Kunci Berkah di Zaman Penuh Fitnah

بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم

📚┃ Materi : Kunci Berkah di Zaman Penuh Fitnah
🎙┃ Pemateri : Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, M.A Hafizhahullah
🗓┃ Hari, Tanggal : Rabu , 9 Juli 2025 M / 13 Muharram 1447
🕌┃ Tempat : Masjid Ar-Rahman – Tasikmadu Karanganyar



الـحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدَ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَإِخْوَانِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ

Ustadz akan membacakan sebuah makalah karya Fahad bin Abdul Aziz As-Suwairih berjudul:

البركة – (فوائد من مصنفات الشيخ ابن عثيمين رحمه الله)

Barakah. Kumpulan Faedah dari buku-buku Tulisan Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah

Kalau Allah ﷻ sudah memberikan berkah kepada seseorang, maka yang sedikit itu akan menjadi banyak. Tetapi apabila Allah ﷻ telah mencabut keberkahan pada seseorang, maka harta kekayaan yang banyak, akan terasa sedikit. Betapa banyak yang Allâh berikan keberkahan pada hari-harinya yang sedikit dan betapa banyak orang yang mempunyai hari-hari yang banyak tetapi waktunya terasa sedikit. (Artinya umurnya sedikit tapi kebaikannya banyak dan ada yang umurnya panjang tapi kebaikannya sedikit).

Betapa banyak orang yang bahagia dengan harta yang sedikit, tetapi betapa banyak orang yang hartanya banyak tetapi tidak mendapatkan kebahagian. Dan bisa jadi engkau dapati sesuatu yang ada pada dirimu yang Allah ﷻ berkahi dan bisa bermanfaat dan bertahan dalam waktu yang lama.

Keberkahan maknanya kebaikan yang banyak, maka jika sesuatu yang berkah artinya meskipun sedikit maka akan terasa kebaikan yang banyak, baik waktu, harta dan lainnya, sebaliknya jika dicabut keberkahannya, maka sesuatu yang banyak akan terasa sedikit.

Maka, Rasulullah ﷺ selalu berdoa:

وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ

Berilah berkah pada segala yang telah Engkau berikan.

Yaitu berkahilah harta, istri, anak-anak, waktu, usaha, energi kami.

Dan keberkahan akan didapat dengan takwa kepada Allah ﷻ yaitu dengan menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan, sekecil apapun.

قال سبحانه وتعالى: ﴿ وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ﴾ [الأعراف: 96]

Jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi.

Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah, maka Allah akan mempercepat azabnya di dunia, mencabut nikmat-nikmatnya, dan menambah penderitaannya.

Allah ﷻ berfirman :

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. QS. At-Thalaq ayat 2.

Makna Barakah

Syeikh, semoga Allah merahmatinya, bersabda: Barakah adalah kebaikan yang berlimpah dan menetap. Akarnya adalah البِركة, yang berarti air yang berlimpah dan stabil. Oleh karena itu, maknanya adalah kebaikan yang berlimpah dan menetap.

Di antara Sebab-sebab Barakah

Syeikh, semoga Allah merahmatinya, bersabda: Barakah memiliki banyak sebab, di antaranya: anugerah dari Allah ﷻ , yang memberkahi seseorang dalam ilmunya, umurnya, dan semua keadaannya.

Di antara sebab-sebab tersebut adalah jujur dalam transaksi, Nabi ﷺ bersabda:

البيعان بالخيار، فإن صدقا وبينا بُورك لهما في بيعهما، وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما

Kedua belah pihak dalam suatu transaksi memiliki pilihan untuk membatalkan. Jika mereka jujur ​​dan jelas, transaksi mereka akan diberkati. Jika mereka berbohong dan menyembunyikan, keberkahan transaksi mereka akan hilang.

Di antara sebab-sebab tersebut adalah mematuhi adab makan dan minum, seperti menjilati piring dan jari, berkumpul untuk makan, dan tidak makan dari tengah.

Diantara sebab-sebab keberkahan adalah, Seseorang tidak boleh mengukur makanan yang ia makan di rumah. Misalnya, jika ia membawa sekantong beras ke rumah, ia tidak boleh mengukurnya, karena jika ia mengukurnya, keberkahannya akan hilang, tetapi jika ia meninggalkannya, Allah akan menurunkan keberkahan atasnya. Maka, hendaknya ia mengambil apa yang ia butuhkan setiap hari tanpa mengukurnya. Demikianlah yang dikatakan dalam Sunnah.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: تُوُفِّيَ رسول الله صلى الله عليه وسلم وما في بيتي من شيء يَأكُلُهُ ذُو كَبدٍ إلا شَطْرُ شَعير في رَفٍّ لي، فأكَلتُ منه حتى طال عليَّ، فَكِلْتُهُ فَفَنِيَ.
[صحيح] – [متفق عليه]

Dari Aisyah -raḍiyallāhu ‘anhumā- dia berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- wafat sedangkan di rumahku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan oleh makhluk hidup kecuali sedikit gandum di rakku. Maka akupun memakannya dalam waktu cukup lama. Lalu aku menimbangnya (untuk disedekahkan), sampai habis. [Hadis sahih] – [Muttafaq ‘alaih]

Sabda Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- kepada Asma’ binti Abu Bakr -radhiyallahu’anha-,

أنفقي، ولا تحصي فيحصي الله عليك، ولا توعي فيوعي الله عليك

“Berinfaklah, jangan perhitungan, niscaya Allah akan hitung-hitung rizkiNya padamu. Jangan kamu menahan-nahan, niscaya Allah akan menahan-nahan rizkiNya padamu.” (HR. Bukhari)

Jika seseorang dikaruniai keberkahan sesuatu, ia harus berpegang teguh pada karunia tersebut dan lakukanlah aktivitas yang diberkahi itu, Jangan dirubah dengan pendapatnya sendiri.

Ada banyak alasan untuk mendapatkan karunia, dan permohonan seseorang kepada Tuhannya, Yang Mahakuasa, untuk memohon karunia bukan berarti ia tidak melakukan hal-hal yang diperlukan. Jika Anda menginginkan karunia atau apa pun yang Anda inginkan, maka Anda harus melakukan hal-hal yang diperlukan.

Nikmat Allah ﷻ tidak terbatas dan tidak ada habisnya.

Syeikh, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Salah seorang tua-tua kami yang paling terpercaya bercerita kepada kami bahwa dua orang sedang membagi kurma di kebun mereka, lalu salah seorang dari mereka memberikan pilihan kepada yang lain. Ia berkata, ‘Pilihlah.’ Yang lain berkata, ‘Saya akan memilih sisi timur ini, karena menurut saya sisi ini lebih baik dan lebih banyak.’ Yang kedua berkata, ‘Dan saya akan memilih sisi barat,’ dan harta itu akan dibagi rata di antara mereka. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Saya akan memanennya di siang hari di bulan Ramadhan.’” Agar orang-orang miskin tidak makan, ia membuat janji dengan orang-orang yang memotong kurma di siang hari, maka mereka pun memotongnya, dan ia pun membawa kurma-kurma itu.

Adapun yang kedua, ia berkata: Saya tidak akan memotongnya sampai orang-orang berbuka puasa. Ketika mereka berbuka puasa, ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya – dan orang-orang pada waktu itu sangat miskin – ia berkata kepada mereka: Aku akan menebang pohon kurma pada hari ini dan itu setelah Idul Fitri, maka barangsiapa di antara kalian yang ingin datang, silakan datang. Maka datanglah orang-orang miskin itu dan kebun itu pun penuh, dan mereka pun mulai makan sampai bakul-bakul penuh dengan biji. Akan tetapi, meskipun demikian, Allah ﷻ menurunkan keberkahan atas kebun itu.

Rekannya datang dan berkata kepadanya: Kami telah melakukan kesalahan dalam pembagian, dan aku mengaku telah ditipu. Bagaimana orang-orang bisa makan sebanyak ini darimu, sementara kamu membawa lebih banyak kurma daripada yang aku bawa?! Yang lain berkata: Kita semua telah membagi, dan aku memberimu pilihan, dan kamu memilih bagianmu dengan anggapan bahwa itu lebih banyak. Padahal keberkahan Allah tidak terbatas.

Ia berkata: Bahkan, itu telah mengalahkanku. Masalah itu diserahkan kepada hakim, dan mereka hadir. Ia berkata: Wahai hakim, kami telah membagi kurma menjadi dua, dan aku membawa kurma-kurmaku, dan kurma-kurma itu mencapai sekian dan sekian dalam bakul-bakul. Dia menundanya hingga orang-orang berbuka puasa, lalu mereka datang untuk makan, lalu mereka memenuhi bakul-bakul dengan biji, dan dia mendatangkan lebih banyak kurma daripada yang aku bawa. Ini berarti aku telah ditipu.

Hakim itu cerdik, maka dia berkata kepadanya: Bacalah:

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ

Sesungguhnya Kami telah menguji mereka sebagaimana Kami telah menguji para penghuni kebun [Al-Qalam: 17], seolah-olah dia berkata kepadanya: Segala puji bagi Tuhanmu karena kamu memperoleh kurma-kurma ini, karena para penghuni kebun tidak memperoleh apa-apa, dan kamu berkata: Aku akan memotongnya pada siang hari di bulan Ramadan, sehingga tidak ada seorang pun miskin yang akan memasukinya kepadamu pada hari ini. Ini adalah pahalamu, dan Allah, Yang Mahakuasa, telah menurunkan kepadanya berkah, dan berkah Allah itu tidak ada habisnya.’

Keberkahan Nama-nama Allah ﷻ

Syeikh, semoga Allah merahmatinya, berkata: Semua nama-nama Allah ﷻ itu baik dan penuh berkah. Beliau, semoga Allah merahmatinya, juga berkata: Keberkahan itu ada atas nama Allah (bismillah) ; yakni, ketika nama Allah menyertai sesuatu, maka sesuatu itu menjadi berkah. Itulah sebabnya hadits menyatakan:

كلُّ أمرٍ ذي بال لا يُبدأ فيه باسم الله، فهو أبْتَرُ

Setiap urusan penting yang tidak diawali dengan nama Allah maka tidak lengkap, artinya tidak berkah.

Sama halnya, Sebelum melakukan hubungan badan, suami-istri dianjurkan untuk membaca doa. Doa yang dibaca adalah:

اللهم جنِّبنا الشيطان، وجنِّب الشيطان ما رزقتنا

“Bismillahi, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.”

yang artinya: “Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami.”

InshaAllah, ujung-ujungnya anak yang dilahirkan akan menjadi sholeh. Setan tidak akan pernah menyakiti anak itu. Jika ia tidak mengucapkan Bismillah, maka anak itu rentan terhadap bahaya setan.

Keberkahan Akhlak

Diantara keberkahan akhlak adalah sifat qona’ah. Oleh karena itu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan:

وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ

“Barangsiapa merasa cukup dengan adanya Allāh, maka Allāh akan mengkaruniakan kepadanya kekayaan yang haqiqi yaitu kekayaan diri (kecukupan pada dirinya).”

Doa yang biasa dipanjatkan agar rezeki Muhammad tercukupi adalah: “Allahummarzuqnii maa yakfiinii wa amnani mimmaa yuthi’inii.” Yang artinya, “Ya Allah, berilah rezeki yang cukup kepadaku dan jauhkan aku dari rezeki yang membuatku melampaui batas.”

Keberkahan Salam

Diantara keberkahan adalah dengan tahiyatul Islam assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jangan diganti dengan ucapan bahasa kita yang menjadikannya kurang berkah. Pentingkan akhirat dulu, yaitu do’a dengan salam baru dilanjutkan ahlan wasahlan, apa khabar dan lainnya.

Keberkahan Berkumpul dan Mengulurkan Tangan di Atas Makanan

Syekh, semoga Allah merahmatinya, bersabda: Makan bersama lebih utama, sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi ﷺ. Beliau menjelaskan bahwa hal ini merupakan keberkahan. Hal ini disebutkan ketika seorang laki-laki mengeluh kepadanya bahwa ia makan tetapi tidak pernah merasa kenyang. Nabi ﷺ , bersabda kepadanya: “Mungkinkah kalian makan sendiri-sendiri?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka, berkumpullah di sekitar makanan kalian dan sebutlah nama Allah di atasnya, niscaya makanan itu akan diberkahi bagi kalian.” Berkumpul di sekitar makanan merupakan salah satu sebab keberkahan.

Rasulullah ﷺ , juga bersabda: Mengulurkan tangan di atas makanan mendatangkan keberkahan, dan makanan satu orang cukup untuk dua orang, dan dua orang cukup untuk tiga atau bahkan empat orang. Hal ini terlihat jelas dalam keberkahan berbagi makanan. Semakin banyak tangan yang dibagikan di atas makanan, semakin banyak pula keberkahannya.

Keberkahan Sedekah

Syekh, semoga Allah merahmatinya, bersabda: Sabda Nabi,

ما نقصت صدقة من مال

“Sedekah tidak mengurangi harta,” berarti harta tidak berkurang karena sedekah. Orang mungkin berpikir bahwa kekurangan itu bersifat fisik, tetapi sesungguhnya kekurangan itu bersifat spiritual.

Contohnya adalah: Seseorang memiliki seratus riyal dan bersedekah sepuluh riyal, yang jumlahnya menjadi sembilan puluh riyal. Dikatakan: Jumlahnya telah berkurang. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bermaksud demikian karena beliau tahu bahwa jumlah tersebut niscaya akan berkurang. Akan tetapi, hal itu tidak berarti berkurang, karena Allah ﷻ memberikan keberkahan kepada apa yang tersisa dari uang tersebut, dan uang tersebut melindungi dari bahaya yang mungkin menimpa uang itu sendiri atau pemiliknya. Pernahkah Anda melihat, misalnya, jika seseorang memiliki seratus riyal lalu jatuh sakit dan membutuhkan seratus untuk berobat, bukankah uang itu akan hilang? Akan tetapi, jika ia bersedekah dengan uang tersebut, maka hal itu merupakan sarana untuk menjaganya, yakni menjaganya dari hal-hal yang dapat merusaknya, baik karena sakitnya orang tersebut, sakitnya keluarganya, hilangnya uang tersebut, pencurian, atau yang semisalnya.

