
- Alumnus STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya
- Dosen aktif di MABAIS Surakarta
- Pengajar Ilmu Syar’i Pondok Pesantren Khulafaurrosyidin Cemani
Bab Penutup – Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah
Beriman kepada Hari Kebangkitan [الإيمان بالبعث]
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
والنَّاسُ إذا ماتُوا يُبعثون، والدليل قوله : ﴿ مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى [ طه : ٥٥] .
Apabila manusia meninggal, mereka akan dibangkitkan kembali. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ,
”Dari tanah itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” [QS. Thaha [20]: 55]
Dan firman Allah ﷻ,
وَٱللَّهُ أَنۢبَتَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ نَبَاتًا ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا
”Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya.” (QS. Nuh: 17-18)
📃 Syarah oleh Syaikh Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullah:
Beliau melanjutkan pembahasan ke kaidah lainnya, yaitu keyakinan akan hari kebangkitan [Yaumul Ba’ts]. Yang dimaksud bukan hanya masalah kematian. Kita tahu, dan semua orang tahu, bahkan orang-orang kafir, atheis, dan ahli bid’ah, mereka semua tahu bahwa kematian tidak dapat dihindari. Tidak seorang pun mengingkari kematian karena itu adalah sesuatu yang nyata.
Namun, masalahnya adalah kebangkitan setelah kematian. Inilah titik perselisihan antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir. Kebangkitan setelah kematian adalah pemulihan tubuh yang telah hancur menjadi debu dan berserakan di bumi. Mereka dibangun kembali dan direkonstruksi seperti semula, karena Dia yang menciptakan mereka pertama kali juga mampu memulihkan mereka. Kemudian ditiupkan ruh ke dalam mereka, dan mereka bergerak dan berjalan dari kubur menuju tempat berkumpulnya, sebagaimana firman Allahﷻ :
يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ ٱلْأَجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَىٰ نُصُبٍ يُوفِضُونَ
(yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), [Al-Ma’arij: 43]
Allahﷻ berfirman:
يَخْرُجُونَ مِنَ ٱلْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنتَشِرٌ. مُّهْطِعِينَ إِلَى ٱلدَّاعِ ۖ
”keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan, Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu”. [Al-Qamar: 7-8]
Tidak ada yang tersisa, Inilah hari Kebangkitan. Dan firman Allah ﷻ,
وَٱللَّهُ أَنۢبَتَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ نَبَاتًا ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا
”Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya.” (QS. Nuh: 17-18)
Kewajiban Beriman kepada Hari Kebangkitan
Iman kepada Hari Kebangkitan adalah kebenaran yang tak diragukan lagi, dan siapa pun yang mengingkarinya berarti kafir kepada Allah ﷻ. Iman kepada Hari Akhir merupakan salah satu dari enam rukun iman yang di dalamnya Nabi ﷺ bersabda: “Iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan Iman kepada takdir, baik dan buruk.”
Barangsiapa yang tidak beriman kepada Hari Kebangkitan dan Hari Akhir, maka ia kafir kepada Allah ﷻ, meskipun ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, meskipun ia shalat, berpuasa, berhaji, menunaikan zakat, dan beramal saleh. Jika ia mengingkari atau meragukan Hari Kiamat, maka ia kafir kepada Allah Allah ﷻ.
Dalil Al Ba’ts Yang Berupa Penciptaan Manusia
Ada banyak dalil tentang kebangkitan, termasuk firman Allah ﷻ: “Dari tanah itulah Kami menciptakan.” Ayat ini merujuk pada bumi ketika Allah ﷻ menciptakan Adam alaihissalam bapak umat manusia. “Dan ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu” berarti setelah kematian di dalam kubur. “Dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu di waktu yang lain.” Inilah kebangkitan.
Ayat ini mencakup permulaan dan kembalinya:
مِنْهَا خَلَقْنَٰكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ
Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain, [QS. Thaha [20]: 55]
“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah” ketika Allah ﷻ menciptakan Adam alaihissalam darinya, “lalu Dia akan menjaga kamu di dalamnya” yang berarti: dalam kematian dan kubur, “dan Dia akan mengembalikan kamu ke dunia.” Inilah kebangkitan. Mereka akan keluar dari kubur dan pergi ke tempat berkumpul.
قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ
Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. [QS. Al-A’raf ayat 25].
Artinya: Kamu akan hidup nyata, di sanalah kamu akan mati, dan dari sanalah kamu akan dikeluarkan untuk dibangkitkan pada Hari Kiamat. Ini adalah bukti-bukti dari Al-Qur’an tentang kebangkitan.
Ada juga bukti rasional dari Al-Qur’an itu sendiri, yaitu bahwa Jika Allah ﷻ yang menciptakan manusia pertama kali, maka untuk menciptakannya untuk kedua kali lebih mudah. Bukankan pengulangan menurut pandangan kita lebih mudah daripada permulaan. Bagi Allah ﷻ permulaan dan pengulangan sama-sama sangat mudah. Ini adalah bukti rasional.
Allah ﷻ berfirman:
وَهُوَ ٱلَّذِى يَبْدَؤُا۟ ٱلْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ ۚ وَلَهُ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [Ar-Rum: 27]
Dalil Al Ba’ts Yang Berupa Muncul dan Berkembangnya Tumbuh-Tumbuhan di Muka Bumi Setelah Turunnya Hujan
Di antara bukti kebangkitan adalah kehidupan di atas bumi melalui tumbuhan. Anda melihat bumi mati, tanpa tumbuhan, tandus. Kemudian Allah ﷻ menurunkan hujan ke atasnya, dan kemudian tumbuhlah tumbuhan yang tadinya kering dan mati. Demikian pula, jasad-jasad di bumi disimpan di dalam tanah, dan Allah menurunkan hujan ke atasnya, dan kemudian jasad-jasad itu tumbuh dan menjadi sempurna. Kemudian Allah ﷻ menghembuskan kehidupan ke dalamnya. Anda melihat bumi yang tandus dan kemudian hidup kembali melalui apa yang tumbuh di dalamnya. Allah ﷻ adalah Dzat yang menghidupkan bumi setelah kematian.
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Fussilat Ayat 39:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنَّكَ تَرَى ٱلْأَرْضَ خَٰشِعَةً فَإِذَآ أَنزَلْنَا عَلَيْهَا ٱلْمَآءَ ٱهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِىٓ أَحْيَاهَا لَمُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰٓ ۚ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dia yang memiliki kekuatan untuk menghidupkan bumi setelah kematiannya juga mampu menghidupkan tubuh setelah kematian mereka, karena semua orang hidup setelah kematian.
Dalil Al Ba’ts Yang Berupa Hikmah Pembalasan Amal
Di antara bukti kebangkitan adalah bahwa jika tidak ada kebangkitan, maka penciptaan umat manusia akan sia-sia. Diantara mereka hidup, termasuk orang-orang beriman yang taat dan shaleh kepada Allah dan para Rasul-Nya, dan sebagian mereka adalah orang-orang kafir, atheis, zindiq, tiran, sombong, dan tidak taat. Semua dari mereka hidup dan kemudian mati, tanpa orang yang beriman ini menerima sedikit pun pahalanya, atau orang kafir, bid’ah, atheis, atau tiran yang menindas orang-orang, tidak menerima balasan perbuatanya?
Apakah pantas bagi Allah ﷻ untuk membiarkan orang-orang seperti ini tanpa memberi pahala kepada orang-orang beriman atas iman mereka, orang-orang yang baik atas kebaikan mereka, dan para penjahat dan orang-orang kafir atas kriminalitas dan ketidakpercayaan mereka? Hal ini tidak sesuai dengan Allah ﷻ, oleh karena itu Dia berfirman:
وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ لِيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔوا۟ بِمَا عَمِلُوا۟ وَيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ بِٱلْحُسْنَى
Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). [An-Najm: 31]
Hal ini hanya akan terjadi pada Hari Kiamat. Demikian pula dalam firman-Nya dalam Surat Al-Jatsiyah Ayat 21:
أَمْ حَسِبَ ٱلَّذِينَ ٱجْتَرَحُوا۟ ٱلسَّيِّـَٔاتِ أَن نَّجْعَلَهُمْ كَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَوَآءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.
