Tafsir Al Qur’an Surat Al-Ma’un

Mukadimah
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala al-mab’utsi rahmatan lil ‘alamin, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat yang sangat luar biasa, berupa waktu luang dan kesehatan, sehingga kita dapat kembali mendirikan salat berjamaah di masjid serta menghadiri majelis ilmu. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas salah satu surah paling pendek di dalam Al-Qur’an, yaitu surah Al-Ma’un.
Tafsir Surah Al-Ma’un: Memahami Sifat Pendusta Agama dan Kaum Munafik
Surah Al-Ma’un merupakan salah satu surah dalam Al-Qur’an yang memuat pesan moral dan akidah sangat kuat. Mengenai lokasi turunnya surah ini, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Sebagian menyebutkan surah ini turun setelah hijrahnya Rasulullah $\text{SAW}$ untuk menyingkap sifat gembong munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul. Namun, sebagian ulama menggabungkan kedua pendapat tersebut dan menjelaskan bahwa surah ini terbagi menjadi dua bagian: ayat 1–3 turun di Mekkah (Makkiyah) yang mengisahkan sifat orang-orang Quraisy atau para pendusta agama, sedangkan ayat 4–7 turun di Madinah (Madaniyah) yang menjelaskan sifat-sifat orang munafik.
Atas rahmat dan hikmah Allah ta’ala, kedua bagian ini disatukan menjadi satu kesatuan yang utuh dalam Surah Al-Ma’un. Penyatuan ini menegaskan bahwa sifat kufur dan sifat munafik pada hakikatnya berada pada tingkatan keburukan yang setara, di mana keduanya akan mendapatkan balasan ancaman siksa neraka.
Korelasi Surah Al-Ma’un dengan Surah Lainnya
Secara urutan, Surah Al-Ma’un terletak setelah Surah Quraisy. Kedua surah ini memiliki hubungan korelasi yang saling berlawanan (berseberangan):
- Surah Quraisy menjelaskan pesan tentang kenikmatan, keutamaan rasa aman, serta pemenuhan kebutuhan ekonomi sebagai bentuk karunia Allah yang harus disyukuri.
- Surah Al-Ma’un menjelaskan konsekuensi bagi orang-orang yang tidak bersyukur, kufur nikmat, bahkan mendustakan agama dan hari pembalasan.
Selain itu, sifat-sifat keji yang disebutkan dalam Surah Al-Ma’un diperintahkan untuk ditinggalkan dan dibalas dengan perbuatan kebalikannya sebagaimana yang tercantum dalam Surah Al-Kautsar.
Tafsir Ayat demi Ayat
اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ ١ فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ ٢ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ ٣ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ٤ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ ٥ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ ٦ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَࣖ ٧
a ra’aitalladzî yukadzdzibu bid-dîn . fa dzâlikalladzî yadu‘‘ul-yatîm. wa lâ yaḫudldlu ‘alâ tha‘âmil-miskîn. fa wailul lil-mushallîn. alladzîna hum ‘an shalâtihim sâhûn. alladzîna hum yurâ’ûn. wa yamna‘ûnal-mâ‘ûn
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan.
1. Pertanyaan Pertanda Peringatan (Ayat 1)
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?”
Allah ta’ala membuka surah ini dengan frasa Aroaitalladzi yukadzibu biddin? Kalimat tanya di sini bukan berarti Allah tidak mengetahui jawabannya, sebab Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Menurut Imam Ibnu Asyur, pertanyaan ini berfungsi sebagai at-ta’ajjub (ungkapan keheranan atau merasa aneh). Makna tersiratnya adalah ajakan untuk memperhatikan betapa aneh dan menyimpangnya perilaku orang-orang yang mendustakan agama.
Penggunaan kata yukadzibu (bentuk fi’il mudhari’) menunjukkan perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus hingga akhir hayat, berbeda dengan bentuk kata kadzaba yang merujuk pada perbuatan di masa lalu. Para pendusta ini sepanjang hidupnya konsisten berada dalam penolakan terhadap kebenaran.
Kata ad-din dalam ayat ini ditafsirkan oleh sebagian ulama sebagai agama Islam secara menyeluruh. Namun, Syekh Ibnu Asyur menjelaskan bahwa ad-din di sini merujuk secara khusus pada hari kiamat atau hari pembalasan. Seseorang yang tidak percaya pada hari pembalasan akan merasa bebas melakukan kejahatan apa pun tanpa takut akan konsekuensi di akhirat.
