بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
📚┃ Materi : Kitab Adabul Mufrad
🎙┃ Pemateri : Ustadz Deka Mujahidin, S.P.di Hafizhahullah (Pengajar Mabais Jajar Solo)
🗓┃ Hari / Tanggal : Ahad, 7 Juni 2026 M / 21 Dzulhijjah 1447 H
🕌┃Tempat : Masjid Al-Firdaus Makamhaji
*****
Pertemuan: 7 Juni 2026 M / 21 Dzulhijjah 1447 H
٢٧٣ – بَابُ مَنْ دَعَا فِي غَيْرِهِ مِنَ الدُّعَاءِ
Bab-273: Mendo’akan Orang Lain
📖 Hadits ke-605: Kesabaran Nabi Yusuf dan Nabi Luth
605. Muhammad bin salam mengabarkan kepada kami, ia berkata, ‘Abdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Amr mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Salamah mengabarkan kepada kami:
٦٠٥ – عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْكَرِيمَ ابْنَ الْكَرِيمِ ابْنِ الْكَرِيمِ ابْنِ الْكَرِيمِ، يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِ الرَّحْمَنِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى» ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَوْ لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ مَا لَبِثَ يُوسُفُ، ثُمَّ جَاءَنِي الدَّاعِي لَأَجَبْتُ، إِذْ جَاءَهُ الرَّسُولُ فَقَالَ: {ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ} [يوسف: ٥٠] ، وَرَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى لُوطٍ، إِنْ كَانَ لَيَأْوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ، إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ: {لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ} [هود: ٨٠] ، فَمَا بَعَثَ اللَّهُ بَعْدَهُ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا فِي ثَرْوَةٍ مِنْ قَوْمِهِ ” قَالَ مُحَمَّدٌ: الثَّرْوَةُ: الْكَثْرَةُ وَالْمَنَعَةُ. حسن صحيح
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘sesungguhnya orang yang mulia, anak orang yang mulia, anak orang yang mulia, Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Khalilurrahman Tabaraka wa Ta’ala.’ Beliau melanjutkan sabdanya,’Kalau sekiranya aku tinggal di penjara seperti halnya Nabi Yusuf, lalu datang kepadaku orang yang memanggil, niscaya akan aku sambut, (seperti halnya) ketika datang kepada Yusuf utusan lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan kepadanya bagaimana keadaan para wanita yang memotong tangannya.’ (QS. Yusuf: 50) Semoga rahmat Allah atas Nabi Luth ketika beliau hendak bersandar pada tiang (sandaran) yang kuat ketika beliau mengucapkan, ‘Kalau sekiranya aku mempunyai kekuatan melawan kalian atau aku dapat bersandar kepada tiang yang kuat.'(QS. Huudz :80). Maka Allah ﷻ tidak mengutus seorang Nabi pun setelahnya melainkan ia dalam keadaan cukup kuat dari membutuhkan kaumnya”.
- Shahih lighairihi. lsnad ini hasan. Muhammad bin ‘Amr shaduuq. Lihat Ash-Shahihah (1617). Diriwayatkan Ahmad (2/332) dan At-Tirmidziy: Kitab Tafsiiril Qur’aan. Bab Wa min suurati Yusuf (3116). Diriwayatkan juga Al-Bukhari: Kitab Ahaadiitsil anbiyaa’ (3387) dan Muslim: Kitab Al-Fadhaa’il (hadits 152) seperti berlalu di no. 129.
- Makna رُكْنٍ شَدِيدٍ: Keluarga yang banyak dan kuat. Keluarga disebut rukun (tiang, penopang) karena tiang adalah tempat untuk bersandar dan menolak. Keluarga diserupakan dengan penopang gunung karena ia sangat kuat dan dapat menghalangi dari gangguan luar.
- Pujian kepada Yusuf alaihissalam karena kesabaran dan keteguhannya yang luar biasa, yang mana beliau tidak segera keluar sebelum mengajukan sikap berlepas diri.
- Dalam riwayat ini tidak ada sindiran Nabi ﷺ terhadap Nabi Luth dengan ucapan beliau, “semoga rahmat Allah atas Nabi Luth ketika beliau hendak bersandar pada tiang (sandaran) yang kuat.” Akan tetapi, ketika ia sedang bingung akan keadaan tamu-tamunya dan ia merasa dirinya lemah, maka ia pun mengucapkan hal itu. Namun ia tidak berada dalam kedaan lalai meskipun hanya sekejap, bahwa sesungguhnya Allah ﷻ kuat dan lebih kuasa dan bahwa Dia pasti akan melindunginya dari segala sisi. Siapakah sandaran yang lebih kuat dan lebih kokoh dari Allah ﷻ?
- Setelah Nabi Luth, Allah selalu mengutus seorang Nabi dalam keadaan memiliki kekuatan dan memiliki banyak kaum sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada para Nabi yang datang setelah Nabi Luth alaihissalam.
*****
Pertemuan: 14 Juni 2026/28 Dzulhijjah 1447
٢٧٤ – بَابُ النَّاخِلَةِ مِنَ الدُّعَاءِ
Bab-274: Do’a yang Ikhlas
📖 Hadits ke-606: Perintah Berdo’a dengan Ikhlas
606. ‘Umar bin Hafsh mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayahku mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy mengabarkan kepada kami, ia berkata: Malik bin Al-Harits mengabarkan kepadaku:
٦٠٦ -عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: كَانَ الرَّبِيعُ يَأْتِي عَلْقَمَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَإِذَا لَمْ أَكُنْ ثَمَّةَ أَرْسَلُوا إِلَيَّ، فَجَاءَ مَرَّةً وَلَسْتُ ثَمَّةَ، فَلَقِيَنِي عَلْقَمَةُ وَقَالَ لِي: أَلَمْ تَرَ مَا جَاءَ بِهِ الرَّبِيعُ؟ قَالَ: أَلَمْ تَرَ أَكْثَرَ مَا يَدْعُو النَّاسَ، وَمَا أَقَلَّ إِجَابَتَهُمْ؟ وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَقْبَلُ إِلَّا النَّاخِلَةَ مِنَ الدُّعَاءِ، قُلْتُ: أَوَ لَيْسَ قَدْ قَالَ ذَلِكَ عَبْدُ اللَّهِ؟ قَالَ: وَمَا قَالَ؟ قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: لَا يَسْمَعُ اللَّهُ مِنْ مُسْمِعٍ، وَلَا مُرَاءٍ، وَلَا لَاعِبٍ، إِلَّا دَاعٍ دَعَا يَثْبُتُ مِنْ قَلْبِهِ، قَالَ: فَذَكَرَ عَلْقَمَةَ؟ قَالَ: نَعَمْ. صحيح
Dari ‘Abdurrahman bin Yazid, ia berkata, “Ar-Rabi’ mengunjungi ‘Alqamah pada hari Jum’at. Jika aku tidak berada di sana, mereka mengirim utusan kepadaku. Suatu ketika ia datang dan aku tidak berada di sana. Lalu Alqamah bertemu denganku dan berkata,
‘Apakah engkau tidak tahu apa yang dibawa oleh Ar-Rabi’?’ Ia ber kata, ‘Tahukah engkau alangkah banyak manusia berdo’a dan alangkah sedikit yang dikabulkan? Hal itu karena Allah ﷻ tidak menerima doa kecuali yang (dipanjatkan dengan) ikhlas.’ Lalu aku berkata, ‘Tidakkah ‘Abdullah telah mengucapkan do’a demikian?’ Ia bertanya, ‘Apa yang telah diucapkan oleh ‘Abdullah?’ Ia berkata, Aku menjawab, “Abdullah berkata, ‘Allah tidak mendengarkan (doa) orang yang memperdengarkan (do’anya)’ tidak pula yang memamerkan (do’anya), dan tidak pula yang bermain-main (dalam do’anya), kecuali seorang yang berdo’a yang do’anya itu mantap dari hatinya.” Lalu, apakah ia menyebut ‘Alqamah? jawabnya, ya”.
- Shahih. Diriwayatkan Waki’ dalam kitab Az-zuhud (305) dan lbnu Abi syaibah (79270)
- Makna النَّاخِلَةَ : Yang Murni
- Makna مُسْمِعٍ : Orang yang mengerjakan sesuatu dengan maksud agar di dengar oleh orang lain dan menjadi terkenal bahwa dirinya termasuk orang-orang yang suka berdzikir.
Do’a yang dipanjatkan harus dengan ikhlas karena Allah ﷻ akan untuk dikabulkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
فَٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ
Maka berdo’alah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya [Ghafir ayat 14]
Hendaknya orang yang berdo’a menjauhkan dirinya dari riya’ dan sum’ah, dan hendaknya ia tidak bermain-main dan lalai dalam berdo’a.
*****
٢٧٥ – بَابُ لِيَعْزِمِ الدُّعَاءَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا مُكْرِهَ لَهُ
Bab-275: Hendaklah Bersungguh-sungguh dalam Berdo’a karena Sesungguhnya Tidak Ada yang Dapat Memaksa Allah ﷻ
Hadits ke-607: Jangan Berdo’a dengan Mengatakan Jika Engkau menghendaki.
607. Muhammad bin ‘ubaidillah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abdul ‘Aziz bin Abi Hazim mengabarkan kepada kami dari Al-Ala’, dari ayahnya:
٦٠٧ – عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُولُ: إِنْ شِئْتَ، وَلْيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَعْظُمُ عَلَيْهِ شَيْءٌ أَعْطَاهُ ” صحيح
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jika salah seorang dari karian berdo’a, janganlah ia mengucapkan, ‘Jika Engkau menghendaki.’ Namun hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta dan memperbesar harapan, karena sesungguhnya Allah tidak mengganggap besar terhadap sesuatu yang diberikan-NYa.”
- Diriwayatkan At-Bukhariy: Kitab Ad-Da’awat. Bab Liyazimil Mas’alah Fa innahuu laa mukriha lahuu (6339) dan Muslim: Kitab Adz-Dzikr wad Du’aa’. Bab Al-‘Azmu bid du’aa (8-9).
- Maknaوَلْيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ : Sangat bersungguh-sungguh dalam meminta dan yakin, tidak lemah dan tidak menggantungkan permintaan tersebut pada kehendak Allah atau sejenisnya. Ada yang berpendapat, maksudnya adalah berprasangka baik kepada Allah ta’ala bahwa Dia akan mengabulkannya.
- Maknaوَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ : Bersungguh-sungguh dalam berkeinginan dengan cara mengulang-ulang do’anya dan selalu meminta. Kemungkinan lain bahwa yang dimaksud adalah perintah agar meminta sesuatu yang besar dan banyak.
- Orang yang berdo’a hendaknya bersungguh-sungguh dalam memanjatkan do’anya dan senantiasa mempunyai harapan bahwa do’anya akan dikabulkan. Jangan sampai ia berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya ia sedang memohon kepada Allah Rabb Yang Mahamulia lagi Maha Mengabulkan doa.
- Sesungguhnya Allah ﷻ tidak membutuhkan sesuatu yang dimohon dan bebas dari paksaan dan tekanan. Karena itu, tidak perlu menggantungkan pengabulan doa pada kehendak Allah dengan mengucapkan, “Ya Allah, jika Engkau menghendaki maka berilah aku.”
Imam An-Nawawiy memahami bahwa larangan dalam sabda beliau, “Janganlah mengucapkan, ‘Jika Engkau menghendaki,”‘ menunjukkan karahah tanzih, dan pendapat ini lebih utama.
*****
Pertemuan: 21 Juni 2026 / 6 Muharram 1448
Hadits ke-608: Jangan Berdo’a dengan Mengatakan Ya Allah, jika Engkau menghendaki maka berilah aku.
608. Muhammad bin Salam mengabarkan kepada kami, ia berkata: Isma’il lbnu ‘Ulayyah mengabarkan kepada kami dari ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib:
٦٠٨ – عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ فِي الدُّعَاءِ، وَلَا يَقُلِ: اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي، فَإِنَّ اللَّهَ لَا مُسْتَكْرِهَ لَهُ ” صحيح
Dari Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jika salah seorang di antara kalian berdo’a, hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam berdoa dan jangan mengucapkan, (‘Ya Allah, jika Engkau menghendaki maka berilah aku,‘) karena sesungguhnga Allah tidak ada yang memaksa-Nya.”
- Diriwayatkan At-Bukhariy: Kitab Ad-Da’awat. Bab Liya’zimil Mas’alah, Fa innahuu laa mukriha lahuu (6338) dan Muslim: Kitab Adz-Dzikr wad Du’a’ . Bab Al-‘Azmu bid du’aa (7).
- Makna لَا مُسْتَكْرِهَ لَهُ : La mukriha lahu (tidak ada yang memaksa-Nya).
Lihat penjelasan hadits sebelumnya.
*****
٢٧٦ – بَابُ رَفْعِ الْأَيْدِي فِي الدُّعَاءِ
Bab-276: Mengangkat Tangan Ketika Berdo’a
Hadits ke-609: Mengusap Kedua Tangan ke wajah Setelah Berdo’a
609. Ibrahim bin Al-Mundzir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Furaih mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku:
عَنْ أَبِي نُعَيْمٍ وَهُوَ وَهْبٌ قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ وَابْنَ الزُّبَيْرِ يَدْعُوَانِ، يُدِيرَانِ بِالرَّاحَتَيْنِ عَلَى الْوَجْهِ. ضعيف
Dari Abu Nu’aim -yaitu wahb-, ia berkata, ‘Aku pernah merihat Ibnu ‘Umar dan Ibnu Zubair berdo’a, keduanya mengusapkan dua telapak tangan ke wajah.’
- lsnadnya dha’if. Muhammad bin Futaih dari ayahnya, keduanya memitiki kelemahan.
*****
Hadits ke-610: Aisyah melihat Nabi ﷺ Mengangkat Kedua Tangannya ketika Berdo’a
610. Musaddad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Awanah mengabarkan kepada kami dari Simak bin Harb, dari Ikrimah:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، زَعَمَ أَنَّهُ سَمِعَهُ مِنْهَا، أَنَّهَا رَأَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو رَافِعًا يَدَيْهِ يَقُولُ: «إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ فَلَا تُعَاقِبْنِي، أَيُّمَا رَجُلٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ آذَيْتُهُ أَوْ شَتَمْتُهُ فَلَا تُعَاقِبْنِي فِيهِ» صحيح لغيره.
Dari Aisyah Radhiyallahu’anha, ia mengira bahwa ia mendengarnya dari ‘Aisyah, bahwa Aisyah melihat Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya, beliau bersabda, “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, maka janganlah Engkau (Allah ﷻ) menghukumku (atas kelalaianku). Siapa saja dari orang-orang beriman yang aku sakiti atau aku hina, maka jaiganlah Engkau hukum aku karenanya”.
- Shahih lighairihi. Dalam isnad ini ada Simak bin Harb, riwayatnya dari Ikrimah dipermasatahkan. Lihat Ash-shahihah (82-84). Diriwayatkan Abdurrazzaq (3248) dan Ahmad (6/133 dan 258) dari jalur Simak. Muslim juga meriwayatkan datam shahihnya: Kitab Al-Birr wash shilah. Bab Man la’anahuun Nabiyyu ﷺ no. 88 melalui Masruq dari Aisyah dengan panjang, di antara tafazhnya: [Namun tanpa ada menyebut mengangkat kedua tangan].
اللهُمَّ إِنََّا أَنَا بَشَرٌ، فَأَيُّ المُسْلِمِينَ لَعَنُْهُ، أَوْ سَبَيْتُهُ فَاجْعَلْهُ لَهُ زَكَاةً وَأَجْرًا.
💡Kandungan Hadits (609 dan 610):
- Disyari’atkannya mengangkat kedua tangan ketika berdo’a, dan itu benar adanya. Hal ini untuk menunjukkan kerendahan yang sempurna dan ketundukan kepada Allah ﷻ agar doa hamba-Nya yang membutuhkan rahmat dan karunia-Nya dikabulkan.
- Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling takut kepada Allah ﷻ, dan beliau selalu bersungguh-sungguh dalam berdo’a memohon kepada-Nya.
*****
Hadits ke-611: Nabi ﷺ Menghadap Kiblat ketika Berdo’a
611. Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Sufyan mengabar kan kepada kami, ia berkata: Abu Zinad mengabarkan kepada kami dari Al-A’raj:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا، فَاسْتَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ، فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ يَدْعُو عَلَيْهِمْ، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا، وَائْتِ بِهِمْ» صحيح.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Ath-Thufail bin ‘Amr Ad-Dausiy mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum kabilah Daus telah melawan dan berpaling, maka berdo’alah kepada Allah untuk keburukan mereka.’ Lalu Rasulullah ﷺ menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, lalu orang-orang mengira bahwa beliau akan mendo’akan buruk terhadap mereka, beliau malah berdo’a, ‘Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaum Daus dan bawalah mereka (pada hidayah).”
- Shahih. Diriwayatkan Ahmad (3/243) dari Sufyan. Lihat Ash-Shahihah (2941). Diriwayatkan juga Al-Bukhariy: Kitab Ad-Da’awaat. Bab Ad-Du’a’ lil Musyrikin (6397) dan Muslim: Kitab Fadhaa’ilush Shahaabah. Bab Min Fadhaa-ili Ghifaar …, wa Daus wa Thay-i (197) Namun tanpa ada menyebut mengangkat kedua tangan.
- Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang menghadap kiblat ketika berdo’a.
- Allah mengutus Nabi ﷺ sebagai rahmat bagi seluruh alam. Adakah rahmat yang lebih besar daripada petunjuk yang diberikan oleh Allah ﷻ kepada hamba-Nya menuju Islam? oleh karena itu Nabi ﷺ mendo’akan suku Daus agar mendapat hidayah kepada Islam.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Tinggalkan Balasan