Sifat Shalat Nabi ﷺ: Takbiratul Ihram, Posisi Tangan, dan Menjaga Pandangan

Bismillah
✒️┃Materi: Kitab Sifat Shalat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam
🎙┃Pemateri: Ustadz Arif Nurrohim, S.Pd.I., M.Pd. Hafidzahullah | Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo
📆┃Hari: Setiap Hari Selasa Pekan Ke-3 & Pekan Ke-4
🕰️┃Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat: Masjid Raya Fatimah – Jl. Dr. Radjiman No. 193 Serengan, Surakarta.
1. Mensyukuri Nikmat Allah dan Memperbanyak Istighfar
Alhamdulillah, kita dapat melaksanakan shalat Maghrib secara berjamaah. Ini merupakan kemudahan dan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang patut kita syukuri. Begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, tetapi terkadang kita lupa untuk mensyukurinya.
Di antara bentuk syukur yang paling nyata, selain mengucapkan alhamdulillah, adalah menggunakan nikmat tersebut untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Semakin banyak nikmat yang diberikan, seharusnya semakin besar pula rasa syukur dan ketaatan kita kepada-Nya, bukan justru semakin jauh dari-Nya.
Kita masih dapat menghirup udara segar, menjalani aktivitas sehari-hari, dan beribadah dengan tenang. Sering kali manusia baru menyadari besarnya nikmat ketika nikmat itu hilang. Padahal, kemampuan bernapas dengan lega, kesehatan, keamanan, dan kesempatan beribadah merupakan nikmat yang sangat besar.
Demikian pula dengan hujan. Ada daerah yang mengalami kekeringan, sementara daerah lain mendapatkan hujan berlebihan hingga menyebabkan banjir. Semua keadaan tersebut merupakan bagian dari ujian Allah kepada manusia. Karena itu, kita perlu senantiasa bersyukur, memperbaiki diri, dan memohon pertolongan kepada-Nya.
Musibah dan dosa manusia
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura [42]: 30).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa musibah yang menimpa manusia dapat berkaitan dengan dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Namun, Allah juga menegaskan bahwa Dia mengampuni banyak kesalahan manusia.
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak hanya sibuk menyalahkan keadaan atau orang lain ketika menghadapi kesulitan. Hendaknya kita juga melakukan introspeksi, memeriksa kekurangan diri, dan memperbanyak istighfar. Meski demikian, kita tidak boleh memastikan bahwa setiap musibah yang menimpa seseorang merupakan hukuman akibat dosa tertentu. Musibah juga dapat menjadi ujian dan sebab diangkatnya derajat seorang hamba.
Nasihat Hasan Al-Bashri tentang istighfar
Dalam kajian disampaikan sebuah kisah tentang Hasan Al-Bashri. Ketika ada orang yang mengeluhkan belum dikaruniai keturunan, beliau menasihatinya agar memperbanyak istighfar. Ketika orang lain mengeluhkan kesulitan rezeki, beliau kembali menganjurkan istighfar. Nasihat yang sama disampaikan kepada orang-orang yang datang mengadukan permasalahan mereka.
Kisah tersebut mengingatkan kita tentang pentingnya memohon ampun kepada Allah dalam berbagai keadaan. Namun, istighfar bukanlah jaminan bahwa setiap keinginan duniawi akan langsung terpenuhi dengan cara yang kita harapkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ١٠ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ١١ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا ١٢
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh [71]: 10–12).
Karena itu, hendaknya kita memperbanyak istighfar, bertobat dari dosa-dosa, dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang segera bertobat dan memohon ampun kepada Allah.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, memberikan keberkahan, menurunkan hujan yang membawa manfaat, dan mengangkat berbagai kesulitan yang menimpa kaum muslimin.
2. Mengingat Kembali Pembahasan Takbiratul Ihram
Setelah mengingatkan jamaah tentang nikmat Allah dan pentingnya istighfar, pembahasan dilanjutkan dengan materi fikih shalat yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya, yaitu takbiratul ihram.
Takbiratul ihram adalah takbir pembuka shalat, dengan mengucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allahu akbar.
Artinya: “Allah Mahabesar.”
Takbir ini menjadi awal masuknya seseorang ke dalam shalat. Setelah melakukannya, seseorang terikat dengan ketentuan-ketentuan shalat. Perbuatan yang sebelumnya diperbolehkan di luar shalat, seperti makan, minum, dan berbicara dengan sengaja, tidak boleh dilakukan selama shalat.
Mengangkat kedua tangan ketika takbir
Dalam pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa ketika bertakbir, seseorang mengangkat kedua tangannya. Dalam hadis-hadis tentang sifat shalat Nabi ﷺ, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa tangan beliau diangkat sejajar dengan bahu atau telinga.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ
“Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya ketika memulai shalat.”
(HR. al-Bukhari, no. 735; juga diriwayatkan oleh Muslim, no. 390, dengan redaksi yang semakna).
Riwayat lain dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya. (HR. Muslim, no. 391).
Dengan demikian, mengangkat tangan sejajar dengan bahu maupun sejajar dengan telinga memiliki landasan dalam hadis. Keduanya termasuk bentuk yang disebutkan dalam riwayat tentang shalat Nabi ﷺ.
Menghormati perbedaan pendapat fikih
Dalam mempelajari fikih, kita akan menjumpai pembahasan yang cukup luas. Para ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali memiliki sejumlah perbedaan dalam memahami dan menerapkan dalil.
Perbedaan tersebut tidak seharusnya membuat kita saling mencela. Yang perlu diperhatikan adalah landasan ilmiah setiap pendapat, pemahaman para ulama terhadap dalil, serta sikap yang benar dalam mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.
Prinsipnya, seorang muslim hendaknya berusaha mempelajari dalil dengan bimbingan ilmu dan tidak menjadikan fanatisme mazhab sebagai alasan untuk menolak kebenaran. Pada saat yang sama, perbedaan dalam masalah fikih yang memiliki dasar ilmiah perlu disikapi dengan adab dan penghormatan.
3. Kesalahan yang Perlu Dihindari Ketika Mengangkat Tangan
Dalam kajian disebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar gerakan takbir sesuai dengan tuntunan yang dipelajari.
A. Mengangkat tangan terlalu rendah
Pemateri mengingatkan agar seseorang tidak hanya mengangkat kedua tangannya sampai sekitar dada atau bagian bawah bahu. Dalam hadis-hadis yang telah disebutkan, terdapat tuntunan mengangkat tangan sejajar dengan bahu atau telinga.
Karena itu, hendaknya kita mempelajari dan mempraktikkan gerakan tersebut dengan benar, tidak melakukannya secara asal-asalan.
B. Memasukkan jari ke dalam telinga
Ketika bertakbir, tidak ada tuntunan yang mengharuskan seseorang memasukkan jari ke dalam telinganya. Hal ini tidak perlu dilakukan untuk memastikan bahwa takbir telah sempurna.
Gerakan memasukkan jari ke telinga bukan bagian dari tata cara mengangkat tangan ketika takbir sebagaimana yang dibahas dalam hadis-hadis tersebut.
C. Memegang atau menarik telinga ketika mengangkat tangan
Seseorang juga tidak perlu memegang, menarik, atau menyentuh telinganya agar merasa bahwa gerakan takbir sudah tepat. Yang perlu dilakukan adalah mengangkat tangan sesuai tuntunan, bukan menambahkan gerakan karena perasaan kurang mantap.
D. Mengulang takbir karena waswas
Sebagian orang mengalami waswas ketika memulai shalat. Mereka merasa takbirnya belum benar, kurang mantap, atau belum sempurna, sehingga mengulanginya berkali-kali.
Waswas semacam ini perlu diatasi dengan ilmu dan keteguhan hati. Jangan membiasakan diri mengulang takbir hanya karena keraguan yang tidak berdasar. Selama takbir telah dilakukan dengan benar, seseorang tidak perlu mengulanginya hanya karena muncul perasaan kurang yakin.
Jika gangguan waswas muncul, pemateri menganjurkan membaca taawuz dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ untuk menangani gangguan setan.
4. Cara Mengatasi Waswas Ketika Shalat
Waswas dapat muncul dalam berbagai bentuk, baik ketika takbir maupun ketika seseorang sedang melaksanakan shalat.
Misalnya, seseorang merasa bahwa takbirnya belum benar, lalu mengulanginya. Setelah diulang, muncul keraguan lain sehingga ia kembali mengulang. Jika kebiasaan ini dibiarkan, ibadah menjadi berat dan seseorang dapat terjebak dalam keraguan yang terus-menerus.
Demikian pula ketika seseorang merasa seolah-olah telah kentut saat shalat. Ia kemudian membatalkan shalat, berwudu kembali, lalu mengalami keraguan yang sama.
Rasulullah ﷺ memberikan pedoman agar seseorang tidak membatalkan shalat hanya karena keraguan semacam itu.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ، أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا، فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا
“Apabila salah seorang di antara kalian merasakan sesuatu di perutnya, lalu ia ragu apakah ada sesuatu yang keluar darinya atau tidak, janganlah ia keluar dari masjid sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim, no. 362).
Hadis ini mengajarkan bahwa keraguan semata tidak cukup untuk menetapkan bahwa wudu telah batal. Seseorang hendaknya berpegang pada keadaan yang telah diyakini sebelumnya sampai terdapat alasan yang jelas untuk mengubah keyakinan tersebut.
Bukan berarti batalnya wudu hanya dapat diketahui melalui suara atau bau. Kedua hal itu disebutkan dalam hadis sebagai contoh tanda yang menghilangkan keraguan. Apabila seseorang benar-benar yakin telah terjadi sesuatu yang membatalkan wudu, ia harus mengikuti hukum yang berlaku.
Pelajaran penting: jangan membiarkan waswas menguasai ibadah. Pelajari ketentuan agama dengan benar, lalu amalkan dengan tenang dan penuh keyakinan.
5. Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri Setelah Takbir
Setelah takbiratul ihram, seseorang berdiri dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Gerakan ini dikenal dalam pembahasan fikih sebagai wad‘ul-yadain.
Dalam kajian, pemateri menjelaskan beberapa bentuk posisi tangan yang disebutkan dalam riwayat dan pembahasan ulama.
A. Tangan kanan di atas lengan bawah tangan kiri
Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan:
كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ
“Orang-orang diperintahkan agar seseorang meletakkan tangan kanannya di atas lengan kirinya ketika shalat.” (HR. al-Bukhari, no. 740).
Hadis ini menjadi salah satu dalil tentang meletakkan tangan kanan di atas lengan kiri ketika berdiri dalam shalat.
B. Tangan kanan di atas punggung tangan kiri
Dari Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, terdapat riwayat bahwa Nabi ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya setelah mengangkat kedua tangan ketika memulai shalat.
Riwayat tersebut disebutkan dalam Shahih Muslim, no. 401. Hadis ini menunjukkan bahwa tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram.
C. Tangan kanan mencakup pergelangan dan lengan bawah tangan kiri
Dalam riwayat Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu disebutkan:
ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ
“Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, pergelangan tangan, dan lengan bawah.”
(HR. Abu Dawud, no. 727, dengan redaksi yang diriwayatkan dalam pembahasan sifat shalat Nabi ﷺ).
Dalam kajian ini, pemateri merangkum tiga bentuk penempatan tangan yang dibahas, yaitu di atas lengan bawah tangan kiri, di atas punggung tangan kiri, atau dengan mencakup bagian pergelangan dan lengan bawah tangan kiri.
Intinya, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri ketika berdiri dalam shalat, dengan memperhatikan tuntunan hadis yang dipelajari.
6. Posisi Kedua Tangan Ketika Berdiri dalam Shalat
Selain membahas bagian tangan yang saling bertumpuk, kajian juga membahas letak kedua tangan pada tubuh ketika berdiri.
Dalam pemaparan pemateri, terdapat beberapa pendapat yang dijumpai dalam pembahasan fikih, antara lain:
- Meletakkan tangan di dada. Pemateri menyebutkan riwayat dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, no. 479, dari Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dada.
- Meletakkan tangan di bawah pusar. Posisi ini dikenal dalam sebagian pembahasan fikih dan menjadi bagian dari perbedaan pendapat para ulama mengenai letak tangan ketika berdiri.
- Meletakkan tangan di atas pusar. Posisi ini juga dibahas dalam literatur fikih dan menjadi salah satu pendapat yang disebutkan dalam kajian.
Perlu diperhatikan bahwa ketiga posisi tersebut tidak memiliki tingkat kekuatan dalil yang sama. Riwayat mengenai tangan di dada yang disebutkan di atas dinukil oleh Ibnu Khuzaimah, sedangkan penilaian dan pemahaman terhadap dalil-dalil tentang letak tangan merupakan pembahasan tersendiri di kalangan ulama.
Karena itu, pembahasan ini hendaknya dipelajari secara proporsional. Jangan sampai perbedaan dalam masalah letak tangan menyebabkan seorang muslim merendahkan atau mencela muslim lainnya.
7. Hikmah Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri
Pemateri menjelaskan sejumlah hikmah dari tata cara berdiri dalam shalat sebagaimana yang dibahas dalam kajian.
A. Mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ
Hikmah pertama adalah at-ta’assī bir-Rasūl, yaitu meneladani Rasulullah ﷺ.
Seorang muslim berusaha mengikuti petunjuk beliau dalam beribadah. Apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ menjadi pedoman bagi umatnya, sehingga ibadah tidak dibangun hanya berdasarkan kebiasaan atau perasaan pribadi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Mengikuti Rasulullah ﷺ tidak terbatas pada gerakan shalat. Dalam kehidupan sehari-hari pun terdapat banyak tuntunan beliau, mulai dari adab makan, tidur, masuk masjid, hingga menjaga kebersihan.
Agama Islam mengajarkan ibadah dan adab kehidupan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya mempelajari tuntunan Nabi ﷺ dan berusaha mengamalkannya sesuai kemampuan serta pemahamannya terhadap dalil.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?”
Beliau menjawab:
مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan?” Beliau menjawab, “Barang siapa menaatiku, dia akan masuk surga. Barang siapa mendurhakaiku, sungguh dia telah enggan.” (HR. al-Bukhari, no. 7280).
Hadis ini menegaskan pentingnya menaati Rasulullah ﷺ sebagai jalan menuju surga. Seorang muslim hendaknya berusaha mengikuti petunjuk beliau dan menjauhi larangan-larangannya.
B. Tunduk dan merendahkan diri di hadapan Allah
Hikmah kedua adalah menampakkan ketundukan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika seseorang berdiri untuk shalat, bertakbir, dan meletakkan tangannya, ia sedang menghadap Rabb yang Mahabesar. Tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri di hadapan-Nya.
Harta, ilmu, jabatan, dan kedudukan semuanya merupakan karunia Allah. Jika Allah menghendaki, semua itu dapat berubah dalam waktu yang singkat. Karena itu, seorang hamba hendaknya menyadari keterbatasan dirinya dan tidak membanggakan sesuatu yang pada hakikatnya merupakan pemberian Allah.
Shalat bukan sekadar rangkaian gerakan tubuh. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang ketundukan, penghambaan, dan kesadaran bahwa manusia sangat membutuhkan pertolongan Allah.
8. Menundukkan Pandangan dan Menghadap Tempat Sujud
Ketika berdiri dalam shalat, pemateri mengingatkan agar kepala tidak ditundukkan secara berlebihan. Pandangan diarahkan ke tempat sujud dan tidak sibuk menoleh ke kanan atau ke kiri.
Sikap ini membantu seseorang menjaga perhatian dan ketenangan ketika beribadah.
Namun, menundukkan kepala tidak berarti sampai dagu menempel ke dada. Yang dimaksud adalah menjaga pandangan dengan wajar, tanpa gerakan berlebihan yang tidak diperlukan.
A. Tidak menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa keperluan
Menoleh ketika shalat dapat mengganggu kekhusyukan. Karena itu, seorang muslim hendaknya menjaga pandangannya dan memusatkan perhatian kepada shalat yang sedang dikerjakannya.
B. Tidak sengaja memandang Ka’bah ketika shalat
Pemateri juga menjelaskan bahwa ketika shalat di Masjidil Haram, seseorang tetap menjaga pandangannya ke arah tempat sujud, bukan sengaja terus-menerus memandang Ka’bah.
Ka’bah merupakan kiblat kaum muslimin, tetapi memandang Ka’bah bukanlah bagian tersendiri dari tata cara shalat yang disyariatkan. Kekaguman terhadap Ka’bah hendaknya menambah kesadaran seseorang akan kebesaran Allah, bukan membuatnya mengubah tata cara shalat tanpa dasar.
C. Tidak mengangkat pandangan ke langit
Di antara adab yang sangat penting adalah tidak mengangkat pandangan ke langit ketika shalat.
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras terhadap perbuatan tersebut. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلَاتِهِمْ؟ فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى قَالَ: لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ
“Mengapa orang-orang mengangkat pandangan mereka ke langit ketika shalat?” Beliau sangat keras memperingatkan hal itu hingga bersabda, “Hendaklah mereka berhenti dari perbuatan tersebut, atau sungguh penglihatan mereka akan disambar.” (HR. al-Bukhari, no. 750).
Hadis ini menunjukkan kerasnya larangan mengangkat pandangan ke langit ketika shalat. Karena itu, seorang muslim hendaknya menjaga pandangannya dan memperhatikan adab yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
9. Menjaga Kekhusyukan Sejak Takbiratul Ihram
Dari pembahasan di atas, kita dapat mengambil sejumlah pelajaran praktis:
- Memulai shalat dengan benar. Lakukan takbiratul ihram sesuai tuntunan, termasuk mengangkat tangan sebagaimana dijelaskan dalam hadis.
- Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Pelajari tata cara dan posisi tangan berdasarkan dalil serta penjelasan ulama.
- Menghindari gerakan yang tidak diperlukan. Jangan memasukkan jari ke telinga, memegang telinga, atau mengulang takbir hanya karena perasaan kurang mantap.
- Tidak mengikuti waswas. Keraguan yang tidak berdasar tidak boleh dibiarkan menguasai ibadah. Berpeganglah pada keyakinan yang sudah ada.
- Menjaga pandangan. Arahkan pandangan secara wajar ke tempat sujud dan jangan mengangkatnya ke langit ketika shalat.
- Meneladani Rasulullah ﷺ. Jadikan sunnah beliau sebagai pedoman beribadah, sembari menghormati perbedaan pendapat fikih yang memiliki dasar ilmiah.
- Menghadirkan ketundukan hati. Ingatlah bahwa shalat adalah ibadah seorang hamba kepada Rabb-nya. Laksanakan dengan penuh pengagungan, kerendahan hati, dan harapan akan rahmat Allah.
10. Penutup
Pembahasan kali ini mencakup takbiratul ihram, mengangkat kedua tangan, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, serta menjaga pandangan ketika berdiri dalam shalat.
Hal-hal tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi mempelajarinya merupakan bagian dari usaha menyempurnakan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Hendaknya kita tidak meremehkan ilmu tentang shalat, karena shalat merupakan ibadah yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim.
Di samping mempelajari tata cara shalat, kita juga perlu memperbaiki hati, memperbanyak istighfar, dan mensyukuri nikmat Allah. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajari, menjauhkan kita dari waswas, dan mengaruniakan kekhusyukan dalam shalat.
Kajian ditutup dengan doa kafaratul majelis:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”
Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.
****



