DaurahMasyayikh

Daurah: Wasiat Emas untuk Muslimah

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Penceramah: Syaikh Dr. Hilal bin Syaddad Al-Muthairy hafizhahullah

Kajian ini berisi pesan-pesan mendalam yang ditujukan khusus bagi setiap wanita muslimah. Wasiat-wasiat ini membimbing muslimah agar senantiasa berada di atas jalan kebenaran, menjaga kehormatan diri, serta meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Wasiat Pertama: Berpegang Teguh pada Tauhid dan Menjauhi Syirik

Landasan paling mendasar dalam agama Islam adalah Tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَاۤ اِكۡرَاهَ فِى الدِّيۡنِ​ۙ  قَد تَّبَيَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَىِّ​ۚ فَمَنۡ يَّكۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَيُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَكَ بِالۡعُرۡوَةِ الۡوُثۡقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا​​ ؕ وَاللّٰهُ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ‏ ٢٥٦

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 256)

Tali yang sangat kuat (Al-‘Urwatul Wutsqa) adalah kalimat syahadat: Laa ilaaha illallah (Tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah).

Makna dan Konsekuensi Syahadat

Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan fondasi utama agama Islam. Wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk:

  1. Memahami maknanya dengan benar, yaitu Laa ma’buuda haqqan illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan haq kecuali Allah).
  2. Meyakini dan membenarkannya di dalam hati.
  3. Memurnikan ibadah hanya untuk Allah.
  4. Mencintai kalimat ini beserta orang-orang yang mengamalkannya.

Dua Rukun Kalimat Tauhid

  1. An-Nafi (Penolakan): Menolak dan menafikan segala bentuk sesembahan selain Allah (Laa ilaaha).
  2. Al-Itsbat (Penetapan): Menetapkan bahwa seluruh bentuk ibadah yang haq hanya milik Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya (Illallah).

Syarat-Syarat Laa ilaaha illallah

Untuk menjadikan persaksian ini sah dan diterima, seorang hamba harus memenuhi syarat-syarat berikut:

  • Al-‘Ilmu (Ilmu): Memahami makna kalimat tauhid dan mengikis kebodohan darinya.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.” (QS. Muhammad [47] : 19)

  • Al-Yaqin (Keyakinan): Memiliki keyakinan mantap tanpa ada keraguan sedikit pun dalam hati.

Sebagaimana dapat dilihat pada firman Allah,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat [49] : 15)

  • Al-Ikhlas (Keikhlasan): Memurnikan seluruh amalan hanya untuk Allah dan menjauhi kesyirikan.

Sebagaimana Firman-Nya:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas (memurnikan) keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.(QS. Al Bayyinah [98] : 5)

  • Ash-Shidqu (Kejujuran): Mengucapkan kalimat tauhid dengan jujur dari lubuk hati, bukan sekadar lisan sebagaimana kaum munafik.

Allah Ta’ala berfirman,

 الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ 

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut: 1-3)

  • Al-Qabul (Penerimaan): Menerima seluruh konsekuensi hukum dan syariat dari kalimat ini tanpa menolaknya.

Allah Ta’ala berfirman,

۞ وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS. Luqman: 22).

  • Al-Inqiyad (Ketundukan): Tunduk dan mengamalkan syariat Allah. Seseorang yang mengucapkan tauhid namun enggan mendirikan shalat berarti belum mewujudkan ketundukan.

Sebagaimana Firman-Nya:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa: 65)

  • Al-Kufru bimaa yu’badu min duunillah: Mengingkari dan mengkufuri seluruh sesembahan selain Allah.

Dua Pondasi Utama Ajaran Islam

Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, ajaran Islam berporos pada dua perkara utama:

1. Perintah untuk beribadah hanya kepada Allah semata tanpa menyertakan sekutu bagi-Nya, serta berlepas diri dan tidak memberikan loyalitas kepada kesyirikan

قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍۢ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًۭٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ٦٤

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 64).

2. Peringatan keras dari bahaya syirik. Syirik adalah dosa terbesar yang dapat menghapuskan seluruh amal kebaikan—baik amalan fardu maupun sunnah—hingga amalan tersebut gugur bagaikan debu yang berterbangan

وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا ۝٢٣

Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (QS. Al-Furqan: 23).

Wasiat Kedua: Menjaga Salat Fardu dan Sunnah

Wasiat penting berikutnya adalah menjaga ibadah salat, baik dari segi syarat, rukun, kewajiban, maupun amalan-amalan sunnahnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حَٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) salat wustha (shalat Asar)…” (QS. Al-Baqarah: 238)

اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

Urgensi Salat dalam Kehidupan Hamba

  • Amal Pertama yang Dihisab: Salat adalah perkara pertama yang akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Apabila salatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Sebaliknya, apabila salatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya.
  • Wasiat Terakhir Rasulullah: Ketika menghadapi sakaratulmaut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berulang kali menegaskan: “Jagalah salat, jagalah salat, dan perhatikanlah hamba sahaya/orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kalian.”
  • Janji Surga: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa barang siapa yang menjaga salat lima waktu dengan tidak meremehkan hak-haknya, maka Allah berjanji akan memasukkannya ke dalam surga (HR. Abu Daud dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiallahu ‘anhu).

Islam seseorang tidak akan sempurna tanpa menegakkan rukun-rukunnya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah.”

Wasiat Ketiga: Menuntut Ilmu Agama (Tafaqquh fiddin)

Muslimah hendaknya memiliki semangat yang tinggi untuk mempelajari dan mendalami agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ

“Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'” (QS. Az-Zumar: 9)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan pemahamkan dia dalam ilmu agama.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dari hadis di atas dapat dipahami secara tersirat (mafhum) bahwa siapa saja yang tidak berusaha memahami ilmu agama, berarti Allah tidak menghendaki kebaikan pada dirinya.

Perhatian Terhadap Al-Qur’an

Salah satu bagian terpenting dalam menuntut ilmu adalah memberikan perhatian penuh terhadap Al-Qur’an melalui:

  • Membaca dan menghafalnya sesuai kemampuan.
  • Mentadaburi (merenungkan) makna-maknanya.
  • Mengamalkan serta menjadikannya sebagai pedoman hukum dan obat (syifa) bagi jiwa.

Allah menjamin bahwa siapa pun yang mengikuti petunjuk Al-Qur’an tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat (QS. Thaha: 123):

قَالَ ٱهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًۢا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Sebaliknya, barang siapa berpaling dari Al-Qur’an, baginya kehidupan yang sempit dan akan dihimpunkan pada hari kiamat dalam keadaan buta (QS. Thaha: 124-126):

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِىٓ أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا. قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلْيَوْمَ تُنسَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”  Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”.

Tidak Malu Bertanya

Menuntut ilmu memerlukan sifat kritis yang bijak. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah memuji wanita Ansar:

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ

“Sebaik-baik wanita adalah wanita dari kaum Anshar. Rasa malu tidak menghalangi diri mereka untuk mendalami ilmu agama.” (HR. Muslim)

Wasiat Keempat: Bertakwa dan Senantiasa Merasa Diawasi Allah (Muraqabah)

Takwa adalah merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala baik di kala sendirian maupun di hadapan keramaian. Takwa merupakan wasiat Allah untuk seluruh umat manusia dari zaman dahulu hingga sekarang (QS. An-Nisa: 131):

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَاِيَّاكُمْ اَنِ اتَّقُوا اللّٰهَۗ

Sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu (umat Islam) agar bertakwa kepada Allah.

Menjauhi Perbuatan Maksiat

Di samping bertakwa, muslimah harus membentengi diri dari segala bentuk maksiat, baik dosa besar maupun dosa kecil.

Banyak orang meremehkan dosa-dosa kecil, padahal apabila dosa-dosa kecil terus menumpuk tanpa ditutupi tobat, hal itu dapat membinasakan pelakunya. Namun, Allah memberi kabar gembira bahwa barang siapa yang menjauhi dosa-dosa besar, Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kecilnya dan memasukkannya ke tempat yang mulia (QS. An-Nisa: 31):

اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا ۝٣١

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang (mengerjakan)-nya, niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami memasukkanmu ke tempat yang mulia (surga).

Wasiat Kelima: Saling Menasihati (Amar Ma’ruf Nahi Mungkar)

Seorang muslimah memiliki peran penting untuk menegakkan syiar amar ma’ruf nahi mungkar di lingkungan rumah tangga, keluarga, dan sesama rekan wanita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar…” (QS. At-Taubah: 71)

Etika Memberikan Nasihat

  • Perkataan yang Baik: Apabila melihat kekurangtaatan pada saudaranya—baik dalam hal salat, puasa, maupun kewajiban terhadap suami—hendaknya ia menasihati dengan santun dan cara yang baik (mau’izhah hasanah).
  • Menjaga Kehormatan Suara: Wanita hendaknya tidak memanjakan atau memerdukan suaranya di depan laki-laki asing (bukan mahram) agar tidak menimbulkan fitnah syahwat bagi orang yang memiliki penyakit di dalam hatinya (QS. Al-Ahzab: 32):

يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِيْ فِيْ قَلْبِهٖ مَرَضٌ وَّقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوْفًاۚ ۝٣٢

Wahai istri-istri Nabi, kamu tidaklah seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka, janganlah kamu merendahkan suara (dengan lemah lembut yang dibuat-buat) sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.

