Risalah Mutun Aqidah Wa Tauhid #1 | Pengantar Kitab Al-Ushul As-Tsalatsah

بسم الله الرحمن الرحيم
📘 | Materi : Risalah Mutun Aqidah Wa Tauhid – Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahumullah
🎙️| Bersama: Ustadz Muhammad Alif Lc. M.Pd Hafidzahullah
🗓️ | Hari : Jum’at, 9 Safar 1448 H / 24 Juli 2026
🕰️ | Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’
🕌 | Tempat: Masjid Al-Qomar Surakarta
Pengantar Kajian Kitab Al-Ushul As-Tsalah
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Innal hamda lillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa na’udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyi-ati a’malina, may yahdihillahu fala mudhillalah, wa may yudhlil fala hadiyalah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallama tasliman katsira. Amma ba’du.
Para jemaah, ikhwah, dan akhwat yang dimuliakan Allah. Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala karena pada malam ini dapat kembali berkumpul untuk belajar bersama. Pada pertemuan sebelumnya, kita telah menyelesaikan pembahasan risalah Hadi ‘Aqidatuna. Insya Allah, pada pertemuan ketiga dan keempat, kita akan melanjutkan pembahasan risalah-risalah Mutun fit-Tauhid wal ‘Aqidah karya Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.
Kita akan mengawali kajian dari penjelasan kitab Al-Usul As-Salah, kemudian dilanjutkan dengan Al-Qawa’id Al-Arba’, Nawaqidul Islam, dan risalah-risalah lainnya. Beberapa risalah matan ini mungkin sudah pernah dipelajari, tetapi kita ingin melakukan muraja’ah (mengulang kembali) agar mendapatkan faedah tambahan serta pengingat bagi diri kita semua. Para ulama dan masyayikh kita, meskipun keilmuan mereka sangat dalam dan memiliki banyak murid, terus mengulang-ulang pelajaran ringkas ini. Pembahasan yang tampak sederhana inilah yang justru menjadi penguat tauhid dan akidah kita.
Sebagai pendamping, kita mengambil penjelasan ringkas dari Syekh Dr. Haitam Sarhan hafizhahullahu taala. Penjelasan beliau sangat lugas dan mudah dipahami.
Mengenal Penulis: Syekh Muhammad bin Abdul Wahab
Mengutip penjelasan Syekh Dr. Haitam Sarhan dalam mukadimah penjelasannya, poin pertama yang dibahas adalah sosok mu’allif (penulis) matan risalah ini. Risalah ini biasa dinamakan Al-Usul As-Salah atau Salatsatul Usul (Tiga Landasan Pokok).
Penulis kitab ini adalah Syaikhul Islam Al-Mujaddid (pembaharu dakwah tauhid), Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullah. Nama beliau adalah Muhammad, sedangkan kuniahnya adalah Abul Husain.
Penggunaan nama kuniah “Abul Husain” ini sekaligus membantah tuduhan sebagian pihak yang mengklaim bahwa beliau membenci Ahlulbait. Pilihan kuniah tersebut justru menunjukkan kecintaan beliau kepada keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dilahirkan di Al-Uyainah pada tahun 1115 H. Beliau tumbuh di lingkungan keluarga ilmuwan dan ulama, lalu menimba ilmu syari kepada ayah dan keluarganya. Beliau juga mengembara menuntut ilmu ke berbagai wilayah seperti Irak (Basra), Makkah, dan Madinah.
Ketika melihat kondisi masyarakat kala itu yang terjerumus dalam kesyirikan—seperti melakukan istighatsah dan tabarruk (mencari berkah) di kuburan-kuburan yang dianggap wali—beliau tergerak untuk meluruskan pemahaman tersebut. Beliau menyusun karya-karya ilmiah yang berfokus pada penataan tauhid uluhiyah dan bantahan terhadap syubhat yang beredar.
Salah satu karya utamanya adalah Kitabut Tauhid, yang memuat ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, serta perkataan para sahabat dan tabiin tanpa menyisipkan pendapat pribadi yang lepas dari dalil. Beliau juga menulis risalah-risalah ringkas lainnya, seperti:
- Al-Qawa’id Al-Arba’: Menjelaskan empat kaidah penting dalam memahami tauhid dan syirik.
- Kasyfusy Syubuhat: Mengurai dan mematahkan keraguan seputar tauhid uluhiyah.
- Masail Al-Jahiliyyah: Membahas perkara jahiliah yang diselisihi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Nawaqidul Islam: Merangkum 10 pembatal keislaman secara ringkas namun mendasar.
- Kitab Al-Kabair dan Ushulul Iman.
Ciri khas karya beliau adalah singkat, padat, dan senantiasa berlandaskan dalil. Beliau tidak pernah mengajak masyarakat untuk taqlid (mengikut secara buta) kepada dirinya, melainkan mengajak untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Syekh Muhammad bin Abdul Wahab wafat di Diriyah (wilayah Najd, Arab Saudi) pada tahun 1206 H dalam usia sekitar 91 tahun. Keturunan beliau hingga hari ini dikenal dengan sebutan keluarga Aalu Syekh.
Mengapa Kita Harus Mempelajari Tauhid?
Poin kedua yang dijelaskan oleh Syekh Haitam Sarhan adalah alasan mendasar mengapa pembelajaran tauhid harus menjadi prioritas utama. Terdapat delapan alasan utama:
- Tujuan Penciptaan Manusia: Allah menciptakan jin dan manusia semata-mata untuk beribadah dan mentauhidkan-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam surah Az-Dzariyat ayat 56.
- Syarat Diterimanya Amalan: Allah tidak akan menerima amalan apa pun tanpa landasan tauhid. Kebaikan sebesar apa pun yang dilakukan tanpa tauhid akan sia-sia di akhirat.
- Kunci Masuk Surga: Surga hanya diperuntukkan bagi jiwa-jiwa yang mentauhidkan Allah (muwahhidin).
- Sebab Melipatgandakan Pahala: Mempelajari dan mengamalkan ilmu tauhid adalah kebaikan tertinggi yang mendatangkan pahala melimpah.
- Sebab Penghapus Dosa: Keteguhan dalam tauhid dan amalan saleh menjadi perantara diampuninya kesalahan-kesalahan kita.
- Sebab Jaminan Hidayah dan Keamanan: Tauhid memberikan rasa aman serta petunjuk hidup, baik di dunia maupun di akhirat (QS. Al-An’am: 82).
- Sebab Ketenangan Hati: Orang yang mantap tauhidnya meyakini bahwa manfaat dan mudarat hanya datang dari Allah, sehingga hatinya tidak mudah dihinggapi rasa cemas berlebihan.
- Sebab Mendapatkan Syafaat Nabi: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang paling bahagia mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah secara ikhlas dari hatinya.
Keistimewaan Kitab Al-Usul As-Salah
Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah memberikan perhatian besar terhadap risalah Al-Usul As-Salah karena mengandung pondasi akidah yang wajib diyakini setiap muslim. Karya-karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab secara umum memiliki beberapa keunggulan:
- Bahasa yang Mudah dan Jelas: Disusun dengan penyampaian yang lugas sehingga dapat dipahami baik oleh penuntut ilmu maupun masyarakat awam.
- Selalu Disertai Dalil: Setiap poin pembahasan disandarkan langsung pada ayat atau hadis.
- Sistematis dan Terstruktur: Penjelasan disusun runtut dengan penomoran poin yang memudahkan penuntut ilmu untuk menghafal dan menguasai materinya.
- Banyak Mengandung Doa: Penulis sering menyisipkan doa kebaikan bagi para pembaca dan pembelajarnya, seperti frasa “I’lam rahimakallah” (Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu).
Daftar Isi dan Pemetaan Materi
Secara ringkas, isi kitab Al-Usul As-Salah memuat tiga pertanyaan utama di alam kubur (Man Rabbuka? Wa ma dinuka? Wa man nabiyyuka?). Syekh Haitam Sarhan membagi pemetaan materi kitab ini menjadi lima bagian utama:
- Empat Permasalahan Penting (Al-Masail Al-Arba’): Meliputi ilmu, amal, dakwah, dan sabar (sebagaimana tersirat dalam surah Al-‘Asr).
- Tiga Permasalahan Dasar (Al-Masail As-Salats): Membahas pembagian tauhid serta prinsip Al-Wala’ wal Bara’ (loyalitas kepada Islam dan berlepas diri dari kesyirikan).
- Pentingnya Mempelajari Tauhid: Urgensi dan manfaat tauhid bagi seorang hamba.
- Tiga Landasan Utama (Al-Usul As-Salah): Pembahasan inti mengenai pengenalan hamba kepada Rabbnya, agamanya, dan Nabinya (shallallahu ‘alaihi wa sallam).
- Penutup (Al-Khatimah): Membahas tentang kebangkitan setelah kematian (al-ba’ts) dan pertanggungjawaban amal di akhirat.
Semoga ringkasan penjelasannya memberikan gambaran awal yang jelas sebelum kita masuk ke bab-bab selanjutnya. Apabila ada faedah yang dicatat, silakan dibagikan kepada keluarga atau rekan-rekan lain sebagai bentuk saling tolong-menolong dalam kebaikan.
Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.