
بسم اﷲالرحمن الرحيم
Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya, Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang berkaitan dengan akhlak.
Sebelumnya Ustadz mengingatkan bahwa kemerdekaan adalah nikmat yang besar, tetapi hendaknya kita tidak mengisi kemerdekaan dengan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.
Wallahi, banyak masyarakat kita yang tidak paham agama. Mereka banyak mengisi acara kemerdekaan dengan sesuatu yang melanggar syariat, seperti judi, ikhtilat, dan kegiatan yang sia-sia.
Padahal hakikat mengisi kemerdekaan adalah dengan menuntut ilmu, agar terhindar dari kebodohan dan keterbelakangan. Karena Allah ﷻ akan mengangkat suatu kaum adalah berkat ilmu mereka.
Melanjutkan pembahasan tentang akhlak berbakti kepada kedua orang tua.
1. Mendakwahi dan Mendo’akan Mereka
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ : كُنَّا عِنْدَ أَبِي هُرَيْرَةَ لَيْلَةً، فَقَالَ : ” اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِي هُرَيْرَةَ، وَلأُمِّي، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُمَا ” ، قَالَ لِي مُحَمَّدٌ : فَنَحْنُ نَسْتَغْفِرُ لَهُمَا حَتَّى نَدْخُلَ فِي دَعْوَةِ أَبِي هُرَيْرَةَ ”
Muhammad Ibnu Sirrin berkata: “Kami pernah berada di sisi Abu Hurairah pada suatu malam,” Lalu dia berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah Abu Hurairah, ibuku dan orang yang memohonkan ampunan untuk keduanya.”
Muhammad bin Sirin berkata, “Lalu kami memohonkan ampunan untuk keduanya sehingga kami masuk bagian dari doa Abu Hurairah.” Hadits shahih.
Ibnu Sirin adalah murid abu Hurairah. Dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu adalah sahabat Nabi ﷺ, sementara Ibnu sirin adalah tabi’in. Maka, derajat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu tentu lebih tinggi dan Ibnu Sirin Rahimahullah paham akan keutamaan sahabat, maka beliau pun mendo’akan Abu Hurairah dan ibunya Radhiyallahu’anhuma.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. [HR. Bukhari Muslim].
Mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang saling mendo’akan, Allah ﷻ berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat 10:
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.
Dan do’a Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menunjukkan bakti dan perhatian beliau kepada ibunya.
Kisah Masuk Islamnya Ibunda Abu Hurairah
Abu Hurairah pernah bercerita, “dahulu ibuku masih dalam keadaan musyrik, setiap saat aku selalu mendakwahkannya agar memeluk agama islam, sampai di suatu hari saya mendengar perkataan ibuku yang sangat buruk yang ia layangkan untuk Rasulullah, aku langsung mengadu kepada Rasulullah seraya menangis lalu aku meminta Rasulullah untuk mendoakan ibuku, maka Rasulullah berkata,
اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ
“Ya Allah berikanlah hidayah kepada ibunda Abu Hurairah”.
Maka setelah Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam mendoakan ibuku, aku kembali kerumah ingin mendakwahinya lagi dan mengabarkan bahwa ia telah di doakan Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam, namun setibanya aku di rumah, pintu rumah ku terbuka, aku medengar suara gemercik air, lalu saat aku ingin masuk, terdengar suara ibuku berkata, “janganlah kau masuk”.
Kemudian keluar ibuku yang telah memakai penutup kepala dan tubuhnya seraya mengatakan,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Ya, ibuku mengucapkan kalimat syahadat, ibu ku menjadi seorang muslimah. Aku langsung lari kembali kepada Rasulullah seraya menangis kegirangan layaknya aku menangis tadi karena kesedihan, aku kabarkan kabar gembira ini kepada Rasulullah, lalu ia berdoa,
اللَّهُمَّ حَبِّبْ عُبَيْدَكَ هَذَا وَأُمَّهُ إِلَى عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ، وَحَبِّبْهُمْ إِلَيْهِمَا
“Ya Allah jadikanlah hambamu ini (abu hurairah) dan ibunya orang yang di cintai oleh kaum mukminin, dan ia berdua juga cinta kepada kaum mukminin” [HR. Muslim].
