dengan amanah.”

Di samping itu, menyebarkan rahasia termasuk faktor paling besar akan terjadinya permusuhan dan pertengkaran.

  1. Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

٢٦٦. بَابُ التُّؤَدَةِ فِي الْأُمُورِ

266. Hati-hati dan Cermat Dalam Segala Hal

Hadits ke-583: Anjuran agar bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa

Musa bin Isma’il mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Hilal mengabarkan kepada kami, ia berkata:

٥٨٣ – حَدَّثَنَا الْحَسَنُ، أَنَّ رَجُلًا تُوُفِّيَ وَتَرَكَ ابْنًا لَهُ وَمَوْلًى لَهُ، فَأَوْصَى مَوْلَاهُ بِابْنِهِ، فَلَمْ يَأْلُوهُ حَتَّى أَدْرَكَ وَزَوَّجَهُ، فَقَالَ لَهُ: جَهَّزْنِي أَطْلُبِ الْعِلْمَ، فَجَهَّزَهُ، فَأَتَى عَالِمًا فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَنْطَلِقَ فَقُلْ لِي أُعَلِّمْكَ، فَقَالَ: حَضَرَ مِنِّي الْخُرُوجُ فَعَلِّمْنِي، فَقَالَ: اتَّقِ اللَّهَ وَاصْبِرْ، وَلَا تَسْتَعْجِلْ. قَالَ الْحَسَنُ: فِي هَذَا الْخَيْرُ كُلُّهُ – فَجَاءَ وَلَا يَكَادُ يَنْسَاهُنَّ، إِنَّمَا هُنَّ ثَلَاثٌ – فَلَمَّا جَاءَ أَهْلَهُ نَزَلَ عَنْ رَاحِلَتِهِ، فَلَمَّا نَزَلَ الدَّارَ إِذَا هُوَ بِرَجُلٍ نَائِمٍ مُتَرَاخٍ عَنِ الْمَرْأَةِ، وَإِذَا امْرَأَتُهُ نَائِمَةٌ، قَالَ: وَاللَّهِ مَا أُرِيدُ مَا أَنْتَظِرُ بِهَذَا؟ فَرَجَعَ إِلَى رَاحِلَتِهِ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَأْخُذَ السَّيْفَ قَالَ: اتَّقِ اللَّهَ وَاصْبِرْ، وَلَا تَسْتَعْجِلْ. فَرَجَعَ، فَلَمَّا قَامَ عَلَى رَأْسِهِ قَالَ: مَا أَنْتَظِرُ بِهَذَا شَيْئًا، فَرَجَعَ إِلَى رَاحِلَتِهِ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَأْخُذَ سَيْفَهُ ذَكَرَهُ، فَرَجَعَ إِلَيْهِ، فَلَمَّا قَامَ عَلَى رَأْسِهِ اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ، فَلَمَّا رَآهُ وَثَبَ إِلَيْهِ فَعَانَقَهُ وَقَبَّلَهُ، وَسَاءَلَهُ قَالَ: مَا أَصَبْتَ بَعْدِي؟ قَالَ: أَصَبْتُ وَاللَّهِ بَعْدَكَ خَيْرًا كَثِيرًا، أَصَبْتُ وَاللَّهِ بَعْدَكَ: أَنِّي مَشَيْتُ اللَّيْلَةَ بَيْنَ السَّيْفِ وَبَيْنَ رَأْسِكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ، فَحَجَزَنِي مَا أَصَبْتُ مِنَ الْعِلْمِ عَنْ قَتْلِكَ. حسن.

Ar-Hasan mengabarkan kepada kami bahwa seorang laki-laki wafat dengan meninggalkan seorang putra dan seorang laki-laki bekas budak yang sudah dimerdekakan. Ia mewasiatkan kepada bekas budaknya itu agar mengurus putranya. Maka, ia pun tidak mengabaikannya hingga ia dewasa dan menikahkannya. Anaknya itu berkata kepada budaknya, “Berilah aku persiapan untuk mencari ilmu.” Bekas budaknya itu kemudian menyiapkannya. Lalu ia mendatangi seorang’alim dan bertanya kepadanya. Orang ‘alim itu berkata (kepadanya), “Jika engkau hendak berangkat, beritahukan kepadaku, aku akan mengajarimu.’ Anaknya itu berkata, “Tiba saatnya aku akan berangkat, maka ajarilah aku.” Orang ‘alim itu lalu berkata, “Bertakwalah kepada Allah dan sabarlah, serta janganlah engkau terburu-buru.” Al-Hasan berkata, “Pada wasiat itu semua terkandung seluruh kebaikan.” -Maka, datanglah anaknya itu dan nyaris tidak pernah melupakan ketiga hal tersebut-. Ketika ia menemui keluarganya, ia turun dari kendaraannya. Saat ia memasuki rumahnya, ternyata seorang laki-laki tengah tidur beristirahat, jauh dari wanita itu (isterinya), dan ternyata isterinya pun sedang tidur. Ia berkata, “Demi Allah, aku tidak mau, apa yang aku tunggu dengan ini semua?” Lalu ia kembali menuju kendaraannya. Ketika ia hendak mengambil pedang, ia berkata (kepada dirinya sendiri), “Bertakwalah kepada Allah dan sabarlah, dan jangan engkau terburu-buru.” Lalu ia kembali ke rumah itu. Ketika ia berada di dekat kepala orang itu, ia berkata, “Aku sedikit pun tidak mau menunggu.” Lalu ia kembali menuju kendaraannya. Ketika hendak mengambil pedang, ia teringat kembali. Lalu ia kembali kepada orang itu. Ketika ia berada di dekatnya, orang itu pun bangun. Ketika orang itu melihatnya, ia melompat ke arahnya, lalu memeluknya, mencium dan menanyainya. Lalu orang itu bertanya kepadanya, “Apa yang engkau dapat setelahku?” Ia menjawab, “Demi Allah, yang aku dapat setelahmu adalah kebaikan yang banyak. Demi Allah, yang aku dapat setelahmu bahwa aku pada malam ini berjalan antara pedang dan kepalamu sebanyak tiga kali, maka ilmu yang aku dapat telah menghalangiku dari membunuhmu.”

lsnadnya hasan. Abu Hilal Muhammad bin Sulaim shaduuq, sebagaimana yang diutarakan oteh lbnu Ma’in.

📃 Kosa Kata Hadits

  • Makna التُّؤَدَةِ : pelan-pelan. tenang dan sabar.
  • Makna لَمْ يَأْلُوهُ : lalai dalam pendidikannya.
  • Makna أَدْرَكَ : Dewasa.
  • Makna مُتَرَاخٍ عَنِ الْمَرْأَةِ : Jauh dari wanita.

💡 Kandungan Hadits

  1. Dalam riwayat ini terdapat anjuran agar bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam setiap urusan.
  2. Adanya keutamaan takwa dan sabar.
  3. Hilm (sifat santun) adalah tidak tergesa-gesa dan sabar ketika sedang marah atau menghadapi sesuatu yang tidak disukai meskipun ia memiliki kemampuan dan kekuatan. Dan orang yang memiliki sifat hilm (santun) bisa mengendalikan keinginan kuat yang mampu menahan dirinya ketika sedang mengalami gejolak emosi untuk bersikap tergesa-gesa.
  4. Adanya anjuran agar melakukan perjalanan dan bepergian dalam rangka menuntut ilmu.
  5. Adanya hasil yang terpuji dan buah yang baik jika mengamalkan petunjuk Nabi ﷺ.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *