Agar Bisa Bersanding dengan Nabi di Surga

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

📚┃ Materi : Agar Bersanding dengan Nabi ﷺ di Surga
🎙┃ Pemateri : Ustadz Ahmad Musyawir Hafizhahullah (Pengajar Mabais Jajar Solo)
🗓️┃ Hari, Tanggal : Ahad, 25 Januari 2026 M / 6 Sya’ban 1447 H
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Firdaus Makamhaji.

Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga menurunkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasul akhir zaman yang berakhlak mulia.

Allah Ta’ala menshifati Rasulullah ﷺ dengan ayatNya dalam surat At-Taubah ayat 128:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ۝١٢٨

Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Bahkan Nabi ﷺ sangat rindu bertemu dengan umatnya. Di saat Nabi Muhammad ﷺ duduk dengan para sahabatnya dan mengatakan, “Saya sekarang sedang merindukan saudara-saudara saya.” Lalu seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah kami saudara-saudaramu?” Lalu Nabi berkata, “Kalian itu bukan saudara-saudaraku, tapi kalian itu sahabat-sahabatku. Saudara-saudaraku itu adalah orang yang tidak pernah melihatku, tapi mereka mau beriman kepadaku.” [HR. An-Nasai].

Jadi, jika Nabi saja merindukan kita, kenapa kita tidak merindukan Nabi? Kalau Nabi menantikan kita di surga, mengapa kita tidak menjemput penantian itu? Tentu bagi orang-orang yang beriman, akan merindukan bersanding dengan Nabi ﷺ.

Ada beberapa amalan agar bisa bersama Nabi ﷺ di surga, antara lain:

1. Mencintai Nabi ﷺ dengan Cinta yang Sejati

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حماد بن زيد عن ثابت عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasûlullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu mengatakan, ‘Saya mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar. Saya berharap bisa bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka meskipun saya tidak mampu melakukan amalan yang mereka lakukan. (HR. Bukhari Muslim).

Konsekuensi dari mencintai Nabi ﷺ adalah melaksanakan ajaran yang dibawa Nabi ﷺ dan meninggalkan larangan yang ditinggalkan beliau.

2. Memperbanyak Shalat

Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu’anhu, beliau berkata,

”كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ ، فَقَالَ لِي : سَلْ ، فَقُلْتُ : أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ “. رواه مسلم في ” صحيحه“(489).

Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)‘” (HR. Muslim, no. 489).

3. Berakhlak Mulia

Sabda Nabi ﷺ:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201.)

Perhatian hadits berikut: dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ فُلانَةً تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ ، وَتَفْعَلُ ، وَتَصَّدَّقُ ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا خَيْرَ فِيهَا ، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ ، قَالُوا : وَفُلانَةٌ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ ، وَتَصَّدَّقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلا تُؤْذِي أَحَدًا ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Pernah dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, ada seorang perempuan yang rajin tahajud, rajin puasa sunnah, banyak kebaikannya, dan dia bersedekah, tetapi perempuan ini suka menyakiti tetangganya (dengan lisannya).” Rasulullah mengomentari, “Perempuan itu tidak ada kebaikan pada dirinya. Dia termasuk penghuni Neraka.” Mereka berkata, “Ada seorang perempuan lain yang shalatnya hanya yang lima waktu, menyedekahkan sesuatu yang sedikit, tapi dia tidak pernah menyakiti tetangganya?” Rasulullah mengomentari, “Dia termasuk dari penduduk Surga.” (HR. Bukhari di kitab Adabul Mufrad no. 119 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu ta’ala)

Wanita ini mengerjakan sholat pada malam hari, di siang hari dia berpuasa, dia juga memiliki amalan-amalan sholih dan dia juga memperbanyak dari ibadah shodaqoh, hanya saja dia suka menyakiti tetangga dengan lisannya. Misalnya dia suka mencela atau ghibah dan lainnya dari berbagai macam penyakit lisan.

Maka Nabi mengatakan : “Perempuan itu tidak ada kebaikan pada dirinya”. Dan ini merupakan peringatan yang keras bagi siapa saja yang memiliki sifat ini yaitu menyakiti tetangga dengan lisannya. Dan apabila terkumpul pada diri seseorang bahwa dirinya suka menyakiti tetangga dengan lisan dan juga tangannya, maka ini adalah kejahatan diatas kejahatan dan kejelekan di atas kejelekan.

Jika peringatan keras ini ditujukan kepada wanita yang memiliki amal sholih yang banyak dan dia hanya menyakiti tetangganya dengan lisan, lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada seseorang yang sedikit memiliki amal sholih, bukan termasuk ahli sholat, puasa, shodaqoh dan dia menyakiti tetangganya dengan lisan dan tangannya? Na’udzubillahmindalik.

Sedangkan untuk wanita yang kedua : hanya melaksanakan sholat wajib. Artinya wanita ini tidak terkenal dengan sholat malam dan shodaqohnya hanya sedikit, akan tetapi dia tidak menyakiti siapapun. Dia mencukupkan dirinya sendiri, menahan lisan dan tangannya, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan tentangnya : “Dia termasuk dari penduduk surga.”

Dalam riwayat ini terdapat dalil besarnya pahala bagi orang yang menahan lisan dan tangannya. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjamin bagi siapapun yang memiliki sifat ini (menjaga lisan dan tangan) akan masuk kedalam Surga.

4. Merawat dan menyantuni anak yatim.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. [HR. Bukhari (no. 4998 dan 5659 ].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang menyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim.

5. Mendidik anak-anak wanita sehingga menjadi mukminah shalihah.

Dijanjikan dalam hadits bahwa siapa yang mendidik anak perempuannya dengan baik maka ia akan dijanjikan masuk surga dan dilindungi dari neraka. Dalam hadits, dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ (وَضَمَّ أَصَابِعَهُ)

“Siapa yang mendidik dua anak perempuan hingga ia dewasa, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia ….” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekatkan jari jemarinya. (HR. Muslim no. 2631). Artinya, begitu dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَن كانَ لَهُ ثلاثُ بَناتٍ فصبرَ عليهنَّ، وأطعمَهُنَّ، وسقاهنَّ، وَكَساهنَّ مِن جِدَتِهِ كنَّ لَهُ حجابًا منَ النَّارِ يومَ القيامَةِ.

“Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan, lalu dia :

  • Bersabar (mendidik) mereka,
  • Memberikan makan kepada mereka,
  • Memberikan minum kepada mereka dari (nafkah) yang didapatinya,

Maka mereka (anak-anak perempuan tersebut) akan menjadi hijab (penghalang) baginya dari neraka pada hari kiamat kelak.”

(HR. Ibnu Mājah dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shalih Ibnu Mājah nomor: 2974)

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan agar bisa bersanding dengan Nabi ﷺ di surgaNya kelak. Aamiin.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *