
Syubhat adalah perkara yang samar, tidak jelas apakah halal atau haram. Allah dan Rasul-Nya telah memperingatkan agar kita tidak meremehkan bahaya syubhat. Seseorang yang merasa sok kuat untuk mendekati syubhat sering kali tergelincir ke dalamnya tanpa sadar. Hal ini terjadi karena hati manusia lemah dan mudah tergoda, apalagi jika tidak dibekali ilmu dan ketakwaan.
Allah berfirman:
*وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا*
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra: 36)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
*إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ … فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ*
“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, di antara keduanya ada perkara syubhat… Barang siapa menjauhi syubhat, ia telah menjaga agama dan kehormatannya.”
(HR. Bukhari no. 52, Muslim no. 1599)
*Mengapa Syubhat Berbahaya?*
1. *Melemahkan hati:* Syubhat dapat merusak keyakinan karena ia menimbulkan keraguan.
2. *Mendekatkan kepada haram:* Rasulullah ﷺ mengibaratkan orang yang mendekati syubhat seperti penggembala yang menggembala di dekat tanah larangan; ia mudah tergelincir.
3. *Menyambar keimanan:* Syubhat mengganggu hati, terutama jika seseorang merasa mampu menghadapinya tanpa ilmu.
Jangan mendekati syubhat, apalagi merasa mampu menaklukannya. Menjauhi syubhat adalah bentuk ketakwaan dan langkah menjaga kemuliaan diri. Jangan sok kuat, karena setiap manusia memiliki kelemahan, terutama dalam memahami perkara yang samar.
Tinggalkan Balasan