Ahaditsul AkhlakKajian Rutin

Ahaditsul Akhlak: Akhlak Nabi ﷺ dalam Memperlakukan Pembantu, Karyawan dan Bawahan

✒┃Materi : KUMPULAN HADITS AKHLAK #26
▪ Syarah Kitab Ahadits Akhlak, Karya Syaikh Abdurrozzaq Bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr
🎙┃Narasumaber : Ustadz Ja’far Ad Demaky, S.Ag Hafidzahullah
▪ Pengajar Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo
📆┃In-Syaa Allah rutin setiap hari SENIN pekan ke 2&4 ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat : 📍Masjid Al Kautsar Puri Gading
Jl. Puri Gading Raya Perum Puri Gading, Dusun I, Grogol, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah 57157



Akhlak Nabi ﷺ dalam Memperlakukan Pembantu, Karyawan, dan Bawahan

Pendahuluan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn. Waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā asyrafil anbiyā’i wal-mursalīn, nabiyyinā wa maulānā Muḥammadin, wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa man tabi‘ahum bi iḥsānin ilā yaumiddīn.

Amma ba‘du.

Jemaah kaum muslimin dan muslimat, khususnya jemaah salat Magrib dan peserta pengajian rutin Senin malam Selasa di Masjid Al-Kautsar Purigading, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati kita semuanya.

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang telah Dia karuniakan kepada kita. Dengan nikmat-nikmat tersebut, kita dapat menjalankan berbagai kebaikan dan menyempurnakan urusan kehidupan kita. Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa bersyukur dan menjaga nikmat yang Allah berikan agar menjadi sebab bertambahnya kebaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk senantiasa mensyukuri nikmat-Nya, menjaga amanah, dan memperbaiki akhlak dalam berhubungan dengan sesama manusia.

Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Pada pembahasan akhir kitab Huquq al-‘Ummal (hak-hak para pekerja), kita akan mempelajari sejumlah hadis yang menunjukkan bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan para pembantu dan orang-orang yang membantu pekerjaan beliau. Dari hadis-hadis tersebut, kita dapat mengetahui bahwa kemuliaan akhlak tidak hanya terlihat dalam ibadah, tetapi juga dalam cara seseorang memperlakukan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

1. Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam memperlakukan pembantu

Syekh Abdurrazzaq hafizhahullah menjelaskan bahwa contoh terbaik dalam bermuamalah dengan pembantu adalah Rasulullah ﷺ. Beliau memiliki akhlak yang luhur dan menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.

Salah satu contoh paling nyata adalah perlakuan beliau kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Anas melayani Rasulullah ﷺ selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah diperlakukan dengan kasar sebagaimana yang sering terjadi dalam hubungan antara majikan dan pekerja.

Anas bin Malik melayani Rasulullah ﷺ

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, Abu Thalhah menggandeng tangannya dan membawanya menghadap Nabi ﷺ. Abu Thalhah berkata bahwa Anas adalah seorang anak yang cerdas, lalu meminta agar Anas membantu Rasulullah ﷺ.

Anas kemudian melayani Rasulullah ﷺ, baik ketika beliau menetap maupun ketika melakukan perjalanan.

Dalam riwayat yang paling masyhur, Anas menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah mencelanya karena sesuatu yang telah ia lakukan ataupun sesuatu yang belum ia kerjakan.

Kesaksian Anas tentang akhlak Rasulullah ﷺ:

خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ، وَلَا لِمَ صَنَعْتَ، وَلَا أَلَّا صَنَعْتَ

“Aku melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah mengatakan kepadaku, ‘Ah!’ Beliau juga tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa engkau melakukan ini?’ ataupun, ‘Mengapa engkau tidak melakukan ini?’”

(HR. al-Bukhari no. 6038 dan Muslim no. 2309).

Perhatikan baik-baik kesaksian Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Selama sepuluh tahun melayani Rasulullah ﷺ, ia tidak pernah mendengar ucapan kasar berupa keluhan kecil sekalipun. Rasulullah ﷺ juga tidak terus-menerus menginterogasinya mengenai setiap pekerjaan yang dilakukan atau tidak dilakukannya.

Anas bukan hanya melayani Nabi selama satu atau dua hari. Ia mendampingi beliau dalam waktu yang panjang. Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ tidak menjadikan setiap kekeliruan kecil sebagai alasan untuk memarahi atau merendahkannya.

Inilah akhlak yang perlu kita teladani. Kehidupan rumah tangga, lembaga pendidikan, dan tempat kerja tidak akan menjadi lebih baik hanya dengan banyaknya teguran dan kemarahan. Justru, kemarahan yang tidak terkendali dapat merusak hubungan dan membuat orang yang berada di bawah tanggung jawab kita merasa tertekan.

Tentu saja, hal ini bukan berarti seseorang tidak boleh menegur kesalahan atau membiarkan kemungkaran. Yang perlu diperhatikan adalah cara menegur, tujuan teguran, serta kadar respons yang diberikan. Kesalahan perlu diperbaiki dengan cara yang bijaksana, bukan dijadikan alasan untuk melampiaskan emosi.

Jangan membiasakan diri mencari-cari kesalahan orang lain

Sering kali seseorang merasa perlu mempertanyakan setiap hal yang dilakukan oleh bawahannya. Pekerjaan yang kurang sesuai sedikit saja langsung dipersoalkan. Bahkan, perkara kecil yang sebenarnya tidak perlu diperpanjang justru menjadi bahan kemarahan.

Teladan Rasulullah ﷺ mengajarkan kita agar tidak bersikap demikian. Apabila ada perkara yang tidak mengandung dosa dan tidak perlu dipersoalkan, hendaknya kita tidak membesar-besarkannya.

Setiap orang memiliki tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, jangan sampai kedudukan sebagai atasan, majikan, atau kepala keluarga membuat kita merasa berhak memperlakukan orang lain sesuka hati.

Akhlak yang baik terlihat ketika seseorang memiliki kekuasaan untuk memarahi, tetapi memilih bersikap sabar; memiliki kesempatan untuk merendahkan, tetapi memilih menghormati; dan mampu membalas, tetapi memilih memaafkan dalam perkara yang layak dimaafkan.

2. Tidak merendahkan dan tidak menyakiti pembantu

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah mencelanya ataupun merendahkannya. Beliau tidak menjadikan status Anas sebagai pembantu sebagai alasan untuk memperlakukannya dengan buruk.

Pelajaran ini sangat penting. Seseorang yang bekerja membantu kita tetaplah manusia yang memiliki kehormatan. Status pekerjaan, besarnya penghasilan, tingkat pendidikan, atau posisi dalam suatu lembaga tidak boleh menjadi alasan untuk menghina dan merendahkannya.

Bagaimana dengan orang yang menjadi bawahan kita di tempat kerja? Bagaimana dengan istri, anak, atau anggota keluarga yang berada di bawah tanggung jawab kita? Semuanya harus diperlakukan dengan akhlak yang baik.

Jangan sampai seseorang bersikap santun kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya, tetapi kasar kepada orang yang dianggap lebih rendah. Akhlak yang sebenarnya justru terlihat ketika seseorang berinteraksi dengan orang yang tidak memiliki kekuasaan untuk membalas perlakuannya.

Rasulullah ﷺ tidak pernah memukul pembantu dan perempuan

Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha memberikan kesaksian tentang akhlak Rasulullah ﷺ.

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Rasulullah ﷺ tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya sama sekali, tidak pula seorang perempuan dan tidak pula seorang pembantu, kecuali ketika beliau berjihad di jalan Allah.” (HR. Muslim no. 2328).

Dalam hadis yang sama, Aisyah juga menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak membalas perlakuan buruk yang ditujukan kepada dirinya demi kepentingan pribadi. Namun, apabila larangan-larangan Allah dilanggar, beliau bertindak untuk membela hak Allah.

Hadis ini menunjukkan kemuliaan akhlak Nabi ﷺ. Beliau tidak menggunakan kekuatan untuk menindas orang yang lemah. Beliau tidak menjadikan kekuasaan sebagai sarana melampiaskan kemarahan.

Karena itu, kekuatan dan kepemimpinan seharusnya membuat seseorang semakin mampu mengendalikan dirinya, bukan semakin mudah menyakiti orang lain.

Seorang suami tidak boleh menjadikan istrinya sasaran pelampiasan emosi. Seorang atasan tidak boleh menggunakan kedudukannya untuk melakukan tindakan sewenang-wenang. Seorang majikan juga tidak boleh menganggap pembantunya sebagai orang yang boleh diperlakukan tanpa batas.

Tegas dalam kebenaran bukan berarti kasar kepada orang yang lemah. Seseorang dapat memiliki prinsip yang kuat sekaligus bersikap lembut, adil, dan santun.

3. Akhlak Nabi ﷺ adalah Al-Qur’an

Syekh Abdurrazzaq juga membawakan penjelasan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengenai akhlak Rasulullah ﷺ. Nabi adalah teladan dalam menjaga lisan, tangan, pandangan, dan seluruh perilaku.

Ketika seseorang menghina beliau secara pribadi, Rasulullah ﷺ tidak menjadikan kehormatan dirinya sebagai alasan untuk melampiaskan kemarahan. Namun, ketika batasan-batasan Allah dilanggar, beliau bertindak untuk membela agama Allah.

Perbedaan ini perlu kita pahami. Ada orang yang sangat marah ketika dirinya dikritik, tetapi tidak memiliki kepedulian ketika agama Allah dihina. Ada pula orang yang mudah tersinggung karena urusan harta dan kedudukan, tetapi tidak tergerak ketika melihat kemungkaran.

Sikap seperti ini perlu diperbaiki. Seorang muslim hendaknya memiliki kecemburuan terhadap kehormatan agamanya, tetapi tetap mengendalikan diri dan bertindak berdasarkan ilmu serta tuntunan syariat.

Kutipan tentang akhlak Rasulullah ﷺ

Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya mengenai akhlak Rasulullah ﷺ, beliau menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”

(Diriwayatkan dalam hadis panjang di dalam Shahih Muslim no. 746; redaksi ini merupakan bagian dari riwayat tersebut).

موسوعة الأحاديث النبوية

Maksudnya, Rasulullah ﷺ merupakan teladan dalam mengamalkan petunjuk Al-Qur’an. Apa yang diperintahkan Al-Qur’an beliau laksanakan, sedangkan apa yang dilarang beliau jauhi.

Oleh karena itu, apabila kita ingin memperbaiki akhlak, jangan hanya mengandalkan kebiasaan atau perasaan pribadi. Pelajarilah petunjuk Al-Qur’an dan sunah Nabi ﷺ, kemudian berusahalah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Empat macam sikap manusia dalam membela hak dirinya dan hak Allah

Dalam penjelasan kajian, Syekh Abdurrazzaq membagi manusia menjadi empat kelompok berdasarkan cara mereka menyikapi hak pribadi dan hak Allah.

  1. Orang yang membela hak dirinya sekaligus hak Allah. Ia mudah tersinggung ketika dirinya disakiti, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pelanggaran agama. Namun, jika pembelaan dirinya dilakukan secara berlebihan, ia perlu belajar mengendalikan emosi.
  2. Orang yang tidak membela hak dirinya maupun hak Allah. Ia membiarkan dirinya diperlakukan dengan buruk dan tidak memiliki kepedulian ketika agama Allah dilecehkan. Sikap ini menunjukkan kelemahan yang perlu diperbaiki.
  3. Orang yang hanya membela hak dirinya. Ketika harta, kedudukan, atau keluarganya diganggu, ia segera bereaksi. Akan tetapi, ketika agama Allah dihina, ia tidak menunjukkan kepedulian. Dalam penjelasan kajian, kelompok ini dinilai sangat buruk karena kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada hak Allah.
  4. Orang yang membela hak Allah, tetapi memaafkan hak pribadinya. Inilah akhlak yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak mudah membalas perlakuan buruk yang menyangkut dirinya, tetapi tetap membela batasan-batasan Allah ketika dilanggar.

Pembagian ini hendaknya menjadi bahan introspeksi. Jangan sampai kita begitu keras ketika kepentingan pribadi terganggu, tetapi diam ketika melihat kemungkaran. Sebaliknya, jangan pula menjadikan alasan membela agama untuk bertindak melampaui batas.

Membela agama harus dilakukan dengan ilmu, keadilan, dan cara yang dibenarkan syariat.

4. Membiasakan diri memaafkan dan memerintahkan kebaikan

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pedoman yang sangat penting dalam berinteraksi dengan manusia.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf, perintahkanlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A‘raf [7]: 199).

Ayat ini mengandung tiga arahan penting:

  • Menjadi pemaaf. Kita tidak harus memperpanjang setiap kesalahan orang lain. Ada perkara yang dapat diselesaikan dengan memaafkan dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
  • Memerintahkan kebaikan. Dalam keluarga maupun pekerjaan, kita tetap perlu mengarahkan orang lain kepada hal-hal yang benar dan bermanfaat.
  • Berpaling dari kebodohan. Tidak semua perkataan buruk harus dibalas. Terkadang, mengabaikan provokasi justru merupakan sikap yang lebih bijaksana.

Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita tidak berlebihan ketika menghadapi perkataan yang menyakitkan. Apabila suatu perkara dapat diselesaikan dengan jawaban yang secukupnya, tidak perlu ditambah dengan cacian dan penghinaan.

Contoh ketika Rasulullah ﷺ menghadapi perkataan yang menyakitkan

Dalam riwayat sahih, sejumlah orang Yahudi pernah mengucapkan salam dengan pelesetan yang mengandung doa keburukan kepada Rasulullah ﷺ. Aisyah radhiyallahu ‘anha membalas dengan perkataan yang lebih keras, tetapi Rasulullah ﷺ mengarahkannya agar cukup menjawab, “Wa‘alaikum,” yakni “Dan atas kalian juga.”

Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa kita tidak perlu membalas keburukan dengan keburukan yang lebih besar. Bahkan ketika seseorang memiliki alasan untuk marah, ia tetap harus menjaga lisan dan mempertimbangkan akibat perkataannya.

Hal ini bukan berarti semua bentuk penghinaan harus dibiarkan tanpa respons. Maksudnya, respons harus proporsional, tidak zalim, dan tidak melampaui batas.

5. Memerintahkan pekerjaan sesuai kemampuan

Salah satu bentuk akhlak yang baik terhadap pembantu dan karyawan adalah tidak memberikan beban yang melampaui kemampuan mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang majikan mungkin meminta pembantunya mencuci pakaian, membersihkan rumah, memotong rumput, menyiapkan makanan, dan menyelesaikan banyak pekerjaan lainnya dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, pekerjaan tidak selesai dengan baik karena tenaga dan waktu yang tersedia terbatas.

Ketika seseorang memberikan terlalu banyak tugas tanpa mempertimbangkan kemampuan, kemudian marah karena semuanya tidak selesai, persoalannya bukan hanya pada pekerja. Pemberi tugas juga perlu mengevaluasi cara mengatur pekerjaan.

Karena itu, hendaknya kita:

  1. Menyampaikan tugas dengan jelas.
  2. Menentukan prioritas pekerjaan.
  3. Mempertimbangkan waktu dan kemampuan orang yang mengerjakannya.
  4. Tidak menuntut semua hal diselesaikan sekaligus apabila hal itu tidak realistis.
  5. Membantu mencari solusi ketika orang tersebut mengalami kesulitan.
  6. Tidak langsung memarahi seseorang yang belum mampu menyelesaikan tugasnya.

Jika seseorang mampu melaksanakan tugas, kita bersyukur. Jika ia mengalami kesulitan, kita membantu dan mengarahkan. Inilah salah satu bentuk kepemimpinan yang berakhlak baik.

Rasulullah ﷺ juga dikenal sangat pemalu. Beliau tidak biasa menegur seseorang dengan cara yang mempermalukan di hadapan orang lain. Dalam sejumlah keadaan, perubahan raut wajah beliau sudah cukup dipahami oleh para sahabat sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beliau sukai.

Malu yang benar adalah bagian dari akhlak

Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat pemalu, bahkan lebih pemalu daripada seorang gadis yang berada di dalam pingitannya. Riwayat ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari no. 3562 dan Shahih Muslim no. 2320.

Rasa malu yang terpuji bukanlah malu untuk belajar agama, bertanya tentang hukum syariat, atau melakukan kebaikan. Rasa malu yang benar mencegah seseorang melakukan keburukan, mengucapkan perkataan yang tidak pantas, dan memperlakukan orang lain dengan kasar.

Karena itu, apabila kita melihat seseorang melakukan kesalahan, hendaknya kita memilih cara menegur yang tepat. Tidak setiap kesalahan harus ditanggapi dengan bentakan, ancaman, atau penghinaan.

6. Memberikan bagian makanan kepada pembantu

Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan agar pembantu tidak dimarahi atau dipukul. Beliau juga mengajarkan adab dalam urusan makanan.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَتَى أَحَدَكُمْ خَادِمُهُ بِطَعَامِهِ، فَإِنْ لَمْ يُجْلِسْهُ مَعَهُ، فَلْيُنَاوِلْهُ لُقْمَةً أَوْ لُقْمَتَيْنِ، أَوْ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ، فَإِنَّهُ وَلِيَ عِلَاجَهُ

“Apabila pembantu salah seorang di antara kalian datang membawa makanannya, jika ia tidak mengajaknya duduk makan bersama, hendaklah ia memberikan kepadanya satu atau dua suapan, atau satu atau dua bagian makanan. Sebab, pembantu itu telah menangani panasnya makanan dan mengerjakan proses penyiapannya.” (HR. al-Bukhari no. 2557 dan no. 5460).

Hadis ini mengajarkan penghargaan terhadap orang yang telah membantu menyiapkan makanan. Ia telah mengerahkan tenaga, menghadapi panas saat memasak, dan mengerjakan berbagai hal agar makanan siap disajikan.

Jika pembantu tidak diajak makan bersama, Rasulullah ﷺ menganjurkan agar ia tetap diberi bagian.

Pelajaran ini dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga. Ketika ada orang yang membantu menyiapkan makanan, jangan sampai kita memperlakukannya seolah-olah ia tidak memiliki hak untuk dihormati. Demikian pula ketika ada tamu yang datang membawa makanan atau oleh-oleh. Jika memungkinkan, hidangkan makanan tersebut dan nikmati bersama-sama dengan penuh penghormatan.

Adab seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi menunjukkan kemuliaan akhlak seseorang.

7. Menjaga kejelasan ketika memberikan tugas dan amanah

Dalam kajian juga dibahas riwayat yang dinisbatkan kepada Abul ‘Aliyah mengenai kebiasaan menjelaskan atau menghitung sesuatu di hadapan pelayan. Bagian sanad dan redaksi riwayat ini tidak terdengar dengan jelas dalam transkrip, sehingga nomor hadis dan sumber primernya tidak dapat dipastikan di sini.

Namun, penjelasan pemateri mengenai prinsip muamalahnya sangat jelas: hubungan antara majikan dan pekerja harus dibangun di atas kejelasan agar tidak menimbulkan prasangka buruk.

Sebagai contoh, ketika seseorang meminta pekerjanya mengantarkan uang atau barang, hendaknya ia menyampaikan dengan jelas:

  • Barang apa yang harus diberikan.
  • Berapa jumlah atau beratnya.
  • Kepada siapa barang tersebut harus diserahkan.
  • Kapan dan bagaimana tugas tersebut dilaksanakan.

Kejelasan ini bermanfaat bagi kedua belah pihak. Pekerja mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya, sedangkan majikan memiliki dasar yang jelas untuk memeriksa pelaksanaan amanah.

Apabila terjadi kekeliruan, jangan langsung menuduh seseorang telah mengambil, mengurangi, atau menyalahgunakan barang. Periksa dahulu faktanya dan mintalah penjelasan.

Islam mengajarkan pentingnya tabayun atau klarifikasi. Jangan membangun keputusan hanya berdasarkan kabar yang belum jelas, apalagi jika keputusan tersebut dapat merugikan kehormatan orang lain.

Hubungan kerja yang baik membutuhkan kepercayaan, tetapi kepercayaan juga perlu didukung oleh komunikasi yang jelas dan pencatatan yang tertib.

8. Menafkahi keluarga dan orang yang menjadi tanggungan juga bernilai sedekah

Dalam kajian, pemateri menjelaskan riwayat dari Miqdam radhiyallahu ‘anhu mengenai makanan yang diberikan kepada diri sendiri, anak, istri, dan orang yang menjadi tanggungan. Pesan utamanya adalah bahwa pengeluaran sehari-hari dapat menjadi pahala apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Prinsip ini sejalan dengan hadis sahih tentang niat dan nafkah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya.” (HR. al-Bukhari no. 1; hadis ini merupakan bagian dari hadis tentang niat).

Niat memiliki peran penting dalam menentukan nilai suatu amal. Aktivitas yang pada dasarnya mubah, seperti bekerja, membeli kebutuhan rumah tangga, dan memberikan makanan kepada keluarga, dapat menjadi sarana mendapatkan pahala apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai syariat.

Misalnya, seseorang bekerja untuk mencari nafkah yang halal, mencukupi kebutuhan istri dan anak, serta menjalankan tanggung jawabnya. Pekerjaan tersebut tidak hanya dipandang sebagai kegiatan mencari penghasilan, tetapi juga dapat menjadi ibadah karena niat dan tujuan yang baik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ

“Sesungguhnya engkau tidak mengeluarkan suatu nafkah dengan mengharapkan wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan sampai makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.”

(HR. al-Bukhari no. 56 dan Muslim no. 1628, dengan perbedaan redaksi dalam riwayat).

Hadis ini memberikan kabar gembira bahwa perkara sehari-hari dapat bernilai ibadah. Menafkahi keluarga bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi. Jika disertai niat mencari rida Allah, seorang muslim dapat memperoleh pahala dari aktivitas tersebut.

Karena itu, jangan sampai kita begitu dermawan kepada orang luar, tetapi justru pelit dan mengabaikan kebutuhan keluarga sendiri. Jangan pula menganggap bahwa pemberian kepada istri, anak, atau orang yang menjadi tanggungan tidak bernilai sedekah.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Menjaga kehalalan penghasilan. Niat yang baik harus disertai cara memperoleh nafkah yang dibenarkan syariat.
  2. Menunaikan kewajiban. Kebutuhan keluarga hendaknya dipenuhi sesuai kemampuan dan tanggung jawab.
  3. Menghadirkan niat yang benar. Berharap pahala dari Allah ketika bekerja, membeli kebutuhan, atau memberikan nafkah.
  4. Tidak mengabaikan hak orang lain. Memberikan nafkah kepada keluarga tidak membenarkan kezaliman kepada pekerja atau orang lain.

Dengan demikian, kesempatan mencari nafkah dapat menjadi ladang pahala yang berlangsung setiap hari, selama niat dan pelaksanaannya benar.

9. Kisah Rabi‘ah bin Ka‘ab Al-Aslami: Menginginkan kebersamaan dengan Nabi ﷺ di surga

Di antara orang-orang yang melayani Rasulullah ﷺ adalah Rabi‘ah bin Ka‘ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu.

Ia pernah membantu Rasulullah ﷺ pada malam hari dengan menyiapkan air wudu dan keperluan beliau. Setelah itu, Rasulullah ﷺ memintanya untuk menyampaikan apa yang diinginkannya.

Rabi‘ah menjawab bahwa ia ingin menemani Rasulullah ﷺ di surga.

أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ

“Aku memohon kepadamu agar dapat menemanimu di surga.”

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

Artinya: “Kalau begitu, bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu itu dengan memperbanyak sujud.”

(HR. Muslim no. 489).

Permintaan Rabi‘ah menunjukkan tingginya cita-cita seorang muslim. Ia tidak sekadar menginginkan kenikmatan dunia, tetapi mengharapkan kebersamaan dengan Rasulullah ﷺ di surga.

Jawaban Nabi ﷺ juga mengajarkan bahwa harapan besar harus disertai usaha. Memperbanyak sujud merupakan salah satu bentuk ibadah yang dapat menjadi sebab seorang hamba memperoleh kedekatan dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, sesuai dengan kehendak-Nya.

Nabi ﷺ memperhatikan kebutuhan orang yang membantu beliau

Dalam riwayat lain yang dibahas pemateri, Rasulullah ﷺ beberapa kali menanyakan kepada Rabi‘ah apakah ia ingin menikah. Pada awalnya, Rabi‘ah merasa belum mampu karena tidak memiliki harta untuk mahar. Ia juga khawatir jika menikah, dirinya tidak dapat lagi melayani Rasulullah ﷺ sebagaimana sebelumnya.

Rasulullah ﷺ tidak langsung mengabaikannya. Beliau kembali menanyakan hal itu pada kesempatan berikutnya. Ketika akhirnya Rabi‘ah menyatakan kesediaannya, Rasulullah ﷺ mengarahkannya untuk mendatangi sebuah keluarga dari kalangan Anshar.

Keluarga tersebut menyambutnya dengan baik dan menikahkannya dengan seorang perempuan dari keluarga mereka.

Kisah ini menunjukkan perhatian Rasulullah ﷺ terhadap orang yang membantu beliau. Beliau tidak hanya menerima pelayanan Rabi‘ah, tetapi juga memperhatikan kebutuhan dan masa depannya.

Dalam hubungan kerja, pelajaran ini dapat diterapkan dengan memperhatikan keadaan orang yang bekerja bersama kita. Seorang pemimpin tidak cukup hanya menuntut hasil pekerjaan. Ia juga perlu memperhatikan kebutuhan yang wajar, memberikan arahan, dan membantu ketika ada kesulitan yang dapat diatasi.

Namun, kisah tersebut bukan alasan untuk menganggap bahwa pelayanan kepada seorang tokoh agama secara otomatis memberikan hak istimewa tertentu. Pelajaran utamanya adalah perhatian, kepedulian, dan kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ.

10. Menghormati manusia berdasarkan ketakwaannya, bukan status sosialnya

Pemateri menegaskan bahwa orang yang menjadi pembantu atau bawahan tidak boleh dipandang sebagai manusia yang rendah. Selama ia seorang muslim yang beriman dan berusaha taat kepada Allah, ia memiliki kehormatan sebagai seorang hamba Allah.

Seseorang mungkin mempunyai pendidikan tinggi, jabatan penting, dan penghasilan besar. Orang lain mungkin bekerja dengan penghasilan sederhana. Perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap sombong.

Kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan semata-mata oleh jabatan atau kekayaan. Karena itu, jangan mengukur nilai seseorang hanya dari pekerjaan yang ia lakukan.

Seorang pemimpin yang baik tidak merasa dirinya lebih mulia hanya karena memiliki bawahan. Ia memahami bahwa jabatan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Demikian pula, orang yang diberi tanggung jawab mengelola lembaga pendidikan, perusahaan, atau rumah tangga hendaknya menjadikan kedudukannya sebagai sarana berbuat baik, bukan sebagai alat untuk menindas.

11. Tiga kaidah besar dalam bermuamalah dengan bawahan

Pada bagian akhir kajian, pemateri merangkum pelajaran dari hadis-hadis yang telah dibahas menjadi tiga kaidah besar. Ketiganya sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan rumah tangga, tempat kerja, lembaga pendidikan, maupun masyarakat.

Kaidah pertama: Membangun hubungan di atas kasih sayang

Hubungan dengan sesama manusia hendaknya dibangun di atas kasih sayang, kepedulian, dan keinginan untuk memberikan kebaikan. Bukan di atas egoisme, kesombongan, atau kesewenang-wenangan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”

(HR. al-Bukhari no. 6013 dan Muslim no. 2319).

Hadis ini mengingatkan kita bahwa kasih sayang merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim. Apabila kita menginginkan perlakuan yang baik dari orang lain, hendaknya kita terlebih dahulu berusaha memperlakukan mereka dengan baik.

Seorang atasan yang menyayangi bawahannya tidak berarti harus membiarkan semua kesalahan. Ia tetap boleh memberikan arahan, menetapkan aturan, dan menegur pelanggaran. Namun, semua itu dilakukan dengan adil dan bertujuan memperbaiki keadaan.

Demikian pula seorang kepala keluarga. Ia tidak cukup hanya memberikan nafkah, tetapi juga perlu menjaga ucapan, memperhatikan perasaan anggota keluarga, dan membangun suasana rumah yang baik.

Kasih sayang yang benar bukan kelemahan. Justru, diperlukan kekuatan jiwa untuk menahan amarah dan memilih cara yang lebih baik ketika menghadapi kesalahan orang lain.

Kaidah kedua: Menjauhi kezaliman sejauh-jauhnya

Kaidah berikutnya adalah menghindari kezaliman dalam seluruh bentuknya. Jangan sampai kedudukan yang kita miliki membuat kita merasa bebas mengambil hak orang lain atau memperlakukan mereka secara sewenang-wenang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari no. 2447 dan Muslim no. 2579).

Dalam kajian, pemateri juga membawakan sebuah riwayat tentang seseorang yang mengadukan perilaku para budaknya kepada Rasulullah ﷺ. Ia menceritakan bahwa mereka sering berdusta, berkhianat, dan tidak menaati perintahnya sehingga ia kerap memarahi, mencaci, bahkan memukul mereka.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa pada hari kiamat, persoalan tersebut akan diperhitungkan sesuai dengan keadilan Allah. Jika hukuman yang diberikan sesuai dengan kesalahan mereka, persoalannya berbeda dengan hukuman yang melampaui batas. Jika ia menghukum melebihi kesalahan mereka, kelebihan tersebut menjadi tanggung jawab yang akan dihisab.

Orang itu kemudian memilih memerdekakan mereka agar terhindar dari persoalan tersebut.

Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa seseorang tidak boleh menjadikan kesalahan bawahannya sebagai pembenaran untuk melakukan tindakan sewenang-wenang.

Jika pekerja melakukan kesalahan, periksa persoalannya secara adil. Jika ada kerugian, selesaikan berdasarkan fakta dan ketentuan yang berlaku. Jangan sampai hukuman, perkataan, atau tindakan kita justru lebih berat daripada kesalahan yang dilakukan.

Zalim bukan hanya berarti mengambil harta orang lain. Menghina, merendahkan, menuduh tanpa bukti, dan melanggar hak orang lain juga dapat menjadi bentuk kezaliman.

Kaidah ketiga: Banyak memberikan maaf dan memaklumi kekurangan

Kaidah ketiga adalah membiasakan diri memberikan maaf dan mempertimbangkan keadaan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita akan bertemu dengan orang yang memiliki kemampuan, pengalaman, dan karakter berbeda-beda. Tidak semua orang dapat memahami instruksi dengan cepat. Tidak semua pekerja memiliki keterampilan yang sama. Bahkan, orang yang sudah berpengalaman pun masih mungkin melakukan kekeliruan.

Karena itu, seseorang yang memiliki tanggung jawab dan kedudukan lebih tinggi hendaknya tidak selalu menuntut kesempurnaan dari orang lain.

Ada kesalahan yang perlu diperbaiki dengan teguran. Ada pula kekeliruan yang dapat diselesaikan dengan penjelasan dan kesempatan untuk belajar. Kita perlu membedakan antara kesalahan yang disengaja, kelalaian, keterbatasan kemampuan, dan keadaan yang berada di luar kendali seseorang.

Memaafkan bukan berarti menghilangkan seluruh aturan. Memberikan uzur bukan berarti membiarkan pengkhianatan atau pelanggaran terus terjadi. Maksudnya adalah tidak terburu-buru menghukum, tidak berlebihan dalam menyikapi kesalahan, dan tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai alasan untuk merendahkannya.

Jika tiga kaidah ini diterapkan, insyaallah hubungan antara atasan dan bawahan akan menjadi lebih baik. Orang yang bekerja merasa dihargai, sedangkan orang yang memimpin dapat menjalankan amanahnya dengan lebih bijaksana.

12. Penerapan akhlak Nabi ﷺ dalam kehidupan sehari-hari

Berdasarkan pembahasan kajian, ada beberapa langkah praktis yang dapat kita terapkan.

  1. Menjaga lisan. Hindari cacian, bentakan, dan perkataan yang merendahkan, baik kepada pembantu, karyawan, pasangan, anak, maupun orang lain.
  2. Tidak membesar-besarkan kesalahan kecil. Bedakan antara kesalahan yang perlu segera ditangani dan kekeliruan yang cukup diselesaikan dengan penjelasan.
  3. Memberikan tugas sesuai kemampuan. Jelaskan pekerjaan, tentukan prioritas, dan pertimbangkan waktu serta tenaga yang tersedia.
  4. Menghormati hak pekerja. Penuhi hak yang menjadi kewajiban, berikan perlakuan yang adil, dan jangan menggunakan kedudukan untuk menekan orang lain.
  5. Menjaga kejelasan dalam urusan amanah. Sampaikan instruksi secara terperinci, lakukan pencatatan bila diperlukan, dan jangan menuduh tanpa melakukan klarifikasi.
  6. Menghargai orang yang membantu kita. Termasuk dalam urusan sederhana seperti makanan, pelayanan, dan pekerjaan sehari-hari.
  7. Mengoreksi diri sebelum menyalahkan orang lain. Ketika pekerjaan tidak berjalan sebagaimana mestinya, periksa pula apakah instruksi, pembagian tugas, dan pengawasan yang kita berikan sudah memadai.
  8. Menghadirkan niat mencari pahala. Menafkahi keluarga, bekerja dengan jujur, dan memenuhi tanggung jawab dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar serta sesuai syariat.
  9. Meneladani Rasulullah ﷺ. Pelajari bagaimana beliau bersikap kepada orang yang lemah, menghadapi kesalahan, dan mengendalikan kemarahan.
  10. Memohon pertolongan Allah. Akhlak yang baik memerlukan latihan, kesabaran, dan taufik dari Allah. Karena itu, kita perlu terus berdoa agar diberi kemampuan untuk memperbaiki diri.

Penutup

Jemaah kaum muslimin rahimakumullah, dari seluruh pembahasan ini, kita memahami bahwa akhlak Rasulullah ﷺ kepada pembantu dan bawahannya merupakan teladan yang sangat berharga.

Beliau tidak mencela Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu selama masa pengabdiannya. Beliau tidak memukul pembantu dan perempuan. Beliau juga mengajarkan agar pembantu yang telah menyiapkan makanan diberi bagian, serta memberikan contoh tentang perhatian terhadap kebutuhan orang yang membantu beliau.

Semua itu menunjukkan bahwa akhlak Islam tidak berhenti pada ibadah ritual. Akhlak juga harus tampak dalam cara kita memperlakukan orang lain, terutama orang yang berada di bawah tanggung jawab kita.

Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi lisan kita menyakiti orang lain. Jangan sampai kita berbicara tentang akhlak yang mulia, tetapi bersikap sombong kepada bawahan. Jangan pula kita menginginkan orang lain bersabar terhadap kekurangan kita, sementara kita sendiri tidak mau memaklumi kekurangan mereka.

Marilah kita berusaha membangun hubungan dengan sesama manusia di atas kasih sayang, menjauhi kezaliman, serta membiasakan diri memaafkan dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki diri.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk mempelajari hadis-hadis tentang akhlak, mengamalkannya, dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah, Rasul-Nya, para ulama, keluarga, pekerja, serta seluruh kaum muslimin.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button