Ahadits Ishlahul QulubKajian Rutin

Ahadits Ishlahul Qulub #16: Nasihat adalah Hidupnya Hati

بسم الله الرحمن الرحيم
 
📚┃Materi : “Pesan Nabi Dalam Menata Hati” – Ahadits Ishlahul Qulub#16
✍🏼Karya : Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad Al-Badr حفظه الله تعالى
🎙┃Pemateri : Ustadz Fadzla Mujadid, Lc حفظه الله تعالى (Alumnus Universitas Islam Madinah KSA Fakultas Dakwah)
🗓┃Hari & Tanggal : Kamis, 27 Agustus 2026 M / 14 Rabiul Awal 1448
🕰┃Waktu : Ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat : Masjid Al Mubarok – Kampung Gondang Wetan Jl.Bangau I, Manahan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta



Nasihat-Nasihat Nabi dalam Memperbaiki dan Menghidupkan Hati

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn. Wabihi nasta‘īnu ‘alā umūrid-dunyā wad-dīn. Waṣallallāhu wa sallama ‘alā nabiyyinā wa ḥabībinā wa khairi nabiyyinā Muḥammadin, wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Amma ba‘du.

Jamaah kaum muslimin, Bapak dan Ibu sekalian yang senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan, marilah kita memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan taufik, hidayah, dan inayah-Nya kepada kita, sehingga sampai saat ini kita masih dipertemukan dalam sebuah majelis ilmu untuk mengkaji petunjuk-petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memperbaiki hati.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para istri beliau, serta para sahabat beliau yang telah berkorban demi tersebarnya agama ini dan tersampaikannya risalah Islam kepada kita sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Oleh karena itu, Bapak dan Ibu jamaah rahimakumullah, mari kita memperbanyak shalawat kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi, memperbanyak shalawat pada hari Jumat merupakan salah satu sunnah yang banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin.

Perlu dibedakan antara shalawat dan apa yang biasa disebut selawatan.

Shalawat adalah pujian dan doa kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafaz dan tata cara yang diajarkan oleh beliau dalam hadis. Adapun berbagai bentuk selawatan yang dibuat-buat dan mengandung pujian yang berlebihan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga melebihi kedudukan yang Allah berikan kepada beliau, maka hal tersebut perlu dihindari.

Nasihat Adalah Kehidupan bagi Hati

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita memasuki pembahasan hadis-hadis yang saya pilih secara tematik, yaitu hadis-hadis yang sangat relevan dan kita butuhkan sebagai nasihat untuk diri kita.

Ada sebuah ungkapan yang menjadi tema pembahasan kita:

“Al-mawā‘iz ḥayātul-qulūb” — nasihat-nasihat adalah kehidupan bagi hati.

Kita perlu memahami bahwa manusia, khususnya orang-orang beriman, sangat membutuhkan nasihat. Manusia terkadang lurus, tetapi terkadang menyimpang. Terkadang semangat, tetapi terkadang lemah. Terkadang berada di jalan yang benar, tetapi terkadang berubah arah.

Karena itulah kita membutuhkan nasihat.

Terlebih lagi hati kita. Hati manusia sangat lemah. Ia membutuhkan penguat ketika mulai melemah dan membutuhkan nasihat ketika mulai menyimpang.

Sebagai hamba Allah yang lemah, kita menyadari bahwa iman kita terkadang naik dan terkadang turun. Kita tidak seperti para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki kekuatan iman luar biasa, sementara mereka juga menghadapi ujian dan badai kehidupan yang sangat berat.

Di zaman kita, berbagai fitnah begitu banyak dan datang dari berbagai arah, sementara hati kita sangat lemah. Karena itu, hadis-hadis tentang nasihat sangat kita butuhkan agar hati kita tetap hidup.

Nasihat Nabi kepada Para Sahabat

Hadis pertama diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi serta dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah. Hadis ini berasal dari sahabat mulia Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu.

Matan Hadits:

عَن أَبي نَجِيحٍ العربَاضِ بنِ سَاريَةَ رضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنا رَسُولُ اللهِ مَوعِظَةً وَجِلَت مِنهَا القُلُوبُ وَذَرَفَت مِنهَا العُيون. فَقُلْنَا: يَارَسُولَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوصِنَا، قَالَ: (أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عز وجل وَالسَّمعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلافَاً كَثِيرَاً؛ فَعَلَيكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المّهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فإنَّ كلّ مُحدثةٍ بدعة، وكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ) رواه أبو داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح.

Dari Abu Najih Al ‘Irbadh bin Sariyah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah memberikan mau’izhah (pelajaran) kepada kami dengan nasihat yang  membuat hati   bergetar dan mengucurkan air mata. Kami berkata: “Wahai Rasulullah, seakan ini adalah pelajaran perpisahan, berikanlah kami wasiat.” Beliau bersabda:  “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertawa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengar dan taatlah walau pun yang memerintahkan kalian adalah seorang budak. Barang siapa di antara kalian yang masih hidup, niscaya akan banyak melihat perselisihan. Maka hendaknya kalian memegang sunahku dan sunah para Khulafa Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk, gigitlah dengan geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara-perkara yang baru, karena setiap yang baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”  Diriwayatkan oleh Abu Daud dan At Tirmidzi, katanya: hasan shahih.

Takhrij Hadits:

  • Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 4607
  • Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 2676
  • Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 17142, 17144, 17145
  • Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak 329
  • Imam Ad Darimi  dalam Sunannya No. 95
  • Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 5
  • Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir 617, juga Musnad Asy Syamiyin No. 437, 1180, 1379
  • Imam Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shahabah 4995
  • Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 102
  • Dll

Sebagaimana dikatakan Imam An Nawawi, bahwa Imam At Tirmidzi mengatakan dalam Sunannya bahwa hadits ini hasan shahih. Imam Al Baghawi mengatakan: hasan. (Syarhus Sunnah No. 102). Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: shahih.  (Sunan Ad Darimi No. 95). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 17142). Syaikh Al Albani menshahihkan dalam berbagai kitabnya. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4607, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2676, Shahih At Targhib wat Tarhib No. 37, dll). Imam Al Hakim mengatakan: shahih tidak ada cacat. (Al Mustadrak No. 329, disepakati oleh Imam Adz Dzahabi)

Beliau menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama para sahabat. Setelah selesai shalat, beliau menghadap kepada mereka dan memberikan nasihat yang sangat mendalam.

Nasihat tersebut membuat mata para sahabat berkaca-kaca dan hati mereka bergetar.

Kemudian salah seorang sahabat berdiri dan berkata:

“Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan. Seolah-olah setelah ini kami tidak akan berjumpa lagi denganmu. Maka berikanlah wasiat kepada kami.”

Peristiwa ini menunjukkan bahwa dalam sebuah majelis ilmu, seseorang boleh langsung bertanya apabila ada sesuatu yang ingin diketahui. Para sahabat pun demikian. Mereka tidak segan bertanya langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan beberapa nasihat yang sangat penting.

1. Bertakwa kepada Allah

Nasihat pertama adalah:

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah.”

Takwa merupakan wasiat Allah kepada umat terdahulu maupun umat yang datang kemudian.

Takwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah. Takwa adalah hidup dengan kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat dan mengawasi kita. Dengan kesadaran tersebut, seseorang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya di mana pun ia berada.

2. Mendengar dan Taat

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda agar kita mendengar dan taat, termasuk kepada pemimpin, sekalipun pemimpin tersebut secara status sosial berada di bawah kita.

Ini merupakan pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat penting. Beliau telah mengabarkan bahwa akan muncul berbagai perselisihan dan kegaduhan di tengah kaum muslimin.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar siapa yang paling keras berkomentar, siapa yang paling banyak berbicara, atau siapa yang paling keras menyampaikan kritik. Yang paling dibutuhkan adalah hati yang takut kepada Allah.

Kita dapat melihat bagaimana hiruk-pikuk kehidupan hari ini. Orang berkomentar di sana-sini, menghujat satu pihak dan menghujat pihak lainnya. Bahkan kaum muslimin sendiri terkadang ikut larut dalam kegaduhan tersebut.

Maka wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat relevan: bertakwalah kepada Allah, berhati-hatilah dalam berbicara, berhati-hatilah dalam berkomentar, dan berhati-hatilah ketika menulis sesuatu.

Ketika kita tidak ridha terhadap suatu keadaan atau tidak menyukai kebijakan seorang pemimpin, kita tetap harus mempertimbangkan maslahat umum masyarakat dan stabilitas kehidupan bersama. Jangan sampai seseorang memperturutkan kehendak dan ambisinya sehingga menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

3. Bersiap Menghadapi Perselisihan

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang-orang yang hidup setelah beliau akan melihat banyak perselisihan.

Ini menunjukkan bahwa Nabi telah mengabarkan kepada umatnya tentang berbagai ujian yang akan terjadi.

Perpecahan di tengah kaum muslimin merupakan realitas yang telah terjadi sejak dahulu. Karena itu, kita tidak cukup hanya bersemangat menyerukan persatuan tanpa memahami bagaimana persatuan itu dibangun.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jalan keselamatan:

“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku.”

Yang dimaksud dengan sunnah Nabi adalah ajaran beliau. Adapun Khulafaur Rasyidin adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum.

Nabi tidak sekadar mengatakan agar kita mengetahui sunnah, tetapi agar kita berpegang teguh dengannya.

Bahkan beliau memerintahkan agar kita menggigitnya dengan gigi geraham, sebagai gambaran betapa kuatnya seseorang harus memegang sunnah.

Inilah salah satu kunci keselamatan dan persatuan. Ketika kaum muslimin kembali kepada ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berpegang teguh dengannya, maka persatuan yang benar akan terbentuk di atas dasar yang benar pula.

Waspada terhadap Perkara Baru dalam Agama

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memberikan peringatan:

“Jauhilah perkara-perkara yang baru.”

Maksudnya adalah perkara baru dalam agama yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah agama disempurnakan oleh Allah dan Rasul-Nya, kemudian muncul berbagai perkara baru yang dimasukkan ke dalam agama, baik dalam masalah keyakinan, ibadah, ucapan, perayaan, maupun bentuk-bentuk pendekatan diri kepada Allah yang tidak pernah diajarkan.

Inilah yang perlu diwaspadai.

Tidak setiap sesuatu yang baru dalam kehidupan dunia otomatis merupakan keburukan. Perkara baru yang berkaitan dengan urusan dunia, ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai sarana kehidupan tidak termasuk dalam pembahasan ini.

Yang dimaksud adalah perkara baru dalam agama, yaitu sesuatu yang diyakini sebagai bagian dari agama, dianggap memiliki keutamaan atau pahala, dan dijadikan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, padahal tidak ada tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa setiap perkara baru dalam agama merupakan bid‘ah, dan setiap bid‘ah merupakan kesesatan.

Mengapa? Karena ajaran Islam telah disempurnakan. Ketika seseorang mencari jalan baru untuk mendekatkan diri kepada Allah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti ia telah mengambil jalan di luar petunjuk yang telah sempurna.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan peringatan agar seseorang tidak menyelisihi Rasul setelah datang kepadanya petunjuk dan tidak mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman.

Para ulama menjelaskan bahwa jalan orang-orang beriman dalam ayat tersebut berkaitan dengan jalan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah generasi yang paling memahami dan paling kuat dalam mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nasihat Tidak Harus Diberikan Setiap Hari

Jamaah rahimakumullah, dari hadis tadi kita juga mendapatkan pelajaran tentang cara memberikan nasihat.

Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada suatu hari. Bukan setiap hari.

Ini menunjukkan pentingnya mengatur frekuensi nasihat.

Nasihat tidak harus diberikan terus-menerus setiap hari. Terkadang perlu diberikan, kemudian diberi jeda. Sebab jika seseorang terus-menerus mendapatkan nasihat tanpa jeda, bisa muncul rasa bosan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasihat yang sangat panjang kepada para sahabat, bahkan dalam sebuah kesempatan beliau menyampaikan penjelasan tentang perjalanan menuju negeri akhirat dalam waktu yang panjang. Namun hal tersebut tidak berarti bahwa beliau selalu melakukan demikian setiap hari.

Pelajaran dari Abdullah bin Mas’ud

Hadis kedua diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dari Abu Wa’il, beliau menceritakan bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memberikan nasihat kepada manusia setiap hari Kamis.

Kemudian seseorang berkata kepadanya:

“Wahai Abu Abdurrahman, seandainya engkau mengingatkan kami setiap hari.”

Abdullah bin Mas’ud menjawab bahwa sebenarnya yang menghalanginya melakukan hal tersebut adalah kekhawatiran membuat mereka bosan.

Beliau mengatakan bahwa dirinya memberikan nasihat dengan memperhatikan waktu dan keadaan, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan waktu dalam memberikan nasihat kepada para sahabat agar mereka tidak merasa bosan.

Ini merupakan pelajaran penting bagi kita.

Materi yang bagus pun dapat kehilangan pengaruh apabila disampaikan terlalu sering.

Misalnya materi tentang akidah dan tauhid. Materinya sangat penting, tetapi apabila terus-menerus disampaikan tanpa variasi dan tanpa jeda, pengaruhnya bisa berkurang.

Nasihat Harus Memperhatikan Kondisi Pendengar

Perhatian manusia memiliki batas. Kemampuan berkonsentrasi juga berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan usia seseorang.

Karena itu, seorang dai atau orang yang ingin memberikan nasihat perlu mempertimbangkan keadaan orang yang dinasihati.

Apabila pendengar sudah lelah, lapar, atau pikirannya sedang dipenuhi berbagai persoalan, nasihat yang diberikan mungkin tidak akan masuk dengan baik.

Demikian pula ketika seseorang sedang gelisah atau menghadapi masalah. Kita perlu memilih waktu yang tepat agar nasihat benar-benar dapat diterima.

Tujuan kita menasihati bukan sekadar meluapkan isi hati, tetapi agar nasihat tersebut masuk ke dalam hati orang yang kita nasihati.

Ini juga berlaku ketika kita menasihati anak, keluarga, teman, atau orang lain.

Jangan sampai nasihat diberikan setiap hari dengan nada tinggi dan penuh emosi. Lama-kelamaan orang yang dinasihati bukan hanya tidak menerima nasihat, bahkan sudah bisa menebak apa yang akan kita katakan.

Akhirnya nasihat kehilangan pengaruh.

Pentingnya Variasi dalam Menyampaikan Nasihat

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menukilkan arahan agar seseorang yang memberikan nasihat tidak terus-menerus membebani manusia dengan nasihat.

Hal ini bukan berarti mengurangi ilmu.

Seseorang yang rajin menghadiri kajian pun memiliki masa semangat dan masa jenuh. Setelah lama tidak ada kajian, misalnya, seseorang bisa kembali sangat bersemangat menuntut ilmu. Namun setelah beberapa tahun, semangat tersebut mungkin kembali menurun.

Karena itu, penyelenggara kajian juga perlu memperhatikan variasi.

Bukan berarti kajian harus selalu banyak atau setiap hari. Jika kajian terlalu sering dan tidak ada variasi, pendengar bisa merasa bosan.

Terkadang diperlukan jeda. Setelah itu, kegiatan bisa dihidupkan kembali dengan bentuk dan pendekatan yang lebih sesuai dengan kondisi jamaah.

Khutbah yang Ringkas tetapi Bermakna

Hadis ketiga berasal dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu. Beliau menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memperpanjang nasihat pada hari Jumat, termasuk khutbah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah khutbahnya ringkas dan shalatnya panjang.

Ini merupakan fikih yang perlu diperhatikan oleh seorang khatib.

Bukan berarti khutbah yang semakin pendek otomatis semakin baik. Yang dimaksud adalah khutbah yang ringkas tetapi sempurna maknanya: padat, jelas, dan sesuai kebutuhan jamaah.

Jangan terlalu panjang hingga membuat jamaah bosan. Namun jangan pula terlalu pendek sampai pesan yang disampaikan tidak jelas.

Seorang khatib perlu memperhatikan kemampuan jamaah dalam menerima materi. Khutbah bukanlah tempat untuk menyampaikan materi yang terlalu panjang seperti sebuah daurah.

Dalam khutbah Jumat, hendaknya seorang khatib memilih kalimat yang ringkas, tetapi memiliki makna yang kuat.

Jamaah Juga Harus Memperhatikan Khutbah

Ketika khatib sedang menyampaikan khutbah, jamaah hendaknya diam dan mendengarkan.

Jangan sibuk bermain-main, berbicara, atau menggunakan telepon genggam untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan khutbah.

Apalagi sampai bermain gim ketika khatib sedang menyampaikan nasihat.

Ini merupakan sesuatu yang perlu menjadi perhatian kita bersama.

Dahulu, ketika khatib naik mimbar, suasana masjid begitu tenang. Anak-anak sekalipun diarahkan untuk mendengarkan dan memperhatikan.

Karena itu, selain khatib perlu memperhatikan durasi dan cara menyampaikan khutbah, jamaah juga perlu menghormati khutbah dengan mendengarkannya.

Nasihat Harus Dicari ketika Hati Mulai Gersang

Jamaah rahimakumullah, bagaimana agar kita tetap mendapatkan manfaat dari nasihat?

Pertama, kita harus menyadari bahwa kita bukanlah manusia yang selalu lurus dan selalu benar.

Kita memiliki banyak kekurangan dan kesalahan. Karena itu, kita membutuhkan nasihat.

Kita juga perlu mengenali kondisi hati kita.

Ketika hati mulai gundah, mulai gersang, atau terasa jauh dari kebaikan, coba kita evaluasi diri. Bisa jadi kita sudah jarang menghadiri majelis ilmu.

Di antara tujuan menghadiri majelis ilmu bukan sekadar mendengarkan ilmu atau mencatat materi. Ada keberkahan yang kita harapkan dari majelis tersebut.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang-orang yang berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca dan mempelajari Kitabullah. Ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.

Subhanallah.

Ini merupakan keutamaan yang sangat besar.

Karena itu, ketika hati kita mulai terasa kosong, jangan hanya mencari hiburan dunia. Carilah majelis ilmu. Duduklah sejenak di dalamnya. Meskipun kita belum memahami seluruh materi, keberadaan kita di majelis ilmu merupakan salah satu sebab datangnya ketenangan.

Jangan Takut Memberikan Jeda

Kita juga perlu memahami bahwa rasa jenuh merupakan sesuatu yang bisa terjadi.

Ketika kita merasa ilmu yang dipelajari sudah terasa biasa dan tidak lagi menggerakkan hati seperti sebelumnya, mungkin kita membutuhkan jeda.

Bukan berarti meninggalkan ilmu.

Kita dapat mengatur kembali aktivitas kita. Mungkin sementara waktu mengganti bentuk kegiatan dengan membaca Al-Qur’an, menghafalnya, mempelajari sesuatu yang lain, atau melakukan aktivitas bermanfaat lainnya.

Setelah itu, kita kembali lagi kepada majelis ilmu dengan semangat yang baru.

Yang penting adalah jangan sampai hati kita benar-benar jauh dari ilmu dan nasihat.

Penutup

Bapak dan Ibu jamaah rahimakumullah, demikianlah sebagian nasihat yang dapat kita ambil dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga kita memahami bahwa nasihat merupakan kehidupan bagi hati.

Hati kita membutuhkan nasihat agar tetap hidup dengan keimanan, ketaatan, dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga setiap nasihat yang kita dengarkan tidak sekadar menjadi pengetahuan, tetapi benar-benar masuk ke dalam hati, memperbaiki diri kita, dan mendorong kita untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button