Kisah Balasan atas Keikhlasan Sedekah [Adanya Balasan Amal]
Disahkan ada seorang laki-laki miskin bernama Abu Nashr as-Sayyad. Ia hidup bersama istri dan anaknya dalam keadaan serba kekurangan. Suatu hari Abu Nashr berjalan keluar rumahnya untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan untuk istri dan anaknya yang kelaparan. Di tengah perjalanan, Abu Nashr bertemu dengan Syaikh Ahmad ibn Miskin. Abu Nashr menceritakan kesusahannya dan Syaikh Ahmad mengajaknya ke tepi laut. Syaikh Ahmad memerintahkan Abu Nashr shalat dua raka’at dan melemparkan jala ke laut dengan mengucapkan basmalah.
Selang beberapa waktu, ternyata ada ikan besar yang terperangkap di jala yang dilempar Abu Nashr. Syaikh Ahmad berkata, “Juallah ikan ini dan belilah makanan untuk keluargamu di rumah.” Setelah menjual ikan tersebut, Abu Nashr membeli dua potong roti. Satu roti ia berikan kepada Syaikh Ahmad, namun beliau menolaknya, “Ambillah dan berikan kepada keluargamu”.
Di tengah perjalanan pulang, Abu Nashr melewati seorang ibu yang menangis kelaparan bersama anaknya yang masih kecil. Melihat hal tersebut, Abu Nashr menjadi kasihan dan memberikan kedua potong roti itu. Ibu dan anaknya tampak bahagia dan tersenyum. Abu Nashr pun pulang kerumahnya dengan tangan kosong.
Abu Nashr menjadi bingung apa yang akan ia berikan untuk anak dan istrinya di rumah. Ia pun kembali ke pasar. Di pasar ia bertemu dengan salah satu teman ayahnya. Teman ayahnya mengaku memiliki hutang kepada ayahnya dan belum sempat membayarnya sebelum ia meninggal. Laki-laki itupun memberikan sejumlah uang kepada Abu Nashr. Abu Nashr pun pulang dengan hati yang bahagia.
Selang beberapa waktu berlalu, Abu Nashr memulai usaha dan ia menjadi orang yang kaya raya. Ia tidak lupa menyedekahkan harta yang ia miliki. Namun pada suatu malam Abu Nashr bermimpi. Ia bermimpi ketika amal ibadahnya ditimbang, amal buruknya lebih banyak daripada amal baiknya. Abu Nashr menjadi heran karena ia merasa sudah banyak menyedekahkan hartanya.
Setelah diteliti, ternyata dalam sedekanya itu terdapat rasa bangga terhadap dirinya, sehingga amalannya tidak dapat menambah amal baiknya. Abu Nashr pun menangis.
Kemudian didatangkan amalannya yang lain, yaitu amalan ketika ia memberikan 2 potong roti kepada ibu dan anak. Ternyata sedekah dua potong rotinya tersebut lebih berat timbangannya disisi Allah. Senyuman anak kecil itu juga menambah timbangan amal baiknya. Akhirnya timbangan amal baiknya lebih berat dan beruntunglah Abu Nashr.
Dan Allah ﷻ berfirman:
أَمْ نَجْعَلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَٱلْمُفْسِدِينَ فِى ٱلْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ ٱلْمُتَّقِينَ كَٱلْفُجَّارِ
Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? [Shad : 28]
Dan juga Allah ﷻ berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [Al-Mu’minun Ayat 115]
Dan juga Allah ﷻ berfirman:
أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى. أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِىٍّ يُمْنَىٰ. ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ. فَجَعَلَ مِنْهُ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. [QS. Al-Qiyamah: 36-40].
Allah ﷻ menjawab orang kafir yang berkata, [مَن يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ ] “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?” dengan berfirman,
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَن يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
Dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan kejadiannya. Dia berkata; “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?”
Katakanlah; “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.
[Yasin: 78-80]
Dia Allah ﷻ yang mampu mengeluarkan api yang menyala-nyala dari kayu hijau yang lembab, maka apakah mungkin yang mampu melakukan ini, tidak mampu menghidupkan kembali orang mati?. Di antara bukti kebangkitan adalah penciptaan langit dan bumi. Dia yang menciptakan makhluk-makhluk yang sangat besar, agung, dan luas ini mampu menghidupkan kembali manusia, karena Dia Allah ﷻ yang mampu melakukan sesuatu yang agung bahkan lebih mampu melakukan sesuatu yang lebih rendah darinya.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Tinggalkan Balasan