
بسم اﷲالرحمن الرحيم
Para salaf memahami setiap nama-nama Allah sesuai makna aslinya sesuai dengan yang mereka pahami. Nama Allah itu tauqifiyah, mesti dengan dalil, akal tidak punya ruang di dalamnya. Oleh karena itu pembicaraan nama dan sifat Allah hanya terbatas pada dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan ditambah, jangan dikurangi.
Nama Allah ash-Shamad
Nama Allah Ta’ala ash-Shamad disebutkan dalam firman-Nya:
{قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ}
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah ash-Shamad (Penguasa Yang Maha Sempurna dan bergantung kepada-Nya segala sesuatu)”(QS al-Ikhlaash:1-2).
Banyak ungkapan para salaf (sahabat dan tabiin) mengenai makna Ash-Shamad:
- Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallohu’anhu [wafat 32H] memaknai ash shamad sebagai yang Maha sempurna kepemimpinanya.
- Ibnu ‘Abbas Radhiyallohu’anhuma berkata :
السَّيِّدُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي سُؤْدَدِهِ، وَالشَّرِيفُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي شَرَفِهِ، وَالْعَظِيمُ الَّذِي قَدْ عَظُمَ فِي عَظَمَتِهِ، وَالْحَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِلْمِهِ، وَالْغَنِيُّ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي غِنَاهُ، وَالْجَبَّارُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي جَبَرُوتِهِ، وَالْعَالِمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عِلْمِهِ، وَالْحَكِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِكْمَتِهِ، وَهُوَ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي أَنْوَاعِ الشَّرَفِ وَالسُّؤْدَدِ، وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذِهِ صِفَتُهُ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لَهُ
“As-Sayyid (pemimpin) yang sempurna dalam kepemimpinannya, Asy-Syariif (yang maha mulia) yang sempurna dalam kemuliaannya, al-‘Adziim (yang maha agung) yang sempurna dalam keagungannya, al-Haliim (yang maha santun) yang sempurna dalam kesantunannya, al-Ghoniy (yang maha kaya) yang sempurna dalam kekayaannya, al-Jabbaar (yang maha kuasa) yang sempurna dalam kekuasan-Nya, al-‘Aalim (maha berilmu) yang sempurna dalam ilmunya, al-Hakiim (yang maha bijak) yang sempurna dalam kebijakannya. Dan Dialah Allah yang sempurna dalam berbagai macam kemuliaan dan kepemimpinan. Dialah Allah yang demikianlah sifat-Nya, tidak boleh kecuali hanya untuk-Nya.” (Tafsir At-Thabari 24/736)
Makna ini sesuai dengan makna bahasa الاِجْتِمَاعُ (perkumpulan). Karena seluruh sifat-sifat di atas terkumpul pada diri Allah ﷻ.
- Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah al-qashdu (tujuan), artinya: orang yang dinamakan dengan ini adalah pemimpin yang dituju (dijadikan rujukan) dalam semua urusan. Kemudian Ibnu Faris berkata: “Allah yang maha agung kemuliaan-Nya adalah ash-Shamad karena Dialah yang dituju oleh semua hamba-Nya dengan doa dan permohonan mereka” [Kitab “Mu’jamu maqaayiisil lughah” (3/241)].
Faedah:
Para salaf terdahulu mazhab mereka dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ bukanlah tafwidh. Tafwidh adalah tidak mengerti makna sesuatu. Semua makna Ash-Shamad secara istilah sesuai dengan makna bahasanya. Seperti tafsiran asha-shamad dengan الَّذِي يَصْمِدُ إِلَيْهِ النَّاسُ حَوَائِجَهُمْ sesuai dengan makna bahasanya المَصْمُوْدُ إِلَيْهِ (yang dituju). Jadi Ash-Shamad adalah dzat yang dituju, ketika makhluk memiliki kebutuhan maka mereka semua menuju kepada Allah ﷻ.
Tangan Allah
4. Disebutkan dalam Ucapan Sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa ada 4 Hal yang Allah Ciptakan Langsung dengan TanganNya, yaitu:
1. Arsy
2. Surga Adn
3. Adam
4. Pena (Penulis Taqdir).
Sedangkan Makhluk Lainnya Diciptakan dengan Ucapan Allah : Kun (Jadilah), maka Jadilah Makhluk tersebut.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ خَلَقَ اللهُ أَرْبَعَةَ أَشْيَاءَ بِيَدِهِ : الْعَرْشَ ، وَالْقَلَمَ ، وَعَدْنٍ ، وَآدَمَ . ثُمَّ قَالَ لِسَائِرِ الْخَلْقِ : كُنْ فَكَانَ
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma ia Berkata : Allah Menciptakan 4 Hal dengan TanganNya : Arsy, Pena (Penulis Taqdir), Surga Adn, dan Adam. Kemudian (Allah) Berfirman kepada Semua Penciptaan (yang lain) : Jadilah! Maka Jadilah (Makhluk itu).