Kisah ini memberikan pelajaran untuk bersabar mendakwahi keluarga atau saudara kita yang belum muslim dengan sabar, agar memberikan hidayah.
Dan hendaknya meminta nasihat kepada orang yang shalih, seperti Abu Hurairah radhiyallahu’anhu minta do’a kepada Rasulullah ﷺ. Hadits di atas menunjukkan mustajabnya do’a Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terkabul do’a tersebut sesegera mungkin. Itulah tanda nubuwwah (kenabian) beliau. Namun permintaan do’a ini berlaku ketika beliau masih hidup, bukan berarti meminta do’a pada beliau sesudah matinya (tawassul).
Semua orang mencintai Abu Hurairah bahkan orang Yahudi dan Nashrani. Namun disayangkan orang Syi’ah tidaklah demikian. Syi’ah bahkan mengkafirkan sahabat yang mulia ini.
- Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafidzahullahu ta’ala berkata:
Diantara berbakti kepada kedua orang tua atau orang tua yang masih non muslim adalah dengan menjelaskan keindahan Islam.
Dan termasuk berbakti kepada orang tua yang paling bagus adalah bersemangat untuk berdakwah kepada mereka dengan lemah lembut. Seperti dicontohkan oleh nabi Ibrahim alaihissalam.
Allah ﷻ jadikan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu sebagai sebab keislaman ibunya, beliau sangat bersemangat untuk melaksanakannya dan beliau melakukan dua hal:
- Senantiasa menjelaskan keindahan Islam. Seperti sikap sabar dan lemah lembut.
- Mendo’akan terus ibunya agar mendapatkan hidayah.
Demikian juga menjelaskan mereka di atas hidayah dan berjalan di jalan hidayah (sunnah).
Imam Malik bin Anas, sebagaimana direkam oleh As-Sakhawi (Al-Maqashid Al-Hasanah, Hlm. 513, Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, Libanon) menyatakan:
كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ
“Setiap orang bisa diambil perkataannya, bisa juga ditolak, kecuali penghuni kubur ini (yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam).”
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengomentari hadits di atas dalam Al-Bidayah Wan Nihayah: do’a Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terkabul do’a tersebut sesegera mungkin. Itulah tanda nubuwwah (kenabian) beliau. Dan Abu Hurairah dan ibunya Radhiyallahu’anhuma dicintai oleh seluruh manusia, Allah ﷻ mengenalkan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu pada setiap riwayat hadits yang dibawakannya. Bahkan setiap Jum’at beliau disebut di sebagian masjid akan pentingnya mendengarkan khutbah Jum’at.
2. Menjadi Anak-anak yang Shalih dan Shalihah
Diantara berbakti kepada orang tua adalah menjadi anak yang shalih atau sholehah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau doa anak yang shalih” – [HR. Muslim no. 1631].
Maka, amalan yang terbanyak ada pada diri Rasulullah ﷺ, karena beliau yang pertama kali menyebarkan risalah islam kepada umatnya.
Istighfar Seorang Anak Mengejutkan Orang Tuanya di Surga – Allah ﷻ akan meninggikan derajat setiap orang tua dengan amalan anak-anaknya. Keutamaan dan kemurahan yang di limpahkan Allah ﷻ kepada para orang tua melalui doa anak-anaknya tertuang pada hadis yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dia berkata, ‘Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ اللهَ – عز وجل – لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ؟ , فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
“Sesungguhnya Allah ﷻ benar-benar akan mengangkat derajat seorang hamba shalih di surga. Lantas hamba itu berkata, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana aku mendapatkan derajat ini?’ Maka Allah subhaanahu wata’aalaa berfirman, ‘Dengan sebab istighfar (permohonan ampun) anakmu untukmu.’ – (HR. Ahmad (10618), Ibnu majah (3660), Shahiih al-Jaami’ (1617), as-Shahiihah (1598))
3. Bersedekah Atas Nama Mereka
Cara berbakti kepada orang tua yang lain adalah sedekah atas nama orang tua.
