Riyadhus Shalihin Bab-1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan

š | Hadits #3: Tidak ada hijrah setelah pembebasan (Makkah)
Ł£- ŁŲ¹Ł Ų¹Ų§Ų¦ŁŲ“Ų©Ł Ų±Ų¶ŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŲ§Ų ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ: ŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŲØŁ – ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
: Ā«ŁŲ§ ŁŁŲ¬ŁŲ±ŁŲ©Ł ŲØŁŲ¹ŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŲŖŁŲŁŲ ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų¬ŁŁŁŲ§ŲÆŁ ŁŁŁŁŁŁŁŲ©ŁŲ ŁŁŲ„ŁŲ°ŁŲ§ Ų§Ų³ŁŲŖŁŁŁŁŁŲ±ŁŲŖŁŁ
Ł ŁŲ§ŁŁŁŁŲ±ŁŁŲ§Ā». Ł
ŁŲŖŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ.
ŁŁŁ
ŁŲ¹ŁŲ§ŁŁ: ŁŲ§ ŁŁŲ¬ŁŲ±ŁŲ©Ł Ł
ŁŁŁ Ł
ŁŁŁŲ©Ł ŁŲ£ŁŁŁŁŁŁŲ§ ŲµŁŲ§Ų±ŁŲŖŁ ŲÆŁŲ§Ų±Ł Ų„Ų³ŁŲ§ŁŁ
Ł.
__________
3. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, berkata: Nabi shallallahu āalaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada hijrah setelah pembebasan (Makkah), tetapi yang ada ialah jihad dan niat. Maka dari itu, apabila engkau semua diminta untuk keluar (oleh imam untuk berjihad), maka keluarlah (berangkatlah).” (Muttafaq ‘alaih)
Maknanya: Tidak ada hijrah lagi dari Makkah, sebab saat itu Makkah telah menjadi Daarul Islam atau Negara Islam.
š| Pengesahan Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (VII/226-Fathul BĆ¢ri) dan Muslim (no. 1864). Juga dalam bab terkait dari Ibnu Abbas berdasarkan riwayat al-Bukhari (VI/3-Fathul BĆ¢ri).
š| Kosa Kata Hadits
- Ų§ŁŁŁŁŲŖŁŲŁ : Penaklukan Makkah. Yakni pembebasan kota Makkah.
- ŁŁŁŁŁŲ©Ł : Niat. Maknanya, mengikhlaskan amal hanya karena Allah ļ·».
- Ų§Ų³ŁŲŖŁŁŁŁŁŲ±ŁŲŖŁŁ Ł : Dipanggil untuk berperang (fi sabilillah). Maksudnya, permintaan imam (pemimpin kaum Muslimin) kepada para Sahabat untuk pergi berjihad melawan kaum musyrikin.
š| Kandungan Hadits
- Penghapusan kewajiban hijrah dari Makkah ke Madinah, karena kota itu sudah menjadi Darul Islam. Dalam kaitan ini, hukum kota Makkah sama seperti kota-kota lainnya jika telah dibebaskan oleh kaum Muslimin (dari belenggu kaum musyrikin).
- Berita gembira dari Nabi ļ·ŗ bahwa Makkah akan menjadi Darul Islam untuk selama-lamanya.
- Hijrah tetap disyari’atkan selama di dunia masih terdapat Darul Kufur (negeri kafir) dan Darul Islam (negeri Islam). Siapa saja yang berada di Darul Kufur dan mampu keluar darinya menuju Darul Islam maka diwajibkan berhijrah; sedangkan kaum mustadh’afin (orang-orang yang tertindas) baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang tidak mampu berupaya dan tidak mengetahui jalan (hijrah dari negerinya), sungguh Allah akan menunjuki mereka jalan keluar.
- Kebaikan yang terputus karena terputusnya hijrah dapat tercapai melalui jihad dan niat yang baik.
- Keharusan keluar untuk berjihad apabila pemimpin kaum Muslimin sudah menetapkannya. Pada yang demikian itu terdapat penjelasan bahwasanya di antara syarat berjihad fi sabilillah yakni terdapat imam atau pemimpin dan bendera.’
- Suatu perbuatan dinilai berdasarkan niatnya.
- Kewajiban berjihad Åerta melatih diri dan mempersiapkannya.
*****
š | Hadits #4: Pahala bagi Orang yang Berniat tetapi Berhalangan
٤- ŁŲ¹Ł Ų£ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¬Ų§ŲØŲ± ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ£ŁŲµŲ§Ų±ŁŁŁ Ų±ŁŲ¶Ł Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ
Ų§Ų ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŁŁŁŲ§ Ł
ŁŲ¹Ł Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁ – ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
– ŁŁ ŲŗŁŲ²ŁŲ§Ų©ŁŲ ŁŁŁŲ§ŁŁ: Ā«Ų„ŁŁŁŁ ŲØŲ§ŁŁ
ŲÆŁŁŁŁŲ©Ł ŁŁŲ±ŁŲ¬ŁŲ§ŁŁŲ§ Ł
Ų§ Ų³ŁŲ±ŁŲŖŁŁ
Ł Ł
ŁŲ³ŁŁŲ±ŁŲ§Ų ŁŁŁŲ§Ł ŁŁŲ·ŁŲ¹ŁŲŖŁŁ
Ł ŁŁŲ§ŲÆŁŁŁŲ§Ų Ų„ŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŁŲ§ Ł
ŁŲ¹ŁŁŁ
Ł ŲŁŲØŁŲ³ŁŁŁŁ
Ł Ų§ŁŁŁ
ŁŲ±ŁŲ¶ŁĀ». ŁŁŁŁ Ų±ŁŁŲ§ŁŁŲ©: «؄ŁŲ§ŁŁ Ų“ŁŲ±ŁŁŁŁŁŁŁ
Ł ŁŁ Ų§ŁŲ£Ų¬ŁŲ±ŁĀ». Ų±ŁŲ§ŁŁ Ł
Ų³ŁŁ
Ł.
ŁŲ±ŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŲØŲ®Ų§Ų±ŁŁŁ ع٠أŁŲ³Ł – Ų±Ų¶Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁ – ŁŁŲ§ŁŁ: Ų±ŁŲ¬ŁŲ¹ŁŁŁŲ§ Ł
ŁŁŁ ŲŗŁŲ²ŁŁŁŲ©Ł ŲŖŁŲØŁŁŁŁ Ł
ŁŲ¹Ł Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁ – ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
– ŁŁŲ§Ł: Ā«Ų„ŁŁŁ Ų£ŁŁŁŲ§Ł
ŁŲ§ Ų®ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ ŲØŲ§ŁŁŁ
ŁŲÆŁŁŁŁŲ©Ł Ł
ŁŲ§ Ų³ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų“ŁŲ¹ŁŲØŁŲ§ ŁŁŁŲ§Ł ŁŁŲ§ŲÆŁŁŲ§Ų Ų„ŁŲ§Ł ŁŁŁŁŁ
Ł Ł
ŁŲ¹ŁŁŁŲ§Ų ŲŁŲØŁŲ³ŁŁŁŁ
Ł Ų§ŁŲ¹ŁŲ°ŁŲ±ŁĀ».
4. Dari Abu Abdillah al-Anshari Radhiyallahu’anhu, ia bercerita; Kami pernah bersama Nabi ļ·ŗ dalam suatu peperangan. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang (yang tidak ikut berperang). Namun, tidaklah kalian melewati jalan atau menyeberangi lembah, melainkan (pada hakikatnya) mereka senantiasa bersama kalian. Mereka tidak ikut berperang karena sakit.”
Dalam riwayat lain disebutkan: ” ⦠melainkan mereka selalu menyertai kalian dalam memperoleh pahala.”(HR. Muslim).
Diriwayatkan juga oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, bahwa ia bercerita; Kami kembali dari Perang Tabuk bersama Nabi ļ·ŗ, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya ada beberapa orang yang kita tinggalkan di Madinah. Namun, tidaklah kita menempuh jalan di pegunungan atau menyeberangi lembah melainkan mereka senantiasa menyertai kita, hanya saja mereka tertahan oleh udzur (halangan syar’i [yang dibenarkan oleh syariat]).”
š| Pengesahan Hadits
Hadits Jabir Radhiyallahu’anhu (dari Abu Abdillah al-Anshar Radhiyallahu’anhu) ini diriwayatkan oleh Muslim (no. 1911), sedangkan hadits Anas ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (VI/46-47-Fathul BĆ¢ri).
Penulis (an-Nawawi) hs tidak menganggap hadits ini muttafaq ‘alaih, padahal kedua imam (al-Bukhari dan Muslim) meriwayatkannya dengan sedikit perbedaan lafazh (matan). Sesungguhnya perbedaan lafazh itu tidak menghalangi penjelasan statusnya yang muttafaq ‘alaih. Namun, perlu diketahui bahwa pernyataan ini dikemukakan karena memang jumhur ahli hadits hanya menganggap suatu hadits berstatus muttafaq ‘alaih jika memiliki satu jalur periwayatan, yakni dari sisi takhrij sanad dan matannya. Demikian seperti ditegaskan al-Hafizh (Ibnu Hajar Hafidzahullah) dalam kitabnya, al-Nukat ‘alĆ¢ Muqaddimah Ibnish ShalĆ¢h, dan sebagaimana disampaikan Ibnu Allan.