HR. ad-Daarimiy dalam ar-Radd alal Muraiysi, Ibnu Jarir AtThobary dalam Tafsirnya, Al-Baihaqy dalam Asmaa’ was-Sifaat, dan Adz-Dzahaby menyatakan bahwa Sanadnya Kuat.
Hal itu Menunjukkan bahwa Makna ‘Tangan Allah’ dalam Ayat maupun Hadits-hadits di atas adalah Makna secara Hakiki. Abdullah Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma tidak mentafwidz atau mentasybih.
Kita Beriman bahwasanya Allah Memiliki Tangan yang Sempurna, yang Tidak Sama dengan Tangan Makhluk Manapun dan Kita Tidak Mengetahui serta Tidak Boleh Menanyakan Bagaimana atau Seperti Apa Tangan Allah.
Istiwa’ (Bersemayam) di Atas Arsy
Hal itu telah ada pada tujuh tempat dari kitab Allah, di antaranya firman Allah Ta’ala:
إنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الأعراف/54
“Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy”. (QS. Al A’raf: 54)
Dan yang dikenal dari tafsir istiwa’ adalah Al ‘Uluw wa Al Irtifa’ (tinggi).
5. Abu Al ‘Aliyah berkata: “استوى إلى السماء adalah irtafa’a (tinggi). Mujahid berkata: “Istawa adalah tinggi di atas ‘arsy”.
Mujahid adalah murid Ibnu Abbas [Ahli Tafsir sahabat] dan beliau membaca Al-Qur’an 3 kali dan belajar hukum dan tafsirnya sekaligus.
6. Sufyan bin Uyainah mengatakan, “ Rabi`ah Ar-Ra’yi – Guru Imam Malik (wafat tahun 136 H) ditanya, ‘Bagaimanakah cara Allah ber-istiwa’ (berada di atas Arsy)?’ Beliau menjawab, ‘Istilah beristiwa (berada di atas Arsy) bukanlah istilah asing, namun bagaimana tata cara Allah beristiwa, tidak bisa digambarkan dengan logika. Risalah itu dari Allah, Rasulullah hanya menyampaikan, dan kewajiban kita adalah membenarkan.”
7. Ketika Imam Malik (wafat th. 179 H) rahimahullah ditanya tentang istiwa’ Allah, maka beliau menjawab:
اَاْلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَمَا أَرَاكَ إِلاَّ ضَالاًّ.
Istiwa’-nya Allah ma’lum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyatnya tidak dapat dicapai nalar (tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah, dan aku tidak melihatmu kecuali da-lam kesesatan.”
Kemudian Imam Malik rahimahullah menyuruh orang tersebut pergi dari majelisnya. [Syarhus Sunnah lil Imaam al-Baghawi (I/171)]
Sifat Tangan bagi Allah
Demikian juga tentang sifat tangan bagi Allah. Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih dan ijma’ ulama menyatakan Allah ta’ala memiliki sifat tangan. Maka wajib kita mengimaninya apa adanya sesuai yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadits shahih, dengan makna tangan yang layak bagi keagungan Allah, dan tanpa mendeskripsikan bagaimana tangan Allah. Dan menetapkan sifat tangan bagi Allah sama sekali tidak termasuk menyerupakan Allah dengan makhluk.
8. ‘Ikrimah Al Qurosyi Al Hasyimi [Bekas budak Ibnu Abbas Radhiyallahuanhu] saat menafsirkan Firman Allah ﷻ,
بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ
“Padahal kedua tangan Allah terbuka.”
Di dalam bahasan Sifat Allah, ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ memiliki dua tangan. Orang Yahudi mengatakan, يَدُ اللَّهِ “Tangan Allah” dengan memakai redaksi tunggal (mufrad). Namun Allah ﷻ membantah mereka: بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ “Padahal kedua tangan Allah terbentang”, dengan memakai redaksi mutsanna (yang menunjukkan jumlah dua). [ Al-Tahrir wat-Tanwir, vol. VI, hlm. 250].
•┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
📚┃Materi : UCAPAN PARA ULAMA’ SALAF DALAM MEMAHAMI AYAT AYAT SIFAT ALLAH
🎙┃Pemateri : Ustadz Amron Syaikhul Alim,Lc. حفظه الله تعالى (Alumni LIPIA Jakarta )
🗓| Hari Senin,1 September 2025 – Ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat : Masjid Al Kautsar Puri Gading – Jl. Puri Gading Raya Perum Puri Gading, Dusun I, Grogol, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo
•┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Tinggalkan Balasan