Ahadits Ishlahul Qulub #14 | Al-Qur’an: Salah Satu Jalan Utama Memperbaiki Hati

Alhamdulillah, senantiasa kita memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Karena kasih sayang Allah, kita masih diberi kesempatan untuk kembali berjumpa di salah satu rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kita patut bersyukur atas kemurahan Allah yang masih memberikan kita hati dan iman, sehingga iman tersebut menggerakkan kita untuk hadir di majelis ilmu.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para sahabat, serta siapa saja yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.
Hati Manusia Mudah Berubah
Pembahasan kita kali ini berkaitan dengan petunjuk Nabi ﷺ dalam menata dan memperbaiki hati.
Kita perlu memberikan perhatian yang besar terhadap hati karena hati manusia sangat mudah berubah, mudah terombang-ambing, mudah terpengaruh, bahkan seseorang dapat berubah dalam waktu yang sangat singkat.
Ada orang yang pagi harinya masih dalam keadaan beriman, tetapi sorenya berubah menjadi kafir dan murtad. Sebaliknya, ada pula yang sore harinya masih beriman, tetapi keesokan paginya telah berubah.
Perubahan hati itu dapat terjadi pada siapa saja, apa pun status sosial dan keadaan seseorang. Bahkan ada orang yang sebelumnya dikenal sebagai penuntut ilmu, kemudian menjadi murtad karena mimpi-mimpi yang menyesatkan. Ada pula seseorang yang setelah melaksanakan umrah justru mengalami perubahan yang buruk.
Ini semua menunjukkan betapa cepatnya perubahan hati manusia.
Karena itu, Nabi ﷺ telah memperingatkan kita:
“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datang berbagai fitnah.”
Satu-satunya cara agar kita tetap tegar dan istiqamah di atas jalan Allah adalah senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Dan jalan untuk mendekat kepada Allah adalah dengan ibadah dan ketaatan.
Kita tidak mungkin lari dari ujian dan fitnah. Terlebih lagi pada zaman kita, berbagai fitnah datang bertubi-tubi. Jika seseorang kuat menghadapi syubhat, bisa jadi ia diuji melalui syahwat. Jika ia kuat menghadapi syahwat, bisa jadi ia diuji melalui syubhat.
Setan tidak rela masuk neraka sendirian. Ia ingin memiliki banyak pengikut.
Nabi ﷺ juga menggambarkan fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap. Semakin malam, kegelapan semakin pekat. Demikian pula fitnah, semakin lama dapat semakin besar dan berat.
Namun, sebesar apa pun kegelapan, ia tidak akan berlangsung selamanya. Akan ada saatnya cahaya muncul.
Karena itu, jangan sampai kita terlena. Hati harus selalu dijaga dan diperbaiki.
Al-Qur’an: Salah Satu Jalan Utama Memperbaiki Hati
Kita harus senantiasa memberikan perhatian terhadap kondisi hati. Perbaikilah hati dengan ilmu, menghadiri majelis ilmu, beramal, dan memperbanyak zikir kepada Allah.
Di antara petunjuk Nabi ﷺ dalam memperbaiki hati adalah senantiasa bersama Al-Qur’an.
Jangan lupakan Al-Qur’an. Jangan tinggalkan Al-Qur’an meskipun hanya membacanya sebentar. Jangan sampai ada satu hari yang kita lalui dalam keadaan kosong dari Al-Qur’an.
Ketika hati kosong dari Al-Qur’an, hati akan mulai menjadi keruh. Ia semakin terasa gersang. Dan tidak ada yang dapat menyiraminya seperti zikir kepada Allah.
Di antara zikir yang paling agung adalah membaca Al-Qur’an dan mentadaburinya.
Ahlul Qur’an adalah Keluarga Allah
Disebutkan dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.
Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Mereka adalah Ahlul Qur’an, keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.”
Yang dimaksud Ahlul Qur’an bukan semata-mata orang yang menghafal Al-Qur’an.
Seseorang yang hafal 30 juz belum tentu termasuk Ahlul Qur’an jika hari-harinya tidak diisi dengan Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an merupakan sesuatu yang mulia, tetapi seseorang harus naik ke tingkatan berikutnya: memahami, mentadaburi, mengamalkan, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Tingkatan Berinteraksi dengan Al-Qur’an
Nabi ﷺ juga bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Hadis ini memberikan isyarat tentang pentingnya mempelajari Al-Qur’an.
Mempelajari Al-Qur’an memiliki beberapa tingkatan.
Pertama, mempelajari cara membacanya dengan benar.
Kedua, mempelajari makna dan tafsirnya.
Ketiga, mempelajari bagaimana mengamalkan hukum-hukum dan petunjuk yang terkandung di dalamnya.
Maka hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: sudah sampai di mana kita dalam menjadi Ahlul Qur’an?
Jangan merasa cukup hanya dengan menghafal Al-Qur’an atau membacanya dengan suara yang indah. Itu baru bagian lahiriah. Kita perlu melangkah lebih jauh dengan mempelajari kandungannya, memahami tafsirnya, mengetahui hukum-hukumnya, kemudian mengamalkannya.
Itulah hakikat seseorang yang benar-benar hidup bersama Al-Qur’an.
Tidak Sekadar Hafal, tetapi Harus Membekas
Di antara bahaya yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang hanya berhenti pada hafalan.
Al-Qur’an seharusnya memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku. Jika seseorang menghafal Al-Qur’an tetapi salatnya tidak diperhatikan, akhlaknya tidak baik, pergaulannya tidak dijaga, tidak memiliki sifat qanaah, dan tidak peduli terhadap tauhid, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Jangan sampai seseorang hanya berlomba menunjukkan kepada manusia bahwa bacaannya merdu, tetapi tidak memperhatikan keikhlasan. Jika seseorang beramal agar dipuji manusia, hal itu dapat menjadi penyakit riya dan termasuk perkara yang sangat berbahaya.
Karena itu, ketika Allah memberikan seseorang kemampuan mempelajari Al-Qur’an, hendaknya ia memiliki semangat untuk mempelajarinya, memahami kandungannya, mengamalkannya, dan mengajarkannya.
Untuk memperoleh ilmu, dibutuhkan kesungguhan.
Sebagaimana ungkapan yang masyhur:
“Man jadda wajada.”
Barang siapa bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan hasil.
Menuntut ilmu membutuhkan kesabaran. Dibutuhkan perjuangan dan terkadang harus merasakan pahitnya proses belajar.
Seseorang harus siap menghadapi keterbatasan, perjalanan yang jauh, duduk dalam waktu yang lama, membaca, menulis, menghafal, memahami, menganalisis, kemudian mengulanginya kembali dan berusaha mengamalkannya.
Semua itu adalah bagian dari perjuangan menuntut ilmu.
Mumpung kita masih diberi kesempatan hidup, terlebih bagi yang masih muda, bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu. Kelak kita akan merasakan manisnya ilmu yang dahulu kita perjuangkan.
Gambaran Ahlul Qur’an
Orang yang benar-benar hidup bersama Al-Qur’an akan mengisi siang dan malamnya dengan Al-Qur’an.
Ia membaca, menghafal, mengulang hafalannya, mempelajari kandungannya, mentadaburinya, dan berusaha menerapkan hukum serta akhlak yang diajarkan Al-Qur’an.
Para sahabat Nabi memberikan teladan dalam hal ini.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa para sahabat tidak melewati sejumlah ayat sebelum mereka memahami dan mengamalkannya. Mereka mempelajari ayat demi ayat dengan penuh kesungguhan.
Ini menunjukkan bahwa belajar Al-Qur’an membutuhkan kesabaran. Tidak ada proses belajar yang instan. Menuntut ilmu membutuhkan waktu, perjuangan, dan pengorbanan. Para sahabat juga dikenal dengan ibadah mereka. Di siang hari mereka berjuang dan menjalankan tanggung jawab, sedangkan pada malam hari mereka memperbanyak ibadah dan membaca Al-Qur’an.
Itulah gambaran orang-orang yang benar-benar hidup bersama Al-Qur’an. Karena itu, seseorang yang telah menghafal Al-Qur’an harus siap untuk terus melakukan murajaah sepanjang hidupnya. Al-Qur’an bukan sekadar sesuatu yang pernah dihafal, tetapi sesuatu yang harus terus dipelajari dan dijaga.
Bahkan jika seseorang diberi umur panjang dan kekuatan yang besar, ilmu dan kandungan Al-Qur’an tetap sangat luas untuk dipelajari.
Dua Bentuk Ghibthah yang Dibenarkan
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Tidak boleh hasad kecuali terhadap dua perkara.”
Maksudnya bukan hasad yang menginginkan nikmat orang lain hilang, tetapi ghibthah, yaitu keinginan untuk mendapatkan kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang darinya.
Pertama: Orang yang Diberi Al-Qur’an
Yang pertama adalah seseorang yang Allah ajarkan Al-Qur’an kepadanya.
Ia mempelajari Al-Qur’an, menghafalnya, memahami kandungannya, mentadaburinya, mengamalkannya, dan mengajarkannya. Orang seperti ini layak menjadi teladan.
Kita boleh berharap memiliki semangat seperti dirinya: “Andai aku diberi kemampuan seperti dia, aku juga ingin melakukan apa yang dia lakukan.”
Kedua: Orang yang Diberi Harta dan Menggunakannya di Jalan Allah
Yang kedua adalah seseorang yang Allah berikan harta kepadanya, kemudian ia menggunakan hartanya untuk kebaikan.
Allah memberikan kelapangan rezeki kepadanya, tetapi ia tidak menghabiskannya untuk bermegah-megahan. Ia menggunakannya untuk membantu agama Allah, menyebarkan ilmu, membantu orang miskin dan kaum yang membutuhkan, serta berbagai amal kebaikan.
Inilah harta yang benar-benar memberikan manfaat.
Kita boleh memiliki ghibthah terhadap orang seperti ini: berharap agar Allah juga memberikan kita kemampuan untuk menggunakan harta dalam kebaikan sebagaimana yang ia lakukan.
Perumpamaan Orang yang Membaca Al-Qur’an
Rasulullah ﷺ memberikan gambaran yang sangat indah tentang hubungan seorang mukmin dengan Al-Qur’an.
Seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an diibaratkan seperti buah utrujjah: aromanya harum dan rasanya manis.
Gambaran ini menunjukkan bahwa seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an memiliki kebaikan yang tampak dari luar sekaligus kebaikan yang ada di dalam dirinya.
Al-Qur’an memberikan pengaruh terhadap hati, akhlak, ucapan, dan perilakunya.
Mukmin yang Tidak Membiasakan Membaca Al-Qur’an
Adapun seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an diibaratkan seperti kurma.
Kurma memiliki rasa yang manis, tetapi tidak memiliki aroma yang semerbak seperti buah utrujjah.
Demikian pula seorang mukmin yang tidak membiasakan membaca Al-Qur’an. Keimanan dan kebaikan mungkin ada dalam dirinya, tetapi pengaruhnya belum terpancar sebagaimana orang yang senantiasa membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Karena itu, jangan menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai pajangan di rumah.
Jangan sampai Al-Qur’an hanya dibuka pada momen tertentu, sementara setelah itu dibiarkan hingga berdebu. Al-Qur’an harus dibaca dan dijadikan bagian dari rutinitas kehidupan kita.
Orang Munafik yang Membaca Al-Qur’an
Rasulullah ﷺ juga memberikan perumpamaan bagi orang munafik yang membaca Al-Qur’an.
Ia diibaratkan seperti buah yang memiliki aroma harum, tetapi rasanya pahit.
