Adabul MufradKajian Rutin

Adabul Mufrad Bab 280 Hadits 640-643: Fadhilah Shalawat dan Pentingnya Menjaga Adab Beragama

Kajian Islam ilmiyah rutin di Masjid Al-Firdaus, Jaten, Makamhaji, kembali membahas kelanjutan pembacaan Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari rahimahullahu taala bersama Ustadz Deka Mujahidin, S.Pd.I. Pembahasan kali ini memasuki Bab 280 tentang keutamaan dan keagungan amalan Shalawat kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keagungan Shalawat kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam

Shalawat merupakan ibadah yang sangat agung dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Uniknya, Shalawat adalah satu-satunya amalan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada hamba-Nya setelah Dia sendiri dan para malaikat melaksanakannya terlebih dahulu. Ketika Allah memerintahkan salat atau puasa, Allah tentu tidak melakukan salat maupun puasa. Namun, khusus untuk Shalawat, Allah menegaskan perintah tersebut dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berShalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! BerShalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadaya.” ([QS. Al-Ahzab: 56])

Hadits 640: Shalawat sebagai Pengganti Sedekah bagi Yang Tidak Mampu

Dalam Al-Adab Al-Mufrad, [Hadits No. 640]:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَيُّمَا رَجُلٍ مُسْلِمٍ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ صَدَقَةٌ فَلْيَقُلْ فِي دُعَائِهِ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، وَصَلِّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَإِنَّهَا لَهُ زَكَاةٌ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Seorang muslim mana saja yang tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan, hendaklah ia mengucapkan dalam doanya: ‘Allahumma sholli ‘ala Muhammadin ‘abdika wa rasulika, wa sholli ‘alal mu’miniina wal mu’minaat, wal muslimiina wal muslimaat’ (Ya Allah, limpahkanlah Shalawat kepada Muhammad, hamba-Mu dan Rasul-Mu, serta berilah Shalawat kepada kaum mukminin dan mukminat, serta kaum muslimin dan muslimat). Maka sesungguhnya bacaan itu menjadi pembersih/sedekah baginya.” ([HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 640])

Faedah dan Kandungan Hadits:

  • Luasnya Rahmat Allah: Pintu kebaikan tidak hanya terbuka bagi orang kaya yang memiliki harta. Orang miskin yang tidak mampu bersedekah harta dapat meraih pahala sedekah melalui amalan lisan, seperti doa dan Shalawat.
  • Keutamaan Amalan Lisan: Berzikir, berdoa, serta mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil tercatat sebagai nilai sedekah.
  • Menjaga Ukhuwah dan Kebersihan Hati: Doa yang diajarkan mencakup seluruh mukminin dan muslimin. Hal ini melatih hati agar terhindar dari sifat egois, melahirkan kepedulian antar sesama muslim, serta meneladani kasih sayang Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya.

Hadits 641: Keutamaan Shalawat Ibrahimiyah

Pembahasan dilanjutkan pada bab Shalawat dengan [Hadits No. 641]:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَالَ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَتَرَحَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا تَرَحَّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، شَهِدْتُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالشَّهَادَةِ وَشَفَعْتُ لَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barang siapa mengucapkan: ‘Ya Allah, berilah Shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi Shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Berilah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berilah kasih sayang kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi kasih sayang kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim,’ maka aku akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat dan memberikan syafaat kepadanya.” ([HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 641])

Faedah dan Kandungan Hadits:

  • Jaminan Syafaat: Shalawat Ibrahimiyah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam melalui petunjuk wahyu menjadi sebab utama seseorang mendapatkan persaksian dan syafaat beliau di hari kiamat.
  • Sifat Tawqifiyyah dalam Ibadah: Bacaan Shalawat dan ibadah bersifat tawqifiyyah (berdasarkan wahyu dan petunjuk dalil). Baik dan buruknya suatu ibadah dinilai berdasarkan ketaatan pada syariat yang dibawa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan tolok ukur perasaan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” ([QS. Al-Hasyr: 7])

  • Perintah Mencintai Ahlul Bait: Redaksi Shalawat menegaskan anjuran mendoakan dan mencintai keluarga Nabi (istri, anak, dan keturunan beliau yang mengikuti petunjuknya). Kemuliaan nasab tetap harus beriringan dengan adab dan ketaatan ajaran agama.
  • Melipatgandakan Pahala dan Mengangkat Derajat: Mengucapkan Shalawat satu kali mendatangkan balasan 10 kali Shalawat dari Allah, menghapus 10 dosa, dan meninggikan derajat 10 tingkat. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barang siapa berShalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah berShalawat kepadaya sepuluh kali.” ([HR. Muslim No. 408])

  • Mendekatkan Kedudukan di Hari Kiamat: Orang yang paling utama dan paling dekat dengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam kelak adalah orang yang paling banyak berShalawat kepadanya.

Hadits 642 & 643: Keutamaan Menjaga Ketenangan dan Memperbanyak Shalawat

Dalam [Hadits No. 642], diceritakan bahwa Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengimbangi langkah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang hendak buang hajat sambil membawakan tempat air bersuci. Ketika melihat Nabi sedang sujud di sebuah tempat, Umar memilih menjauh dan duduk menunggu hingga beliau selesai sujud. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam memuji adab Umar tersebut dan memberitahukan kabar gembira dari Malaikat Jibril ‘alaihis salam mengenai keutamaan orang yang berShalawat, yaitu Allah akan meninggikan kedudukannya sebanyak 10 derajat.

Selanjutnya, dalam [Hadits No. 643]:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barang siapa berShalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan berShalawat kepadanya sepuluh kali dan akan dihapuskan darinya sepuluh kesalahan/dosa.” ([HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 643])

Tanya Jawab dan Prinsip Beragama

  • Penamaan Shalawat Ibrahimiyah: Shalawat dinamakan Shalawat Ibrahimiyah karena menyebut nama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua nabi tersebut mendapat gelar Khalilullah (kekasih Allah).
  • Membaca Surah-Surah Tertentu pada Waktu Khusus: Membaca surah tertentu pada hari atau waktu tertentu diperbolehkan apabila terdapat dalil yang sahih. Contohnya adalah anjuran membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat. Adapun kebiasaan membaca surah lain yang didasarkan pada hadits lemah atau palsu hendaknya diganti dengan amalan yang memiliki dasar dalil yang kuat.
  • Kaidah Dasar Ahlus Sunnah dalam Beramal: Prinsip utama Ahlus Sunnah adalah mencari dalil terlebih dahulu sebelum melaksanakan suatu amalan (yastadilluuna tsumma ya’maluun). Pendekatan ini menjaga agar amalan tetap murni sesuai petunjuk Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para Sahabat Al-Khulafa’u Ar-Rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum).

*****

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button