Risalah Mutun Aqidah Wa Tauhid #2 | Empat Permasalahan Penting dalam Agama

Pembahasan Kitab Al-Usul Ats-Thalatsah: Empat Permasalahan Penting dalam Agama
بسم الله الرحمن الرحيم
| Materi : Risalah Mutun Aqidah Wa Tauhid – Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahumullah
| Bersama: Ustadz Muhammad Alif Lc. M.Pd Hafidzahullah
| Hari : Jum’at, 8 Rabiul Awal 1448 H / 21 Agustus 2026
| Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’
| Tempat: Masjid Al-Qomar Surakarta
Pendahuluan
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Innal hamda lillah, nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa na’udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyi-ati a’malina. May yahdihillahu fala mudhillalah, wa may yudhlil fala hadiyalah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid.
Para ikhwah dan akhwat yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala, pada kesempatan kali ini kita kembali melanjutkan pembahasan dari Silsilah Rasail Fil ‘Aqidah Wat Tauhid karya Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, khususnya pada risalah Al-Usul Ats-Thalatsah.
Setelah membaca mukadimah yang dijelaskan oleh pensyarah (syarih), Syekh Dr. Haitam Sarhan hafizhahullahu ta’ala, kita akan masuk pada pembahasan utama pertama, yaitu mengenai Empat Permasalahan Penting (Al-Masa’il Al-Arba’).
Empat Permasalahan Penting (Al-Masa’il Al-Arba’)
Penulis risalah, Al-Imam Al-Mujaddid rahimahullah, membuka pembahasan ini dengan menyatakan:
“Bismillahirrahmanirrahim. I’lam rahimakallah, annahu yajibu ‘alaina ta’allumu arba’i masa’ila: Al-Ula: Al-‘Ilmu…”
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa wajib bagi kita untuk mempelajari empat permasalahan…”
Ketika penulis menggunakan frasa “I’lam rahimakallah” (Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu), beliau meminta perhatian penuh dari pembaca dan penuntut ilmu, sekaligus memanjatkan doa kebaikan. Doa ini menunjukkan dua hal mendasar:
- Rahmat para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah yang senantiasa mengasihi dan mendoakan para penuntut ilmu.
- Prinsip agama Islam yang dibangun di atas kasih sayang (rahmah). Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).
Tiga Alasan Penulis Memulai Kitab dengan Basmalah
Syekh Haitam Sarhan menjelaskan bahwa ada tiga alasan utama mengapa penulis mengawali karyanya dengan kalimat Bismillahirrahmanirrahim:
- Meneladani Kitabullah dan Para Nabi (Iqtida’an bi Kitabillahi wa bil Anbiya’): Al-Qur’an diawali dengan basmalah pada setiap surah (kecuali surah At-Taubah). Demikian pula para nabi dan rasul, termasuk Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, senantiasa mengawali surat-surat dakwah mereka dengan basmalah.
- Mengikuti Tradisi Ulama Salaf (Ta’assiyan biman qablahu minal ‘ulama’ was salaf): Merupakan kebiasaan (adat) para ulama terdahulu untuk membuka karya-karya tulis mereka dengan basmalah.
- Mencari Keberkahan (Min babi at-tabarruk bismillahil karim): Menyebut nama Allah yang mulia di awal tulisan bertujuan untuk mengharapkan keberkahan dalam proses menuntut dan menyebarkan ilmu.
Perincian Empat Permasalahan Wajib
1. Ilmu (Al-‘Ilmu)
Ilmu secara syari berarti mengenal kebenaran berdasarkan dalil (ma’rifatul haqqi bi dalilih). Mendasarkan pemahaman pada dalil adalah batasan yang membedakan antara ilmu sejati dan taklid (mengekor tanpa dasar). Lawan dari ilmu adalah kebodohan (al-jahl).
Ilmu pokok yang wajib dipelajari mencakup tiga hal:
- Mengenal Allah (Ma’rifatullah)
- Mengenal Nabi-Nya (Ma’rifatu Nabiyyih)
- Mengenal agama Islam berdasarkan dalil (Ma’rifatu dinil Islami bil adillah)
2. Mengamalkan Ilmu (Al-‘Amalu bih)
Ilmu yang telah dipelajari wajib untuk diamalkan. Para ulama menggambarkan hubungan antara ilmu dan amal melalui ungkapan:
“Yahtifu-‘ilmu bil-‘amal, fa-in ajabahu wa illa-rtahal.”
(Ilmu itu memanggil amalan. Jika amalan itu menyambutnya, maka ilmu akan tetap tinggal. Jika tidak, ilmu akan pergi.)
