Adabul Mufrad – Hadits ke-596: Tidak Menerima Hadiah dari Orang yang Mempunyai Maksud Tertentu

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

📚┃ Materi : Kitab Adabul Mufrad
🎙┃ Pemateri : Ustadz Deka Mujahidin, S.P.di Hafizhahullah (Pengajar Mabais Jajar Solo)
🗓️┃ Hari, Tanggal : Ahad, 03 Mei 2026 M / 15 Dzulqa’dah 1447 H
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Firdaus Makamhaji



٢٧٠ – بَابُ مَنْ لَمْ يَقْبَلِ الْهَدِيَّةَ لَمَّا دَخَلَ الْبُغْضُ فِي النَّاسِ

270. Tidak Menerima Hadiah karena Kebencian

📖 Hadits ke-596: Tidak Menerima Hadiah dari Orang yang Mempunyai Maksud Tertentu

  1. Ahmad bin Khalid mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ishaq mengabarkan kepada kami dari Sa’id bin Abi Sa’id, dari ayahnya:

٥٩٦ – عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: أَهْدَى رَجُلٌ مِنْ بَنِي فَزَارَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاقَةً، فَعَوَّضَهُ، فَتَسَخَّطَهُ، فَسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ: «يَهْدِي أَحَدُهُمْ فَأُعَوِّضُهُ بِقَدْرِ مَا عِنْدِي، ثُمَّ يَسْخَطُهُ وَايْمُ اللَّهِ، لَا أَقْبَلُ بَعْدَ عَامِي هَذَا مِنَ الْعَرَبِ هَدِيَّةً إِلَّا مِنْ قُرَشِيٍّ، أَوْ أَنْصَارِيٍّ، أَوْ ثَقَفِيٍّ، أَوْ دَوْسِيٍّ». صحيح

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Seorang laki-laki dari Bani Fazarah menghadiahkan seekor unta kepada Nabi . Lalu beliau membalasnya tetapi ia marah. Maka aku mendengar Nabi bersabda di atas mimbar, ‘Salah seorang dari mereka memberi hadiah, lalu aku balas dengan apa Aang aku miliki (semampuku). Ialu ia marah. Demi Allah, aku tidak akan menerima hadiah dari orang-orang Arab setelah tahun ini, kecuali dari orang Quraisy, Anshar, Tsaqafi, atau Dausi”.

Shahih lighairihi. lbnu lshaq mudallis, di riwayat ini tidak gamblang mendengar hadits, namun dari jalur lain ia diperkuat. Lihat, Ash-shohihah (1684). Diriwayatkan At-Tirmidziy: Kitab Al-Manaqib. Bab Fii Tsaqiif wa Banii Haniifah (3954) dari jalur At-Bukhariy. Diriwayatkan juga Ahmad (2/247), An-Nasaa-iy: Kitab Al-‘lJmariy. Bab Athiylatul mar’ati bi ghairi idzni zaujihaa (3768) melalui lbnu ‘Ijlan, dan Ahmad (2/292) melalui Abi Ma’syar, keduanya dari Abu Sa’id.

💡 Kandungan Hadits

  1. Hendaknya seseorang menerima hadiah dari orang-orang yang secara alamiah memiliki sifat dermawan.
  2. Hendaknya seseorang tidak menerima hadiah dari orang yang mempunyai maksud agar memperoleh balasan yang lebih banyak.
  3. Nabi ﷺ memberikan keutamaan secara khusus kepada orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini karena beliau berkenan menerima hadiah mereka. Hal itu karena beliau mengetahui bahwa mereka memiliki sifat dermawan, keinginan yang tinggi dan tidak mengharapkan ganti.

٢٧١ – بَابُ الْحَيَاءِ

Bab-271: Malu

📖 Hadits ke-597: Jika Engkau tidak Malu, Berbuatlah Sesukamu

  1. Ahmad bin Yunus mengabarkan kepada kami, ia berkata: Zuhair mengabarkan kepada kami, ia berkata: Manshur mengabarkan kepada kami dari Rib’i bin Hirasy, ia berkata:

٥٩٧ – حَدَّثَنَا أَبُو مَسْعُودٍ عُقْبَةُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسَ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “. صحيح

Abu Mas’ud Radhiyallahu’anhu; ‘Uqbah mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Nabi ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya yang didapat oleh manusia dari (salah satu) ucapan kenabian adalah, ‘Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendaknya”.

Diriwayatkan Al-Bukhariy: Kitab Al-Adab. Bab ldzaa lam tastahi fashna’ maa syi’ta (6120).

📃 Kosa Kata Hadits

  • Makna أَدْرَكَ النَّاسَ : Orang-orang Jahiliah.
  • Makna مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ: Dari sejumlah berita para Nabi dan Rasul yang telah lalu.
  • Makna فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ: Al-Khaththabiy berkata, “Hikmah disebutkan dengan kali mat perintah, bukan dengan bentuk kalimat berita dalam Hadits ini adalah bahwa yang menahan seseorang untuk melakukan keburukan adalah rasa malunya. Jika ia meninggalkan keburukan, maka ia seperti orang yang di perintah secara alamiah agar meninggalkan setiap keburukan.”

💡 Kandungan Hadits

Pengagungan terhadap rasa malu.
Dikatakan, sesungguhnya perintah di sini berarti berita, yakni orang yang tidak merasa malu pasti akan melakukan setiap apa yang di inginkannya.


📖 Hadits ke-598: Malu Termasuk Iman

598.Muhammad bin Katsir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Suhail bin Abi Shalih, dari Abdullah bin Dinar, dariAbu Shalih:

٥٩٨ – عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، شُعْبَةً، أَفْضَلُهَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ» صحيح.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ bersabda: “Iman itu terdiri dari 6O lebih (atau 7O lebih) cabang. Yang paling utama adalah (ucapan) Iaa ilaaha illallaah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah satu cabang dari iman.”

📃 Kosa Kata Hadits

  • Makna بِضْعٌ: Jumlah yang sifatnya samar (mubham) tetapi dibatasi antara tiga hingga sembilan.
  • Makna الْشُعْبَةً : Sepotong, maksudnya disini adalah cabang atau bagian.
  • Makna الْحَيَاءُ : Akhlak yang mendorong seseorang menjauhi hal-hal yang tidak baik dan menghalanginya dari mengurangi hak orang yang berhak menerimanya.

💡 Kandungan Hadits

  1. Cabang iman yang paling utama adalah kalimat Laa ilaaha illailaah (tidak ada yang hak diibadahi selain Allah).
  2. Cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu orang dari jalan.
  3. Peringatan bahwa malu termasuk iman meskipun rasa malu tersebut berupa sifat bawaan. Terkadang rasa malu merupakan sifat bentukan dan hasil usaha seseorang seperti halnya berbagai amal kebaikan lainnya. Sifat malu adalah sifat yang terpuji menurut syari’at.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *