
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan peringatan mendalam kepada kita, betapa celakanya manusia yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Dalam Ighatsatul Lahfan, beliau menyebutkan bahwa seseorang yang mengarahkan seluruh pikiran, waktu, dan tenaganya untuk mengejar dunia tidak akan menemukan kebahagiaan sejati. Dunia hanyalah fatamorgana yang tidak memberikan kepuasan hakiki. Mereka yang menjadikan dunia sebagai ambisi terbesar dalam hidup justru menjadi orang yang paling “payah” dan lelah, karena dunia tidak pernah menjanjikan kebahagiaan abadi.
Dunia memang menawarkan kesenangan dan kenikmatan, tetapi semua itu bersifat sementara dan semu. Seseorang yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi akan merasa hampa, bahkan setelah berhasil meraih apa yang diinginkannya. Dia mungkin memiliki harta melimpah, kedudukan tinggi, atau kekuasaan besar, tetapi hatinya tetap gersang jika jauh dari Allah. Seorang mukmin sejati menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara untuk meraih akhirat, dan apa yang dikejar di dunia seharusnya tidak sampai melalaikan dari ketaatan kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِۦ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
_”Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.”_
(QS. Asy-Syura: 20)
Ayat ini menunjukkan bahwa mengejar dunia saja akan mengakibatkan hilangnya bagian dari kenikmatan akhirat. Dalam kehidupan ini, seorang mukmin harus cerdas dalam menentukan prioritas. Berusaha menggapai dunia tidaklah salah, selama niat dan tujuan utamanya tetap terarah kepada ridha Allah. Dunia hanya akan berarti jika dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan untuk memperbanyak amal kebaikan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ…”
_”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Celakalah hamba dinar, dirham, kain sutra, dan pakaian indah; jika diberi, dia ridha; dan jika tidak diberi, dia murka…'”_
(HR. Bukhari)
Hadits ini mengajarkan kepada kita tentang bahaya perbudakan oleh harta dan kedudukan dunia. Ketika seseorang menggantungkan kebahagiaannya pada dunia, maka kehidupannya akan penuh dengan ketidakpuasan dan kesedihan. Sebaliknya, seorang mukmin yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya akan merasa ringan dalam menghadapi segala kondisi dunia. Dia ridha terhadap takdir Allah dan selalu berusaha mencari keridhaan-Nya dalam setiap amal perbuatan.
🌟
Menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup adalah sumber segala kelelahan jiwa. Dunia memang tempat beramal, namun ia hanya alat untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Seorang mukmin sejati tidak akan diperbudak oleh gemerlap dunia. Dia menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini fana, sementara kebahagiaan sejati ada pada akhirat. Karena itu, seorang mukmin harus bijak dalam menggunakan waktunya di dunia ini, memanfaatkan setiap kesempatan untuk beramal shalih, dan mengingat bahwa tujuan utamanya adalah mendapatkan ridha Allah di akhirat. Beramal dengan niat mencari akhirat akan membawa kebahagiaan sejati, ketenangan batin, dan rasa syukur yang dalam kepada Allah.
Tinggalkan Balasan