Riyadhus Shalihin

Riyadhus Shalihin Bab-1: Ikhlas dan Menghadirkan Niat dalam Setiap Perbuatan dan Ucapan

Table of Contents

šŸ“– | Hadits #10: Keutamaan Shalat Berjama’ah

ٔ٠- Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŲØŁŁŠ Ł‡ŁŲ±ŁŽŁŠŁ’Ų±ŁŽŲ©ŁŽ Ų±ŁŽŲ¶ŁŁŠŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡Ł Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ’Ł„Ł اللهِ ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ: “ŲµŁŽŁ„ŁŽŲ§Ų©Ł Ų§Ł„Ų±ŁŽŁ‘Ų¬ŁŁ„Ł فِي Ų¬ŁŽŁ…ŁŽŲ§Ų¹ŁŽŲ©Ł ŲŖŁŽŲ²ŁŁŠŲÆŁ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ ŲµŁŽŁ„ŁŽŲ§ŲŖŁŁ‡Ł فِي Ų³ŁŁˆŁ‚ŁŁ‡Ł ŁˆŁŽŲØŁŽŁŠŁ’ŲŖŁŁ‡Ł بِضْعًا ŁˆŁŽŲ¹ŁŲ“Ł’Ų±ŁŁŠŁ†ŁŽ ŲÆŁŽŲ±ŁŽŲ¬ŁŽŲ©Ł‹ŲŒ ŁˆŁŽŲ°ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ Ų£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŁˆŁŽŲ¶ŁŽŁ‘Ų£ŁŽ ŁŁŽŲ£ŁŽŲ­Ł’Ų³ŁŽŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’ŁˆŁŲ¶ŁŁˆŲ”ŁŽŲŒ Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ Ų£ŁŽŲŖŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ³Ł’Ų¬ŁŲÆŁŽŲŒ Ł„ŁŽŲ§ ŁŠŁŲ±ŁŁŠŲÆŁ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‘Ų§ Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ł„ŁŽŲ§Ų©ŁŽŲŒ Ł„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŽŲ®Ł’Ų·Ł Ų®ŁŽŲ·Ł’ŁˆŁŽŲ©Ł‹ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‘Ų§ Ų±ŁŁŁŲ¹ŁŽ Ł„ŁŽŁ‡Ł ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ ŲÆŁŽŲ±ŁŽŲ¬ŁŽŲ©ŁŒŲŒ ŁˆŁŽŲ­ŁŲ·ŁŽŁ‘ Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡Ł ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų®ŁŽŲ·ŁŁŠŲ¦ŁŽŲ©ŁŒŲŒ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ł…ŁŽŁ„ŁŽŲ§Ų¦ŁŁƒŁŽŲ©Ł ŲŖŁŲµŁŽŁ„ŁŁ‘ŁŠ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲÆŁŁƒŁŁ…Ł’ Ł…ŁŽŲ§ ŲÆŁŽŲ§Ł…ŁŽ فِي Ł…ŁŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ų§Ł‡Ł Ų§Ł„ŁŽŁ‘Ų°ŁŁŠ ŁŠŁŲµŁŽŁ„ŁŁ‘ŁŠ ŁŁŁŠŁ‡ŁŲŒ ŲŖŁŽŁ‚ŁŁˆŁ„Ł: Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲµŁŽŁ„ŁŁ‘ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŲŒ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…ŁŽŁ‘ Ų§Ų±Ł’Ų­ŁŽŁ…Ł’Ł‡ŁŲŒ Ł…ŁŽŲ§ Ł„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŲ­Ł’ŲÆŁŲ«Ł’ ŁŁŁŠŁ‡ŁŲŒ Ł…ŁŽŲ§ Ł„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŲ¤Ł’Ų°Ł ŁŁŁŠŁ‡ŁŲŒ ŁˆŁŽŲ£ŁŽŲ­ŁŽŲÆŁŁƒŁŁ…Ł’ فِي ŲµŁŽŁ„ŁŽŲ§Ų©Ł Ł…ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽŲŖŁ Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ł„ŁŽŲ§Ų©Ł ŲŖŁŽŲ­Ł’ŲØŁŲ³ŁŁ‡Ł.” (متفق Ų¹Ł„ŁŠŁ‡)

10. “Shalat seseorang dengan berjamaah itu pahalanya melebihi pahala shalat yang dikerjakannya sendirian di rumahnya dan shalatnya di pasar, dengan pahala dua puluh derajat lebih (yakni 23-29 derajat). Yang demikian itu dikarenakan jika salah seorang di antara mereka telah berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian dia datang ke masjid dan tidak ada yang mengeluarkan dan membuatnya beranjak (dari rumahnya) kecuali untuk mengerjakan shalat, dan tidak ada tujuan lain selain shalat (berjamaah), maka tidaklah dia melangkahkan kakinya satu langkah melainkan akan ditinggikan derajatnya dan dihapuskan kesalahannya, hingga dia masuk ke masjid. Sesudah masuk masjid, dia senantiasa dianggap berada dalam keadaan shalat selama shalat itulah yang menahan dirinya.

Para Malaikat mendoakan salah seorang di antara kalian selama dia masih berada di tempatnya mengerjakan shalat. Mereka mendoakan: Ya Allah, berikanlah rahmat kepadanya. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadanya. Ya Allah, terimalah taubatnya.’ (Yakni) selama orang itu idak menyakiti (mengganggu orang lair) di dalamnya, dan selama dia idak berhadats.” Muttafaq ‘alaih, dan lafazh tersebut milik Muslim.
Sabda Rasulullahļ·ŗ : Makna ( ŁŠŁŽŁ†Ł’Ł‡ŁŽŲ²ŁŁ‡Ł ) artinya mengeluarkan dan membuatnya beranjak (dari rumahnya).

šŸ“ƒ| Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (I/564-Fathul BĆ¢ri) dan Muslim (no. 640, 272).

šŸ“ƒ| Kosa Kata Hadits

  • Ų§ŁŽŁ„ŲØŁŲ¶Ł’Ų¹Ł : Lebih. yaitu angka atau bilangan antara tiga sampai sembilan.
  • Ų£ŁŽŲ­Ł’Ų³ŁŽŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’ŁˆŁŲ¶ŁŁˆŁ’Ų” : Menyempurnakan wudhunya. Orang itu berwudhu secara sempurna seperti yang disyariatkan.
  • Ų®ŁŽŲ·Ł’ŁˆŁŽŲ©Ł‹ : Satu langkah.
  • Ų®ŁŲ·Ł‘ŁŽ : Dihapuskan
  • Ų®ŁŽŲ·ŁŁŠŲ¦ŁŽŲ©ŁŒ : Satu kesalahan. Maksudnya adalah dosa.
  • Ł…ŁŽŲ§Ł„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŲ­Ł’ŲÆŁŲ«Ł’ : Selama dia tidak berhadats. Yakni selama wudhunya belum batal.

“Pahala shalat seseorang dengan berjamaah melebihi pahala shalat yang dikerjakan sendirian di rumah maupun shalatnya di pasar, yakni dengan pahala dua puluh derajat lebih!”

šŸ“ƒ| Kandungan Hadits

  1. Boleh shalat sendirian di rumah atau di pasar. Seandainya ia tidak diperbolehkan, niscaya tidak ada tingkatan atau derajat pahala dalam ibadah shalat.
  2. Shalat di masjid pasar adalah disyariatkan. Meskipun dibolehkan mengerjakan shalat secara sendiri-sendiri di tempat ini, yang lebih utama tetap menjadikan masjid sebagai tempat untuk melaksanakan shalat berjamaah.
  3. Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan pahala dua puluh derajat lebih (yakni antara 23 sampai 29 derajat). Keutamaan ini tidaklah hanya berhukum sunnah (sifatnya anjuran), seperti anggapan sebagian orang. Akan tetapi, hukumnya wajib karena beberapa alasan berikut:
    a) Shalat berjamaah membuahkan pahala yang besar.
    b) Terdapat kecaman dan ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat berjamaah dalam hadits-hadits shahih.
    c) Rasulullah ļ·ŗ memerintahkan seorang yang buta agar memenuhi seruan adzan (dengan shalat berjamaah) jika mendengarnya.
    Apabila ada orang bertanya: “Bagaimana mungkin shalat sendirian itu diperbolehkan pada saat diwajibkannya shalat berjamaah?” maka pertanyaan itu saya jawab: “Shalat sendirian boleh-boleh saja, tetapi pelakunya tetap berdosa karena meninggalkan shalat berjamaah.” WallĆ¢hu a’lam.
  4. Keikhlasan sangat diperhitungkan dalam realisasi pahala yang besar tersebut. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ļ·ŗ di dalam hadits di atas: ((ŁŲ«ŁŁ…ŁŽŁ‘ Ų£ŁŽŲŖŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ³Ł’Ų¬ŁŲÆŁŽ Ł„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŁ†Ł’Ł‡ŁŽŲ²ŁŁ‡Ł Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‘ Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ł„Ų§Ų©)) “kemudian dia datang ke masjid dan tidak ada yang membuatnya beranjak (dari rumahnya) kecuali untuk mengerjakan shalat.”
  5. Di antara tugas para Malaikat Allah adalah mendoakan orang-orang Mukmin dan memohonkan ampun bagi mereka.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Ł±Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ ŁŠŁŽŲ­Ł’Ł…ŁŁ„ŁŁˆŁ†ŁŽ Ł±Ł„Ł’Ų¹ŁŽŲ±Ł’Ų“ŁŽ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ†Ł’ Ų­ŁŽŁˆŁ’Ł„ŁŽŁ‡ŁŪ„ ŁŠŁŲ³ŁŽŲØŁ‘ŁŲ­ŁŁˆŁ†ŁŽ ŲØŁŲ­ŁŽŁ…Ł’ŲÆŁ Ų±ŁŽŲØŁ‘ŁŁ‡ŁŁ…Ł’ ŁˆŁŽŁŠŁŲ¤Ł’Ł…ŁŁ†ŁŁˆŁ†ŁŽ بِهِۦ ŁˆŁŽŁŠŁŽŲ³Ł’ŲŖŁŽŲŗŁ’ŁŁŲ±ŁŁˆŁ†ŁŽ Ł„ŁŁ„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų”ŁŽŲ§Ł…ŁŽŁ†ŁŁˆŲ§ŪŸ Ų±ŁŽŲØŁ‘ŁŽŁ†ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŲ³ŁŲ¹Ł’ŲŖŁŽ ŁƒŁŁ„Ł‘ŁŽ Ų“ŁŽŁ‰Ł’Ų”Ł Ų±Ł‘ŁŽŲ­Ł’Ł…ŁŽŲ©Ł‹ ŁˆŁŽŲ¹ŁŁ„Ł’Ł…Ł‹Ų§ ŁŁŽŁ±ŲŗŁ’ŁŁŲ±Ł’ Ł„ŁŁ„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ ŲŖŁŽŲ§ŲØŁŁˆŲ§ŪŸ ŁˆŁŽŁ±ŲŖŁ‘ŁŽŲØŁŽŲ¹ŁŁˆŲ§ŪŸ Ų³ŁŽŲØŁŁŠŁ„ŁŽŁƒŁŽ ŁˆŁŽŁ‚ŁŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų¹ŁŽŲ°ŁŽŲ§ŲØŁŽ Ł±Ł„Ł’Ų¬ŁŽŲ­ŁŁŠŁ…Ł Ų±ŁŽŲØŁ‘ŁŽŁ†ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŲ£ŁŽŲÆŁ’Ų®ŁŁ„Ł’Ł‡ŁŁ…Ł’ Ų¬ŁŽŁ†Ł‘ŁŽŁ°ŲŖŁ Ų¹ŁŽŲÆŁ’Ł†Ł Ł±Ł„Ł‘ŁŽŲŖŁŁ‰ ŁˆŁŽŲ¹ŁŽŲÆŲŖŁ‘ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ† ŲµŁŽŁ„ŁŽŲ­ŁŽ مِنْ Ų”ŁŽŲ§ŲØŁŽŲ§Ł“Ų¦ŁŁ‡ŁŁ…Ł’ ŁˆŁŽŲ£ŁŽŲ²Ł’ŁˆŁŽŁ°Ų¬ŁŁ‡ŁŁ…Ł’ ŁˆŁŽŲ°ŁŲ±Ł‘ŁŁŠŁ‘ŁŽŁ°ŲŖŁŁ‡ŁŁ…Ł’ ۚ Ų„ŁŁ†Ł‘ŁŽŁƒŁŽ Ų£ŁŽŁ†ŲŖŁŽ Ł±Ł„Ł’Ų¹ŁŽŲ²ŁŁŠŲ²Ł Ł±Ł„Ł’Ų­ŁŽŁƒŁŁŠŁ…Ł ŁˆŁŽŁ‚ŁŁ‡ŁŁ…Ł Ł±Ł„Ų³Ł‘ŁŽŁŠŁ‘ŁŁ€Ł”ŁŽŲ§ŲŖŁ ۚ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ† ŲŖŁŽŁ‚Ł Ł±Ł„Ų³Ł‘ŁŽŁŠŁ‘ŁŁ€Ł”ŁŽŲ§ŲŖŁ ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽŲ¦ŁŲ°Ł ŁŁŽŁ‚ŁŽŲÆŁ’ Ų±ŁŽŲ­ŁŁ…Ł’ŲŖŁŽŁ‡ŁŪ„ ۚ ŁˆŁŽŲ°ŁŽŁ°Ł„ŁŁƒŁŽ Ł‡ŁŁˆŁŽ Ł±Ł„Ł’ŁŁŽŁˆŁ’Ų²Ł Ł±Ł„Ł’Ų¹ŁŽŲøŁŁŠŁ…Ł

“(Malaikat-Malaikat) yang memikul Arsy dan (Malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata): ‘Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari adzab Neraka yang bernyala-nyala. Ya Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam Surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang yang shalih di antara nenek moyang mereka, istri-istri, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana, dan peliharalah mereka dari (bencana) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (bencana) kejahatan pada hari itu, maka sungguh, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya dan demikian itulah kemenangan yang agung.'” (QS. Al-Mu’min [40]: 7-9)

6. Dianjurkan bagi setiap Muslim menunggu shalat (berdiam di masjid) sampai waktu shalat berikutnya tiba.
7. Dianjurkan bagi seorang Muslim untuk senantiasa berada dalam keadaan suci (berwudhu).

*****

šŸ“– | Hadits #11: Pencatatan Amal Baik dan Buruk

ٔٔ- ŁˆŁŽŲ¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŲØŁŁŠ Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŲØŁŽŁ‘Ų§Ų³Ł Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł بْنِ Ų¹ŁŽŲØŁŽŁ‘Ų§Ų³Ł بْنِ Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŲ·ŁŽŁ‘Ł„ŁŲØŁ Ų±ŁŽŲ¶ŁŁŠŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡ŁŁ…ŁŽŲ§ ، Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ’Ł„Ł Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł ļ·ŗ ، ŁŁŁŠŁ…ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ±Ł’ŁˆŁŁŠ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų±ŁŽŲØŁŁ‘Ł‡Ł ، ŲŖŁŽŲØŁŽŲ§Ų±ŁŽŁƒŁŽ ŁˆŁŽŲŖŁŽŲ¹ŁŽŲ§Ł„ŁŽŁ‰ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : Ā« Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽ ŁƒŁŽŲŖŁŽŲØŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŲ³ŁŽŁ†ŁŽŲ§ŲŖŁ ŁˆŲ§Ł„Ų³ŁŽŁ‘ŁŠŁŁ‘Ų¦ŁŽŲ§ŲŖŁ ، Ų«ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŲØŁŽŁŠŁŽŁ‘Ł†ŁŽ Ų°Ł„ŁŁƒŁŽ : ŁŁŽŁ…ŁŽŁ†Ł’ Ł‡ŁŽŁ…ŁŽŁ‘ ŲØŁŲ­ŁŽŲ³ŁŽŁ†Ų©Ł ŁŁŽŁ„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł…ŁŽŁ„Ł’Ł‡ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲŖŁŽŲØŁŽŁ‡ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł ŲŖŁŽŲØŁŽŲ§Ų±ŁŽŁƒŁŽ ŁˆŁŽŲŖŁŽŲ¹ŁŽŲ§Ł„ŁŽŁ‰ Ų¹ŁŁ†Ł’ŲÆŁŽŁ‡Ł Ų­ŁŽŲ³ŁŽŁ†ŁŽŲ©Ł‹ ŁƒŁŽŲ§Ł…ŁŁ„ŁŽŲ©Ł‹ ، ŁˆŁŽŲ„ŁŁ†Ł’ Ł‡ŁŽŁ…ŁŽŁ‘ ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ ŁŁŽŲ¹ŁŽŁ…ŁŁ„ŁŽŁ‡ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲŖŁŽŲØŁŽŁ‡ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ų¹ŁŽŲ“Ł’Ų±ŁŽ Ų­ŁŽŲ³ŁŽŁ†ŁŽŲ§ŲŖŁ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ų³ŁŽŲØŁ’Ų¹ŁŁ…ŁŲ¦ŁŽŲ©Ł Ų¶ŁŲ¹Ł’ŁŁ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ų£ŁŽŲ¶Ł’Ų¹ŁŽŲ§ŁŁ ŁƒŁŽŲ«ŁŁŠŲ±ŁŽŲ©Ł ، ŁˆŁŽŲ„ŁŁ†Ł’ Ł‡ŁŽŁ…ŁŽŁ‘ ŲØŁŲ³ŁŽŁŠŁŁ‘Ų¦ŁŽŲ©Ł ŁŁŽŁ„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł…ŁŽŁ„Ł’Ł‡ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲŖŁŽŲØŁŽŁ‡ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŁ†Ł’ŲÆŁŽŁ‡Ł Ų­ŁŽŲ³ŁŽŁ†ŁŽŲ©Ł‹ ŁƒŁŽŲ§Ł…ŁŁ„ŁŽŲ©Ł‹ ، ŁˆŁŽŲ„ŁŁ†Ł’ Ł‡ŁŽŁ…ŁŽŁ‘ ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§ ŁŁŽŲ¹ŁŽŁ…ŁŁ„ŁŽŁ‡ŁŽŲ§ ŁƒŲŖŁŽŲØŁŽŁ‡ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų³ŁŽŁŠŁŁ‘Ų¦ŁŽŲ©Ł‹ ŁˆŁŽŲ§Ų­ŁŲÆŁŽŲ©Ł‹ Ā» Ł…ŁŲŖŁŽŁ‘ŁŁŽŁ‚ŁŒ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł .

11. Dari Abul Abbas Abdillah bin Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah ļ·ŗ, mengenai apa yang diriwayatkan dari Rabbnya tabĆ¢raka wa ta’Ć¢la (Yang Mahasuci lagi Mahatinggi), beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mencatat seluruh kebaikan dan keburukan.” Kemudian, beliau menjelaskan; “Barang siapa yang mempunyai keinginan untuk berbuat kebaikan namun belum sempat mengerjakannya, maka niscaya Allah tabĆ¢raka wa ta’Ć¢la mencatat itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan jika dia mempunyai keinginan untuk melakukan kebaikan itu lalu mengerjakannya, maka Allah mencatat itu di sisi-Nya sebagai sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat kebaikan, bahkan lebih banyak lagi. Sedangkan jika dia mempunyai keinginan untuk berbuat keburukan namun tidak mengerjakannya, maka Allah mencatat itu di sisi-Nya sebagai kebaikan yang sempurna. Dan jika dia berkeinginan melakukan keburukan itu lalu mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan.” (Muttafaq ‘alaih)

šŸ“ƒ| Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (XI/323-Fathul BĆ¢ri) dan Muslim (no. 131).

šŸ“ƒ| Kosa Kata Hadits

  • ŁŁŁŠŁ’Ł…ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ±Ł’ŁˆŁŁŠ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų±ŁŽŲØŁ‘Ł‡Ł : Mengenai apa yang diriwayatkan dari Rabbnya. Hadits ilahi (qudsi) adalah perkataan yang diterima Rasulullah dari Rabb beliau (Allah Ta’ala) tanpa perantara ilham ataupun mimpi, atau melalui perantara Malaikat dengan sanad dari Rabbnya serta penisbatan kepada-Nya. Akan tetapi, perkataan ini berbeda dengan al-Qur’an; karena membaca hadits qudsi tidak dianggap sebagai ibadah, tidak sebagaimana membaca al-Qur’an.

šŸ“ƒ| Kandungan Hadits

  1. Kesempurnaan ilmu Allah menjadikan tidak ada apa pun di langit maupun di bumi atau yang lebih dari itu yang lepas dari jangkauan ilmu-Nya, dan tidak ada seseuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.
  2. Di antara tugas Malaikat adalah mencatat kebaikan dan keburukan. Allah menugaskan Malaikat-Nya yang mulia kepada setiap orang. Oleh karena itulah, para Malaikat mengetahui dan mencatat apa saja yang dikerjakannya (hamba-Nya). Allah menghitungnya, sedangkan dia melupakannya.
  3. Menunjukkan keluasan rahmat serta karunia Allah Ta’ala di samping keagungan anugerah-Nya. Allah memberikan balasan yang setimpal terhadap perbuatan buruk dan tidak melipatgandakannya, juga Dia memberi maaf terhadap keinginan melakukan keburukan itu (selagi tidak dikerjakan). Sedangkan pahala dalam kebaikan dilipatgandakan oleh-Nya, dan Dia memberi pahala kepada orang yang hanya berniat mengerjakan kebaikan itu.
  4. Bertafakkur pada kebaikan merupakan sebab yang dapat memotivasi seseorang untuk mengerjakannya.
  5. Mengingat dampak keburukan sebelum berbuat suatu keburukan itu dapat mencegah diri sendiri dari melakukannya.

*****

šŸ“– | Hadits #12: Faktor Pendorong DIkabulkannya Do’a


ٔ٢- ŁˆŲ¹Ł† Ų£ŁŽŲØŁŠ Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ų±ŁŽŁ‘Ų­Ł’Ł…ŁŽŁ†Ł Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł بْنِ Ų¹ŁŁ…ŁŽŲ±ŁŽ بْنِ Ų§Ł„Ł’Ų®ŁŽŲ·ŁŽŁ‘Ų§ŲØŁ ، Ų±ŁŽŲ¶ŁŁŠŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡ŁŁ…ŁŽŲ§ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : Ų³ŁŽŁ…ŁŲ¹Ł’ŲŖŁ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ’Ł„ŁŽ اللهِ ļ·ŗ ŁŠŁŽŁ‚ŁŁˆŁ„Ł : Ā« Ų§Ł†Ł’Ų·ŁŽŁ„ŁŽŁ‚ŁŽ Ų«ŁŽŁ„ŁŽŲ§Ų«ŁŽŁ‡Ł Ł†ŁŽŁŁŽŲ±Ł Ł…ŁŁ…ŁŽŁ‘Ł†Ł’ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ł‚ŁŽŲØŁ’Ł„ŁŽŁƒŁŁ…Ł’ Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ Ų¢ŁˆŁŽŲ§Ł‡ŁŁ…Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲØŁŁŠŁ’ŲŖŁ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ ŲŗŁŽŲ§Ų±Ł ŁŁŽŲÆŁŽŲ®ŁŽŁ„ŁŁˆŁ‡Ł ، ŁŁŽŲ§Ł†Ł’Ų­ŁŽŲÆŁŽŲ±ŁŽŲŖŁ’ ŲµŁŽŲ®Ł’Ų±ŁŽŲ©ŁŒ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŲØŁŽŁ„Ł ŁŁŽŲ³ŁŽŲÆŁŽŁ‘ŲŖŁ’ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŁ…Ł Ų§Ł„Ł’ŲŗŁŽŲ§Ų±ŁŽ Ų› ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŁˆŲ§ : Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł لا ŁŠŁŁ†Ł’Ų¬ŁŁŠŁƒŁŁ…Ł’ مِنْ Ł‡ŁŽŲ°ŁŁ‡Ł Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ų®Ł’Ų±ŁŽŲ©Ł Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‘Ų§ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŲŖŁŽŲÆŁ’Ų¹ŁŁˆŲ§ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽ ŲØŁŲµŁŽŲ§Ł„ŁŲ­Ł Ų£ŁŽŲ¹Ł’Ł…ŁŽŲ§Ł„ŁŁƒŁŁ…Ł’ . Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų±ŁŽŲ¬ŁŁ„ŁŒ Ł…ŁŁ†Ł’Ł‡ŁŁ…Ł’ : Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…ŁŽŁ‘ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ł„ŁŁŠ Ų£ŁŽŲØŁŽŁˆŁŽŲ§Ł†Ł Ų“ŁŽŁŠŁ’Ų®ŁŽŲ§Ł†Ł ŁƒŁŽŲØŁŁŠŲ±ŁŽŲ§Ł†Ł ، ŁˆŁŽŁƒŁŁ†Ł’ŲŖŁ Ł„ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲŗŁ’ŲØŁŁ‚Ł Ł‚ŁŽŲØŁ’Ł„ŁŽŁ‡ŁŁ…Ų§ Ų£ŁŽŁ‡Ł’Ł„Ų§Ł‹ ŁˆŁŽŁ„Ų§ Ł…ŁŽŲ§Ł„Ų§Ł‹ ، ŁŁŽŁ†ŁŽŲ£ŁŽŁ‰ بِي Ų·ŁŽŁ„ŁŽŲØŁ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘Ų¬ŁŽŲ±Ł ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…Ł‹Ų§ ŁŁŽŁ„ŁŽŁ…Ł’ Ų£ŁŲ±ŁŲ­Ł’ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŁ…ŁŽŲ§ Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ Ł†ŁŽŲ§Ł…ŁŽŲ§ ، ŁŁŽŲ­ŁŽŁ„ŁŽŲØŁ’ŲŖ Ł„ŁŽŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§ ŲŗŁŽŲØŁŁˆŁ‚ŁŽŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§ ŁŁŽŁˆŁŽŲ¬ŁŽŲÆŁ’ŲŖŁŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§ Ł†ŁŽŲ§Ų¦ŁŁ…ŁŽŁŠŁ’Ł†Ł ، ŁŁŽŁƒŁŽŲ±ŁŁ‡Ł’ŲŖŁ Ų£ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŁˆŁ‚ŁŲøŁŽŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŲ£ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŲŗŁ’ŲØŁŁ‚ŁŽ Ł‚ŁŽŲØŁ’Ł„ŁŽŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŁ‡Ł’Ł„Ų§Ł‹ Ų£ŁŽŁˆŁ’ Ł…ŁŽŲ§Ł„Ų§Ł‹ ، ŁŁŽŁ„ŁŽŲØŁŲ«Ł’ŲŖŁ – ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ł‚ŁŽŲÆŁŽŲ­Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ ŁŠŁŽŲÆŁŁŠ – Ų£ŁŽŁ†Ł’ŲŖŁŽŲøŁŲ±Ł Ų§Ų³Ł’ŲŖŁŁŠŁ‚ŁŽŲ§ŲøŁŽŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§ Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ ŲØŁŽŲ±ŁŽŁ‚ŁŽ Ų§Ł„Ł’ŁŁŽŲ¬Ł’Ų±Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„ŲµŁŽŁ‘ŲØŁ’ŁŠŁŽŲ©Ł ŁŠŁŽŲŖŁŽŲ¶ŁŽŲ§ŲŗŁŽŁˆŁ’Ł†ŁŽ Ų¹ŁŁ†Ł’ŲÆŁŽ Ł‚ŁŽŲÆŁŽŁ…ŁŠ ، ŁŁŽŲ§Ų³Ł’ŲŖŁŽŁŠŁ’Ł‚ŁŽŲøŁŽŲ§ ŁŁŽŲ“ŁŽŲ±ŁŲØŁŽŲ§ ŲŗŁŽŲØŁŁˆŁŁŽŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§ . Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…ŁŽŁ‘ ؄ِنْ ŁƒŁŁ†Ł’ŲŖŁ ŁŁŽŲ¹ŁŽŁ„Ł’ŲŖŁ Ų°ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ Ų§ŲØŁ’ŲŖŁŲŗŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŁˆŁŽŲ¬Ł’Ł‡ŁŁƒŁŽ ŁŁŽŁŁŽŲ±ŁŁ‘Ų¬Ł’ Ų¹ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ų§ Ł…ŁŽŲ§ Ł†ŁŽŲ­Ł’Ł†Ł ŁŁŁŠŁ‡Ł مِنْ Ł‡ŁŽŲ°ŁŁ‡Ł Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ų®Ł’Ų±ŁŽŲ©Ł ، ŁŁŽŲ§Ł†Ł’ŁŁŽŲ±ŁŽŲ¬ŁŽŲŖŁ’ Ų“ŁŽŁŠŁ’Ų¦Ų§Ł‹ لا ŁŠŁŽŲ³Ł’ŲŖŁŽŲ·ŁŁŠŲ¹ŁŁˆŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų®ŁŲ±ŁŁˆŲ¬ŁŽ Ł…ŁŁ†Ł’Ł‡Ł . Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų§Ł„Ų¢Ų®ŁŽŲ±Ł : Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…ŁŽŁ‘ Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽŲŖŁ’ Ł„ŁŁŠŁŽ Ų§ŲØŁ’Ł†ŁŽŲ©Ł Ų¹ŁŽŁ…ŁŽŁ‘ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽŲŖŁ’ Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲØŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘Ų§Ų³Ł Ų„ŁŁ„ŁŽŁŠŁŽŁ‘ – ŁˆŁŽŁŁŁŠ Ų±ŁŁˆŁŽŲ§ŁŠŁŽŲ©Ł : ŁƒŁŁ†Ł’ŲŖŁ Ų£ŁŲ­ŁŲØŁŁ‘Ł‡ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲ£ŁŽŲ“ŁŽŲÆŁŒ Ł…ŁŽŲ§ ŁŠŁŲ­ŁŲØŁŁ‘ Ų§Ł„Ų±ŁŁ‘Ų¬ŁŽŲ§Ł„Ł Ų§Ł„Ł†ŁŁ‘Ų³ŁŽŲ§Ų”ŁŽ – ŁŁŽŲ£ŁŽŲ±ŁŽŲÆŁ’ŲŖŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§ ŁŁŽŲ§Ł…Ł’ŲŖŁŽŁ†ŁŽŲ¹ŁŽŲŖŁ’ Ł…ŁŁ†ŁŁ‘ŁŠ Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ Ų£ŁŽŁ„ŁŽŁ…ŁŽŁ‘ŲŖŁ’ بِها Ų³ŁŽŁ†ŁŽŲ©ŁŒ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ų³ŁŁ‘Ł†ŁŁŠŁ†ŁŽ ŁŁŽŲ¬ŁŽŲ§Ų”ŁŽŲŖŁ’Ł†ŁŁŠ ŁŁŽŲ£ŁŽŲ¹Ł’Ų·ŁŽŁŠŁ’ŲŖŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų¹ŁŲ“Ł’Ų±ŁŁŠŁ†ŁŽ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŲ§Ų¦ŁŽŲ© ŲÆŁŁŠŁ†ŁŽŲ§Ų±Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŲŖŁŲ®ŁŽŁ„ŁŁ‘ŁŠŁŽ ŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŁŠ ŁˆŁŽŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§ ŁŁŽŁŁŽŲ¹ŁŽŁ„ŁŽŲŖŁ’ ، Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ł‚ŁŽŲÆŁŽŲ±Ł’ŲŖŁ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŽŲ§ – ŁˆŁŽŁŁŁŠ Ų±ŁŁˆŁŽŲ§ŁŠŁŽŲ©Ł : ( ŁŁŽŁ„ŁŽŁ…ŁŽŁ‘Ų§ ŁŁŽŲ¹ŁŽŲÆŁ’ŲŖŁ ŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ų±ŁŲ¬Ł’Ł„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŽŲ§ ، Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲŖŁ’ : Ų§ŲŖŁŽŁ‘Ł‚Ł Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŁ‚ŁŲ¶ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų®ŁŽŲ§ŲŖŁŽŁ…ŁŽ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‘Ų§ ŲØŁŲ­ŁŽŁ‚ŁŁ‘Ł‡Ł ، ŁŁŽŲ§Ł†Ł’ŲµŁŽŲ±ŁŽŁŁ’ŲŖŁ Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŁ‡ŁŁŠŁŽ Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲØŁŁ‘ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘Ų§Ų³Ł Ų„ŁŁ„ŁŽŁŠŁŽŁ‘ ŁˆŁŽŲŖŁŽŲ±ŁŽŁƒŁ’ŲŖŁ Ų§Ł„Ų°ŁŽŁ‘Ł‡ŁŽŲØŁŽ Ų§Ł„ŁŽŁ‘Ų°ŁŁŠ Ų£ŁŽŲ¹Ł’Ų·ŁŁŠŲŖŁŁ‡ŁŽŲ§ ، Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…ŁŽŁ‘ ؄ِنْ ŁƒŁŁ†Ł’ŲŖŁ ŁŁŽŲ¹Ł’Ł„ŲŖŁ Ų°ŁŽŁ„ŁŁƒŁŽ Ų§ŲØŁ’ŲŖŁŲŗŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŁˆŁŽŲ¬Ł’Ł‡ŁŁƒŁŽ ŁŁŽŲ§Ų®Ł’Ų±ŁŲ¬Ł’ Ų¹ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ų§ Ł…ŁŽŲ§ Ł†ŁŽŲ­Ł’Ł†Ł ŁŁŁŠŁ‡Ł ، ŁŁŽŲ§Ł†Ł’ŁŁŽŲ±ŁŽŲ¬ŁŽŲŖŁ Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ų®Ł’Ų±ŁŽŲ©Ł ، ŲŗŁŽŁŠŁ’Ų±ŁŽ Ų£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…Ł’ Ł„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ³Ł’ŲŖŁŽŲ·ŁŁŠŲ¹ŁŁˆŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų®ŁŲ±ŁŁˆŲ¬Ł Ł…ŁŁ†Ł’Ł‡ŁŽŲ§ . ŁˆŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų§Ł„Ų«ŁŽŁ‘Ų§Ł„ŁŲ«Ł : Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…ŁŽŁ‘ Ų§Ų³Ł’ŲŖŁŽŲ£Ł’Ų¬ŁŽŲ±Ł’ŲŖŁ Ų£ŁŽŲ¬ŁŽŲ±ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŁˆŁŽŲ£ŁŽŲ¹Ł’Ų·ŁŽŁŠŁ’ŲŖŁŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų£ŁŽŲ¬Ł’Ų±ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ ŲŗŁŽŁŠŁ’Ų±ŁŽ Ų±ŁŽŲ¬ŁŁ„Ł ŁˆŁŽŲ§Ų­ŁŲÆŁ ŲŖŁŽŲ±ŁŽŁƒŁŽ Ų§Ł„ŁŽŁ‘Ų°ŁŁŠ Ł„ŁŽŁ‡Ł ŁˆŁŽŲ°ŁŽŁ‡ŁŽŲØŁŽ ، ŁŁŽŲŖŁŽŁ…ŁŽŁ‘Ų±Ł’ŲŖŁ Ų£ŁŽŲ¬Ł’Ų±ŁŽŁ‡Ł Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ ŁƒŁŽŲ«ŁŲ±ŁŽŲŖŁ’ Ł…ŁŁ†Ł’Ł‡Ł Ų§Ł„Ų£ŁŽŁ…Ł’ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł ، ŁŁŽŲ¬ŁŽŲ§Ų”ŁŽŁ†ŁŁŠ ŲØŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁŽ Ų­ŁŁŠŁ†Ł ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : ŁŠŁŽŲ§ Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ų£ŁŽŲÆŁ’ Ų„ŁŁ„ŁŽŁŠŁŽŁ‘ Ų£ŁŽŲ¬Ł’Ų±ŁŁŠ ، ŁŁŽŁ‚ŁŁ„ŲŖŁ : ŁƒŁŁ„ŁŁ‘ Ł…ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲ±ŁŽŁ‰ مِنْ Ų£ŁŽŲ¬Ł’Ų±ŁŁƒŁŽ : Ł…ŁŁ†ŁŽ ال؄ِبِلِ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’ŲØŁŽŁ‚ŁŽŲ±Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’ŲŗŁŽŁ†ŁŽŁ…Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų±ŁŽŁ‘Ł‚ŁŁŠŁ‚Ł ، ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : ŁŠŁŽŲ§ Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁŽ اللهِ لا ŲŖŁŽŲ³Ł’ŲŖŁŽŁ‡Ł’Ų±ŁŽŁ‰ بي ! ŁŁŽŁ‚ŁŁ„Ł’ŲŖŁ : Ł„ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲ³Ł’ŲŖŁŽŁ‡Ł’Ų²ŁŁŠŲ”Ł ŲØŁŁƒŁŽ ، ŁŁŽŲ£ŁŽŲ®ŁŽŲ°ŁŽŁ‡Ł ŁƒŁŁ„ŁŽŁ‘Ł‡Ł ŁŁŽŲ§Ų³Ł’ŲŖŁŽŲ§ŁŁŽŁ‡Ł ŁŁŽŁ„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŽŲŖŁ’Ų±ŁŁƒŁ’ Ł…ŁŁ†Ł’Ł‡Ł Ų“ŁŽŁŠŁ’Ų¦Ł‹Ų§ : Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…ŁŽŁ‘ ؄ِنْ ŁƒŁŁ†Ł’ŲŖŁ ŁŁŽŲ¹ŁŽŁ„Ł’ŲŖŁ Ų°Ł„ŁŁƒŁŽ Ų§ŲØŁ’ŲŖŁŲŗŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŁˆŁŽŲ¬Ł’Ł‡ŁŁƒŁŽ ŁŁŽŲ§Ų®Ł’Ų±ŁŲ¬Ł’ Ų¹ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ų§ Ł…ŁŽŲ§ Ł†ŁŽŲ­Ł’Ł†Ł ŁŁŁŠŁ‡Ł ، ŁŁŽŲ§Ł†Ł’ŁŁŽŲ±ŁŽŲ¬ŁŽŲŖŁ Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ų®Ł’Ų±ŁŽŲ©Ł ŁŁŽŲ®ŁŽŲ±ŁŽŲ¬ŁŁˆŲ§ ŁŠŁŽŁ…Ł’Ų“ŁŁˆŁ†ŁŽ ، Ł…ŁŲŖŁŽŁ‘ŁŁŽŁ‚ŁŒ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł.

12. Dari Abdurrahman Abdullah ibn Umar ibn Al-Khaththab radhiyallahu’anhu, ia berkata: ā€œAku pernah mendengar Rasulullah ļ·ŗ bersabda: ā€œDahulu sebelum kalian ada tiga orang sedang berjalan lalu mendapati sebuah gua yang dapat dimanfaatkan untuk berteduh. Mereka masuk ke dalamnya. Tetapi tiba-tiba ada sebuah batu besar dari atas bukit menggelinding dan menutupi pintu gua itu sehingga mereka tidak dapat keluar. Salah seorang di antara mereka berkata: ā€œSesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari bencana ini kecuali jika kalian mau berdoa kepada Allah dengan menyebut amal-amal kebaikan yang pernah kalian lakukan.ā€ Salah seorang di antara mereka berkata: ā€œYa Allah, saya dahulu mempunyai ayah ibu yang sudah tua renta. Saya biasa lebih mendahulukan mereka dalam memberi minum susu daripada keluarga saya. Pada suatu hari saya terlambat pulang dari mencari kayu. Saya mendapati mereka sudah tidur pulas. Saya tidak mau membangunkan mereka.

Saya juga tidak mau memberikan susu itu kepada keluarga maupun kepada budak sebelum mereka. Sambil memegang gelas berisi minuman susu itu saya tunggui mereka hingga terbit fajar. Begitu bangun, saya sodorkan minuman itu kepada mereka. Padahal sejak semalam anak-anak saya menangis terisak-isak sambil mengelilingi kaki saya. Ya Allah, jika yang saya lakukan itu demi mengharap kendhaan-Mu, tolong keluarga kami dari kesulitan yang tengah menimpa kami iniā€. Batu itu mulai bergeser sedikit, dan mereka belum bisa keluar dari gua itu.

Yang lain berkata: ā€œYa Allah, sesungguhnya dahulu saya mempunyai saudari sepupu yang sangat saya cintai-dalam riwayat yang lain disebutkan, saya sangat mencintainya seperti lazimnya seorang lelaki yang sangat mencintai seorang wanita. Saya ingin menggaulinya, tetapi ia menolaknya. Selang beberapa tahun kemudian ia tertimpa kesulitan, la datang kepada saya meminta tolong. Saya memberinya uang seratus dua puluh dinar dengan syarat ia mau saya gauli, dan rupanya ia tidak menolak. Dan ketika saya sudah berhasil menguasainya dalam riwayat lain disebutkan, ketika saya sudah menindihnya, ia berkata: ā€œTakutlah kamu kepada Allah. Jangan kamu masukkan cincin secara tidak benar ā€œ. Seketika saya menjauhinya Padalah ia adalah orang yang sangat saya cintai. Bahkan saya rela memberinya emas. Ya Allah, jika apa yang saya lakukan itu demi mengharapkan keridhaan-Mu, tolong geserlah batu yang menutupi gua iniā€ Maka bergeserlah batu itu. Tetapi mereka juga masih belum bisa keluar dari gua.

Orang yang ketiga berkata: ā€œYa Allah, dahulu saya pernah mempekerjakan beberapa karyawan. Mereka semua saya upah dengan penuh, kecuali ada seorang karyawan yang meninggalkan saya dan tidak mau mengambil upahnya lebih dahulu. Kemudian upahnya itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak. Selang beberapa lama kemudian ia datang menemui saya dan berkata: ā€œWahai hamba Allah, berikan upah saya yang dahulu itu ā€œ. Saya berkata. ā€œSemua yang kamu lihat berupa unta, sapi, domba, dan budak yang menggembalakannya itu adalah upahmuā€. la berkata: ā€œWahai hamba Allah, kamu jangan mempermainkan sayaā€. Saya katakan: ā€œSaya tidak mempermainkan kamuā€. Kemudian ia pun mengambil semuanya itu tanpa meninggalkannya sedikit pun. Ya Allah, jika apa yang saya lakukan itu demi mengharapkan keridhaan-Mu, tolong geserkan batu yang menutupi pintu gua iniā€ Maka bergeserlah batu itu, dan mereka pun bisa keluar dari dalam gua.ā€ Muttafaq alaih (HR. Bukhari: 2272 dan Muslim: 100/2743 )

šŸ“ƒ| Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (IV/449-Fathul BĆ¢ri) dan Muslim (no. 2743).

šŸ“ƒ| Kosa Kata Hadits

  • Ł†ŁŽŁŁŽŲ±ŁŒ : Orang. Isim jama’ (kata benda berbentuk jamak) ini berarti beberapa laki-laki, dan lafazh ini tidak memiliki bentuk tunggal. Dalam hadits ini, Rasulullah ļ·ŗ menjelaskan bahwa orang-orang yang dimaksud terdiri dari tiga orang laki-laki.
  • Ų¢ŁˆŁŽŲ§Ł‡ŁŁ…Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲØŁŁŠŁ’ŲŖŁ : Hingga mereka mendapati tempat menginap. Yakni, tiga orang itu menemukan gua untuk menginap atau bermalam.
  • Ł„ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲŗŁ’ŲØŁŁ‚Ł : Aku terbiasa tidak memberi minuman. Yakni minuman pada sore hari, bukan Ų§ŁŽŁ„ŲµŁ‘ŁŽŲØŁŁˆŲ­Ł (minuman pada pagi hari). Maknanya aku tidak menyuguhkan sesuatu kepada seorang pun baik kepada istri, anak, maupun budak perempuan atau laki-lakiku sebelum menyuguhkannya kepada kedua orang tuaku; dan sungguh, aku tidak pernah mendahulukan orang lain atas keduanya.
  • نأى ŲØŁŠŁ’ Ų·ŁŽŁ„ŁŽŲØŁ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘Ų¬ŁŽŲ±Ł : Aku mencari kayu ke tempat yang jauh. Yakni orang itu menggembalakan kambingnya ke tempat yang jauh, lebih jauh dari biasanya. Karena itulah, dia terlambat pulang ke rumah.
  • ŁŁŽŁ„ŁŽŁ…Ł’ Ų£ŁŲ±ŁŲ­Ł’ : Dan aku tidak kembali.
  • ŲØŁŽŲ±ŁŁ‚ŁŽ Ų§Ł„Ł’ŁŁŽŲ¬Ł’Ų±Ł : Fajar terbit.
  • ŁŠŁŽŲŖŁŽŲ¶ŁŽŲ§Ų¹ŁŁˆŁ’Ł†ŁŽ : Anak-anak merengek-rengek. Mereka berteriak-teriak sambil menangis karena menahan rasa lapar.
  • Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ŁŁ…ŁŽŁ‘ ؄ِنْ ŁƒŁŁ†Ł’ŲŖŁŽ ŲŖŁŽŲ¹Ł’Ł„ŁŽŁ…Ł : Ya Allah, jika Engkau mengetahui. Demikianlah redaksinya dalam beberapa riwayat lainnya (berbeda dengan yang tercantum di sini: ŁŲ§Ł„Ł„ŁŁ‘Ł‡ŁŁ…ŁŽŁ‘ ؄نْ ŁƒŁŁ†Ł’ŲŖŁ ŁŁŽŲ¹ŁŽŁ„Ł’ŲŖ [Ya Allah, jika aku memang melakukan]. Kalimat ini diucapkan bukan sebagai bentuk keraguan terhadap kesempurnaan ilmu Allah . Sebab, orang Mukmin pasti mengetahui bahwa Dia dk mengetahui hal tersebut. Dengan kata lain, orang shalih itu tidak ragu (terhadap pengetahuan-Nya), tetapi hanya mempertanyakan apakah perbuatannya diterima di sisi Allah atau tidak? Yang demikian merupakan sifat Mukmin yang takut usaha dan kesungguhannya tidak diterima oleh-Nya. Pengertian ini sebagaimana saya terangkan dalam kitab MubthilĆ¢tul A’mad, maka silakan merujuk padanya.
  • Ų„ŲØŁ’ŲŖŁŲŗŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŁˆŁŽŲ¬Ł’Ł‡ŁŁƒŁŽ : Karena mengharapkan wajah-Mu. Maknanya mencari keridhaan-Mu dengan tulus ikhlas.

Sebagian pensyarah kitab ini menafsirkan lafazh: (ŁˆŲ¬Ł‡Łƒ) “wajah-Mu” di sini dengan makna Dzat-Nya, seperti yang populer dalam istilah kebahasaan. Sudah jelas, penafsiran yang demikian adalah bathil (tidak benar) karena ia mengandung ta’thil (peniadaan atau penafian) sifat-sifat Allah Berdasarkan aqidah yang kita (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) yakini, diharuskan untuk mengimani lafazh tersebut tanpa adanya ta’wil (penafsiran), ta’thil (penafian), tamtsil (pengumpamaan), juga tahrif (penyimpangan), takyif (bertanya perihal bagaimananya), ataupun tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah). Kita pun tidak menggolongkan maknanya ke dalam lafazh yang mutasyabih, yang pengertiannya hanya diketahui oleh Allah Ta’ala; melainkan kita hanya menyerahkan penjelasan bagaimananya, bukan penjelasan maknanya.

Sebab, iman kepada sifat-sifat Allah mencakup penetapan keberadaan sifat-sifat-Nya dan bukan pertanyaan tentang bagaimana bentuknya. Karena kita tidak mengetahui Dzat Allah, maka kita pun tidak akan mengetahui sifat-sifat-Nya; namun begitu, kita tetap percaya bahwa Dia mempunyai shifatul ‘ulya (sifat-sifat yang tinggi) dan asma-ul husna (nama-nama yang baik).

  •  ŁŁŽŁŁŽŲ±ŁŁ‘جْ Ų¹ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ų§ : Maka berikanlah jalan keluar kepada kami. Ini adalah permohonan agar Allah Ta’ala menggeser batu besar yang menghalangi mulut gua untuk mereka, atau agar Dia membuatkan lubang sebagai pintu untuk mereka. Kedua makna tersebut sudah pasti, tidak ada yang menyangkalnya. Sebab, pelubangan batu itu merupakan jalan keluar yang mereka inginkan.
  • ŁŁŽŲ£ŁŽŲ±ŁŽŲÆŁ’ŲŖŁŁ‡ŁŽŲ§ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡ŁŽŲ§ : Lantas aku pun bermaksud mencampurinya. Aku (orang shalih kedua) meminta kepada wanita itu (anak perempuan pamannya) apa yang lazim diminta seorang suami kepada istrinya.
  • : Ų£Ł„ŁŽŁ…ŁŽŲŖŁ’ ŲØŁŁ‡ŁŽŲ§: Dia mendapat. Yakni sesuatu yang buruk menimpanya.
  • السّنة : Kesulitan. Berupa paceklik (kekeringan dan kelaparan)
  • Ł„ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŁŁŲ¶ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł’Ų®ŁŽŲ§ŲŖŁŽŁ…ŁŽ : Dan janganlah kamu pecahkan cincin. Lafazh ini Ų§Ł„Ł’Ų®ŁŽŲ§ŲŖŁŽŁ…ŁŽ “cincin” adalah kinayah (kiasan) dari kemaluan dan/atau keperawanan seorang wanita. Maksudnya, jangan kamu merenggut kesucianku tanpa melalui pernikahan yang sah.
  • ŁŁŽŲ«ŁŽŁ…ŁŽŁ‘Ų±Ł’ŲŖŁ Ų£ŁŽŲ¬Ł’Ų±ŁŽŁ‡Ł : Kemudian aku mengembangkan upah orang itu. Yaitu aku (orang shalih ketiga) mengusahakan upahnya tersebut hingga menghasilkan harta yang melimpah.

šŸ“ƒ| Kandungan Hadits

  1. Disunnahkan berdoa ketika mengalami kesulitan. Kondisi seperti yang dikisahkan dalam hadits di atas termasuk saat-saat mustajab untuk berdoa, sebagaimana aku terangkan dalam kitab an-abdzul MustathĆ¢bah fid Da’awĆ¢til MustajĆ¢bah.
  2. Disyariatkan bertawasul kepada Allah Ta’ala dengan amal shalih dan yang semisalnya, seperti tawasul dengan sifat-sifat dan nama-nama Allah atau tawasul dengan perantara doa orang shalih (yang masih hidup). Adapun tawasul dengan arwah para Nabi, para wali, dan kuburan mereka, perbuatan ini sama sekali tidak mempunyai dasar (syariat), bahkan termasuk bid’ah yang sesat. Oleh karena itu, berhati-hatilah atau camkanlah!
  3. Di antara faktor pendorong dikabulkannya doa ada dua.
    Pertama, berdoa dengan hati yang ikhlas.
    Kedua, ingatlah Allah ta’ala ketika dalam kemudahan dan kebahagiaan.
  4. Orang-orang Mukmin dalam hadits tersebut di atas berdoa kepada Allah dengan ikhlas seraya mengingat amal shalih yang pernah mereka kerjakan. Tiga orang shalih itu ber-ta’arruf (mengingat dan mendekatkan diri) kepada-Nya pada saat-saat penuh kemudahan, dengan harapan semoga Dia pun ingat kepada mereka pada saat-saat kesulitan. Yang demikian itu sebagaimana dinyatakan dalam hadits shahih: ((ŲŖŁŽŲ¹ŁŽŲ±ŁŽŁ‘ŁŁ’ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ اللهِ فِي Ų§Ł„Ų±ŁŽŁ‘Ų®ŁŽŲ§Ų”Ł ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ų±ŁŁŁ’ŁƒŁŽ في Ų§Ł„Ų“ŁŁ‘ŲÆŁŽŁ‘Ų©)) “Ingatlah Allah pada saat
    senang, niscaya Dia akan mengingatmu pada saat sulit.”

    Lihat penjelasan tambahannya dalam kitab saya, yakni yang diberi judul an-Nabdzul MustathĆ¢bah fid Da’awaatil MustajĆ¢bah. Sungguh, saya amat menganjurkan kepada para pembaca supaya mau membaca kitab tersebut.
  5. Menagih janji Allah Ta’ala dengan memohon kepada-Nya. Melakukan hal ini tidaklah dikatakan sebagai tindakan menuntut penyegeraan dikabulkannya suatu permohonan sehingga mengakibatkan seorang hamba mengabaikan dan meninggalkan berdoa. Di samping itu, memohon agar doa yang dipanjatkan segera terkabul dibenarkan berdasarkan pada hadits Rasulullah ļ·ŗ terkait permohonan istisqa’ (turunnya hujan) beliau (saat terjadi musim paceklik), (permohonan pertolongan beliau) pada Perang Badar, dan pada peristiwa lainnya yang berkaitan dengan permohonan beliau kepada Allah Ta’ala.
    Maka itulah apa yang dikisahkan dalam hadits di atas dikategorikan ke dalam perkara/bahasan permohonan secara terus-menerus dan sebanyak-banyaknya, bahkan perbuatan itu sangat disukai Allah Ta’ala. Demikian sebagaimana saya jelaskan dalam kitab yang sebelumnya (an-Nabdzul MustathĆ¢bah fid Da’awĆ¢til MustajĆ¢bah).
  6. Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua serta pengutamaan keduanya atas anak dan istri, serta selalu siap dalam menghadapi berbagai kesulitan demi berbuat baik kepada mereka.
  7. Perintah untuk menjaga kesucian diri; juga menahan diri dari setiap yang diharamkan, apalagi pada hal-hal yang mampu dikerjakan dan kita memiliki keinginan untuk mengerjakannya.
  8. Meninggalkan kemaksiatan dengan menjauhi segala unsur (faktor pendorong)nya, karena taubat tersebut akan menghapus dosa-dosa sebelumnya.
  9. Keutamaan menepati janji, menunaikan amanah, dan bersikap penuh toleransi dalam bermuamalah. Lihat juga kitab saya yang berjudul Samâhatul Islâm.
  10. Penetapan karamah (kemuliaan) bagi wali-wali Allah yang shalih, yaitu mereka yang beriman lagi bertakwa kepada-Nya. Merekalah orang-orang yang menutupi kebaikan karena takut terjangkit riya. Adapun orang-orang yang suka memperlihatkan hal-hal aneh dan cenderung kepada perbuatan syaitan, misalnya menceburkan diri ke dalam api, sesungguhnya ini tidak termasuk karamah para wali.
  11. Sungguh, Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Dijadikannya hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu ini sebagai penutup bab oleh Imam an-Nawawi Rahimahullah menunjukkan bahwa keikhlasan ialah tali keselamatan dan jalan kehidupan seorang Mukmin. Ditegaskan pula bahwasanya tidak akan selamat dari kesulitan dunia serta hal-hal yang menakutkan di akhirat kelak kecuali orang-orang yang ikhlas. Maka ikutilah jalan keselamatan, niscaya Anda selamat.

*****

Previous page 1 2 3 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button