Dari luar, orang tersebut terlihat membaca Al-Qur’an dan memiliki penampilan yang baik. Namun, apabila diperhatikan lebih dalam, terdapat kepahitan dalam dirinya.
Ini menjadi pelajaran bahwa membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya secara lahiriah. Al-Qur’an harus memberikan pengaruh terhadap hati dan perilaku.
Orang Munafik yang Tidak Membaca Al-Qur’an
Adapun orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an diibaratkan seperti buah yang tidak memiliki aroma harum dan rasanya pahit.
Ini merupakan gambaran yang sangat jauh dari kebaikan.
Al-Qur’an sebagai Jalan Memperbaiki Hati
Lantas, apa hubungan seluruh hadis tersebut dengan pembahasan tentang menata hati?
Hubungannya sangat erat.
Al-Qur’an merupakan salah satu jalan terbesar untuk menjadikan hati baik.
Dengan Al-Qur’an, seseorang mendapatkan kedudukan sebagai bagian dari Ahlullah, yaitu orang-orang yang dekat dan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah.
Jika seseorang senantiasa membaca Al-Qur’an dan memperhatikannya sepanjang hidupnya, hal itu akan memberikan pengaruh besar terhadap perbaikan hatinya.
Al-Qur’an juga menjadi sebab seseorang termasuk orang-orang terbaik karena Nabi ﷺ menyebutkan:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Dan seorang yang baik tentu semestinya memiliki hati yang tertata.
Rasulullah ﷺ juga menggambarkan mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujjah: baik bagian dalamnya dan harum bagian luarnya.
Inilah pengaruh membaca dan mentadaburi Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah Petunjuk Kehidupan
Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk.
Ketika seseorang benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kehidupannya, ia akan memahami bagaimana seharusnya menghadapi berbagai persoalan.
Petunjuk Allah tidak mungkin salah. Yang menjadi masalah adalah ketika manusia tidak mau mengikuti petunjuk tersebut.
Karena itu, jangan berpaling dari Al-Qur’an.
Orang yang berpaling dari peringatan Allah akan merasakan kehidupan yang sempit.
Kesempitan itu bukan berarti rumahnya menjadi sempit. Bisa jadi rumahnya luas, hartanya banyak, dan fasilitas hidupnya lengkap, tetapi hatinya terasa sempit.
Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa kesempitan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kehidupan dunia, tetapi juga dapat berlanjut hingga alam barzakh dan kehidupan akhirat.
Allah juga mengingatkan tentang keadaan orang yang dibangkitkan dalam keadaan buta pada hari kiamat.
Ia akan bertanya mengapa dirinya dibangkitkan dalam keadaan buta, padahal ketika hidup di dunia ia dapat melihat.
Dijelaskan kepadanya bahwa dahulu ayat-ayat Allah telah datang kepadanya, tetapi ia berpaling dan melupakannya.
Di dunia, telah tersedia majelis-majelis ilmu, orang yang mengajarkan Al-Qur’an, kajian, dan berbagai kesempatan untuk mempelajari serta mentadaburi firman Allah. Namun, sebagian manusia justru lebih memilih kesibukan dunia, hiburan, dan berbagai aktivitas yang melalaikan.
Ketika seseorang berpaling dari Al-Qur’an, akibatnya akan kembali kepada dirinya sendiri.
Minimal, hatinya akan merasakan kegelisahan, kegundahan, dan ketidaktenangan.
Penutup
Karena itu, salah satu obat terbesar bagi hati adalah Al-Qur’an.
Jangan tinggalkan Al-Qur’an. Bacalah meskipun sedikit. Pelajari maknanya. Tadaburi ayat-ayatnya. Berusaha amalkan petunjuknya dan jadikan ia sebagai pedoman dalam kehidupan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk Ahlul Qur’an, orang-orang yang senantiasa membaca, mempelajari, memahami, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur’an.