Keberkahan Orang Tua yang Saleh

Allah ﷻ berfirman:

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.” (Al-Kahfi: 82).

Syekh, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Sebagian dari rasa syukur Allah ﷻ kepada ayah yang saleh ini adalah karena beliau berbelas kasih kepada anak-anaknya. Ini adalah salah satu keberkahan orang tua yang saleh, karena Allah melindungi anak-anak mereka.”

Sebagian ahli tafsir berpendapat sampai 7 turunan (pada ayat di atas sampai kakek yang ketujuh).

Keberkahan Ada pada Sebagian Orang

Syekh, semoga Allah merahmatinya, berkata:

  • Keberkahan ada pada makhluk, tetapi yang menciptakannya adalah Allah ﷻ.
  • Sebagian keberkahan seseorang adalah jika ia menjadi sebab kebaikan bagi kerabatnya.
  • Sebagian keberkahan seseorang adalah jika Allah menjadikan kebaikan pada dirinya.

Beliau, semoga Allah merahmatinya, juga berkata: Usayd bin Khudair berkata: “Ini bukanlah keberkahan pertama kalian, wahai keluarga Abu Bakar.” Keberkahan di sini adalah bahwa putusnya kalung Aisyah menjadi sebab terbebasnya kesusahan manusia dan turunnya ayat tentang tayamum. Beliau, semoga Allah meridhainya, benar adanya. Keluarga Abu Bakar memiliki keberkahan, bukan hanya untuk Nabi ﷺ, tetapi juga untuk seluruh umat (umat Islam). Andai satu-satunya keberkahan keluarga Abu Bakar bagi umat hanyalah kekhalifahan Abu Bakar, itu sudah cukup sebagai keberkahan, dan banyak kebaikan akan muncul darinya. Perang melawan orang-orang murtad, kejayaan umat Islam, dan pengangkatan al-Faruq (Radhiyallahu’anhu)—semua ini adalah amal saleh Abu Bakar (Radhiyallahu’anhu), dan ia menempatkan kebenaran pada tempatnya. Itulah sebabnya kekhalifahan Umar (Radhiyallahu’anhu) dianggap sebagai salah satu keutamaan Abu Bakar (Radhiyallahu’anhu), dan keberkahan mereka pun berlimpah.

Keberkahan Musyawarah

Syekh, semoga Allah merahmatinya, berkata: Ketika Umar (Radhiyallahu’anhu) mendengar berita wabah tersebut, beliau bermusyawarah dengan para sahabat—seperti kebiasaan beliau—untuk memutuskan apakah akan kembali atau maju. Sebagian dari mereka menyarankan untuk kembali, sementara yang lain menyarankan untuk tidak kembali. Kemudian beliau memutuskan untuk berangkat, berdasarkan pilihan mayoritas sahabat (Radhiyallahu’anhu). Sementara itu, Abdurrahman bin Auf (Radhiyallahu’anhu) datang—dan beliau membutuhkannya—dan memberi tahu mereka bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jika kalian mendengarnya di suatu negeri, janganlah kalian maju ke sana. Jika wabah itu terjadi di negeri tempat kalian berada, janganlah kalian meninggalkannya dan melarikan diri darinya.” Lihatlah betapa berkahnya musyawarah ini, karena mereka telah dibimbing kepada apa yang benar dan lurus.

Keberkahan Al-Qur’an

Syekh, semoga Allah merahmatinya, berkata: Demi Allah, betapa berkahnya Al-Qur’an ini! Ketika umat Islam mengamalkannya secara lahir dan batin, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dalam akidah dan amal, akhlak dan budi pekerti, mereka meraih keberkahannya, menguasai dunia, dan memerangi musuh-musuh Allah dengannya. Ketika mereka meninggalkannya, keberkahan Al-Qur’an pun direnggut dari mereka.

Syekh, semoga Allah merahmatinya, berkata: Al-Qur’an adalah Al-Qur’an yang penuh berkah, penuh berkah pahalanya, penuh berkah maknanya, penuh berkah dampaknya, penuh berkah dalam segala hal.

Syekh, semoga Allah merahmatinya, berkata: Jika seseorang melihat Allah ﷻ melimpahkan kebaikan dan berkah kepadanya, maka ini adalah berkah besar yang patut ia syukuri. Bahkan, ia harus bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut dan mensyukurinya.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *