Kajian RutinTematik

Sirah Wafatnya Rasulullah ﷺ | Terputusnya Wahyu, Pilihan Akhirat, dan Pemakaman Nabi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Sirah Wafatnya Rasulullah ﷺ
Terputusnya Wahyu, Pilihan Akhirat, dan Pemakaman Nabi


🎙| Bersama: Ustadz Iqbal Muammar Rosyad, M.pd Hafidzahullah
📘| Materi : Pembahasan kitab Siroh An Nabawiyah
🕰 | Waktu: Ahad, 18 Oktober 2026 / 7 Jumail Awal 1448 | Ba’da Subuh
🕌 | Tempat: Perum Safira Residence (Masjid Al Ikhlas Safira Residence)


Pembukaan: Ilmu sebagai Cahaya Kehidupan

Alhamdulillah, dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba’du. Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad ﷺ, perkara terburuk adalah perkara baru dalam agama, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di neraka.

Jamaah yang dirahmati Allah, kita bersyukur atas nikmat, kesempatan, dan keistiqamahan untuk menghadiri majelis ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699, dari Abu HurairahRadhiyallahu’anhu).

Ilmu menjadi lentera yang menerangi kehidupan. Tanpa ilmu, seseorang mudah kehilangan arah. Anas bin MalikRadhiyallahu’anhu menggambarkan betapa beratnya kehilangan Rasulullah ﷺ bagi penduduk Madinah. Riwayat tentang kesedihan mereka menunjukkan bahwa wafatnya Nabi merupakan musibah besar bagi umat.

Wafatnya Orang Berilmu dan Terputusnya Wahyu

Wafatnya seorang mukmin merupakan musibah bagi orang-orang yang ditinggalkan, terlebih apabila yang wafat adalah orang berilmu dan memberi manfaat kepada umat. Wafatnya para imam seperti Imam asy-Syafi‘i, Imam Ahmad, Sufyan ats-Tsauri, dan Hasan al-Bashri merupakan kehilangan besar. Terlebih lagi, wafatnya Rasulullah ﷺ adalah musibah yang sangat besar bagi umat Islam.

Rasulullah ﷺ telah mengajarkan umatnya untuk berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal. Di antara doa yang dibaca pada tasyahud akhir adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

 “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim, no. 588, dari Abu HurairahRadhiyallahu’anhu; redaksi doa memiliki beberapa jalur riwayat).

Di antara pelajaran besar dari wafatnya Nabi ﷺ adalah terputusnya wahyu. Ummu Aiman Radhiyallahu’anha pernah menangis setelah wafat beliau. Ketika Abu Bakar dan UmarRadhiyallahu’anhuma menghiburnya dengan mengingat bahwa Rasulullah ﷺ telah berpindah menuju kenikmatan yang lebih baik, Ummu Aiman menjelaskan bahwa yang membuatnya menangis adalah terputusnya wahyu dari langit. Kisah ini dikenal dalam riwayat tentang kunjungan Abu Bakar dan Umar kepada Ummu Aiman radhiyallahu’anha.

Ini menunjukan bahwa tidak semua orang mengetahui semuanya, bahkan sekelas  Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu’anhuma  mendapatkan pencerahan dari Ummu Aiman Radhiyallahu’anha.

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, tidak ada lagi wahyu baru yang menjadi rujukan langsung bagi umat. Karena itu, persoalan agama harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih. Para ulama dihormati karena ilmu dan jasa mereka, tetapi mereka tetap manusia yang dapat benar atau keliru. Sikap ini bukan alasan untuk merendahkan ulama, melainkan dorongan agar kita mengikuti dalil dengan adab dan ilmu.

Menghormati Ulama Tanpa Taklid Buta

Para imam besar memiliki keutamaan dan jasa yang sangat besar. Namun, tidak seorang pun setelah Rasulullah ﷺ yang maksum dari kesalahan. Dalam sejumlah persoalan fikih, para ulama dapat berbeda pendapat karena perbedaan dalam menilai dalil, memahami lafaz, atau mengompromikan riwayat.

Contohnya adalah pembahasan mengenai wali dalam pernikahan. Imam Abu Hanifah Rahimahullah membolehkan nikah tanpa wali, sementara jumhur berpendapat sebaliknya. Di antara dalil yang dibawakan dalam pembahasan ini ialah sabda Nabi ﷺ:

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ

 “Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali.” (HR. Abu Dawud no. 2085, dari Abu Musa al-Asy‘ariRadhiyallahu’anhu; dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis).

Ketika membahas pendapat seorang imam, kita perlu membedakan antara mengoreksi pendapat dan merendahkan pemiliknya. Pendapat dapat dinilai berdasarkan dalil, sementara kehormatan ulama tetap dijaga. Perbedaan fikih juga tampak dalam sejumlah masalah praktik shalat, misalnya urutan anggota tubuh ketika turun untuk sujud. Pada masa Nabi ﷺ, para sahabat dapat melihat langsung praktik beliau; setelah beliau wafat, para ulama meneliti dan menimbang riwayat yang sampai kepada mereka.

Pelajaran pentingnya: jangan bertaklid secara buta, tetapi jangan pula berbicara tentang ulama tanpa ilmu dan adab. Kembalikan masalah kepada dalil dan penjelasan para ahli ilmu.

Nabi Isa’Alaihissalamdan Syariat Nabi Muhammad ﷺ

Ketika Nabi Isa’Alaihissalam turun menjelang akhir zaman, beliau tidak membawa syariat baru yang menggantikan syariat Nabi Muhammad ﷺ. Beliau akan memimpin dengan adil dan berhukum dengan syariat yang dibawa Nabi terakhir. Karena itu, turunnya Nabi Isa bukan berarti wahyu kenabian baru akan dimulai kembali.

Sehari Sebelum Wafat: Pilihan yang Diberikan kepada Para Nabi

Pembahasan kemudian berlanjut pada hari Ahad, sehari sebelum wafatnya Rasulullah ﷺ. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa seorang nabi diberi pilihan menjelang wafatnya. Nabi Musa ‘alaihissalam, misalnya, meminta agar diwafatkan dan didekatkan ke Tanah Suci. Rasulullah ﷺ bersabda:

فَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُدْنِيَهُ مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ

 “Musa memohon kepada Allah agar didekatkan ke Tanah Suci sejauh lemparan batu.” (HR. al-Bukhari no. 1339, dari Abu HurairahRadhiyallahu’anhu).

Riwayat ini juga menyebutkan bahwa Nabi Musa ’Alaihissalam diberi pilihan untuk memperoleh tambahan umur sesuai jumlah bulu yang tertutup oleh tangannya ketika diletakkan di punggung seekor sapi. Ketika beliau mengetahui bahwa setelah tambahan umur itu tetap akan datang kematian, beliau memilih saat itu dan memohon agar didekatkan ke Tanah Suci.

Para nabi dimuliakan dengan kekhususan yang Allah kehendaki. Adapun rincian kisah-kisah yang tidak disebutkan dalam riwayat sahih hendaknya tidak dipastikan sebagai fakta tanpa bukti.

Zuhud terhadap Dunia, Bersemangat Mengejar Akhirat

Pembicara mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak menjadikan kekayaan dunia sebagai tujuan. Dalam kisah yang disampaikan pada kajian, beliau tidak menginginkan Gunung Uhud diubah menjadi emas untuk dirinya. Pesan utamanya ialah zuhud: dunia tidak menguasai hati, sedangkan semangat untuk meraih pahala dan akhirat harus tetap besar.

Keinginan kuat terhadap kebaikan akhirat bukanlah ketamakan tercela. Nabi ﷺ menganjurkan umatnya berdoa agar beliau memperoleh al-wasilah, kedudukan istimewa di surga. Setelah azan, umat Islam diajarkan membaca doa:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

 “Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan, berilah Muhammad al-wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan.” (HR. al-Bukhari no. 614, dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu).

Pembicara juga mencontohkan sikap Abu Dzar Radhiyallahu’anhu yang memilih hidup sederhana, serta Imam Abu Hanifah yang dalam kisah yang disampaikan berusaha menyeimbangkan pengeluaran duniawi dengan sedekah. Inti pelajarannya bukan meniru keadaan ekonomi mereka secara harfiah, melainkan menata hati agar harta menjadi sarana ketaatan, bukan tujuan hidup.

Manusia sebagai Amanah dan Unsur Penting Kehidupan

Seruan Al-Qur’an kepada Bani Adam mengingatkan manusia tentang asal-usul, tanggung jawab, dan bahaya mengikuti godaan setan. Kisah Adam dan Hawa mengajarkan bahwa pelanggaran terhadap larangan Allah memiliki akibat yang serius. Karena itu, seorang mukmin hendaknya menjaga kehormatan diri, menutup aurat, dan tidak menormalisasi kemaksiatan.

Pelajaran lain ialah pentingnya manusia sebagai pelaku utama dalam memakmurkan bumi. Kemajuan benda, teknologi, atau sistem tidak boleh membuat manusia dan akhlaknya dilupakan. Allah berfirman:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

 “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Manusia memikul amanah untuk memakmurkan bumi sesuai petunjuk Allah. Kemajuan ilmu dan teknologi seharusnya membantu menunaikan amanah itu, bukan menjadi alasan untuk merusak alam atau mengabaikan pembinaan akhlak.

Tanda Pilihan Rasulullah ﷺ: Memilih Apa yang Ada di Sisi Allah

Ketika Rasulullah ﷺ sakit, beliau masih menyampaikan nasihat kepada para sahabat. Dalam sebuah khutbah, beliau menyebutkan bahwa Allah memberi seorang hamba pilihan antara kemewahan dunia dan apa yang ada di sisi-Nya; hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah. Abu Sa‘id al-KhudriRadhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Abu BakarRadhiyallahu’anhu menangis ketika mendengarnya, karena ia memahami bahwa yang dimaksud adalah Rasulullah ﷺ.

لَا يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ إِلَّا بَابَ أَبِي بَكْرٍ

 “Janganlah ada satu pintu pun yang tersisa menuju masjid kecuali pintu Abu Bakar.” (Bagian dari hadis panjang tentang keutamaan Abu Bakar; HR. al-Bukhari no. 3904).

Hadits ini menunjukkan kedudukan Abu Bakar Radhiyallahu’anhu dan kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ. Tangis Abu Bakar juga memperlihatkan ketajaman pemahamannya terhadap isyarat Nabi tentang dekatnya waktu perpisahan.

Detik-Detik Terakhir Rasulullah ﷺ

Pada saat-saat terakhir, Rasulullah ﷺ berada di kamar Aisyah Radhiyallahu’anha. Dalam riwayat sahih, Abdurrahman bin Abu Bakar datang membawa siwak. Aisyah memahami bahwa Nabi ﷺ menginginkannya, lalu menyiapkan siwak itu dan membantu beliau bersiwak.

Aisyah Radhiyallahu’anha meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ berada di pangkuannya menjelang wafat, beliau memandang ke arah atas dan mengucapkan:

اللَّهُمَّ فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى

 “Ya Allah, bersama ar-Rafiq al-A‘la (golongan tertinggi yang dekat dengan Allah).” (HR. al-Bukhari no. 4437; lihat pula riwayat-riwayat sahih tentang akhir hayat Nabi ﷺ).

Aisyah memahami bahwa Rasulullah ﷺ sedang memilih untuk kembali kepada Allah dan tidak lagi tinggal bersama keluarga serta para sahabat di dunia. Pembicara menghubungkan hal ini dengan keyakinan bahwa Rasulullah ﷺ pernah diperlihatkan kenikmatan akhirat, sehingga dunia tidak lagi menjadi tujuan utama beliau.

Meluruskan Riwayat dan Menjaga Ketelitian Sejarah

Pembicara kemudian mengingatkan jamaah agar berhati-hati terhadap kisah-kisah tentang wafatnya Nabi ﷺ yang tidak memiliki rujukan yang jelas. Dalam kajian sejarah, suatu cerita tidak boleh diterima hanya karena terdengar dramatis atau sesuai dengan kecenderungan kelompok tertentu. Perlu diperiksa sumber, sanad, kronologi, dan kesesuaiannya dengan riwayat yang lebih kuat.

Misalnya, Ja‘far bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu gugur dalam Perang Mu’tah, sehingga tidak tepat menempatkannya di sisi Nabi ﷺ pada saat beliau menjelang wafat. Adapun klaim-klaim lain tentang siapa yang hadir atau tidak hadir perlu dinilai berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan generalisasi atau celaan terhadap kelompok tertentu.

Benar bahwa Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu’anhuma tidak menjadi orang yang secara langsung mengurus seluruh proses pemulasaraan pada setiap tahap. Namun, hal itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa keduanya mengabaikan jenazah Nabi ﷺ. Peristiwa tersebut harus dipahami secara utuh: para sahabat mengalami kesedihan besar, sebagian mengurus jenazah, dan sebagian menjalankan tanggung jawab lain yang muncul setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Pemakaman Rasulullah ﷺ dan Musyawarah Para Sahabat

Rasulullah ﷺ wafat di kamar AisyahRadhiyallahu’anha dan dimakamkan di tempat beliau wafat. Para sahabat menghadapi persoalan yang belum pernah mereka alami sebelumnya: bagaimana memandikan dan mengafani Nabi ﷺ, bagaimana mengatur shalat jenazah bagi banyak orang, serta bagaimana bentuk liang kubur yang digunakan.

Di antara pembahasan yang disebut dalam kajian adalah apakah pakaian Nabi ﷺ dilepas ketika dimandikan atau tetap dikenakan, serta apakah makam dibuat berbentuk syaqq atau lahd. Para sahabat bermusyawarah dan mencari petunjuk dari riwayat yang mereka ketahui. Jenazah beliau tidak dibawa keluar dari kamar Aisyah; kaum muslimin bergantian menyalatkan beliau karena keterbatasan tempat.

Secara umum, liang lahat dibuat dengan ceruk di sisi yang menghadap kiblat, sedangkan syaqq berupa lubang atau celah di bagian tengah dasar kubur. Kajian menyebut bahwa akhirnya makam Rasulullah ﷺ dibuat dalam bentuk lahd. Rincian kronologi, hari pemakaman, serta siapa yang pertama tiba untuk menggali makam memiliki pembahasan tersendiri dalam kitab-kitab sirah dan Sejarah.

Penutup dan Pelajaran

Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, para sahabat tidak lagi dapat bertanya langsung kepada beliau. Mereka bermusyawarah dan merujuk kepada wahyu yang telah diturunkan serta Sunnah yang mereka hafal. Ini mengajarkan pentingnya ilmu, ketelitian dalam menerima berita, adab terhadap ulama, dan kesungguhan untuk mengembalikan perselisihan kepada dalil.

Semoga Allah memberi kita ilmu yang bermanfaat, adab dalam menyikapi perbedaan, dan keteguhan untuk mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

وَأَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ

Poster Ringkasan

*****

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button