
Ibnu Rajab rahimahullah menyampaikan sebuah nasihat yang mendalam bagi setiap mukmin tentang bagaimana nikmat yang diberikan Allah seharusnya disyukuri dan dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Beliau mengungkapkan bahwa sangatlah mengherankan jika manusia mengetahui bahwa setiap kenikmatan yang diperolehnya berasal dari Allah, namun dengan tanpa rasa malu justru menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Pernyataan ini adalah pengingat yang tajam bahwa segala yang kita miliki (kesehatan, harta, waktu, kemampuan, bahkan kehidupan itu sendiri) adalah amanah dari Allah yang suatu hari akan dimintai pertanggungjawabannya.
Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.”
(QS. Al-Anfal [8]: 27)
Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak mengkhianati amanah yang telah Allah berikan, baik berupa waktu, tenaga, kemampuan, maupun kesempatan. Sebaliknya, jika nikmat ini digunakan untuk melanggar perintah Allah, berarti kita telah melakukan pengkhianatan terhadap amanah tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan bimbingan terkait pentingnya rasa malu. Beliau bersabda:
إِنَّ مِنْ مَا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya di antara hal yang didapatkan manusia dari ajaran kenabian terdahulu adalah: Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”
(HR. Al-Bukhari no. 6120)
Rasa malu merupakan benteng yang menghalangi seseorang dari perbuatan dosa. Dengan hilangnya rasa malu, seseorang bisa dengan mudah terjerumus dalam kemaksiatan, meskipun ia tahu bahwa segala nikmat yang ada pada dirinya adalah pemberian Allah. Tindakan seperti ini adalah bentuk lupa diri yang sangat berbahaya.
Ketika kita memanfaatkan nikmat Allah untuk hal-hal yang bertentangan dengan syariat, kita sedang merendahkan amanah yang telah diberikan. Seharusnya, setiap detik waktu yang berlalu diisi dengan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah, setiap harta yang didapatkan dibelanjakan di jalan kebaikan, dan setiap keahlian digunakan untuk membantu dan memberi manfaat kepada orang lain.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa merenungi dan menghargai setiap nikmat yang Allah berikan. Bersyukur tidak cukup hanya dengan ucapan lisan semata, tetapi harus disertai dengan amal yang baik dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika kita mampu memanfaatkan nikmat Allah dengan cara yang diridhai-Nya, kita telah melangkah di jalan yang benar dan mendekati ridha-Nya.
Semoga kita dijauhkan dari sikap lalai yang merendahkan nikmat Allah. Marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan dengan memanfaatkan setiap anugerah dari Allah sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya dan memperbaiki diri. Sebab, pada akhirnya, segala nikmat yang diberikan akan dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di hari akhir nanti.
Tinggalkan Balasan