
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ ٱلْحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ
“Maka (itulah) Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”
(QS. Yunus: 32)
Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa Allah adalah satu-satunya sumber kebenaran mutlak, dan setiap jalan selain kebenaran yang berasal dari-Nya hanyalah kesesatan. Dalam kehidupan ini, manusia diberikan dua pilihan yang sangat jelas: mengikuti kebenaran atau tersesat dalam kebatilan. Tidak ada posisi netral dalam persoalan ini, karena kebenaran dan kesesatan adalah dua kutub yang berlawanan.
Ayat ini juga mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh daya tarik kesesatan. Sering kali, kesesatan dibungkus dengan argumen logis, keindahan kata-kata, atau janji-janji kosong yang menarik hati. Namun, apapun bentuknya, kesesatan tetaplah menyimpang dari jalan yang telah ditetapkan oleh Allah. Allah-lah yang telah memberikan kita panduan hidup melalui Al-Qur’an dan sunnah Nabi-Nya, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk berpaling darinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.”
(HR. Malik)
Hadits ini menegaskan bahwa jalan kebenaran telah jelas dan sempurna. Allah tidak meninggalkan manusia dalam kebingungan. Justru, kesesatan timbul ketika manusia meninggalkan Al-Qur’an dan sunnah serta mencari jalan hidup lain yang bertentangan dengan wahyu Allah.
Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan kita tentang bahaya penyimpangan dan inovasi dalam agama:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama kami yang bukan bagian darinya, maka tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jalan kebenaran adalah satu, yaitu jalan yang lurus yang ditunjukkan oleh Allah. Setiap inovasi dalam agama, meskipun terlihat baik di mata manusia, tetaplah sebuah penyimpangan yang akan menjauhkan kita dari ridha Allah.
Sebagai seorang mukmin, memahami bahwa tidak ada kebenaran setelahnya kesesatan adalah sebuah motivasi untuk selalu istiqamah dalam berpegang teguh kepada petunjuk Allah. Kita tidak hanya diwajibkan untuk mengenali kebenaran, tetapi juga menjauhi segala bentuk penyimpangan dan kesesatan. Kesungguhan dalam berpegang pada kebenaran adalah bentuk rasa syukur atas hidayah yang Allah berikan.
Mari kita renungkan firman Allah berikut:
وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-An’am: 153)
Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah untuk tetap berada di jalan yang benar, menjauhi segala bentuk kesesatan, dan senantiasa mengingat bahwa hanya ada satu kebenaran mutlak, yaitu agama yang diturunkan oleh Allah melalui Rasul-Nya. Jadikan hidup kita sebagai perjalanan untuk terus mendekat kepada kebenaran tersebut sebelum waktu kita di dunia ini berakhir.
Tinggalkan Balasan