Riyadhus Shalihin Bab-1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan


š | Hadits #10: Keutamaan Shalat Berjama’ah
ٔ٠- Ų¹ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ ŁŁŲ±ŁŁŁŲ±ŁŲ©Ł Ų±ŁŲ¶ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ§ŁŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ł: “ŲµŁŁŁŲ§Ų©Ł Ų§ŁŲ±ŁŁŲ¬ŁŁŁ ŁŁŁ Ų¬ŁŁ ŁŲ§Ų¹ŁŲ©Ł ŲŖŁŲ²ŁŁŲÆŁ Ų¹ŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŲ§ŲŖŁŁŁ ŁŁŁ Ų³ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲØŁŁŁŲŖŁŁŁ ŲØŁŲ¶ŁŲ¹ŁŲ§ ŁŁŲ¹ŁŲ“ŁŲ±ŁŁŁŁ ŲÆŁŲ±ŁŲ¬ŁŲ©ŁŲ ŁŁŲ°ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁŁŁ Ų„ŁŲ°ŁŲ§ ŲŖŁŁŁŲ¶ŁŁŲ£Ł ŁŁŲ£ŁŲŁŲ³ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ¶ŁŁŲ”ŁŲ Ų«ŁŁ ŁŁ Ų£ŁŲŖŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ³ŁŲ¬ŁŲÆŁŲ ŁŁŲ§ ŁŁŲ±ŁŁŲÆŁ Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŲµŁŁŁŁŲ§Ų©ŁŲ ŁŁŁ Ł ŁŁŲ®ŁŲ·Ł Ų®ŁŲ·ŁŁŁŲ©Ł Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų±ŁŁŁŲ¹Ł ŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŲ§ ŲÆŁŲ±ŁŲ¬ŁŲ©ŁŲ ŁŁŲŁŲ·ŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŲ§ Ų®ŁŲ·ŁŁŲ¦ŁŲ©ŁŲ ŁŁŲ§ŁŁŁ ŁŁŁŲ§Ų¦ŁŁŁŲ©Ł ŲŖŁŲµŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų£ŁŲŁŲÆŁŁŁŁ Ł Ł ŁŲ§ ŲÆŁŲ§Ł Ł ŁŁŁ Ł ŁŲµŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁ ŁŁŲµŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŲ ŲŖŁŁŁŁŁŁ: Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁ ŲµŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŲ Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁ Ų§Ų±ŁŲŁŁ ŁŁŁŲ Ł ŁŲ§ ŁŁŁ Ł ŁŁŲŁŲÆŁŲ«Ł ŁŁŁŁŁŲ Ł ŁŲ§ ŁŁŁ Ł ŁŁŲ¤ŁŲ°Ł ŁŁŁŁŁŲ ŁŁŲ£ŁŲŁŲÆŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ ŲµŁŁŁŲ§Ų©Ł Ł ŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ų§ŁŲµŁŁŁŁŲ§Ų©Ł ŲŖŁŲŁŲØŁŲ³ŁŁŁ.” (Ł ŲŖŁŁ Ų¹ŁŁŁ)
10. “Shalat seseorang dengan berjamaah itu pahalanya melebihi pahala shalat yang dikerjakannya sendirian di rumahnya dan shalatnya di pasar, dengan pahala dua puluh derajat lebih (yakni 23-29 derajat). Yang demikian itu dikarenakan jika salah seorang di antara mereka telah berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian dia datang ke masjid dan tidak ada yang mengeluarkan dan membuatnya beranjak (dari rumahnya) kecuali untuk mengerjakan shalat, dan tidak ada tujuan lain selain shalat (berjamaah), maka tidaklah dia melangkahkan kakinya satu langkah melainkan akan ditinggikan derajatnya dan dihapuskan kesalahannya, hingga dia masuk ke masjid. Sesudah masuk masjid, dia senantiasa dianggap berada dalam keadaan shalat selama shalat itulah yang menahan dirinya.
Para Malaikat mendoakan salah seorang di antara kalian selama dia masih berada di tempatnya mengerjakan shalat. Mereka mendoakan: Ya Allah, berikanlah rahmat kepadanya. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadanya. Ya Allah, terimalah taubatnya.’ (Yakni) selama orang itu idak menyakiti (mengganggu orang lair) di dalamnya, dan selama dia idak berhadats.” Muttafaq ‘alaih, dan lafazh tersebut milik Muslim.
Sabda Rasulullahļ·ŗ : Makna ( ŁŁŁŁŁŁŲ²ŁŁŁ ) artinya mengeluarkan dan membuatnya beranjak (dari rumahnya).
š| Pengesahan Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (I/564-Fathul BĆ¢ri) dan Muslim (no. 640, 272).
š| Kosa Kata Hadits
- Ų§ŁŁŲØŁŲ¶ŁŲ¹Ł : Lebih. yaitu angka atau bilangan antara tiga sampai sembilan.
- Ų£ŁŲŁŲ³ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ¶ŁŁŁŲ” : Menyempurnakan wudhunya. Orang itu berwudhu secara sempurna seperti yang disyariatkan.
- Ų®ŁŲ·ŁŁŁŲ©Ł : Satu langkah.
- Ų®ŁŲ·ŁŁ : Dihapuskan
- Ų®ŁŲ·ŁŁŲ¦ŁŲ©Ł : Satu kesalahan. Maksudnya adalah dosa.
- Ł ŁŲ§ŁŁŁ Ł ŁŁŲŁŲÆŁŲ«Ł : Selama dia tidak berhadats. Yakni selama wudhunya belum batal.
“Pahala shalat seseorang dengan berjamaah melebihi pahala shalat yang dikerjakan sendirian di rumah maupun shalatnya di pasar, yakni dengan pahala dua puluh derajat lebih!”
š| Kandungan Hadits
- Boleh shalat sendirian di rumah atau di pasar. Seandainya ia tidak diperbolehkan, niscaya tidak ada tingkatan atau derajat pahala dalam ibadah shalat.
- Shalat di masjid pasar adalah disyariatkan. Meskipun dibolehkan mengerjakan shalat secara sendiri-sendiri di tempat ini, yang lebih utama tetap menjadikan masjid sebagai tempat untuk melaksanakan shalat berjamaah.
- Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan pahala dua puluh derajat lebih (yakni antara 23 sampai 29 derajat). Keutamaan ini tidaklah hanya berhukum sunnah (sifatnya anjuran), seperti anggapan sebagian orang. Akan tetapi, hukumnya wajib karena beberapa alasan berikut:
a) Shalat berjamaah membuahkan pahala yang besar.
b) Terdapat kecaman dan ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat berjamaah dalam hadits-hadits shahih.
c) Rasulullah ļ·ŗ memerintahkan seorang yang buta agar memenuhi seruan adzan (dengan shalat berjamaah) jika mendengarnya.
Apabila ada orang bertanya: “Bagaimana mungkin shalat sendirian itu diperbolehkan pada saat diwajibkannya shalat berjamaah?” maka pertanyaan itu saya jawab: “Shalat sendirian boleh-boleh saja, tetapi pelakunya tetap berdosa karena meninggalkan shalat berjamaah.” WallĆ¢hu a’lam. - Keikhlasan sangat diperhitungkan dalam realisasi pahala yang besar tersebut. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ļ·ŗ di dalam hadits di atas: ((ŁŲ«ŁŁ ŁŁ Ų£ŁŲŖŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ³ŁŲ¬ŁŲÆŁ ŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŲ²ŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŲµŁŁŁŲ§Ų©)) “kemudian dia datang ke masjid dan tidak ada yang membuatnya beranjak (dari rumahnya) kecuali untuk mengerjakan shalat.”
- Di antara tugas para Malaikat Allah adalah mendoakan orang-orang Mukmin dan memohonkan ampun bagi mereka.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala :
Ł±ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŲŁŁ ŁŁŁŁŁŁ Ł±ŁŁŲ¹ŁŲ±ŁŲ“Ł ŁŁŁ ŁŁŁ ŲŁŁŁŁŁŁŁŪ„ ŁŁŲ³ŁŲØŁŁŲŁŁŁŁ ŲØŁŲŁŁ ŁŲÆŁ Ų±ŁŲØŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŲ¤ŁŁ ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŪ¦ ŁŁŁŁŲ³ŁŲŖŁŲŗŁŁŁŲ±ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ Ų”ŁŲ§Ł ŁŁŁŁŲ§Ū Ų±ŁŲØŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ³ŁŲ¹ŁŲŖŁ ŁŁŁŁŁ Ų“ŁŁŁŲ”Ł Ų±ŁŁŲŁŁ ŁŲ©Ł ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŁ±ŲŗŁŁŁŲ±Ł ŁŁŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŲŖŁŲ§ŲØŁŁŲ§Ū ŁŁŁ±ŲŖŁŁŲØŁŲ¹ŁŁŲ§Ū Ų³ŁŲØŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŲ°ŁŲ§ŲØŁ Ł±ŁŁŲ¬ŁŲŁŁŁ Ł Ų±ŁŲØŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŲÆŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ Ł Ų¬ŁŁŁŁŁ°ŲŖŁ Ų¹ŁŲÆŁŁŁ Ł±ŁŁŁŲŖŁŁ ŁŁŲ¹ŁŲÆŲŖŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ ŁŁ ŲµŁŁŁŲŁ Ł ŁŁŁ Ų”ŁŲ§ŲØŁŲ§ŁŲ¦ŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ£ŁŲ²ŁŁŁŁ°Ų¬ŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ°ŁŲ±ŁŁŁŁŁŁ°ŲŖŁŁŁŁ Ł Ū Ų„ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŲŖŁ Ł±ŁŁŲ¹ŁŲ²ŁŁŲ²Ł Ł±ŁŁŲŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁŁŁ Ł Ł±ŁŲ³ŁŁŁŁŁŁŁŁŲ§ŲŖŁ Ū ŁŁŁ ŁŁ ŲŖŁŁŁ Ł±ŁŲ³ŁŁŁŁŁŁŁŁŲ§ŲŖŁ ŁŁŁŁŁ ŁŲ¦ŁŲ°Ł ŁŁŁŁŲÆŁ Ų±ŁŲŁŁ ŁŲŖŁŁŁŪ„ Ū ŁŁŲ°ŁŁ°ŁŁŁŁ ŁŁŁŁ Ł±ŁŁŁŁŁŁŲ²Ł Ł±ŁŁŲ¹ŁŲøŁŁŁ Ł
“(Malaikat-Malaikat) yang memikul Arsy dan (Malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata): ‘Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari adzab Neraka yang bernyala-nyala. Ya Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam Surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang yang shalih di antara nenek moyang mereka, istri-istri, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana, dan peliharalah mereka dari (bencana) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (bencana) kejahatan pada hari itu, maka sungguh, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya dan demikian itulah kemenangan yang agung.'” (QS. Al-Mu’min [40]: 7-9)