2. Menghardik Anak Yatim (Ayat 2)
“Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,”
Dampak dari ketidakpercayaan terhadap hari kiamat tecermin dalam perbuatannya di dunia. Penggunaan kata yadu’ ‘u dengan penekanan (tasydid) menggambarkan tindakan menolak, mendorong, atau menyakiti anak yatim dengan sangat kasar dan keras—baik secara fisik maupun verbal.
Sebagai contoh historis, Abu Sufyan pernah menyembelih unta dan membagikannya. Ketika seorang anak yatim yang kelaparan mendekat untuk meminta bagian, ia tidak hanya menolaknya, tetapi juga mengusir dan memukulnya dengan tongkat. Akidah yang rusak mengenai ketiadaan hari pembalasan membuat seseorang merasa tindakan sewenang-wenangnya tidak akan dimintai pertanggungjawaban.
3. Enggan Mengajak Memberi Makan Orang Miskin (Ayat 3)
“Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
Penggunaan kata yahuddu bermakna mengajak atau menyuruh orang lain. Ayat ini menyindir puncak kebakhilan seseorang: jangankan memberi makan dari hartanya sendiri, mengajak orang lain untuk berbagi pun ia enggan.
Pilihan kata tha’amil miskin (makanan orang miskin) menegaskan bahwa dalam harta yang dimiliki manusia, sejatinya terdapat hak milik orang-orang miskin (seperti zakat dan infak). Mereka yang bakhil pada hakikatnya menahan harta yang sebenarnya merupakan hak milik orang lain.
Hal ini sejalan dengan Surah Al-Fajr ayat 17–18, di mana Allah menegaskan bahwa kehinaan seseorang bukan semata-mata karena kemelaratan, melainkan karena keengganannya dalam memuliakan anak yatim dan tidak saling mengingatkan untuk memberi makan orang miskin.
4. Ancaman Neraka Bagi Orang yang Salat (Ayat 4–5)
“Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,”
Ayat ini merupakan bentuk tahakkum (sindiran keras) kepada mereka yang secara fisik mendirikan salat tetapi jiwanya melenceng. Kata wail menunjuk pada ancaman kecelakaan besar, masuk ke dalam neraka, atau sebuah lembah yang sangat dalam, gelap, dan panas di dalam neraka.
Perlu dicermati bahwa Allah menggunakan frasa ‘an shalatihim (lalai dari salatnya), bukan fi shalatihim (lalai dalam salatnya). Tabiin Atha bin Dinar bersyukur atas ketelitian redaksi ini. Jika redaksinya fi shalatihim, setiap manusia akan terkena ancaman karena sifat alami manusia yang kadang terdistraksi atau lupa rakaat saat salat.
Menurut Ibnu Katsir, kelalaian dari salat mencakup empat hal:
- Menunda-nunda waktu pelaksanaan salat hingga keluar dari waktunya.
- Salat terlalu cepat tanpa memperhatikan tuma’ninah.
- Meremehkan rukun dan syarat sahnya salat.
- Meninggalkan salat berjemaah bagi laki-laki tanpa adanya uzur syari.
5. Perilaku Riya dan Sum’ah (Ayat 6)
“Yang berbuat riya,”
Sifat khas kaum munafik adalah melakukan ibadah semata-mata ingin dilihat (riya) atau didengar (sum’ah) oleh orang lain. Ibadah fisik dilakukan secara bersungguh-sungguh hanya ketika berada di hadapan publik, namun ditinggalkan saat berada dalam kesendirian.
Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa golongan pertama yang dilemparkan ke dalam neraka bukanlah ahli maksiat terbuka, melainkan orang-orang yang berilmu, pembaca Al-Qur’an, dermawan, dan pejuang yang beramal bukan karena mengharapkan keridaan Allah, melainkan demi mengejar pujian dan pengakuan dari manusia.
6. Enggan Menolong dengan Barang Berguna (Ayat 7)
“Dan enggan (meminjami) barang-barang yang berguna.”
Al-Ma’un merujuk pada barang-barang kecil atau kebutuhan sehari-hari yang nilainya relatif remeh (seperti pulpen, ember, atau alat rumah tangga). Penutup surah ini menegaskan kerendahan tabiat kaum munafik: bahkan untuk meminjamkan barang-barang kecil yang tidak merugikan dirinya sekalipun, mereka menolak dan bersikap kikir.
Surah Al-Ma’un memberikan pelajaran mendalam agar umat Islam mengenali sifat-sifat cela tersebut—bukan untuk ditiru, melainkan untuk dihindari. Memahami keburukan merupakan benteng utama agar seseorang tidak terperosok ke dalam golongan para pendusta agama maupun kaum munafik.



