Kesiapan Menjadi Ayah dan Menciptakan Keluarga yang Menyejukkan Hati

Menjadi seorang ayah adalah tanggung jawab besar yang memerlukan kesiapan, bukan hanya sekadar mengikuti arus usia. Seorang ayah yang baik tidak hanya berharap memiliki anak-anak dan keluarga yang menjadi penyejuk hati (qurata a’yun), tetapi juga berusaha terlebih dahulu menjadi figur qurata a’yun bagi mereka.

Hal ini sesuai dengan doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Al-Furqan: 74)

Doa ini menunjukkan pentingnya tanggung jawab seorang ayah untuk memimpin keluarganya dalam ketaatan kepada Allah. Sebelum mengharapkan anak-anak yang saleh, seorang ayah harus menjadi contoh kebaikan, ketakwaan, dan kelembutan bagi keluarganya. Rasulullah ﷺ sendiri menjadi teladan dalam hal ini. Beliau adalah sosok yang penyayang kepada keluarganya, membimbing istri dan anak-anaknya dengan kelembutan, hikmah, dan kasih sayang.

Maka, untuk menjadi ayah yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala, seseorang harus:

1. Memiliki kesiapan mental dan spiritual.

2. Berusaha menjadi teladan dalam ibadah, akhlak, dan kebaikan.

3. Memohon pertolongan Allah dengan doa yang tulus.

 

Semoga Allah menjadikan kita semua pemimpin keluarga yang bertakwa dan menyejukkan hati di dunia serta akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *