Do’anya Hamba-Hamba Allah Yang Maha Pengasih

  • Doa
  • 17/11/2024

Doa ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) yang diabadikan dalam Al-Qur’an memberikan pelajaran berharga bagi kita tentang makna sejati kebahagiaan dan keberkahan dalam keluarga.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Furqan ayat 74:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Doa ini menunjukkan permohonan kepada Allah untuk mendapatkan keluarga yang menjadi sumber kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Tidak sekadar hubungan duniawi, tetapi menjadikan keluarga sebagai ladang kebaikan yang terus mengalir menuju ketaatan kepada Allah. Dalam konteks ini, kebahagiaan seorang mukmin diukur dari ketaatan keluarganya kepada Allah, karena hubungan yang dijalin dengan dasar iman akan membawa ketenangan dan kebahagiaan sejati.

Al-Imam Ibnu Al-Jauzi rahimahullah dalam kitabnya Zaadul Maasir menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, yang berkata:

وأيُّ شيء أقَرُّ لعين المؤمن من أن يرى زوجته وولده يُطيعون الله

“Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat kepada Allah ‘azza wa jalla.”

Ucapan ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati seorang mukmin bukan terletak pada harta atau status sosial, tetapi pada ketundukan keluarganya kepada Allah. Seorang mukmin yang diberkahi dengan keluarga yang taat akan merasa tenteram dan bahagia, seolah-olah ia melihat buah dari usahanya dalam mendidik dan membimbing keluarga di jalan Allah. Keluarga yang shalih akan menjadi penyejuk hati dan kebanggaan di dunia, serta menjadi penyokong menuju kebahagiaan abadi di akhirat.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga mengutip perkataan Al-Hasan Al-Bashri ini dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, menegaskan bahwa doa ini mengandung makna mendalam tentang pentingnya kesalehan keluarga. Ketika seorang mukmin berdoa agar keluarganya menjadi penyejuk mata, itu berarti ia memohon agar keluarganya menjadi sumber kebaikan, teladan, dan penegak agama Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, doa ini memberikan inspirasi agar kita selalu berupaya menjaga hubungan keluarga dalam bingkai ketaatan. Setiap anggota keluarga memiliki peran penting dalam mendukung satu sama lain menuju ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Selain berdoa, usaha nyata melalui pendidikan, pengajaran, dan keteladanan juga diperlukan agar doa ini benar-benar terwujud.

Sebagai penutup, Allah Ta’ala juga memberikan peringatan penting agar menjaga keturunan dari kesesatan duniawi. Dalam hadits Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengingatkan kita bahwa setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab besar. Sebagai pemimpin keluarga, orang tua bertanggung jawab membimbing keluarganya di jalan Allah. Dengan doa, usaha, dan istiqamah dalam ketaatan, insya Allah keluarga yang menjadi penyejuk hati dan contoh bagi orang bertakwa akan tercipta.

𝐑𝐞𝐟𝐞𝐫𝐞𝐧𝐬𝐢:
* Zaadul Maasir, Abu al-Faraj ibnu al-Jauzi (w. 597 H)
* Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abu al-Fida Ismail bin Umar bin Katsir (w. 774 H)
* Ta’liq lisyarhi Manzhumah Al-Qowaid al-Fiqhiyyah, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, hlm. 11-12
* Dikutip dari t.me/kutaibulfawaid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *