Kajian RutinTematik

Istighfar Membuka Pintu Rejeki 

بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Istighfar Membuka Pintu Rejeki
🎙️| Bersama: Ustadz Achmad Syaifullah, Lc, Hafidzahullah
🗓️ | Hari : Kamis, 06 Rabi’ul Akhir 1448 / 17 September 2026
🕰️ | Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’
🕌 | Tempat: Masjid Al-Mubarak Manahan Solo

Alhamdulillah, wa shalatu wa salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man walaah. Wa laa haula wa laa quwwata illa billah. Amma ba’du.

Para hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada kesempatan petang hari ini, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mempermudah langkah kita untuk berkumpul di salah satu rumah-Nya, yaitu di Masjid Al-Mubarakah. Kita berkumpul di sini bi-idhnillah dalam rangka menuntut ilmu.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang berkumpul di masjid untuk menuntut ilmu:


ِوعَنْ‭ ‬أَبي‭ ‬هُرَيْرَةَ‭ ‬رَضيَ‭ ‬اللَّه‭ ‬عَنْهُ‭ ‬قَالَ‭: ‬قَالَ‭ ‬رَسُول‭ ‬اللَّهِ‭ ‬صَلّى‭ ‬اللهُ‭ ‬عَلَيْهِ‭ ‬وسَلَّم‭: “‬ومَا‭ ‬اجْتَمَعَ‭ ‬قَوْمٌ‭ ‬فِي‭ ‬بَيْتٍ‭ ‬مِنْ‭ ‬بُيوتِ‭ ‬اللَّهِ‭ ‬يَتْلُونَ‭ ‬كِتَابَ‭ ‬اللَّهِ،‭ ‬ويتَدَارسُونَه‭ ‬بيْنَهُم،‭ ‬إِلاَّ‭ ‬نَزَلتْ‭ ‬علَيهم‭ ‬السَّكِينَة،‭ ‬وغَشِيَتْهُمْ‭ ‬الرَّحْمَة،‭ ‬وَحَفَّتْهُم‭ ‬الملائِكَةُ،‭ ‬وذَكَرهُمْ‭ ‬اللَّه‭ ‬فيِمنْ‭ ‬عِنده‭ “‬رواه‭ ‬مسلم‭.‬

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Allah Maha Tahu apa yang dapat menenangkan jiwa kita melebihi diri kita sendiri. Salah satu cara utama untuk meraih ketenangan jiwa adalah dengan hadir di majelis ilmu.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam yang telah membawa umat manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam yang terang benderang.

Hakikat Manusia dan Pentingnya Istigfar

Sebagai manusia, tidak ada seorang pun di antara kita yang bebas dari dosa. Hal ini sejalan dengan firman Allah mengenai karakter dasar manusia yang cenderung zalim dan bodoh (zhaluman jahula), serta sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmiżi no. 2499, Ṣahih al-Targīb 3139)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan solusi melalui istigfar. Melalui permohonan ampun yang tulus, dosa-dosa kita akan ditutupi dan dihapuskan oleh Allah Al-Ghaffar, Dzat Maha Pengampun.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, yang sudah dijamin diampuni dosa-dosanya yang lalu maupun yang akan datang, memberikan teladan luar biasa:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Ighatsatul Lahafan merangkum tiga alasan utama mengapa manusia perlu memperbanyak istigfar:

  1. Dosa dan Maksiat: Manusia tidak pernah lepas dari kekhilafan dan perbuatan dosa.
  2. Kurang Syukur: Manusia tidak pernah mampu mensyukuri setiap nikmat Allah secara maksimal.
  3. Ibadah yang Tidak Sempurna: Manusia sering kali tidak sempurna dan kurang khusyuk dalam menunaikan ibadah.

Istigfar: Kunci Pembuka Rezeki dan Keberkahan

Sering kali kita menganggap istigfar hanya sebatas ibadah lisan untuk menghapus dosa. Padahal, Al-Qur’an dan Hadis menunjukkan bahwa istigfar memiliki keajaiban luar biasa sebagai kunci pembuka pintu-pintu kebaikan duniawi, termasuk rezeki.

Di saat kita lelah bekerja keras dan merasa cemas akan kebutuhan finansial, sering kali kita melupakan “solusi langit” yang dijanjikan Allah. Dalam Surah Nuh ayat 10–12, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan ajakan Nabi Nuh alaihissalam kepada kaumnya:

فَقُلۡتُ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّكُمۡؕ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًا ۙ‏ ١٠ يُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَيۡكُمۡ مِّدۡرَارًا ۙ‏ ١١ وَّيُمۡدِدۡكُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّبَنِيۡنَ وَيَجۡعَلۡ لَّـكُمۡ جَنّٰتٍ وَّيَجۡعَلۡ لَّـكُمۡ اَنۡهٰرًا ؕ‏ ١٢

Artinya: “Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.'”

Dari ayat tersebut, terdapat lima keutamaan dan keberkahan yang Allah janjikan bagi orang yang memperbanyak istigfar:

  1. Ampunan Allah (Innahu kaana ghaffara).
  2. Turunnya Hujan dan Kesuburan (Yursilis-samaa’a ‘alaikum midrara).
  3. Kelimpahan Harta Benda (Wa yumdidkum bi-amwaal).
  4. Keturunan dan Anak-anak (Wa baniin).
  5. Kemakmuran dan Kesejahteraan (Wa yaj’al lakum jannaatiw wa yaj’al lakum anhaara).

Kisah Imam Al-Hasan Al-Basri dan Jawaban Universal Istigfar

Kisah menarik diriwayatkan oleh Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an. Suatu hari, tiga orang yang berbeda datang menemui ulama salaf ternama, Imam Al-Hasan Al-Basri rahimahullah:

  • Orang pertama mengeluhkan musibah kekeringan dan paceklik.
  • Orang kedua mengeluhkan kemiskinan dan kesulitan ekonomi.
  • Orang ketiga mengeluhkan belum memiliki keturunan setelah sekian lama menikah.

Kepada ketiga orang tersebut, Imam Al-Hasan Al-Basri memberikan jawaban yang persis sama: “Perbanyaklah beristigfar kepada Allah.”

Seorang muridnya heran dan bertanya mengapa masalah yang berbeda-beda diberi satu solusi yang sama. Imam Al-Hasan Al-Basri tersenyum lalu membaca Surah Nuh ayat 10–12. Kisah ini menegaskan bahwa istigfar adalah solusi universal untuk berbagai tantangan hidup, terutama rezeki dan keberkahan.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan hal ini dalam sabdanya:


مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanad-nya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir)

Hakikat Istigfar yang Sebenarnya

Perlu kita garis bawahi bahwa istigfar yang mendatangkan keajaiban bukanlah sekadar ucapan “Astaghfirullah” di bibir semata. Istigfar yang hakiki lahir dari hati yang penuh penyesalan, kekhusyukan, diiringi tekad kuat untuk tidak mengulangi dosa (taubatan nasuha), serta mengembalikan hak-hak sesama manusia apabila dosa tersebut berkaitan dengan orang lain.

Marilah kita basahi lisan kita dengan zikir dan istigfar di mana pun kita berada—saat bekerja, berkendara, maupun di waktu luang. Yakinlah bahwa setiap lafal istigfar yang diucapkan dengan ikhlas akan menghapus dosa, mengangkat derajat, dan membuka pintu-pintu kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah mengaruniakan kemudahan bagi lisan dan hati kita untuk senantiasa beristigfar kepada-Nya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Poster Ringkasan

****

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button