Wasiat Keenam: Menjaga Rasa Malu dan Kehormatan Diri (Iffah)

Rasa malu (haya’) dan kemampuan menjaga kehormatan diri (‘iffah) adalah perhiasan terindah bagi seorang muslimah. Allah memuji kecantikan akhlak ini dalam Al-Qur’an ketika menceritakan putri Nabi Syu’aib yang berjalan menemui Nabi Musa ‘alaihissalam dengan penuh rasa malu (QS. Al-Qashas: 25):

فَجَاۤءَتْهُ اِحْدٰىهُمَا تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍۖ قَالَتْ اِنَّ اَبِيْ يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ اَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَاۗ فَلَمَّا جَاۤءَهٗ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَۙ قَالَ لَا تَخَفْۗ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ۝٢٥f

Lalu, datanglah kepada Musa salah seorang dari keduanya itu sambil berjalan dengan malu-malu. Dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)-mu memberi minum (ternak) kami.” Ketika (Musa) mendatanginya dan menceritakan kepadanya kisah (dirinya), dia berkata, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.”

Peringatan Terhadap Gaya Pakaian yang Menyerupai Penghuni Neraka

Sangat disayangkan, pada zaman sekarang sebagian wanita muslimah mulai kehilangan rasa malu dengan keluar rumah tanpa menutup aurat (tabarruj), memperlihatkan rambut, leher, betis, serta mengenakan pakaian ketat atau celana yang membentuk lekuk tubuh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras mengenai fenomena ini:

“Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya: … para wanita yang berpakaian tetapi telanjang (kasiatun ‘ariyatun), berlenggang-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya, padahal aroma surga dapat tercium dari jarak perjalanan yang sangat jauh.” (HR. Muslim)

Muslimah harus waspada terhadap budaya luar dan musuh-musuh Islam yang berusaha mencabut rasa malu, menjadikan wanita sebagai komoditas murah, serta menjauhkannya dari fitrah suci yang telah ditetapkan oleh Allah.

Wasiat Ketujuh: Memperbanyak Sedekah dan Beramal Jariah

Muslimah sangat dianjurkan untuk gemar bersedekah. Allah Subhanahu wa Ta meyakinkan bahwa harta yang diinfakkan di jalan-Nya tidak akan berkurang, melainkan akan diganti dengan yang lebih baik (QS. Saba: 39).

Sedekah Sebagai Pelindung dari Api Neraka

Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat khusus kepada kaum wanita:

 يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الْاِسْتِغْفَارَ ، فَإِنِّـيْ رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ 

“Wahai kaum wanita, berbanyaklah kalian bersedekah, karena aku melihat mayoritas penghuni neraka adalah dari kalangan kalian.” (HR.  Muslim, no. 79 [132]).

Ketika para wanita bertanya mengapa demikian, Rasulullah menjelaskan bahwa hal itu disebabkan karena wanita sering melaknat dan mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya (HR. Muslim). Maka, sedekah menjadi pembersih dosa dan pelindung diri dari siksa api neraka.

Meneladani Sifat Kedermawanan Nabi

Syaikhul Islam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa memberi dan bersedekah adalah amalan yang paling dicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedermawanan beliau melebihi angin yang bertiup kencang. Beliau senantiasa mendahulukan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri, sehingga beliau menjadi manusia yang paling lapang dadanya dan paling bahagia hatinya.

Amalan Jariah yang Terus Mengalir

Muslimah hendaknya menyisihkan sebagian hartanya untuk sedekah jariah yang pahalanya terus mengalir meski telah meninggal dunia, seperti:

  • Menggali sumur air bersih.
  • Berkontribusi dalam pembangunan masjid.
  • Mencetak dan menyebarkan buku-buku agama yang bermanfaat.
  • Berwakaf untuk kaum fakir dan miskin.
  • Menjauhi pergaulan dan teman-teman buruk yang dapat menyesatkan dari jalan Allah.

Poster Ringkasan

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

_وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button