Antara Dunia dan Akhirat

Bismillah
- ✒️┃Materi : Antara Dunia dan Akhirat
- 🎙┃Pemateri : Ustadz Ikmal Fahad Dawud, S.Pd.I., M.P.I Hafidzahullah
- ▪️ Pembina Solo Mengaji
- ▪️ Pengajar Ilmu Syar’i Pondok Pesantren Al-Ukhuwah Sukoharjo
- 📆┃Hari : Insya Allah Rutin Setiap Hari Selasa Malam Rabu Pekan Ke-3 & Pekan Ke-4
- 🕰️┃Waktu : Ba’da Maghrib – Isya’
- 🕌┃Tempat : 📍Masjid Raya Fatimah Jl. Dr. Radjiman No. 193, Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta.
Pentingnya Manajemen Waktu dan Keistiqamahan Seorang Muslim
Ikhwatiffillah, jamaah Masjid Raya Fatimah rahimakumullah,
Marilah kita bersyukur ke hadirat Allah Tabaraka wa Ta’ala yang sampai saat ini masih memberikan limpahan karunia dan nikmat-Nya kepada kita. Utamanya, kita masih dianugerahi taufik—kemudahan dan kemampuan untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita berharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar seluruh amalan yang kita usahakan di dunia diterima di sisi-Nya kelak ketika kita menghadap-Nya. Allahumma amin.
Ikhwatiffillah, jamaah Masjid Raya Fatimah barakallahu feekum,
Satu hal yang insyaallah sudah kita pahami bersama adalah hikmah di balik penciptaan manusia. Allah ‘Azza wa Jalla tidak menciptakan dan menempatkan kita di muka bumi melainkan untuk satu tujuan besar, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Al-Qur’an adalah kalam Allah, dan kata “Aku” di situ merujuk pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tujuan utama diadakannya kita di bumi ini adalah untuk beribadah kepada-Nya.
Namun, kita adalah manusia yang hidup dalam dimensi sosial dan memiliki ketergantungan pada sesama. Seluruh waktu kita tidak bisa digunakan hanya untuk ibadah mahdhah (aktivitas murni mendekatkan diri kepada Allah) tanpa memikirkan urusan keduniaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala maha mengetahui kebutuhan manusia akan pasangan, keluarga, serta tuntutan hidup lainnya. Sebagai seorang mukmin, kita tidak melepaskan urusan dunia begitu saja, melainkan berniat agar pencarian dunia tersebut dapat membantu meraih derajat yang tinggi di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.
Sebagai manusia biasa, kita tidak bisa beribadah secara 100% tanpa henti karena memiliki banyak kekurangan dan dibekali nafsu—hal yang tidak dimiliki oleh para malaikat. Malaikat diciptakan murni untuk beribadah, sehingga ibadah mereka all out tanpa cela. Allah menegaskan hal ini dalam Surah Al-Anbiya ayat 19–20:
وَمَنۡ عِنۡدَهٗ لَا يَسۡتَكۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِهٖ وَلَا يَسۡتَحۡسِرُوۡنَۚ ١٩يُسَبِّحُوۡنَ الَّيۡلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُوۡنَ ٢٠
“Wa man ‘indahu la yastakbiruna ‘an ‘ibadatihi wa la yastahsiruun. Yusabbihunal-laila wan-nahara la yafturuun.”
“Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.”
Penduduk langit (malaikat) tidak pernah sombong, enggan, atau lelah dalam beribadah. Sebaliknya, manusia memiliki rasa lelah dan butuh istirahat. Bahkan, tingkat semangat manusia bisa mengalami kondisi futur (penurunan atau rasa malas). Kadang semangat taklim sangat tinggi, namun di waktu lain justru kendor. Hal ini wajar karena kita manusia. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk pandai membagi waktu dan memprioritaskan amalan sesuai kemampuan.
Pelajaran dari Hadis Hanzhalah Al-Usaidi radhiyallahu ‘anhu
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim yang juga dibawakan oleh Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, dikisahkan pengalaman sahabat Abu Rib’i Hanzhalah ibn Ar-Rabi’ Al-Usaidi radhiyallahu ‘anhu—salah satu penulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Suatu hari, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertemu dengan Hanzhalah dan bertanya, “Bagaimana kabarmu, wahai Hanzhalah?”
Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah menjadi munafik.”
Abu Bakar terkejut dan berkata, “Subhanallah! Apa yang engkau katakan?”
Hanzhalah menjelaskan, “Ketika kita berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kita tentang surga dan neraka seakan-akan tampak di depan mata. Namun, ketika kita pulang, berkumpul dengan istri, anak-anak, dan sibuk dengan urusan dunia, kita menjadi banyak lupa.”
Mendengar hal itu, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, aku pun merasakan hal yang sama.”
Maka keduanya menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanzhalah menyampaikan keluhannya, “Wahai Rasulullah, Hanzhalah telah menjadi munafik.”
Rasulullah bertanya, “Mengapa demikian?” Hanzhalah pun menceritakan kondisi yang mereka alami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian terus-menerus berada dalam kondisi seperti saat bersamaku dan selalu mengingat Allah, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur dan di jalan-jalan kalian. Namun wahai Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat (ada waktunya untuk ibadah dan ada waktunya untuk urusan dunia).” Beliau mengulangnya tiga kali.
Pelajaran Penting yang Bisa Dipetik
1. Tabiat Manusia dan Dunia
Tabiat manusia mudah lalai dan lupa, sedangkan tabiat dunia cenderung melalaikan. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 64:
“Wa ma hadzihil hayatud-dunya illa lahwuw wa la’ib, wa innad-darol akhirata lahiyal hayawan, lau kanu ya’lamun.”
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
Banyak orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk permainan duniawi tanpa memikirkan kesiapan menghadapi akhirat.
2. Rasa Takut Para Sahabat terhadap Kemunafikan
Hanzhalah dan Abu Bakar sangat khawatir apabila perubahan kondisi keimanan mereka merupakan bentuk kemunafikan. Abdullah ibn Abi Mulaikah—seorang imam dari kalangan tabi’in—mengatakan bahwa beliau pernah bertemu dengan 30 sahabat Nabi, dan semuanya sangat takut apabila di dalam diri mereka terdapat kemunafikan. Hasan Al-Bashri rahimahullah juga menegaskan: “Tidak ada yang merasa aman dari kemunafikan kecuali orang munafik, dan tidak ada yang takut darinya kecuali orang yang beriman.”
3. Bertanya kepada Ahli Ilmu
Para sahabat selalu merujuk kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapati kebingungan atau masalah keimanan. Hal ini menjadi teladan bagi kita. Ketika menghadapi keraguan atau syubhat agama, hendaknya kita bertanya kepada ahli ilmu (ahluzzikri) sebagaimana firman Allah:
“Fas’alu ahladz-dzikri in kuntum la ta’lamun.”
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
4. Keseimbangan dan Manajemen Waktu (Sā’atan Sā’atan)
Menjelaskan ucapan Nabi “Sā’atan sā’atan”, Ibnu Allan dalam Dalilul Falihin menerangkan bahwa seorang muslim harus bijak membagi waktu: ada saatnya untuk menunaikan hak ibadah kepada Allah, dan ada saatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, keluarga, diri sendiri, serta masyarakat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mengingatkan:
“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya masing-masing.”
Sangat disayangkan jika seseorang ramah di luar, namun ketika di rumah tidak pernah meluangkan waktu bercengkerama dengan istri dan anak. Atau sebaliknya, terlalu sibuk mengejar dunia hingga mengabaikan istirahat, sholat berjamaah di masjid, dan majelis ilmu. Setiap orang harus mampu mengukur kapasitas dirinya dan membagi waktu secara proporsional.
Penutup dan Doa Keistiqamahan
Sebagai penutup, marilah kita senantiasa membaca doa yang sering diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberikan ketetapan hati dan keistiqamahan hingga akhir hayat:
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ
“Allahumma ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinika wa tha’atik.”
(Ya Allah, wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu.)
Peringatan ini utamanya adalah untuk diri saya pribadi dan untuk jamaah sekalian. Semoga apa yang disampaikan bermanfaat bagi kita semua.
Rangkuman

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم



