Ahadits Ishlahul QulubKajian Rutin

Ahadits Ishlahul Qulub #18: Hidayah Hati adalah Karunia Allah

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah. Alhamdulillāhilladzī bini‘matihī tatimmush-shāliḥāt, walhamdulillāhi ‘alā kulli ḥāl. Kita memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.

Hidayah Hati adalah Pemberian Allah

Kaum muslimin dan muslimat yang senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada kesempatan ini Allah masih memberikan kepada kita nikmat berupa kehidupan, kesehatan, kesempatan untuk bertemu, serta kesempatan menghadiri majelis ilmu dan mengkaji hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, khususnya yang berkaitan dengan memperbaiki dan menata hati.

Hati kita senantiasa membutuhkan nasihat dan arahan. Tidak ada arahan yang lebih baik daripada arahan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena beliau membimbing hati umatnya berdasarkan wahyu.

Oleh karena itu, marilah kita banyak bersyukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang telah diberikan kepada kita, termasuk nikmat ketika hati masih dibukakan untuk menerima nasihat dan petunjuk dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Hidayah hati merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak semua orang yang telah diingatkan akan mendapatkan hidayah. Tidak semua orang yang telah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an akan mendapatkan petunjuk untuk kembali kepada Allah.

Karena itu, jangan pernah merasa bahwa hati kita pasti selalu lurus. Kita harus senantiasa mengoreksi diri: apakah hati kita sudah berada di atas petunjuk atau belum?

Patokan lurusnya hati dan istiqamahnya seseorang adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” QS. An-Nahl [16]: 78

Maka kita harus menyadari bahwa manusia pada asalnya tidak mengetahui apa-apa. Kita membutuhkan ilmu, bimbingan, dan terutama hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Doa Nabi untuk Memohon Hidayah dan Pertolongan

Di antara doa yang sangat agung adalah doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa berdoa:

رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرِ الْهُدَى لِي، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ،

رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا، لَكَ ذَكَّارًا، لَكَ رَهَّابًا، لَكَ مِطْوَاعًا، لَكَ مُخْبِتًا، إِلَيْكَ أَوَّاهًا مُنِيبًا،

رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي، وَأَجِبْ دَعْوَتِي، وَثَبِّتْ حُجَّتِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَاهْدِ قَلْبِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ صَدْرِي.

Artinya:

“Wahai Rabbku, bantulah aku dan janganlah Engkau membantu pihak yang melawanku. Tolonglah aku dan janganlah Engkau menolong pihak yang melawanku. Buatlah makar untukku dan janganlah Engkau membuat makar terhadapku. Berilah aku petunjuk dan mudahkanlah hidayah bagiku. Tolonglah aku menghadapi orang yang melampaui batas terhadapku.

Wahai Rabbku, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak mengingat-Mu, banyak takut kepada-Mu, senantiasa taat kepada-Mu, tunduk dan merendahkan diri kepada-Mu, serta selalu kembali dan bertaubat kepada-Mu.

Wahai Rabbku, terimalah taubatku, bersihkanlah dosa-dosaku, kabulkanlah doaku, teguhkanlah hujjahku, luruskanlah lisanku, berilah petunjuk kepada hatiku, dan cabutlah kedengkian serta keburukan yang tersembunyi dalam dadaku.”

HR. Abu Dawud no. 1510, At-Tirmidzi no. 3551, dan Ibnu Majah no. 3830.

Hadis ini merupakan doa yang sangat agung karena mencakup berbagai kebutuhan seorang hamba: pertolongan, hidayah, rasa syukur, zikir, rasa takut kepada Allah, ketaatan, kerendahan hati, taubat, kebersihan hati, keteguhan hujjah, kelurusan lisan, dan petunjuk hati. Riwayat At-Tirmidzi menyebut hadis ini sebagai hasan shahih.

1. Memohon pertolongan kepada Allah

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengawali doanya:

رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ

“Wahai Rabbku, bantulah aku dan janganlah Engkau membantu pihak yang melawanku.”

Seorang hamba tidak akan mampu menjalani kehidupan ini tanpa pertolongan Allah. Dalam belajar, bekerja, menghadapi ujian kehidupan, mendidik keluarga, menjaga diri dari maksiat, dan menjalankan ketaatan, semuanya membutuhkan pertolongan Allah.

Karena itu, jangan menghadapi kehidupan hanya dengan mengandalkan kemampuan diri sendiri. Mintalah pertolongan kepada Zat yang menciptakan, merawat, dan mengatur kehidupan kita.

2. Memohon hidayah dan kemudahan mendapatkan hidayah

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

وَاهْدِنِي وَيَسِّرِ الْهُدَى لِي

“Berilah aku petunjuk dan mudahkanlah hidayah bagiku.”

Ini menunjukkan bahwa seorang hamba tidak hanya membutuhkan hidayah, tetapi juga membutuhkan kemudahan untuk menerima dan menjalankan hidayah tersebut.

Kita membutuhkan hidayah ketika belajar, ketika menghadapi ujian kehidupan, ketika mengambil keputusan, bahkan dalam perkara-perkara yang tampaknya sederhana.

Terlebih dalam menuntut ilmu agama. Tidak setiap orang yang belajar otomatis mendapatkan petunjuk. Ada orang yang ilmunya bertambah, tetapi ketundukannya kepada Allah tidak bertambah. Ada yang semakin banyak mengetahui dalil, tetapi semakin sulit menerima kebenaran.

Salah satu sebab rusaknya ilmu adalah sū’ul-maqṣad, yaitu buruknya tujuan dan niat.

Tujuan utama menuntut ilmu bukan agar seseorang dikenal sebagai ulama, dipuji sebagai orang berilmu, atau mendapatkan kedudukan di tengah manusia. Tujuan menuntut ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan dari diri, mengamalkan ilmu, dan beribadah kepada Allah berdasarkan ilmu tersebut.

Kita dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Karena itu, ilmu yang kita pelajari seharusnya membuat kita semakin sadar akan kebodohan diri dan semakin membutuhkan Allah.

Bahaya Salah Niat dalam Beramal

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperingatkan tentang orang-orang yang secara lahiriah melakukan amal yang sangat besar, tetapi ternyata amal tersebut rusak karena niatnya.

Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa di antara orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati dalam keadaan dianggap sebagai syahid, seorang yang mempelajari ilmu dan Al-Qur’an, serta seorang yang memiliki banyak harta dan gemar bersedekah.

Kepada orang pertama Allah menyebutkan nikmat-Nya. Ia mengakui semua nikmat tersebut. Ketika ditanya apa yang telah dilakukannya dengan nikmat tersebut, ia menjawab bahwa ia berjihad di jalan Allah hingga mati syahid.

Namun Allah berfirman:

كَذَبْتَ

“Engkau berdusta.”

Ia berjihad bukan karena Allah, tetapi agar disebut sebagai orang yang pemberani. Kemudian ia diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian didatangkan orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkan ilmu serta membaca Al-Qur’an. Ia juga mengakui nikmat-nikmat Allah.

Ketika ditanya apa yang telah dilakukannya, ia menjawab bahwa ia mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an karena Allah.

Namun Allah berfirman:

كَذَبْتَ

“Engkau berdusta.”

Ia belajar agar disebut sebagai orang alim dan membaca Al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Kemudian ia diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Hadis tersebut menunjukkan bahwa besarnya suatu amal tidak menjamin keselamatan seseorang apabila niatnya rusak.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadis yang panjang:

أَوَّلُ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ…

“Orang pertama yang diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid. Ia didatangkan, kemudian diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat Allah sehingga ia mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?’

Ia menjawab, ‘Aku berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.’

Allah berfirman, ‘Engkau berdusta. Akan tetapi, engkau berperang agar dikatakan bahwa engkau pemberani, dan itu telah dikatakan.’ …”

Kemudian disebutkan orang yang mempelajari ilmu dan membaca Al-Qur’an, lalu Allah berfirman kepadanya:

كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ

“Engkau berdusta. Akan tetapi, engkau melakukannya agar dikatakan sebagai orang alim dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan sebagai seorang qari, dan itu telah dikatakan.”

HR. Muslim no. 1905.

Hadis ini menjadi peringatan keras agar kita tidak tertipu dengan amal lahiriah. Ilmu, hafalan Al-Qur’an, dakwah, sedekah, jihad, dan berbagai amal besar harus dibangun di atas keikhlasan.

Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur

Doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian berlanjut:

رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا

“Wahai Rabbku, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu.”

Perhatikan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta kepada Allah agar dijadikan sebagai hamba yang syakkār, yaitu banyak bersyukur.

Bersyukur bukan hanya ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Dalam keadaan sulit pun seorang mukmin tetap berusaha melihat nikmat Allah.

Salah satu cara agar mudah bersyukur adalah melihat orang yang kondisinya berada di bawah kita dalam urusan dunia.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”

HR. Muslim no. 2963.

Jika seseorang terus melihat orang yang lebih kaya, rumahnya lebih bagus, kendaraannya lebih mewah, pekerjaannya lebih baik, atau kehidupannya tampak lebih nyaman, ia akan sulit merasa cukup.

Sebaliknya, ketika seseorang melihat orang yang memiliki lebih sedikit kenikmatan dunia, ia akan lebih mudah menyadari betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

Kita masih bisa makan dengan baik, masih memiliki tempat tinggal, masih mempunyai keluarga, kesehatan, kesempatan belajar, dan banyak nikmat lain yang sering kali baru kita sadari ketika melihat orang yang kehilangan nikmat tersebut. Karena itu, biasakan mengucapkan: “Alhamdulillah, Allah masih memberikan ini kepada saya.”

Dengan demikian, syukur tidak hanya menjadi ucapan, tetapi menjadi keadaan hati.

Menjadi Hamba yang Banyak Berzikir

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga berdoa:

لَكَ ذَكَّارًا

“Jadikanlah aku orang yang banyak mengingat-Mu.”

Zikir tidak hanya bermakna mengucapkan subhanallah, alhamdulillah, atau la ilaha illallah. Makna mengingat Allah juga mencakup menghadirkan pengawasan Allah dalam setiap keadaan.

Seseorang yang selalu mengingat Allah akan mempertimbangkan perkataan dan perbuatannya:

“Jika saya melakukan ini, bagaimana penilaian Allah?”

“Tidak ada manusia yang melihat, tetapi bukankah Allah melihat?”

Inilah salah satu bentuk zikir yang sangat penting.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?” QS. Al-‘Alaq [96]: 14.

Kesadaran bahwa Allah selalu melihat akan menjadi pengontrol bagi seorang hamba, baik ketika ia berada di tengah manusia maupun ketika ia sendirian.

Karena itu, majelis ilmu merupakan salah satu sarana untuk memperbanyak zikir dan mengingat Allah. Semakin seseorang menjauh dari ilmu dan majelis ilmu, semakin besar kemungkinan hatinya lalai.

Menjadi Hamba yang Takut kepada Allah

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

لَكَ رَهَّابًا

“Jadikanlah aku orang yang takut kepada-Mu.”

Rasa takut kepada Allah bukan rasa takut yang membuat seseorang berputus asa. Sebaliknya, rasa takut kepada Allah adalah rasa takut yang menjaga seseorang dari dosa dan mendorongnya untuk semakin dekat kepada-Nya. Rasa takut kepada Allah membuat seseorang tetap berada di atas kebenaran meskipun manusia tidak menyukainya.

Ia tidak menjadikan penilaian manusia sebagai standar utama kehidupannya. Ia tidak hidup hanya untuk mendapatkan pujian, popularitas, atau pengakuan manusia. Yang ia pikirkan adalah: apakah Allah ridha atau tidak?

Inilah kebebasan seorang hamba. Ia mencintai Allah, tunduk kepada Allah, dan berusaha menjalankan perintah Allah, bukan menjadi budak penilaian manusia.

Menjadi Hamba yang Taat

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

لَكَ مِطْوَاعًا

“Jadikanlah aku orang yang senantiasa taat kepada-Mu.”

Untuk menjadi hamba yang taat, kita perlu berdoa sekaligus berusaha dan melatih diri untuk disiplin.

Mulailah dari perkara yang wajib, terutama salat lima waktu.

Jaga waktunya, persiapannya, dan kesungguhan dalam melaksanakannya. Ketika seseorang mulai disiplin dalam amalan wajib, ia akan lebih mudah untuk menambah amalan-amalan sunnah.

Ketaatan membutuhkan latihan. Jangan hanya mengandalkan semangat sesaat.

Menjadi Hamba yang Tunduk dan Kembali kepada Allah

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

لَكَ مُخْبِتًا، إِلَيْكَ أَوَّاهًا مُنِيبًا

“Jadikanlah aku orang yang tunduk kepada-Mu, banyak mengadu dan kembali kepada-Mu.”

Seorang mukmin hendaknya selalu kembali kepada Allah.

  • Ketika hati gelisah, kembali kepada Allah.
  • Ketika menghadapi masalah, kembali kepada Allah.
  • Ketika merasa jauh dari ketaatan, segera kembali kepada Allah.
  • Ketika melakukan kesalahan, jangan terus menjauh. Segeralah bertaubat.

Inilah nikmat yang besar: ketika seorang hamba memiliki hati yang selalu kembali kepada Allah.

Memohon Agar Taubat Diterima

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي

“Wahai Rabbku, terimalah taubatku.”

Taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar, tetapi harus disertai perubahan.

Di antara tanda baiknya taubat adalah seseorang berusaha meninggalkan dosa yang biasa ia lakukan dan bertekad untuk tidak kembali kepadanya.

Ia yang dahulu gemar bermaksiat mulai berusaha menjadi hamba yang taat. Ia menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaikinya.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

وَاغْسِلْ حَوْبَتِي

“Bersihkanlah dosa-dosaku.”

Setelah itu:

وَأَجِبْ دَعْوَتِي

“Kabulkanlah doaku.”

Seorang hamba membutuhkan ampunan Allah sekaligus membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap doanya.

Memohon Keteguhan Hujjah dan Kelurusan Lisan

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

وَثَبِّتْ حُجَّتِي

“Teguhkanlah hujjahku.”

Seorang mukmin membutuhkan hujjah yang benar dan kokoh. Kebenaran tidak dibangun hanya berdasarkan perasaan atau pendapat manusia, tetapi berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Kemudian beliau berdoa:

وَسَدِّدْ لِسَانِي

“Luruskanlah lisanku.”

Lisan merupakan salah satu perkara yang paling perlu dijaga.

Semoga Allah menjadikan lisan kita hanya mengucapkan kebenaran, perkataan yang baik, perkataan yang bermanfaat, dan perkataan yang menghasilkan pahala.

Jangan sampai lisan menjadi sebab datangnya dosa.

Hidayah Hati: Titik Utama

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

وَاهْدِ قَلْبِي

“Berilah petunjuk kepada hatiku.”

Inilah salah satu bagian paling penting dalam doa tersebut.

  • Hati manusia sangat lemah dan mudah berubah. Karena itu, jangan pernah merasa aman dari perubahan hati.
  • Hari ini seseorang bisa bersemangat dalam ketaatan, tetapi kita tidak mengetahui bagaimana keadaannya di akhir hidupnya.
  • Hari ini seseorang bisa berbicara tentang kebaikan, tetapi kita tidak mengetahui bagaimana akhir perjalanannya.

Karena itu, seorang mukmin harus senantiasa meminta kepada Allah agar hatinya tetap berada di atas kebenaran.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian benar-benar melakukan amalan ahli surga hingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta. Kemudian ketetapan yang telah ditulis mendahuluinya, lalu ia melakukan amalan ahli neraka sehingga ia masuk ke dalamnya.” HR. Al-Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643.

Hadis ini bukan alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah. Justru hadis ini mengajarkan agar kita tidak merasa aman terhadap diri sendiri dan terus meminta keteguhan kepada Allah.

Kita tidak memiliki jaminan terhadap diri kita sendiri. Karena itu, selalu koreksi hati, perbaiki amal, jauhi maksiat, dan terus berdoa agar Allah memberikan husnul khatimah.

Membersihkan Keburukan yang Tersembunyi dalam Dada

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga berdoa:

وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ صَدْرِي

“Cabutlah keburukan yang tersembunyi dalam dadaku.”

Di dalam hati manusia terkadang terdapat kedengkian, kebencian, kesombongan, penyakit hati, dan berbagai bisikan yang tidak baik. Karena itu, bukan hanya amal lahiriah yang perlu diperbaiki. Hati juga harus dibersihkan. Jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan amal, tetapi lupa memperbaiki keadaan hati.

Cinta kepada Iman adalah Karunia Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat menanamkan kecintaan kepada iman di dalam hati seorang hamba.

Allah berfirman:

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ

“Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.” QS. Al-Hujurat [49]: 7

Ketika Allah memberikan kecintaan kepada iman, seorang hamba akan merasakan nikmat ketika beribadah, mencintai ketaatan, dan membenci kemaksiatan.

Karena itu, jangan hanya meminta kepada Allah agar diberikan kenikmatan dunia. Mintalah agar Allah memberikan kecintaan kepada iman dan menjaga hati kita di atas kebenaran.

Tujuh Permohonan Besar dalam Hadis

Jika diringkas, doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut mengandung beberapa permohonan besar yang sangat penting bagi kehidupan seorang muslim:

1. Memohon pertolongan kepada Allah:

Jangan pelit berdoa. Dalam setiap urusan, mintalah pertolongan Allah. Kita membutuhkan Allah dalam belajar, bekerja, berkeluarga, berdakwah, beribadah, dan menghadapi berbagai ujian kehidupan.

2. Memohon hidayah

Mintalah agar hati selalu dibimbing dan dimudahkan untuk menerima serta mengikuti petunjuk Allah.

3. Memohon menjadi hamba yang pandai bersyukur dan banyak berzikir

Syukur dan zikir harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Seorang yang membiasakan dirinya dengan ketaatan akan lebih mudah mengakhiri hidupnya dalam keadaan taat. Karena itu, jangan hanya berharap mendapatkan husnul khatimah, tetapi bangun kebiasaan yang mengantarkan kepadanya.

4. Memohon rasa takut kepada Allah dan ketundukan hati

Rasa takut kepada Allah menjaga seseorang dari kemaksiatan, terutama ketika tidak ada manusia yang melihatnya.

5. Memohon agar selalu kembali kepada Allah

Ketika melakukan kesalahan, segera kembali. Ketika hati gelisah, kembali kepada Allah. Ketika menghadapi masalah, kembali kepada Allah.

6. Memohon taubat dan pembersihan dosa

Seorang manusia pasti memiliki kekurangan dan dosa. Karena itu, jangan pernah berhenti memohon ampun dan memperbaiki diri.

7. Memohon agar hati dibersihkan

Mohon kepada Allah agar hati dibersihkan dari kesombongan, kedengkian, kebencian, iri hati, dan berbagai penyakit hati.

Jangan Hidup Berdasarkan Penilaian Manusia

Salah satu penyakit zaman ini adalah terlalu memperhatikan penilaian manusia.

  • Sebagian orang lebih takut kehilangan pengikut daripada takut kehilangan amal.
  • Lebih takut kehilangan pujian daripada takut kehilangan keikhlasan.
  • Lebih takut manusia menjauh daripada takut jauh dari Allah.

Seorang mukmin harus belajar membebaskan hatinya dari ketergantungan kepada penilaian manusia. Selama berada di atas kebenaran dan sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, jangan menjadikan komentar manusia sebagai standar utama.

  • Allah yang melihat kita.
  • Allah yang mengetahui hati kita.
  • Allah yang mengetahui amal yang tersembunyi.

Karena itu, selalu ingat:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?” QS. Al-‘Alaq [96]: 14.

Ayat ini seharusnya menjadi pengingat dalam kehidupan sehari-hari.

  • Ketika sendirian, Allah melihat.
  • Ketika bersama manusia, Allah melihat.
  • Ketika beribadah, Allah melihat.
  • Ketika bermaksiat, Allah melihat.
  • Ketika kita membela kebenaran, Allah melihat.

Allah Akan Menolong Orang yang Menolong Agama-Nya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” QS. Muhammad [47]: 7.

Karena itu, jangan takut ketika berada di atas kebenaran. Tugas kita adalah berusaha berada di atas kebenaran, mengamalkannya, dan memohon pertolongan Allah agar tetap teguh.

Penutup

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah.

  • Hati adalah perkara yang sangat penting. Kita tidak boleh merasa aman dengan hati kita sendiri.
  • Hari ini kita berada dalam keadaan baik, tetapi kita tetap membutuhkan pertolongan Allah agar tetap baik.
  • Hari ini kita berada dalam keadaan taat, tetapi kita tetap membutuhkan pertolongan Allah agar istiqamah.
  • Hari ini kita mencintai ilmu dan majelis ilmu, tetapi kita tetap membutuhkan pertolongan Allah agar ilmu tersebut menjadi petunjuk dan amal.

Karena itu, perbanyaklah doa:

رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ

“Wahai Rabbku, bantulah aku.”

وَاهْدِنِي وَيَسِّرِ الْهُدَى لِي

“Berilah aku petunjuk dan mudahkanlah hidayah bagiku.”

رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا، لَكَ ذَكَّارًا، لَكَ رَهَّابًا، لَكَ مِطْوَاعًا

“Wahai Rabbku, jadikanlah aku hamba yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak mengingat-Mu, takut kepada-Mu, dan senantiasa taat kepada-Mu.”

رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي، وَأَجِبْ دَعْوَتِي

“Wahai Rabbku, terimalah taubatku, bersihkanlah dosa-dosaku, dan kabulkanlah doaku.”

وَاهْدِ قَلْبِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ صَدْرِي

“Berilah petunjuk kepada hatiku, luruskanlah lisanku, dan cabutlah keburukan yang tersembunyi dalam dadaku.”

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita hati yang istiqamah, hati yang mencintai iman, hati yang mencintai ketaatan, hati yang takut kepada Allah, hati yang senantiasa kembali kepada Allah, serta hati yang bersih dari berbagai penyakit.

Semoga Allah menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah dan mengumpulkan kita bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan orang-orang saleh.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Wa billāhit-taufīqi wal-hidāyah.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button