6. Dianjurkan bagi setiap Muslim menunggu shalat (berdiam di masjid) sampai waktu shalat berikutnya tiba.
7. Dianjurkan bagi seorang Muslim untuk senantiasa berada dalam keadaan suci (berwudhu).
*****
š | Hadits #11: Pencatatan Amal Baik dan Buruk
ٔٔ- ŁŁŲ¹ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŲØŁŁŲ§Ų³Ł Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŁŲ§Ų³Ł ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ·ŁŁŁŁŲØŁ Ų±ŁŲ¶ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁ ŁŲ§ Ų Ų¹ŁŁŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ļ·ŗ Ų ŁŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŲ±ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų±ŁŲØŁŁŁŁ Ų ŲŖŁŲØŁŲ§Ų±ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲ¹ŁŲ§ŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ : Ā« Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲØŁ Ų§ŁŁŲŁŲ³ŁŁŁŲ§ŲŖŁ ŁŲ§ŁŲ³ŁŁŁŁŁŲ¦ŁŲ§ŲŖŁ Ų Ų«ŁŁ ŁŁ ŲØŁŁŁŁŁŁ Ų°ŁŁŁŁ : ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁ ŲØŁŲŁŲ³ŁŁŲ©Ł ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁŲØŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁ ŲŖŁŲØŁŲ§Ų±ŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲ¹ŁŲ§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŲÆŁŁŁ ŲŁŲ³ŁŁŁŲ©Ł ŁŁŲ§Ł ŁŁŁŲ©Ł Ų ŁŁŲ„ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁ ŲØŁŁŁŲ§ ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁŲØŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŲ“ŁŲ±Ł ŲŁŲ³ŁŁŁŲ§ŲŖŁ Ų„ŁŁŁŁ Ų³ŁŲØŁŲ¹ŁŁ ŁŲ¦ŁŲ©Ł Ų¶ŁŲ¹ŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁ Ų£ŁŲ¶ŁŲ¹ŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ«ŁŁŲ±ŁŲ©Ł Ų ŁŁŲ„ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁ ŲØŁŲ³ŁŁŁŁŲ¦ŁŲ©Ł ŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁŲØŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŲÆŁŁŁ ŲŁŲ³ŁŁŁŲ©Ł ŁŁŲ§Ł ŁŁŁŲ©Ł Ų ŁŁŲ„ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁ ŲØŁŁŁŲ§ ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁŁŁŲ§ ŁŲŖŁŲØŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁ Ų³ŁŁŁŁŲ¦ŁŲ©Ł ŁŁŲ§ŲŁŲÆŁŲ©Ł Ā» Ł ŁŲŖŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ .
11. Dari Abul Abbas Abdillah bin Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah ļ·ŗ, mengenai apa yang diriwayatkan dari Rabbnya tabĆ¢raka wa ta’Ć¢la (Yang Mahasuci lagi Mahatinggi), beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mencatat seluruh kebaikan dan keburukan.” Kemudian, beliau menjelaskan; “Barang siapa yang mempunyai keinginan untuk berbuat kebaikan namun belum sempat mengerjakannya, maka niscaya Allah tabĆ¢raka wa ta’Ć¢la mencatat itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan jika dia mempunyai keinginan untuk melakukan kebaikan itu lalu mengerjakannya, maka Allah mencatat itu di sisi-Nya sebagai sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat kebaikan, bahkan lebih banyak lagi. Sedangkan jika dia mempunyai keinginan untuk berbuat keburukan namun tidak mengerjakannya, maka Allah mencatat itu di sisi-Nya sebagai kebaikan yang sempurna. Dan jika dia berkeinginan melakukan keburukan itu lalu mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan.” (Muttafaq ‘alaih)
š| Pengesahan Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (XI/323-Fathul BĆ¢ri) dan Muslim (no. 131).
š| Kosa Kata Hadits
- ŁŁŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŲ±ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų±ŁŲØŁŁŁ : Mengenai apa yang diriwayatkan dari Rabbnya. Hadits ilahi (qudsi) adalah perkataan yang diterima Rasulullah dari Rabb beliau (Allah Ta’ala) tanpa perantara ilham ataupun mimpi, atau melalui perantara Malaikat dengan sanad dari Rabbnya serta penisbatan kepada-Nya. Akan tetapi, perkataan ini berbeda dengan al-Qur’an; karena membaca hadits qudsi tidak dianggap sebagai ibadah, tidak sebagaimana membaca al-Qur’an.
š| Kandungan Hadits
- Kesempurnaan ilmu Allah menjadikan tidak ada apa pun di langit maupun di bumi atau yang lebih dari itu yang lepas dari jangkauan ilmu-Nya, dan tidak ada seseuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.
- Di antara tugas Malaikat adalah mencatat kebaikan dan keburukan. Allah menugaskan Malaikat-Nya yang mulia kepada setiap orang. Oleh karena itulah, para Malaikat mengetahui dan mencatat apa saja yang dikerjakannya (hamba-Nya). Allah menghitungnya, sedangkan dia melupakannya.
- Menunjukkan keluasan rahmat serta karunia Allah Ta’ala di samping keagungan anugerah-Nya. Allah memberikan balasan yang setimpal terhadap perbuatan buruk dan tidak melipatgandakannya, juga Dia memberi maaf terhadap keinginan melakukan keburukan itu (selagi tidak dikerjakan). Sedangkan pahala dalam kebaikan dilipatgandakan oleh-Nya, dan Dia memberi pahala kepada orang yang hanya berniat mengerjakan kebaikan itu.
- Bertafakkur pada kebaikan merupakan sebab yang dapat memotivasi seseorang untuk mengerjakannya.
- Mengingat dampak keburukan sebelum berbuat suatu keburukan itu dapat mencegah diri sendiri dari melakukannya.
*****
š | Hadits #12: Faktor Pendorong DIkabulkannya Do’a
ٔ٢- ŁŲ¹Ł Ų£ŁŲØŁ Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲŁŁ
ŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŁ
ŁŲ±Ł ŲØŁŁŁ Ų§ŁŁŲ®ŁŲ·ŁŁŲ§ŲØŁ Ų Ų±ŁŲ¶ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁ
ŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŁ : Ų³ŁŁ
ŁŲ¹ŁŲŖŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ļ·ŗ ŁŁŁŁŁŁŁ : Ā« Ų§ŁŁŲ·ŁŁŁŁŁ Ų«ŁŁŁŲ§Ų«ŁŁŁ ŁŁŁŁŲ±Ł Ł
ŁŁ
ŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲØŁŁŁŁŁŁ
Ł ŲŁŲŖŁŁŁ Ų¢ŁŁŲ§ŁŁŁ
Ł Ų§ŁŁŁ
ŁŲØŁŁŁŲŖŁ Ų„ŁŁŁŁ ŲŗŁŲ§Ų±Ł ŁŁŲÆŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ Ų ŁŁŲ§ŁŁŲŁŲÆŁŲ±ŁŲŖŁ ŲµŁŲ®ŁŲ±ŁŲ©Ł Ł
ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¬ŁŲØŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŲÆŁŁŲŖŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŁ
Ł Ų§ŁŁŲŗŁŲ§Ų±Ł Ų ŁŁŁŁŲ§ŁŁŁŲ§ : Ų„ŁŁŁŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŁŁŲ¬ŁŁŁŁŁ
Ł Ł
ŁŁŁ ŁŁŲ°ŁŁŁ Ų§ŁŲµŁŁŲ®ŁŲ±ŁŲ©Ł Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲÆŁŲ¹ŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŲµŁŲ§ŁŁŲŁ Ų£ŁŲ¹ŁŁ
ŁŲ§ŁŁŁŁŁ
Ł . ŁŁŲ§ŁŁ Ų±ŁŲ¬ŁŁŁ Ł
ŁŁŁŁŁŁ
Ł : Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ
ŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁŁŲ§ŁŁ Ų“ŁŁŁŲ®ŁŲ§ŁŁ ŁŁŲØŁŁŲ±ŁŲ§ŁŁ Ų ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ§ Ų£ŁŲŗŁŲØŁŁŁ ŁŁŲØŁŁŁŁŁŁ
Ų§ Ų£ŁŁŁŁŲ§Ł ŁŁŁŲ§ Ł
ŁŲ§ŁŲ§Ł Ų ŁŁŁŁŲ£ŁŁ ŲØŁŁ Ų·ŁŁŁŲØŁ Ų§ŁŲ“ŁŁŲ¬ŁŲ±Ł ŁŁŁŁŁ
ŁŲ§ ŁŁŁŁŁ
Ł Ų£ŁŲ±ŁŲŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŁ
ŁŲ§ ŲŁŲŖŁŁŁ ŁŁŲ§Ł
ŁŲ§ Ų ŁŁŲŁŁŁŲØŁŲŖ ŁŁŁŁŁ
ŁŲ§ ŲŗŁŲØŁŁŁŁŁŁŁ
ŁŲ§ ŁŁŁŁŲ¬ŁŲÆŁŲŖŁŁŁŁ
ŁŲ§ ŁŁŲ§Ų¦ŁŁ
ŁŁŁŁŁ Ų ŁŁŁŁŲ±ŁŁŁŲŖŁ Ų£ŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁŲøŁŁŁŁ
ŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŁŁ Ų£ŁŲŗŁŲØŁŁŁ ŁŁŲØŁŁŁŁŁŁ
ŁŲ§ Ų£ŁŁŁŁŲ§Ł Ų£ŁŁŁ Ł
ŁŲ§ŁŲ§Ł Ų ŁŁŁŁŲØŁŲ«ŁŲŖŁ ā ŁŁŲ§ŁŁŁŁŲÆŁŲŁ Ų¹ŁŁŁŁ ŁŁŲÆŁŁ ā Ų£ŁŁŁŲŖŁŲøŁŲ±Ł Ų§Ų³ŁŲŖŁŁŁŁŲ§ŲøŁŁŁŁ
ŁŲ§ ŲŁŲŖŁŁŁ ŲØŁŲ±ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ¬ŁŲ±Ł ŁŁŲ§ŁŲµŁŁŲØŁŁŁŲ©Ł ŁŁŲŖŁŲ¶ŁŲ§ŲŗŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŲÆŁ ŁŁŲÆŁŁ
Ł Ų ŁŁŲ§Ų³ŁŲŖŁŁŁŁŁŲøŁŲ§ ŁŁŲ“ŁŲ±ŁŲØŁŲ§ ŲŗŁŲØŁŁŁŁŁŁŁ
ŁŲ§ . Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ
ŁŁ Ų„ŁŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ¹ŁŁŁŲŖŁ Ų°ŁŁŁŁŁ Ų§ŲØŁŲŖŁŲŗŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ±ŁŁŲ¬Ł Ų¹ŁŁŁŁŲ§ Ł
ŁŲ§ ŁŁŲŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ł
ŁŁŁ ŁŁŲ°ŁŁŁ Ų§ŁŲµŁŁŲ®ŁŲ±ŁŲ©Ł Ų ŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ±ŁŲ¬ŁŲŖŁ Ų“ŁŁŁŲ¦Ų§Ł ŁŲ§ ŁŁŲ³ŁŲŖŁŲ·ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ®ŁŲ±ŁŁŲ¬Ł Ł
ŁŁŁŁŁ . ŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŲ¢Ų®ŁŲ±Ł : Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ
ŁŁ Ų„ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ ŁŁŁŁ Ų§ŲØŁŁŁŲ©Ł Ų¹ŁŁ
ŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ų£ŁŲŁŲØŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų³Ł Ų„ŁŁŁŁŁŁ ā ŁŁŁŁŁ Ų±ŁŁŁŲ§ŁŁŲ©Ł : ŁŁŁŁŲŖŁ Ų£ŁŲŁŲØŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŲ“ŁŲÆŁ Ł
ŁŲ§ ŁŁŲŁŲØŁŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲ¬ŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ³ŁŲ§Ų”Ł ā ŁŁŲ£ŁŲ±ŁŲÆŁŲŖŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§Ł
ŁŲŖŁŁŁŲ¹ŁŲŖŁ Ł