Sedekah yang dikeluarkan seorang anak untuk salah satu atau untuk kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia, maka pahalanya akan sampai kepada keduanya. Selain itu segala amal shalih yang diamalkan anaknya maka pahalanya akan sampai kepada kedua orang tuanya tanpa mengurangi pahala si anak tersebut, sebab si anak merupakan hasil usaha kedua orang tuanya.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. [an-Najm/53:39].
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَطْـيَبَ مَـا أَكَـلَ الرَّجُلُ مِـنْ كَـسْبِهِ ، وَإِنَّ وَلَـدَهُ مِنْ كَسْبِـهِ.
Sesungguhnya sebaik-baik apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya adalah hasil usahanya.
Shahîh, HR Ahmad (VI/41, 126, 162, 173, 193, 201, 202, 220), Abu Dawud (no. 3528), at-Tirmidzi (no. 1358), an-Nasa-i (VII/241), Ibnu Majah (no. 2137), dan al-Hakim (II/46).
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :
أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أُمّـِيْ افْـتُـلِـتَتْ نَـفْسُهَا (وَلَـمْ تُوْصِ) فَـأَظُنَّـهَا لَوْ تَـكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَـهَلْ لَـهَا أَجْـرٌ إِنْ تَـصَدَّقْتُ عَنْهَا (وَلِـيْ أَجْـرٌ)؟ قَالَ: «نَعَمْ» (فَـتَـصَدَّقَ عَـنْـهَا).
Bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara tiba-tiba (dan tidak memberikan wasiat), dan aku mengira jika ia bisa berbicara maka ia akan bersedekah, maka apakah ia memperoleh pahala jika aku bersedekah atas namanya (dan aku pun mendapatkan pahala)? Beliau menjawab, “Ya, (maka bersedekahlah untuknya).”
Shahîh, HR al-Bukhari (no. 1388), Muslim (no. 1004), Ahmad (VI/51), Abu Dawud (no. 2881), an-Nasa-i (VI/250), Ibnu Majah (no. 2717), dan al-Baihaqi (IV/62; VI/277-278).
Demikian juga berkaitan dengan masalah hutang. hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa pernah ada seorang wanita dari bani Juhainah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata :
إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ، حُجِّي عَنْهَا. أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟ اُقْضُوا اللهَ، فَاللهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ.
“Sesungguhnya ibuku telah bernadzar haji, tetapi belum berhaji sampai meninggalnya, apakah aku harus menghajikan untuknya?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, hajikanlah untuknya. Bukankah jika ibumu menanggung hutang maka kamu yang akan melunasinya? Tunaikanlah hak Allah, karena hak Allah lebih utama untuk ditunaikan” – [Hadits Riwayat Al-Bukhari 1852- Fathul Bari]
Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash yang Enggan Taat pada Ibunya yang Mengajak Berbuat Syirik
Lihatlah kisah teladan berikut ini sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab sahihnya dari Mush’ab bin Sa’ad dari ayahnya (yaitu Sa’ad) bahwa beberapa ayat Al-Qur’an turun padanya. Dia berkata,
حَلَفَتْ أُمُّ سَعْدٍ أَنْ لاَ تُكَلِّمَهُ أَبَدًا حَتَّى يَكْفُرَ بِدِينِهِ وَلاَ تَأْكُلَ وَلاَ تَشْرَبَ. قَالَتْ زَعَمْتَ أَنَّ اللَّهَ وَصَّاكَ بِوَالِدَيْكَ وَأَنَا أُمُّكَ وَأَنَا آمُرُكَ بِهَذَا. قَالَ مَكَثَتْ ثَلاَثًا حَتَّى غُشِىَ عَلَيْهَا مِنَ الْجَهْدِ فَقَامَ ابْنٌ لَهَا يُقَالُ لَهُ عُمَارَةُ فَسَقَاهَا فَجَعَلَتْ تَدْعُو عَلَى سَعْدٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى الْقُرْآنِ هَذِهِ الآيَةَ (وَوَصَّيْنَا الإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا) (وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِى) وَفِيهَا (وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوفًا)
Ummu Sa’ad (Ibunya Sa’ad) bersumpah tidak akan mengajaknya bicara selamanya sampai dia kafir (murtad) dari agamanya, dan dia juga tidak akan makan dan minum. Ibunya mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah mewasiatkan padamu untuk berbakti pada kedua orang tuamu, dan aku adalah ibumu. Saya perintahkan padamu untuk berbuat itu (memerintahkan untuk murtad, pen)’.