Mengamalkan ilmu menjadikan pemahaman meresap kuat dalam diri. Sebaliknya, ilmu yang tidak diamalkan akan perlahan hilang. Selain itu, menuntut ilmu tanpa mengamalkannya berisiko menyerupai sifat kaum Yahudi—mereka memiliki pengetahuan Alkitab namun enggan mengamalkannya.
Jika hukum dari suatu ilmu adalah wajib, maka mengamalkannya menjadi wajib. Jika hukumnya sunah, maka dianjurkan untuk mengamalkannya minimal sekali seumur hidup agar kita tergolong sebagai orang yang menghidupkan sunah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam.
3. Mendakwahkan Ilmu (Ad-Da’watu ilaih)
Setelah berilmu dan beramal, kewajiban berikutnya adalah menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain. Medan dakwah yang paling utama adalah keluarga dan lingkungan terdekat.
Dakwah memiliki syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi:
- Ikhlas karena Allah: Dakwah dilakukan semata-mata mengharapkan keridaan Allah, bukan untuk mencari popularitas atau mengajak manusia kepada kelompok tertentu.
- Berlandaskan Ilmu Syari: Dakwah tidak boleh didasari oleh kebodohan atau sekadar opini pribadi.
- Dengan Hikmah dan Kesabaran: Menyampaikan pesan agama sesuai kondisi audience (mad’u) dan memprioritaskan ajaran tauhid.
- Memperhatikan Keadaan Orang yang Didakwahi: Menyesuaikan pendekatan dakwah dengan latar belakang dan kapasitas penerima pesan.
Dalil mengenai pentingnya berdakwah di atas ilmu tertera dalam firman Allah Ta’ala:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin (basirah)…'” (QS. Yusuf: 108).
4. Bersabar dalam Menghadapi Ujian (As-Sabru ‘ala al-adza fihi)
Menempuh jalan ilmu, amal, dan dakwah pasti diwarnai dengan berbagai cobaan dan rintangan. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran.
Secara bahasa, sabar berarti menahan (al-habs). Secara syari, sabar adalah menahan diri dalam melaksanakan ketaatan, menahan diri dari perbuatan maksiat, serta menahan diri saat menerima takdir yang tidak menyenangkan.
Al-Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah membagi sabar menjadi tiga kategori:
- Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah hingga selesai ditunaikan.
- Sabar dalam menjauhi kemaksiatan hingga benar-benar ditinggalkan.
- Sabar menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan.
Pentingnya Menyandingkan Masalah dengan Dalil
Dalam risalah ini, Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab selalu menyandingkan setiap permasalahan dengan dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Metode ini diterapkan karena tiga alasan utama:
- Mendidik Penuntut Ilmu agar Ber-Ittiba’: Membiasakan pembaca agar senantiasa mengikuti dalil, bukan sekadar melakukan taklid buta.
- Memberikan Hujah yang Kuat: Membekali penuntut ilmu dengan argumentasi ilmiah yang kokoh untuk membantah kekeliruan.
- Melatih Penyimpulan Hukum (Istinbath): Mengasah kemampuan penuntut ilmu dalam menarik hukum yang benar langsung dari sumbernya.
Dalil dari Surah Al-‘Asr dan Penjelasan Para Ulama
Penulis membawakan surah Al-‘Asr sebagai dalil untuk empat permasalahan di atas:
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1–3).
Empat poin dalam surah ini mencakup:
- Beriman (mencakup kewajiban berilmu).
- Mengerjakan kebajikan (mengamalkan ilmu).
- Saling menasihati dalam kebenaran (berdakwah).
- Saling menasihati dalam kesabaran (bersabar).
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah menyatakan tentang keagungan surah ini:
“Seandainya Allah tidak menurunkan hujah kepada makhluk-Nya melainkan hanya surah ini saja, niscaya surah ini sudah cukup bagi mereka.”
Maksud pernyataan beliau adalah bahwa surah Al-‘Asr telah memuat arahan yang sangat menyeluruh bagi manusia untuk berilmu, beramal, berdakwah, dan bersabar agar terhindar dari kerugian di dunia dan akhirat.
Selain itu, Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahih-nya membuat bab khusus bertajuk: “Bab: Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat” (Bab al-‘ilmu qablal qauli wal ‘amal). Beliau menyandarkan prinsip ini pada firman Allah Ta’ala:
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu…” (QS. Muhammad: 19).
Dalam ayat ini, perintah untuk “mengetahui” (berilmu) didahulukan sebelum perintah memohon ampunan (beramal dan berucap).
Penutup
Sebagai kesimpulan, seorang muslim hendaknya menyeimbangkan antara menuntut ilmu, mengamalkannya, menyebarkannya kepada orang lain, dan bersabar atas segala proses serta rintangannya. Menerapkan empat pilar ini merupakan kunci utama agar kehidupan seorang hamba senantiasa berada dalam petunjuk dan dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wallahu a’lam bish-shawab.