š| Kosa Kata Hadits
- ŁŁ ŲŗŁŲ²ŁŲ§Ų©Ł : Dalam suatu peperangan. Yang dimaksudkan adalah Perang Tabuk, sebagaimana ditafsirkan dalam hadits Anas Radhiyallahu’anhu.
- Ų“ŁŲ±ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ£Ų¬Ų±Ł : Mereka selalu menyertai kalian dalam memperoleh pahala. Yakni mereka turut mendapatkan pahala seperti kalian.
- Ų£ŁŁŁŲ§Ł ŁŲ§ : Ada beberapa orang. Maknanya ialah beberapa laki-laki, sebab kata ŁŁŁŁ (bentuk tunggal dari kata Ų£ŁŁŁŲ§Ł ŁŲ§) lazimnya dikhususkan untuk menerangkan jenis laki-laki. Hal itu seperti yang tercantum di dalam firman Allah pada surah Al-HujurĆ¢t ayat ke-11:
ŁŁ°ŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁŁ Ų§Ł°Ł ŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§ ŁŁŲ³ŁŲ®ŁŲ±Ł ŁŁŁŁŁ Ł Ł ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŲ³Ł°ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų®ŁŁŁŲ±ŁŲ§ Ł ŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ³ŁŲ§Ū¤Ų”Ł Ł ŁŁŁŁ ŁŁŁŲ³ŁŲ§Ū¤Ų”Ł Ų¹ŁŲ³Ł°ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų®ŁŁŁŲ±ŁŲ§ Ł ŁŁŁŁŁŁŁŁŁŪ ŁŁŁŁŲ§
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok) ā¦. “ Seperti itu pula penafsirannya dalam hadits Jabir Radhiyallahu’anhu.
- Ų§ŁŁŲ³ŁŁŲ¹ŁŲØŁ : Jalan di pegunungan. Yaitu jalanan yang ada atau terdapat di pegunungan.
- Ų§ŁŁŁŁŲ§ŲÆŁŁ : Lembah. Lembah adalah dataran rendah di kaki gunung yang biasanya dialiri air dari pegunungan.
- Ų§ŁŲ¹ŁŲ°ŁŲ±Ł : Udzur. Sesuatu hal yang menghalangi seorang mukallaf dalam melaksanakan kewajiban syariat (agama Islam), sehingga dia pantas mendapat keringanan.
š| Kandungan Hadits
- Derajat para mujahid yang berperang di jalan Allah ( lebih tinggi daripada derajat yang diperoleh orang-orang yang duduk di rumah (tidak ikut berperang).
- Orang-orang yang mempunyai alasan berupa cacat atau lemah fisik, misalnya orang buta, orang sakit, atau orang pincang, diperbolehkan untuk tidak ikut berperang.
- Kedudukan orang yang memiliki udzur dalam mengikuti peperangan sama dengan kelompok di atas (yang mempunyai alasan berupa cacat dan lemah fisik).
- Orang-orang yang berhalangan namun tetap berniat baik serta tulus untuk berjihad akan memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang berjihad secara langsung.
- Menunjukkan keluasan rahmat Allah , Rabb semesta alam, juga kemudahan penerapan ajaran Islam. Hukum serta manfaat seperti inilah yang disampaikan al-Qur-an, sesuai dengan firman-Nya:
ŁŁŲ§ ŁŁŲ³ŁŲŖŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ°Ų¹ŁŲÆŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ¤ŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ ŲŗŁŁŁŲ±Ł Ų§ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲ¶ŁŁŲ±ŁŲ±Ł ŁŁŲ§ŁŁŁ ŁŲ¬Ł°ŁŁŲÆŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁ Ų³ŁŲØŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ°ŁŁ ŲØŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŲ§ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ§ŁŁŁŁŁŲ³ŁŁŁŁ ŁŪ
“Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai udzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.” (QS. An-NisĆ¢’ [4]: 95)
*****
š | Hadits #5: Amalan Tergantung Apa yang Diniatkan
Ł„- ŁŲ¹Ł Ų£ŲØŁ ŁŁŲ²ŁŲÆŁ Ł ŁŲ¹ŁŁŁ ŲØŁŁ ŁŁŲ²ŁŲÆŁ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ£Ų®ŁŲ³Ł – Ų±Ų¶Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ – ŁŁŁ ŁŲ£ŲØŁŁ ŁŁŲ¬ŁŲÆŁŁŁ ŲµŲŲ§ŲØŁŁŁŁŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ§ŁŁ Ų£ŲØŁ ŁŁŲ²ŁŲÆŁ Ų£Ų®ŁŲ±ŁŲ¬Ł ŲÆŁŁŁŲ§ŁŁŁŲ±Ł ŁŁŲŖŁŲµŁŲÆŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŲ§Ų ŁŁŁŁŲ¶Ų¹ŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŁŁŲÆŁ Ų±ŁŲ¬ŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ³ŁŲ¬ŁŲÆŁŲ ŁŁŲ¬ŁŲ¦ŁŲŖŁ ŁŲ£ŁŲ®Ų°ŁŲŖŁŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŲŖŁŁŁŲŖŁŁŁ ŲØŁŁŁŲ§. ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŲ§ŁŁŁŁŲ Ł ŁŲ§ Ų„ŁŁŁŲ§ŁŁ Ų£Ų±ŁŲÆŁŲŖŁŲ ŁŁŲ®ŁŲ§ŲµŁŁ ŁŲŖŁŁŁ Ų„ŁŁŁ Ų±Ų³ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ – ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ – ŁŁŁŲ§ŁŁ: Ā«ŁŁŁ Ł ŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ§ ŁŲ²ŁŲÆŁŲ ŁŁŁŁŁ Ł Ų§ Ų£Ų®ŁŲ°ŁŲŖŁ ŁŁŲ§ Ł ŁŲ¹ŁŁŁĀ». Ų±ŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŲØŲ®Ų§Ų±ŁŁŁ.
5. Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin al-Akhnas Radhiyallahu’anhu -dia (Ma’an), bapaknya (Yazid), dan kakeknya (al-Akhnas) termasuk Sahabat Nabi ļ·ŗ, ia menuturkan: “Ayahku, Yazid, pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk disedekahkan. Beliau mempercayakan uang itu kepada seseorang yang berada di masjid (yakni untuk dibagi-bagikan). Lantas aku datang (ke masjid tadi) dan mengambil uang itu. Kemudian aku datang ke tempat ayahku dengan membawa dinar tersebut. Setelah melihatnya, ayahku pun berseru: ‘Demi Allah, bukan kamu yang aku tuju (untuk menerima sedekah ini)!’
Selanjutnya, aku menyampaikan kejadian tadi kepada Rasulullah ļ·ŗ, maka beliau bersabda: ‘Bagimu apa yang telah kamu niatkan, hai Yazid. Dan bagimu apa yang telah kamu ambil, hai Ma’an.’” (HR. Al-Bukhari)
š| Pengesahan Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahîh-nya (III/291-Fathul Bâri).
“Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai udzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya!”
š| Kosa Kata Hadits
- ŁŁŲ¬ŁŲ«ŁŲŖŁ ŁŁŲ£ŁŲ®ŁŲ°ŁŲŖŁŁŁŲ§ : Lantas aku datang (ke masjid tadi) dan mengambil uang itu. Maksudnya, Ma’an mengambil dinar itu dari orang yang mendapat mandat dari ayahnya untuk menyedekahkannya, yakni orang yang berada di masjid. Ma’an mengambil dinar itu darinya dengan seizin orang ini, bukan dengan cara merampasnya.
- ŁŁŲ£ŁŲŖŁŁŁŲŖŁŁŁ : Kemudian aku datang ke tempat ayahku dengan membawa dinar tersebut. Yakni Ma’an.
- ŁŁŲ®ŁŲ§ŲµŁŁ ŁŲŖŁŁŁ : Selanjutnya, aku menyampaikan kejadian tadi. Yaitu, aku (Ma’an) melaporkan masalah ini (kepada Rasulullah) untuk mencari ketetapan hukumnya.
- ŁŁŁŁ Ł ŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ : Bagimu apa yang telah kamu niatkan. Yakni bagimu pahala sedekah yang kamu keluarkan. Sabda Nabi Muhammad ļ·ŗ ini ditujukan kepada ayah Ma’an, Yazid. Hal ini disebabkan Yazid berniat menyedekahkan dinar yang dimilikinya tersebut kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan, padahal anaknya sendiri ternyata begitu membutuhkan sedekah; (maka dia tetap memperoleh pahalanya) meskipun tidak bertujuan memberikan harta itu kepada si anak, Ma’an.
- ŁŁŁŁ Ł Ų§ Ų£Ų®ŁŲ°ŁŲŖŁ : Bagimu apa yang telah kamu ambil. Sabda Nabi ļ·ŗ ini ditujukan kepada anak Yazid, Ma’an. Hal ini disebabkan Ma’an mengambil sedekah tersebut dengan cara yang benar dan sah secara syar’i atau menurut tinjauan syariat Islam.
š| Kandungan Hadits
- Mengisyaratkan bolehnya berbicara tentang berbagai karunia Allah serta berbincang tentang nikmat-nikmat-Nya.
- Tidak mengapa mewakilkan pembagian sedekah kepada orang lain. Terutama sedekah tathawwu’ (yang bersifat sukarela), karena dalam sedekah yang demikian terdapat kerahasiaan amal.
- Diperbolehkan mengerjakan suatu amalan yang redaksi perintah nashnya bersifat mutlaq (tidak terikat), yakni mengamalkan dalil itu sesuai dengan kemutlakan atau keumuman cakupannya. Memang tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahpahaman bagi orang yang memutlakkan redaksi tersebut, yaitu tebersit dalam hatinya sesuatu yang tidak mutlak, namun hal ini dapat dihindari dengan penjelasan terhadap hakikatnya.
- Boleh berhukum (beperkara) antara ayah dan anak, dan hal tersebut tidak dikategorikan sebagai kedurhakaan.
- Diperbolehkan menyerahkan sedekah tathawwu’ kepada furu’ (yakni anak, cucu, dan keturunannya).
- Seseorang yang bersedekah akan memperoleh pahala sesuai dengan niatnya, baik sedekah itu sampai kepada orang yang berhak menerima ataupun kepada orang yang tidak berhak menerimanya.
- Seorang ayah tidak diperkenankan menarik kembali sedekah yang telah diberikan kepada anaknya. Hukum syar’i dalam hal ini berbeda dengan pemberian yang berupa hibah.
*****
š | Hadits #6: Pahala Berinfak Tergantung Niat
٦- ŁŲ¹Ł Ų£ŲØŁ Ų„Ų³ŲŲ§ŁŁ Ų³ŁŲ¹ŲÆŁ ŲØŁŁ Ų£ŲØŁ ŁŁŁŁŁŲ§ŲµŁ Ł Ų§ŁŁŁŁ ŲØŁŁ Ų£ŁŁŁŁŁŲØ ŲØŁŁ Ų¹ŲØŲÆŁ Ł ŁŲ§ŁŁ ŲØŁŁ Ų²ŁŁŲ±ŁŲ©Ł ŲØŁŁ ŁŁŲ§ŲØŁ ŲØŁŁ Ł ŁŲ±ŁŁŲ©Ł ŲØŁŁ ŁŲ¹ŲØŁ ŲØŁŁ ŁŁŲ¤ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ±Ų“ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ²ŁŁŁŲ±ŁŁŁ – Ų±Ų¶Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁ – Ų£ŁŲŁŲÆŁ Ų§ŁŲ¹ŁŲ“ŁŲ±ŁŲ©Ł Ų§ŁŁ Ų“ŁŁŲÆŁ ŁŁŁ ŲØŲ§ŁŲ¬ŁŲ©Ł – Ų±Ų¶Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ – ŁŁŲ§ŁŁ: Ų¬Ų§Ų”ŁŁŁ Ų±Ų³ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ – ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ – ŁŁŲ¹ŁŁŲÆŁŁŁŁ Ų¹ŁŲ§Ł Ł ŲŁŲ¬ŁŁŲ©Ł Ų§ŁŁŁŲÆŁŲ§Ų¹Ł Ł ŁŁŁ ŁŁŲ¬ŁŲ¹Ł Ų§Ų“ŁŲŖŁŲÆŁŁ ŲØŁŲ ŁŁŁŁŁŲŖŁ: ŁŁŲ§ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ Ų„ŁŁŁŁ ŁŁŲÆŁ ŲØŁŁŁŲŗŁ ŲØŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ¬ŁŲ¹Ł Ł ŁŲ§ ŲŖŁŲ±ŁŁŲ ŁŁŲ£ŁŁŁŲ§ Ų°ŁŁ Ł Ų§ŁŁ ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ±ŁŲ«ŁŁŁ Ų„ŁŲ§ Ų§ŲØŁŁŁŲ©Ł ŁŁŲ Ų£ŁŲ£ŁŲŖŁŲµŁŲÆŁŁŁŁ ŲØŁŲ«ŁŁŁŲ«ŁŁŁ Ł ŁŲ§ŁŁŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ: Ā«ŁŲ§Ā»Ų ŁŁŁŁŲŖŁ: ŁŲ§ŁŲ“ŁŁŲ·ŁŲ±Ł ŁŁŲ§ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ ŁŁŁŲ§ŁŁ: Ā«ŁŲ§Ā»Ų ŁŁŁŁŲŖŁ: ŁŲ§ŁŲ«ŁŁŁŁŲ«Ł ŁŁŲ§ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ: «اŁŲ«ŁŁŁŁŲ«Ł ŁŲ§ŁŲ«ŁŁŁŁŲ«Ł ŁŁŲ«ŁŲ±Ł – Ų£ŁŁŁ ŁŲØŁŲ±Ł – Ų„ŁŁŁŁŁ Ų„ŁŁ ŲŖŁŲ°ŁŲ±Ł ŁŁŲ±ŁŲ«ŁŲŖŁŁŁ Ų£ŲŗŁŁŁŁŲ§Ų”Ł Ų®ŁŲ±Ł Ł ŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲ°ŁŲ±ŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŲ§ŁŁŲ©Ł ŁŲŖŁŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų³ŁŲ ŁŁŲ„ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁ ŲŖŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŲ©Ł ŲŖŁŲØŁŲŖŁŲŗŁ ŲØŁŁŁŲ§ ŁŁŲ¬ŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų„ŁŲ§ŁŁ Ų£ŁŲ¬ŁŲ±ŁŲŖŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ ŲŁŲŖŁŁŁ Ł ŁŲ§ ŲŖŁŲ¬ŁŲ¹ŁŁŁ ŁŁ ŁŁŁŁŁ Ų§Ł ŁŲ±ŁŲ£ŁŲŖŁŁŁĀ»Ų ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŁŁŁŲŖŁ: ŁŁŲ§ Ų±Ų³ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ Ų£ŁŲ®ŁŁŁŁŁ ŲØŲ¹ŲÆŁ Ų£ŲµŁŲŁŲ§ŲØŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ: Ā«Ų„ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁ ŲŖŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲ¹Ł ŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŁŁŲ§ ŲŖŁŲØŲŖŁŲŗŁ ŲØŁŁŁ ŁŁŲ¬ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų„ŁŲ§ŁŁ Ų§Ų²ŁŲÆŁŲÆŲŖŁ ŲØŁŁŁ ŲÆŁŲ±ŁŲ¬Ų©Ł ŁŲ±ŁŁŲ¹ŁŲ©ŁŲ ŁŁŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ ŲŁŲŖŁŁ ŁŁŁŲŖŁŁŁŲ¹Ł ŲØŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁŲ§Ł Ł ŁŁŁŁŲ¶ŁŲ±ŁŁ ŲØŁŁŁ Ų¢Ų®Ų±ŁŁŁ. Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁ Ų£ŁŁ ŁŲ¶Ł ŁŲ£ŲµŁŲŁŲ§ŲØŁ ŁŁŲ¬ŁŲ±ŁŲŖŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ§Ł ŲŖŁŲ±ŁŲÆŁŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŁŁŁ Ų£Ų¹ŁŁŲ§ŲØŁŁ ŁŲ ŁŁŁŁ Ų§ŁŲØŁŲ§Ų¦ŁŲ³Ł Ų³ŁŲ¹ŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ų®ŁŁŁŁŁŲ©ŁĀ» ŁŁŲ±ŁŲ«Ł ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ – ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ – Ų£ŁŁŁ Ł Ų§ŲŖŁ ŲØŁ ŁŁŁŁŲ©. Ł ŁŲŖŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ.
6. Dari Abu Ishaq Sa’ad bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay al-Qurasyiyyi az-Zuhri Radhiyallahu’anhuma, salah seorang di antara sepuluh Sahabat yang dijamin masuk Surga, ia bercerita; Rasulullah ļ·ŗ datang menjengukku ketika aku sakit keras pada tahun haji Wada. Kemudian aku bertanya: “Wahai Rasulullah, sakitku ini sangat keras (kronis) sebagaimana engkau menyaksikannya sendiri. Sementara aku mempunyai harta yang cukup banyak, dan tidak ada seorang pun yang menjadi ahli warisku selain anak perempuanku. Bolehkah aku menyedekahkan dua pertiga dari hartaku?” Beliau menjawab: “Tidak boleh.” Aku kembali bertanya: “Bagaimana jika setengahnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak boleh.” Lalu kutanyakan lagi: “Bagaimana jika sepertiga, wahai Rasulullah?” Beliau pun menjawab: “Ya, sepertiga (boleh); dan sepertiga itu sudah banyak-atau sudah besar. Sesungguhnya apabila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, maka itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada manusia. Sungguh, tidaklah kamu menafkahkan hartamu dengan mengharapkan keridhaan Allah melainkan kamu akan diberi pahala karenanya, bahkan pada apa yang kamu suapkan ke mulut istrimu.” Sa’ad pun melanjutkan; Kemudian aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah aku akan ditinggalkan (di kota Makkah ini) setelah kepergian sahabat-sahabatku darinya?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya tidaklah kamu ditinggalkan lalu kamu mengerjakan suatu amalan yang kamu niatkan karena mencari ridha Allah, melainkan dengannya derajat dan ketinggianmu akan bertambah. Barangkali umurmu akan dipanjangkan sehingga orang-orang dapat mengambil manfaat darimu, di samping ada juga orang-orang lain yang akan merasa dirugikan olehmu. Ya Allah, biarkanlah hijrah Sahabat-Sahabatku terus berlangsung, dan janganlah Engkau mengembalikan mereka ke tempat semula. Tetapi yang kasihan adalah Sa’ad bin Khaulah.” Rasulullah ļ·ŗ menyayangkan meninggalnya dia (Sa’ad bin Khaulah) di Makkah. (Muttafaq ‘alaih)
š| Pengesahan Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (III/165-Fathul BĆ¢ri) dan Muslim (no. 1628).
š| Kosa Kata Hadits
- ŁŁŲ¹ŁŁŲÆŁŁŁŁ : Menjengukku. Yaitu Nabi ļ·ŗ datang menjengukku tatkala aku sedang menderita sakit.
- Ų§ŁŲ“ŁŁŲ·ŁŲ±Ł: Setengahnya.
- ŲŖŁŲ°ŁŲ±Ł : Kamu meninggalkan.
- Ų¹ŁŲ§ŁŁŲ©Ł : Dalam keadaan miskin.
- ŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų³Ł : Yakni meminta-minta kepada manusia, dengan cara menengadahkan kedua telapak tangan.
- Ų£ŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŲÆŁ Ų£ŁŲµŁŲŁŲ§ŲØŁ : (Apakah aku akan ditinggalkan (di kota Makkah ini setelah kepergian sahabat-sahabatku darinya? Yakni apakah aku akan ditinggalkan di Makkah setelah mereka meninggalkannya?
- ŁŁŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ : Barangkali umurmu akan dipanjangkan. Maknanya: mudah-mudahan Allah ta’ala memanjangkan umurmu (Sa’ad bin Abi Waqqash). Kata ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ biasa digunakan untuk mengungkapkan harapan, namun dalam konteks kalam (firman) Allah kata tersebut menjadi suatu keharusan atau kenyataan. Demikian juga yang sering terjadi pada ungkapan (sabda) Rasulullah ļ·ŗ.
- ŲŁŲŖŁŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁŁŁŲ¹Ł ŲØŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁŁŲ§Ł Ł ŁŁŁŁŲ¶ŁŲ±ŁŁŲØŁŁŁ Ų¢Ų®ŁŲ±ŁŁŁŁŁ : sehingga orang-orang dapat mengambil manfaat darimu, di samping ada juga orang-orang lainnya yang akan merasa dirugikan olehmu. Ini merupakan pemberitahuan dari Rasulullah ļ·ŗ tentang hal-hal yang ghaib. Faktanya, Allah menaklukkan negeri Irak melalui tangan Sa’ad bin Abi Waqqash dan karenanya orang-orang mendapat petunjuk dan kaum Muslimin pun meraih harta rampasan perang (ghanimah) yang melimpah. Melalui kedua tangannya pula, banyak kaum musyrikin yang mati sehingga mereka benar-benar merugi.
- Ų£ŁŁ ŁŲ¶Ł : Biarkanlah (hijrah Sahabat-Sahabatku) terus berlangsung. Yang dimaksud adalah sempurnakanlah hijrah mereka.
- Ų§ŁŲØŁŲ§Ų¦ŁŲ³Ł : Yang kasihan. Yaitu, yang amat berharap dan bersedih hati.
- Ų³ŁŲ¹ŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ų®ŁŁŁŁŁŲ©Ł : Sa’ad bin Khaulah. Salah seorang dari kaum Muhajirin pertama, Sahabat yang ikut serta di dalam Perang Badar. Ia adalah suami Subai’ah al-Aslamiyyah. Subai’ah ditinggal mati suaminya itu, yakni ketika Sa’ad sedang menunaikan haji Wada. Beberapa hari setelah itu, Subai’ah melahirkan seorang anak; maka Rasulullah ļ·ŗ bersabda: “Kamu sudah dibolehkan (menjadi halal). Oleh karena itu, menikahlah dengan laki-laki yang kamu sukai.” Makna sabda Rasulullah :((ŁŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲØŁŲ§Ų¦ŁŲ³Ł Ų³ŁŲ¹ŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ų®ŁŁŁŁŁŲ©)) adalah beliau amat kasihan dan bersedih hati atas keadaan Sa’ad bin Khaulah yang meninggal di Makkah. Padahal para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tidaklah menyukai tinggal di bumi yang mereka hijrah darinya ini dan meninggalkannya (menuju Madinah), meski mereka mencintai kota ini karena Allah. Penyebutan hal tersebut di dekat Sa’ad bin Abi Waqqash merupakan upaya Rasulullah untuk menenteramkan hatinya; bahwa hijrahnya diterima dan telah dinilai sempurna, tidak seperti Sahabatnya yang bernama Sa’ad bin Khaulah.
- ŁŁŲ±ŁŲ«Ł ŁŁŁŁ : Menyayangkan dia. Nabi bersedih dan kasihan terhadapnya (Sa’ad bin Khaulah). Yang dimaksudkan di sini bukanlah ratapan yang menyebut-nyebut berbagai kebaikan si mayit (orang yang telah meninggal), karena perbuatan ini tidak diperbolehkan.
š| Kandungan Hadits
- Disyariatkan menjenguk orang sakit bagi pemimpin dan bawahan, terutama pada saat seseorang sedang sakit keras.
- Dibolehkan memberitahukan penyakit yang diderita dengan tujuan yang benar, misalnya untuk meminta obat atau doa dari orang yang shalih tanpa disertai keluhan dan sikap tidak ridha, dan hal ini tidak bertentangan dengan kesabaran yang baik.
- Boleh meletakkan tangan di dahi orang yang sedang sakit, termasuk mengusap wajahnya serta mengusap bagian tubuhnya yang sakit, seraya mendoakan agar dia diberi umur panjang.
- Pahala berinfak tergantung pada kebenaran niat dan pengharapan terhadap keridhaan Allah.
- Dibolehkan mengumpulkan harta, akan tetapi dengan syarat harta tersebut diperoleh secara halal. Harta tersebut tidak digolongkan sebagai harta simpanan jika hak (zakat)nya telah ditunaikan.
- Wasiat (yang berupa harta) tidak boleh lebih dari sepertiga.
- Memberi nafkah kepada keluarga mengandung pahala tersendiri, jika pemberiannya dimaksudkan untuk mencari keridhaan Allah ‘Azza wa jalla.
- Berbagai kebaikan dan ketaatan yang tidak bisa dikerjakan bisa diganti dengan amal lainnya, yaitu dalam hal pahala dan balasannya.
- Anjuran menyambung silaturahim (tali persaudaraan) dan berbuat baik kepada kerabat. Perlu diketahui pula bahwa menyambung tali persaudaraan dengan orang yang lebih dekat kekerabatannya lebih baik daripada dengan orang yang jauh kekerabatannya.
- Larangan memindahkan mayit dari satu negeri ke negeri lainnya. Sebab, jika hal itu disyariatkan, niscaya Rasulullah ļ·ŗ memerintahkan untuk memindahkan jenazah Sa’ad bin Khaulah dan bukan berbela sungkawa terhadap kematiannya.
- Menjelaskan kaidah ushul: Ų³ŲÆŁ Ų§ŁŲ°Ų±ŁŲ¹Ų© mencegah sarana yang berpotensi kepada keburukan. Dasar penetapannya adalah sabda Rasulullah: ŁŁŁŲ§ ŲŖŁŲ±ŁŲÆŁŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŁŁŁ Ų£Ų¹ŁŁŁŲ§ŲØŁŁŁŁ Ł “Dan janganlah Engkau mengembalikan mereka ke tempat semula.” Hal ini ditegaskan agar tidak ada seorang Muslim pun yang menjadikan sakit sebagai sarana (alasan) untuk mencintai negeri dan kampung halaman yang telah ditinggalkannya.
- Pembatasan kemutlakan yang terdapat di dalam al-Qur-an dengan keterangan dari as-Sunnah. Sebab, Allah Yang Mahasuci berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat ke 12: Ł ŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŲÆŁ ŁŁŲµŁŁŁŁŲ©Ł ŁŁŁŲµŁŁŁ ŲØŁŁŁŲ§ Ų£ŁŁŁŲÆŁŁŁ “Setelah (dipenuhi) wasiat yang mereka buat atau (dan setelah dibayar) utangnya.” Jadi, as-Sunnah membatasi jumlah wasiat itu sepertiga.
- Kewajiban memperhatikan kemaslahatan ahli waris dan memelihara keadilan di antara mereka.
- Khithab (firman) Allah ‘Azza wa jalla atau khithab (sabda) Rasulullah ļ·ŗ yang ditujukan kepada seseorang mencakup orang lain yang mempunyai sifat serupa dengannya, tetapi ini dikhususkan bagi kalangan orang-orang yang mendapat taklif (beban syariat). Para ulama sepakat dalam hal ini dan berhujjah dengan hadits Sa’ad di atas.
*****