ŁŁŁŁŁ ŲŁŲŖŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁ
ŁŁŲŖŁ ŲØŁŁŲ§ Ų³ŁŁŁŲ©Ł Ł
ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ¬ŁŲ§Ų”ŁŲŖŁŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŲ¹ŁŲ·ŁŁŁŲŖŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŲ“ŁŲ±ŁŁŁŁ ŁŁŁ
ŁŲ§Ų¦ŁŲ© ŲÆŁŁŁŁŲ§Ų±Ł Ų¹ŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲ®ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲØŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲ¹ŁŁŁŲŖŁ Ų ŲŁŲŖŁŁŁ Ų„ŁŲ°ŁŲ§ ŁŁŲÆŁŲ±ŁŲŖŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ ā ŁŁŁŁŁ Ų±ŁŁŁŲ§ŁŁŲ©Ł : ( ŁŁŁŁŁ
ŁŁŲ§ ŁŁŲ¹ŁŲÆŁŲŖŁ ŲØŁŁŁŁŁ Ų±ŁŲ¬ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ : Ų§ŲŖŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ ŲŖŁŁŁŲ¶Ł Ų§ŁŁŲ®ŁŲ§ŲŖŁŁ
Ł Ų„ŁŁŁŁŲ§ ŲØŁŲŁŁŁŁŁŁ Ų ŁŁŲ§ŁŁŲµŁŲ±ŁŁŁŲŖŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲŁŲØŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų³Ł Ų„ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲ±ŁŁŁŲŖŁ Ų§ŁŲ°ŁŁŁŁŲØŁ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁ Ų£ŁŲ¹ŁŲ·ŁŁŲŖŁŁŁŲ§ Ų Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ
ŁŁ Ų„ŁŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ¹ŁŁŲŖŁ Ų°ŁŁŁŁŁ Ų§ŲØŁŲŖŁŲŗŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§Ų®ŁŲ±ŁŲ¬Ł Ų¹ŁŁŁŁŲ§ Ł
ŁŲ§ ŁŁŲŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ų ŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ±ŁŲ¬ŁŲŖŁ Ų§ŁŲµŁŁŲ®ŁŲ±ŁŲ©Ł Ų ŲŗŁŁŁŲ±Ł Ų£ŁŁŁŁŁŁŁ
Ł ŁŁŲ§ ŁŁŲ³ŁŲŖŁŲ·ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ®ŁŲ±ŁŁŲ¬Ł Ł
ŁŁŁŁŁŲ§ . ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŲ«ŁŁŲ§ŁŁŲ«Ł : Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ
ŁŁ Ų§Ų³ŁŲŖŁŲ£ŁŲ¬ŁŲ±ŁŲŖŁ Ų£ŁŲ¬ŁŲ±ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ£ŁŲ¹ŁŲ·ŁŁŁŲŖŁŁŁŁ
Ł Ų£ŁŲ¬ŁŲ±ŁŁŁŁ
Ł ŲŗŁŁŁŲ±Ł Ų±ŁŲ¬ŁŁŁ ŁŁŲ§ŲŁŲÆŁ ŲŖŁŲ±ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁ ŁŁŁŁ ŁŁŲ°ŁŁŁŲØŁ Ų ŁŁŲŖŁŁ
ŁŁŲ±ŁŲŖŁ Ų£ŁŲ¬ŁŲ±ŁŁŁ ŲŁŲŖŁŁŁ ŁŁŲ«ŁŲ±ŁŲŖŁ Ł
ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲ£ŁŁ
ŁŁŁŲ§ŁŁ Ų ŁŁŲ¬ŁŲ§Ų”ŁŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŲÆŁ ŲŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ : ŁŁŲ§ Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲÆŁ Ų„ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲ¬ŁŲ±ŁŁ Ų ŁŁŁŁŁŲŖŁ : ŁŁŁŁŁ Ł
ŁŲ§ ŲŖŁŲ±ŁŁ Ł
ŁŁŁ Ų£ŁŲ¬ŁŲ±ŁŁŁ : Ł
ŁŁŁ Ų§ŁŲ„ŁŲØŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŲØŁŁŁŲ±Ł ŁŁŲ§ŁŁŲŗŁŁŁŁ
Ł ŁŁŲ§ŁŲ±ŁŁŁŁŁŁŁ Ų ŁŁŁŁŲ§ŁŁ : ŁŁŲ§ Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁ ŁŲ§ ŲŖŁŲ³ŁŲŖŁŁŁŲ±ŁŁ ŲØŁ ! ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ : ŁŁŲ§ Ų£ŁŲ³ŁŲŖŁŁŁŲ²ŁŁŲ”Ł ŲØŁŁŁ Ų ŁŁŲ£ŁŲ®ŁŲ°ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§Ų³ŁŲŖŁŲ§ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ
Ł ŁŁŲŖŁŲ±ŁŁŁ Ł
ŁŁŁŁŁ Ų“ŁŁŁŲ¦ŁŲ§ : Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ
ŁŁ Ų„ŁŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ¹ŁŁŁŲŖŁ Ų°ŁŁŁŁ Ų§ŲØŁŲŖŁŲŗŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§Ų®ŁŲ±ŁŲ¬Ł Ų¹ŁŁŁŁŲ§ Ł
ŁŲ§ ŁŁŲŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ų ŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ±ŁŲ¬ŁŲŖŁ Ų§ŁŲµŁŁŲ®ŁŲ±ŁŲ©Ł ŁŁŲ®ŁŲ±ŁŲ¬ŁŁŲ§ ŁŁŁ
ŁŲ“ŁŁŁŁ Ų Ł
ŁŲŖŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ.
12. Dari Abdurrahman Abdullah ibn Umar ibn Al-Khaththab radhiyallahu’anhu, ia berkata: āAku pernah mendengar Rasulullah ļ·ŗ bersabda: āDahulu sebelum kalian ada tiga orang sedang berjalan lalu mendapati sebuah gua yang dapat dimanfaatkan untuk berteduh. Mereka masuk ke dalamnya. Tetapi tiba-tiba ada sebuah batu besar dari atas bukit menggelinding dan menutupi pintu gua itu sehingga mereka tidak dapat keluar. Salah seorang di antara mereka berkata: āSesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari bencana ini kecuali jika kalian mau berdoa kepada Allah dengan menyebut amal-amal kebaikan yang pernah kalian lakukan.ā Salah seorang di antara mereka berkata: āYa Allah, saya dahulu mempunyai ayah ibu yang sudah tua renta. Saya biasa lebih mendahulukan mereka dalam memberi minum susu daripada keluarga saya. Pada suatu hari saya terlambat pulang dari mencari kayu. Saya mendapati mereka sudah tidur pulas. Saya tidak mau membangunkan mereka.
Saya juga tidak mau memberikan susu itu kepada keluarga maupun kepada budak sebelum mereka. Sambil memegang gelas berisi minuman susu itu saya tunggui mereka hingga terbit fajar. Begitu bangun, saya sodorkan minuman itu kepada mereka. Padahal sejak semalam anak-anak saya menangis terisak-isak sambil mengelilingi kaki saya. Ya Allah, jika yang saya lakukan itu demi mengharap kendhaan-Mu, tolong keluarga kami dari kesulitan yang tengah menimpa kami iniā. Batu itu mulai bergeser sedikit, dan mereka belum bisa keluar dari gua itu.
Yang lain berkata: āYa Allah, sesungguhnya dahulu saya mempunyai saudari sepupu yang sangat saya cintai-dalam riwayat yang lain disebutkan, saya sangat mencintainya seperti lazimnya seorang lelaki yang sangat mencintai seorang wanita. Saya ingin menggaulinya, tetapi ia menolaknya. Selang beberapa tahun kemudian ia tertimpa kesulitan, la datang kepada saya meminta tolong. Saya memberinya uang seratus dua puluh dinar dengan syarat ia mau saya gauli, dan rupanya ia tidak menolak. Dan ketika saya sudah berhasil menguasainya dalam riwayat lain disebutkan, ketika saya sudah menindihnya, ia berkata: āTakutlah kamu kepada Allah. Jangan kamu masukkan cincin secara tidak benar ā. Seketika saya menjauhinya Padalah ia adalah orang yang sangat saya cintai. Bahkan saya rela memberinya emas. Ya Allah, jika apa yang saya lakukan itu demi mengharapkan keridhaan-Mu, tolong geserlah batu yang menutupi gua iniā Maka bergeserlah batu itu. Tetapi mereka juga masih belum bisa keluar dari gua.
Orang yang ketiga berkata: āYa Allah, dahulu saya pernah mempekerjakan beberapa karyawan. Mereka semua saya upah dengan penuh, kecuali ada seorang karyawan yang meninggalkan saya dan tidak mau mengambil upahnya lebih dahulu. Kemudian upahnya itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak. Selang beberapa lama kemudian ia datang menemui saya dan berkata: āWahai hamba Allah, berikan upah saya yang dahulu itu ā. Saya berkata. āSemua yang kamu lihat berupa unta, sapi, domba, dan budak yang menggembalakannya itu adalah upahmuā. la berkata: āWahai hamba Allah, kamu jangan mempermainkan sayaā. Saya katakan: āSaya tidak mempermainkan kamuā. Kemudian ia pun mengambil semuanya itu tanpa meninggalkannya sedikit pun. Ya Allah, jika apa yang saya lakukan itu demi mengharapkan keridhaan-Mu, tolong geserkan batu yang menutupi pintu gua iniā Maka bergeserlah batu itu, dan mereka pun bisa keluar dari dalam gua.ā Muttafaq alaih (HR. Bukhari: 2272 dan Muslim: 100/2743 )
š| Pengesahan Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (IV/449-Fathul BĆ¢ri) dan Muslim (no. 2743).
š| Kosa Kata Hadits
- ŁŁŁŁŲ±Ł : Orang. Isim jama’ (kata benda berbentuk jamak) ini berarti beberapa laki-laki, dan lafazh ini tidak memiliki bentuk tunggal. Dalam hadits ini, Rasulullah ļ·ŗ menjelaskan bahwa orang-orang yang dimaksud terdiri dari tiga orang laki-laki.
- Ų¢ŁŁŲ§ŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲØŁŁŁŲŖŁ : Hingga mereka mendapati tempat menginap. Yakni, tiga orang itu menemukan gua untuk menginap atau bermalam.
- ŁŁŲ§ Ų£ŁŲŗŁŲØŁŁŁ : Aku terbiasa tidak memberi minuman. Yakni minuman pada sore hari, bukan Ų§ŁŁŲµŁŁŲØŁŁŲŁ (minuman pada pagi hari). Maknanya aku tidak menyuguhkan sesuatu kepada seorang pun baik kepada istri, anak, maupun budak perempuan atau laki-lakiku sebelum menyuguhkannya kepada kedua orang tuaku; dan sungguh, aku tidak pernah mendahulukan orang lain atas keduanya.
- ŁŲ£Ł ŲØŁŁ Ų·ŁŁŁŲØŁ Ų§ŁŲ“ŁŁŲ¬ŁŲ±Ł : Aku mencari kayu ke tempat yang jauh. Yakni orang itu menggembalakan kambingnya ke tempat yang jauh, lebih jauh dari biasanya. Karena itulah, dia terlambat pulang ke rumah.
- ŁŁŁŁŁ Ł Ų£ŁŲ±ŁŲŁ : Dan aku tidak kembali.
- ŲØŁŲ±ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ¬ŁŲ±Ł : Fajar terbit.
- ŁŁŲŖŁŲ¶ŁŲ§Ų¹ŁŁŁŁŁ : Anak-anak merengek-rengek. Mereka berteriak-teriak sambil menangis karena menahan rasa lapar.
- Ų§ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁ Ų„ŁŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁ ŲŖŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł : Ya Allah, jika Engkau mengetahui. Demikianlah redaksinya dalam beberapa riwayat lainnya (berbeda dengan yang tercantum di sini: ŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁ Ų„ŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ¹ŁŁŁŲŖ [Ya Allah, jika aku memang melakukan]. Kalimat ini diucapkan bukan sebagai bentuk keraguan terhadap kesempurnaan ilmu Allah . Sebab, orang Mukmin pasti mengetahui bahwa Dia dk mengetahui hal tersebut. Dengan kata lain, orang shalih itu tidak ragu (terhadap pengetahuan-Nya), tetapi hanya mempertanyakan apakah perbuatannya diterima di sisi Allah atau tidak? Yang demikian merupakan sifat Mukmin yang takut usaha dan kesungguhannya tidak diterima oleh-Nya. Pengertian ini sebagaimana saya terangkan dalam kitab MubthilĆ¢tul A’mad, maka silakan merujuk padanya.
- Ų„ŲØŁŲŖŁŲŗŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŁ : Karena mengharapkan wajah-Mu. Maknanya mencari keridhaan-Mu dengan tulus ikhlas.
Sebagian pensyarah kitab ini menafsirkan lafazh: (ŁŲ¬ŁŁ) “wajah-Mu” di sini dengan makna Dzat-Nya, seperti yang populer dalam istilah kebahasaan. Sudah jelas, penafsiran yang demikian adalah bathil (tidak benar) karena ia mengandung ta’thil (peniadaan atau penafian) sifat-sifat Allah Berdasarkan aqidah yang kita (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) yakini, diharuskan untuk mengimani lafazh tersebut tanpa adanya ta’wil (penafsiran), ta’thil (penafian), tamtsil (pengumpamaan), juga tahrif (penyimpangan), takyif (bertanya perihal bagaimananya), ataupun tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah). Kita pun tidak menggolongkan maknanya ke dalam lafazh yang mutasyabih, yang pengertiannya hanya diketahui oleh Allah Ta’ala; melainkan kita hanya menyerahkan penjelasan bagaimananya, bukan penjelasan maknanya.
Sebab, iman kepada sifat-sifat Allah mencakup penetapan keberadaan sifat-sifat-Nya dan bukan pertanyaan tentang bagaimana bentuknya. Karena kita tidak mengetahui Dzat Allah, maka kita pun tidak akan mengetahui sifat-sifat-Nya; namun begitu, kita tetap percaya bahwa Dia mempunyai shifatul ‘ulya (sifat-sifat yang tinggi) dan asma-ul husna (nama-nama yang baik).
- ŁŁŁŁŲ±ŁŁŲ¬Ł Ų¹ŁŁŁŁŲ§ : Maka berikanlah jalan keluar kepada kami. Ini adalah permohonan agar Allah Ta’ala menggeser batu besar yang menghalangi mulut gua untuk mereka, atau agar Dia membuatkan lubang sebagai pintu untuk mereka. Kedua makna tersebut sudah pasti, tidak ada yang menyangkalnya. Sebab, pelubangan batu itu merupakan jalan keluar yang mereka inginkan.
- ŁŁŲ£ŁŲ±ŁŲÆŁŲŖŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁŲ§ : Lantas aku pun bermaksud mencampurinya. Aku (orang shalih kedua) meminta kepada wanita itu (anak perempuan pamannya) apa yang lazim diminta seorang suami kepada istrinya.
- : Ų£ŁŁŁ ŁŲŖŁ ŲØŁŁŁŲ§: Dia mendapat. Yakni sesuatu yang buruk menimpanya.
- Ų§ŁŲ³ŁŁŲ© : Kesulitan. Berupa paceklik (kekeringan dan kelaparan)
- ŁŁŲ§ ŲŖŁŁŁŲ¶ŁŁ Ų§ŁŁŲ®ŁŲ§ŲŖŁŁ Ł : Dan janganlah kamu pecahkan cincin. Lafazh ini Ų§ŁŁŲ®ŁŲ§ŲŖŁŁ Ł “cincin” adalah kinayah (kiasan) dari kemaluan dan/atau keperawanan seorang wanita. Maksudnya, jangan kamu merenggut kesucianku tanpa melalui pernikahan yang sah.
- ŁŁŲ«ŁŁ ŁŁŲ±ŁŲŖŁ Ų£ŁŲ¬ŁŲ±ŁŁŁ : Kemudian aku mengembangkan upah orang itu. Yaitu aku (orang shalih ketiga) mengusahakan upahnya tersebut hingga menghasilkan harta yang melimpah.
š| Kandungan Hadits
- Disunnahkan berdoa ketika mengalami kesulitan. Kondisi seperti yang dikisahkan dalam hadits di atas termasuk saat-saat mustajab untuk berdoa, sebagaimana aku terangkan dalam kitab an-abdzul MustathĆ¢bah fid Da’awĆ¢til MustajĆ¢bah.
- Disyariatkan bertawasul kepada Allah Ta’ala dengan amal shalih dan yang semisalnya, seperti tawasul dengan sifat-sifat dan nama-nama Allah atau tawasul dengan perantara doa orang shalih (yang masih hidup). Adapun tawasul dengan arwah para Nabi, para wali, dan kuburan mereka, perbuatan ini sama sekali tidak mempunyai dasar (syariat), bahkan termasuk bid’ah yang sesat. Oleh karena itu, berhati-hatilah atau camkanlah!
- Di antara faktor pendorong dikabulkannya doa ada dua.
– Pertama, berdoa dengan hati yang ikhlas.
– Kedua, ingatlah Allah ta’ala ketika dalam kemudahan dan kebahagiaan. - Orang-orang Mukmin dalam hadits tersebut di atas berdoa kepada Allah dengan ikhlas seraya mengingat amal shalih yang pernah mereka kerjakan. Tiga orang shalih itu ber-ta’arruf (mengingat dan mendekatkan diri) kepada-Nya pada saat-saat penuh kemudahan, dengan harapan semoga Dia pun ingat kepada mereka pada saat-saat kesulitan. Yang demikian itu sebagaimana dinyatakan dalam hadits shahih: ((ŲŖŁŲ¹ŁŲ±ŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲ®ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ¹ŁŲ±ŁŁŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŁŲÆŁŁŲ©)) “Ingatlah Allah pada saat
senang, niscaya Dia akan mengingatmu pada saat sulit.”
Lihat penjelasan tambahannya dalam kitab saya, yakni yang diberi judul an-Nabdzul MustathĆ¢bah fid Da’awaatil MustajĆ¢bah. Sungguh, saya amat menganjurkan kepada para pembaca supaya mau membaca kitab tersebut. - Menagih janji Allah Ta’ala dengan memohon kepada-Nya. Melakukan hal ini tidaklah dikatakan sebagai tindakan menuntut penyegeraan dikabulkannya suatu permohonan sehingga mengakibatkan seorang hamba mengabaikan dan meninggalkan berdoa. Di samping itu, memohon agar doa yang dipanjatkan segera terkabul dibenarkan berdasarkan pada hadits Rasulullah ļ·ŗ terkait permohonan istisqa’ (turunnya hujan) beliau (saat terjadi musim paceklik), (permohonan pertolongan beliau) pada Perang Badar, dan pada peristiwa lainnya yang berkaitan dengan permohonan beliau kepada Allah Ta’ala.
Maka itulah apa yang dikisahkan dalam hadits di atas dikategorikan ke dalam perkara/bahasan permohonan secara terus-menerus dan sebanyak-banyaknya, bahkan perbuatan itu sangat disukai Allah Ta’ala. Demikian sebagaimana saya jelaskan dalam kitab yang sebelumnya (an-Nabdzul MustathĆ¢bah fid Da’awĆ¢til MustajĆ¢bah). - Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua serta pengutamaan keduanya atas anak dan istri, serta selalu siap dalam menghadapi berbagai kesulitan demi berbuat baik kepada mereka.
- Perintah untuk menjaga kesucian diri; juga menahan diri dari setiap yang diharamkan, apalagi pada hal-hal yang mampu dikerjakan dan kita memiliki keinginan untuk mengerjakannya.
- Meninggalkan kemaksiatan dengan menjauhi segala unsur (faktor pendorong)nya, karena taubat tersebut akan menghapus dosa-dosa sebelumnya.
- Keutamaan menepati janji, menunaikan amanah, dan bersikap penuh toleransi dalam bermuamalah. Lihat juga kitab saya yang berjudul Samâhatul Islâm.
- Penetapan karamah (kemuliaan) bagi wali-wali Allah yang shalih, yaitu mereka yang beriman lagi bertakwa kepada-Nya. Merekalah orang-orang yang menutupi kebaikan karena takut terjangkit riya. Adapun orang-orang yang suka memperlihatkan hal-hal aneh dan cenderung kepada perbuatan syaitan, misalnya menceburkan diri ke dalam api, sesungguhnya ini tidak termasuk karamah para wali.
- Sungguh, Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
Dijadikannya hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu ini sebagai penutup bab oleh Imam an-Nawawi Rahimahullah menunjukkan bahwa keikhlasan ialah tali keselamatan dan jalan kehidupan seorang Mukmin. Ditegaskan pula bahwasanya tidak akan selamat dari kesulitan dunia serta hal-hal yang menakutkan di akhirat kelak kecuali orang-orang yang ikhlas. Maka ikutilah jalan keselamatan, niscaya Anda selamat.
*****