Sa’ad mengatakan, “Lalu Ummu Sa’ad diam selama tiga hari kemudian jatuh pingsan karena kecapekan. Kemudian datanglah anaknya yang bernama ‘Umarah, lantas memberi minum padanya, tetapi ibunya lantas mendoakan (kejelekan) pada Sa’ad. Lalu Allah menurunkan ayat,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.” (QS. Al-‘Ankabut: 8).
Dan juga ayat,
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku.” (QS. Lukman: 15), yang di dalamnya terdapat firman Allah,
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Lukman: 15). Lalu beliau menyebutkan lanjutan hadits. (HR. Muslim, no. 1748)
Hadits ini memberikan pelajaran:
- Keimanan harus diutamakan di atas segala-galanya. Seorang Muslim harus rela mengorbankan apapun demi mempertahankan keyakinannya kepada Allah ﷻ.
- Berbuat baik kepada orang tua adalah wajib, kecuali jika mereka memerintahkan untuk melakukan perbuatan syirik. Ketaatan kepada Allah ﷻ harus didahulukan daripada ketaatan kepada siapapun.
- Ujian keimanan adalah sunnatullah. Setiap Muslim akan diuji keimanannya dengan berbagai macam cara.
Asma’ Binti Abu Bakar dan Ibunya
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah meminta kepada Asma’ binti Abu Bakar, putri Abu Bakar, agar selalu berbuat baik kepada ibunya, meskipun ibunya belum masuk Islam.
Disebutkan dalam Shahih Bukhari, Abu Bakar memiliki istri bernama Qatilah. Menurut sebagian sejarawan, Qatilah tidak memeluk agama Islam, sehingga dia diceraikan oleh Abu Bakar pada masa jahiliyyah. Setelah Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Madinah, Qatilah pergi ke Madinah untuk menemui putri tercintanya, Asma’ binti Abu Bakar. Dia datang sembari membawa hadiah. Namun sayangnya, Asma’ menolak hadiah bawaan ibunya. Dia menolak karena ibunya belum masuk Islam. Kejadian itu akhirnya dilaporkan kepada Rasulullah dan beliau meminta Asma untuk selalu menjaga hubungan baik dengan ibunya, sekalipun beda agama.
Maka, bagi seseorang yang masih memiliki orang tua yang kafir dan umumnya orang-orang kafir yang tidak memerangi, hendaklah kita berbakti kepada mereka. Berbuatlah adil kepada mereka dan Allah ﷻ tidak melarangnya. Karena, tidak diragukan, banyak sekali orang yang kafir yang tertarik dengan Islam karena akhlak dan sifat lemah lembut. Dan umumnya orang-orang kafir akan respek kepada umat islam karena tingginya adab dan akhlak.
Birru aba’akum tabirrukum abnaukum. (Berbaktilah kepada orang tuamu, maka anak-anakmu juga akan berbakti kepadamu). Karena (al-jaza’ min jinsil ‘amal), balasan sesuai dengan perbuatan.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Tinggalkan Balasan