Keutamaan Bulan Allah – Bulan Muharram

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

Kajian: Masjid Al-Qomar – Solo Mengaji
Tanggal: 10 Muharram 1447 / 6 Juli 2025
Tempat: Masjid Al-Qomar Purwosari, Surakarta
Bersama: Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, Lc., M.A. Hafidzahullah – Mudir Pondok Pesantren Imam Bukhari



Syahrullah Al Muharram

Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan berupa kenikmatan dapat menjalankan puasa Asyura dan amalan-amalan lain di musim-musim ketaatan (Giuna mendulang pahala).

Karena Allah ﷻ telah menyediakan waktu-waktu khusus yang dapat dimanfaatkan atas kasih sayangNya untuk menambah pundi-pundi pahala hambaNya dengan banyak beribadah di waktu tersebut.

Bulan Muharram termasuk bulan yang istimewa. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah dan rasul-Nya memuliakan bulan Muharram, maka kita selayaknya mengagungkan bulan ini.

Ada satu hari yang sangat dimuliakan oleh para umat beragama. Hari itu adalah hari Asyura’. Orang Yahudi memuliakan hari ini, karena hari Asyura’ adalah hari kemenangan Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya. Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, beliau menceritakan,

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Kisah nabi Musa alaihissalam ini diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ berfirman dalam Surat Asyuara ayat 61-63:

فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ. قَالَ كَلَّآ ۖ إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ. فَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْبَحْرَ ۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَٱلطَّوْدِ ٱلْعَظِيمِ

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.

Hari kemenangan inilah yang dirayakan oleh kaum Yahudi dan Nabi ﷺ menyatakan bahwa umat Islam lebih berhak untuk merayakannya.

Hari Asyura bukan Hari Raya

Diriwayatkan dari Ibunda Aisyah semoga Allah meridhoinya, beliau berkata:

عن عائشة – رضي الله عنها – قالت : كان يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ في الجاهلية ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ أخرجه البخاري ومسلم

“Adalah orang-orang Qurais pada zaman Jahiliyah berpuasa pada hari Aysuro, dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga berpuasa pada hari itu pada zaman Jahiliyah, ketika beliau datang ke Madinah beliau pun berpuasa (pada hari itu) dan menyuruh (sahabatnya) untuk berpuasa, mana kala telah di wajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan maka hari Aysuro di tinggalkan, siapa yang menghendaki berpuasa maka berpuasa siapa yang tidak mau maka boleh meninggalkanya“. (HR Bukhari no: 202, Muslim no: 1125).

Hadits ini menunjukan bahwa orang-orang Jahiliyah dahulu mereka telah mengetahui adanya puasa pada hari Asyura, dimana hari itu adalah hari yang sudah dikenal dikalangan mereka, bahwasanya mereka juga melakukan puasa pada hari-hari tersebut, begitu pula Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga ikut berpuasa, dan puasanya terus berlanjut sampai beliau hijrah ke Madinah.

Maka, ibadah yang paling ditekankan adalah ibadah puasa, karena ini bukan hari raya yang di dalamnya ada perayaan untuk bersenang-senang dan kita tahu, hari raya umat Islam hanya ada dua Isul Fithri dan Idul Adha.

“Dahulu Yahudi Khaibar menjadikannya hari raya. Para wanita mereka mengenakan perhiasan dan lencana mereka. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka berpuasalah kalian!” (Hadits riwayat al-Bukhari)

Hari Asyura bukan Hari Bersedih

Sebagian merayakan hari Asyura seperti lebaran dan sebagian bersedih karena dikaitkan dengan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu pada peperangan di karbala. Ini adalah perbuatan bid’ah munkarah, karena tidak ada para sahabat atau Salafush Shalih yang melakukannya.

Makna antusias disini adalah mengharap dengan puasa itu pahala dan dilakukan dengan rasa sukacita.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( صِيَامُ يَوْمَ عَاشُوْراَء أَحْتَسِبُ عَلى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ التِي قَبْلَه))

“Puasa hari Asyura, aku mengharap pahala dari Allah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (Hadits riwayat Muslim no.1976)

Ini merupakan keutamaan Allah kepada kita, menjadikan puasa sehari sebagai penghapus dosa setahun penuh. Allahlah pemilik keutamaan yang besar.

Perhatian Nabi terhadapnya

Puasa Asyura adalah puasa yang punya kedudukan tinggi di sisi Nabi. Hal ini terbukti bagaimana beliau menyetarakan perhatian terhadap puasa ini dengan puasa bulan Ramadhan. Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

مَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ، إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ. يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ

“Saya belum pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap puasa di satu hari yang beliau istimewakan, melebihi hari Asyura, dan puasa di bulan ini, yaitu Ramadhan.” (H.R. Ahmad no. 3539 dan Bukhari)

Mengugurkan Dosa selama Satu Tahun

Keutamaan puasa Asyura yang lain adalah dia menjadi pengugur dosa setahun yang telah lalu. Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa di hari Asyura. Jawab beliau,

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Bisa menjadi kaffarah terhadap dosa setahun yang lalu. (H.R. Ahmad no. 23200 dan Muslim)

Al Buhuti berkata, Imam Nawawi pernah menyampaikan, “Dia menjadi kaffarah bagi dosa-dosa kecil. Bila dia tidak punya dosa kecil, maka diharapkan bisa menghapus dosa besar. Bila tidak ada dosa besar maka diharapkan bisa meninggikan derajatnya.” (Mausu’ah Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah)

Puasa Tas’ua untuk Menyelisihi Yahudi

Tasu’a adalah tanggal 9 Muharram. Dinamakan demikian, diturunkan dari kata tis’ah [Arab: تسعة] yang artinya sembilan.

Pada tanggal 9 Muharram kita dianjurkan puasa, mengiringi puasa Asyura di tanggal 10 Muharram besok harinya. Agar puasa kita tidak menyamai puasa yang dilakukan Yahudi, yaitu pada tanggal 10 Muharram saja.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura dan beliau perintahkan para sahabat untuk melakukan puasa di hari itu, ada beberapa sahabat yang melaporkan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya tanggal 10 Muharram itu, hari yang diagungkan orang Yahudi dan Nasrani.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Jika datang tahun depan, insyaaAllah kita akan puasa tanggal 9 (Muharram).”

Ibnu Abbas melanjutkan, “Namun belum sampai menjumpai Muharam tahun depan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.” (HR. Muslim 1916).

Anak-anak dilatih untuk berpuasa

Adapun pada masa Nabi, sebagaimana dalam hadits bahwa ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan pada hari ‘Asyura untuk menyampaikan, “Barang siapa di pagi hari ini ada yang belum berpuasa, hendaknya dia segera menyempurnakan sisa hari (yakni hendaknya dia berpuasa), dan barang siapa yang sudah berpuasa, hendaknya dia tetap berpuasa.”

Ar- Rubayyi’ berkata, “Maka kami berpuasa, dan mengajak anak – anak kami untuk berpuasa, lalu kami membuatkan mainan untuk mereka yang terbuat dari wol. Apabila ada yang menangis karena ingin makan, kami berikan mainan itu kepadanya, sampai datangnya waktu magrib.” (Muttafaqun ‘alaih)

Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga kita dan keluarga kita untuk selalu istiqomah dalam mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *