Adabul MufradKajian Rutin

Adabul Mufrah Bab 281-282 | Hadits ke-647/648/649: Dzikir yang Pahalanya Sangat Besar, Doa Perlindungan dari Empat Perkara dan Kedzaliman

Table of Contents


٢٨١ – بَابُ مَنْ ذُكِرَ عِنْدَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ

Bab-281: ORANG YANG NABI ﷺ DISEBUTKAN PADANYA TETAPI TIDAK BERSHALAWAT KEPADA BELIAU



بسم الله الرحمن الرحيم

📚┃Materi : “Al-Adab Al-Mufrad”
✍Karya : Imam Al-Bukhari Rahimahullah
🎙┃Pemateri : Ustadz Deka Mujahidin, S.Pdi Hafidzahullah
▪ Alumnus STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya
▪ Dosen aktif di MABAIS Surakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar’i Pondok Pesantren Khulafaurrosyidin Cemani
🗓┃Hari : Setiap Hari Ahad Malam Senin
🕰┃Waktu : Ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat : Masjid Al Firdaus Jaten Makamhaji, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo

Pendahuluan: Mensyukuri Nikmat Iman

Alhamdulillāh. Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang telah memberikan kepada kita berbagai macam kenikmatan. Semoga Allah senantiasa merahmati dan memberkahi jamaah sekalian.

Di antara nikmat Allah yang paling agung adalah nikmat iman. Dengan nikmat tersebut, kita masih merasakan kebahagiaan dalam beribadah kepada Allah, menikmati doa kepada-Nya, dan merasakan ketenteraman ketika mengingat-Nya.

Nikmat iman memiliki keistimewaan yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan duniawi. Seseorang mungkin menikmati makanan yang lezat, perjalanan yang menyenangkan, atau berbagai fasilitas dunia, tetapi kebahagiaan ketika beribadah kepada Allah memiliki dimensi yang berbeda.

Sebagian orang bahkan menangis ketika melihat Ka’bah untuk pertama kalinya. Tangisan tersebut bukan karena kesedihan, melainkan karena kebahagiaan, rasa haru, dan kesadaran atas besarnya karunia Allah. Inilah nikmat yang tidak sekadar dirasakan oleh tubuh, tetapi juga menyentuh hati.

Semoga Allah menjaga nikmat iman yang telah diberikan kepada kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bersyukur.

1. Hadits ke-647: Dzikir yang Pahalanya Sangat Besar

Pembahasan kita melanjutkan hadis tentang keutamaan zikir. Hadis ini menjelaskan bahwa ada kalimat-kalimat zikir yang ringan diucapkan, tetapi memiliki keutamaan dan pahala yang sangat besar.

Hadis tentang Dzikir yang diajarkan Rasulullah ﷺ

Dari Juwairiyah binti Al-Harits radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi ﷺ pernah keluar dari rumahnya pada pagi hari setelah menunaikan salat Subuh, sementara Juwairiyah berada di tempat salatnya. Kemudian beliau kembali setelah waktu Duha, sedangkan Juwairiyah masih berada di tempatnya.

Rasulullah ﷺ bertanya apakah ia masih berada dalam keadaan yang sama seperti ketika beliau meninggalkannya. Juwairiyah menjawab, “Ya.”

Kemudian beliau bersabda:

قَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ:

Sungguh, setelah meninggalkanmu, aku telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali. Seandainya kalimat-kalimat itu ditimbang dengan seluruh zikir yang engkau ucapkan sejak pagi tadi, niscaya kalimat-kalimat itu akan mengimbanginya, yaitu:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

“Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya sebanyak jumlah makhluk-Nya, sesuai dengan keridaan-Nya, seberat timbangan Arasy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat-Nya.”

Sumber: Shahih Muslim, Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du’a, hadis no. 2726.

Kandungan dan makna Dzikir

Dzikir tersebut mengajarkan kepada kita keluasan makna tasbih dan pujian kepada Allah. Rasulullah ﷺ tidak sekadar mengajarkan kalimat yang mudah diucapkan, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebuah zikir memiliki keutamaan yang besar.

Ada empat ungkapan penting dalam hadis tersebut:

  1. عَدَدَ خَلْقِهِ — sebanyak jumlah makhluk-Nya. Mengingatkan kita akan banyaknya makhluk Allah yang tidak mungkin kita hitung seluruhnya.
  2. وَرِضَا نَفْسِهِ — sesuai dengan keridaan-Nya. Menunjukkan ungkapan yang agung dalam memuji Allah.
  3. وَزِنَةَ عَرْشِهِ — seberat timbangan Arasy-Nya. Menggambarkan besarnya keutamaan dzikir tersebut.
  4. وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ — sebanyak tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat-Nya. Mengisyaratkan keluasan kalimat Allah yang tidak terjangkau oleh kemampuan manusia.

Dzikir ini bukan berarti kita dapat menghitung secara matematis seluruh makhluk Allah atau mengukur keridaan-Nya. Ungkapan tersebut menunjukkan keluasan dan keagungan pujian kepada Allah.

Mengapa amalan yang ringan dapat berpahala besar?

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat menyayangi umatnya. Beliau mengajarkan amalan yang mudah dilakukan, tetapi memiliki keutamaan besar.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga memahami bahwa hasil suatu pekerjaan tidak selalu ditentukan oleh lamanya waktu yang digunakan. Seorang dokter, misalnya, mungkin hanya memerlukan beberapa menit untuk melakukan pemeriksaan tertentu. Namun, kemampuan tersebut merupakan hasil pendidikan, latihan, dan pengalaman selama bertahun-tahun.

Kita tidak semata-mata menghargai beberapa menit pekerjaannya, melainkan juga ilmu dan kompetensi yang mendasarinya.

Demikian pula dalam ibadah. Orang yang beramal dengan ilmu dapat mengetahui amalan yang lebih utama, lebih sesuai dengan tuntunan, dan lebih besar manfaatnya. Karena itu, menuntut ilmu agama merupakan perkara penting agar kita tidak hanya sibuk beramal, tetapi juga memahami cara beramal yang benar.

Mengganti Nama yang Mengandung Makna Tidak Baik

Pembahasan berikutnya berkaitan dengan nama Juwairiyah radhiyallahu ‘anha. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa nama beliau sebelumnya adalah Barrah, kemudian Rasulullah ﷺ menggantinya menjadi Juwairiyah.

Nama Barrah berasal dari kata yang berkaitan dengan kebaikan dan kebajikan. Secara makna, nama tersebut menunjukkan sesuatu yang baik. Namun, nama yang mengandung pujian terhadap diri sendiri dapat menimbulkan kesan bahwa seseorang sedang menyucikan atau memuji dirinya.

Karena itu, Rasulullah ﷺ mengganti nama tersebut.

Pelajaran tentang pemberian nama

Dari kisah ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran:

  • Nama hendaknya memiliki makna yang baik. Nama merupakan identitas seseorang dan dapat mengandung doa serta harapan.
  • Nama yang buruk atau mengandung makna yang tidak pantas boleh diganti. Penggantian dilakukan untuk memperbaiki makna dan menghindari kesan yang tidak baik.
  • Hindari nama yang mengandung pujian berlebihan terhadap diri sendiri. Seseorang tidak seharusnya menganggap dirinya suci atau lebih mulia daripada orang lain hanya karena nama yang disandangnya.
  • Jangan mengganti nama karena kepercayaan terhadap kesialan. Menganggap suatu nama sebagai penyebab kesialan tanpa dasar syariat termasuk keyakinan yang keliru. Perubahan nama hendaknya didasarkan pada makna yang buruk atau alasan yang dibenarkan, bukan takhayul.
  • Perhatikan perasaan pemilik nama. Dalam kehidupan sehari-hari, jika hendak mengusulkan perubahan nama seseorang, lakukan dengan cara yang baik dan hormati dirinya. Jangan menjadikan nama seseorang sebagai bahan ejekan.

Dalam praktik masyarakat, terkadang seseorang mengganti nama karena merasa namanya terlalu kuno, tidak memiliki makna yang jelas, atau mengandung arti yang tidak baik. Hal semacam ini dapat dipertimbangkan selama tidak didasarkan pada keyakinan bahwa nama tertentu secara gaib menyebabkan nasib buruk.

Kandungan Hadits:

  1. Hadits ini menunjukkan keutamaan kalimat-kalimat ini.
  2. Di dalamnya terdapat dalil tentang kemuliaan, keutamaan dan kebaikan Rasulullah ﷺ terhadap umatnya, karena beliau menunjukkan kepada mereka ungkapan-ungkapan yang mudah tetapi dapat mendatangkan pahala dan balasan tanpa harus bersusah payah dan berlelah-lelah. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah.
  3. Di dalamnya terdapat dalil disunnahkannya mengubah nama yang jelek atau nama yang makruh menjadi nama yang baik. Alasan pengubahan nama tersebut untuk menghindari tazkiyah (memandang diri suci) atau dikhawatirkan terjebak ke dalam
    tathayyur (menganggap sial).

*****

2. Hadits ke-648: Memohon Perlindungan kepada Allah dari Empat Perkara

Pembahasan selanjutnya adalah hadis tentang empat perkara yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ agar kita memohon perlindungan kepada Allah darinya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم‏:‏ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهَنَّمَ، اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ‏.‏

Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, “Berlindunglah kepada Allah dari api neraka. Berlindunglah kepada Allah dari azab kubur. Berlindunglah kepada Allah dari fitnah Dajjal. Berlindunglah kepada Allah dari cobaan hidup dan mati.”

Empat perkara tersebut ialah:

  1. Azab neraka Jahanam.
  2. Azab kubur.
  3. Fitnah kehidupan dan kematian.
  4. Fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.

Hadis tentang doa perlindungan

Dalam hadits lainnya Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai membaca tasyahud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara: dari azab Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.”

Sumber: Shahih Muslim, Kitab Al-Masajid wa Mawadhi’ Ash-Shalah, hadis no. 588.

Doa yang dapat dibaca setelah tasyahud akhir sebelum salam adalah sebagai berikut.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.”

A. Memohon perlindungan dari azab Jahanam

Neraka merupakan tempat azab bagi orang-orang yang Allah tetapkan untuk mendapatkannya. Karena itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa memohon keselamatan dari neraka dan tidak merasa dirinya pasti aman darinya.

Kita tidak cukup hanya beramal, tetapi juga perlu memohon pertolongan Allah agar amal diterima dan dijauhkan dari sebab-sebab yang mengantarkan kepada azab-Nya.

B. Memohon perlindungan dari azab kubur

Azab kubur merupakan perkara gaib yang diberitakan dalam dalil-dalil syariat. Setelah meninggal dunia, manusia memasuki alam barzakh hingga datangnya hari kebangkitan.

Kehidupan manusia melalui beberapa tahapan:

  • Kehidupan dalam rahim.
  • Kehidupan dunia.
  • Kehidupan barzakh setelah kematian.
  • Kebangkitan dan kehidupan akhirat.

Lama seseorang berada di alam barzakh tidak dapat kita pastikan karena waktu terjadinya hari kiamat hanya diketahui oleh Allah. Ada orang yang telah meninggal ratusan tahun lalu, sedangkan orang lain baru meninggal kemarin. Semuanya berada dalam ketetapan Allah sampai hari kebangkitan.

Karena itu, kita perlu mempersiapkan diri dengan iman dan amal saleh, sekaligus senantiasa berdoa agar Allah melindungi kita dari azab kubur.

C. Memohon perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian

Fitnah kehidupan mencakup berbagai ujian yang dihadapi manusia selama hidupnya, di antaranya:

  • Godaan dunia dan kecintaan berlebihan terhadap harta.
  • Hawa nafsu yang mendorong kepada kemaksiatan.
  • Kebodohan terhadap agama yang menyebabkan seseorang salah dalam beribadah.
  • Ujian yang dapat merusak iman dan keteguhan seseorang.
  • Godaan yang dapat menjerumuskan seseorang kepada akhir kehidupan yang buruk.

Adapun fitnah kematian dapat mencakup ujian ketika menghadapi sakaratul maut, kekhawatiran terhadap akhir kehidupan, serta fitnah yang berkaitan dengan alam kubur.

Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh merasa aman dari fitnah. Ia perlu terus memohon keteguhan hati, mempelajari agama, dan memperbaiki amalnya.

D. Memohon perlindungan dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal

Al-Masih Ad-Dajjal merupakan salah satu fitnah besar menjelang hari kiamat. Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya agar berhati-hati terhadap fitnahnya.

Dalam pembahasan kajian, dijelaskan bahwa sebutan Al-Masih juga digunakan untuk Nabi Isa ‘alaihissalam. Adapun penamaan Dajjal dengan sebutan tersebut dijelaskan oleh para ulama melalui beberapa keterangan, di antaranya berkaitan dengan matanya yang cacat dan sifatnya yang mengembara.

Namun, hal terpenting dalam pembahasan ini bukanlah memperpanjang perdebatan mengenai asal-usul nama tersebut, melainkan memahami bahwa fitnah Dajjal sangat besar sehingga Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk berlindung kepada Allah darinya.

Mengapa doa ini dibaca sebelum salam?

Doa perlindungan dari empat perkara tersebut disyariatkan untuk dibaca dalam salat setelah tasyahud akhir dan sebelum salam. Hal ini menunjukkan pentingnya memohon keselamatan kepada Allah, bahkan ketika seseorang sedang menunaikan ibadah yang agung.

Seorang hamba hendaknya tidak hanya memohon kebutuhan duniawi, tetapi juga memohon keselamatan dalam kehidupan akhirat.

Kandungan Hadits:

  1. Seorang muslim hendaknya memanjatkan doa ini secara khusus setiap selesai membaca tasyahhud akhir sebelum salam.
  2. Seorang hamba yang beriman hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dari siksa jahannam dan siksa kubur, dan selalu kembali kepada Allah seraya memohon kepada-Nya agar dijauhkan dari siksa kubur dan siksa neraka.

*****

 ٢٨٢ . بَابُ دُعَاءِ الرَّجُلِ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ

Bab – 282: Do’a Buruk Seseorang kepada Orang yang Mendzaliminya

3. Hadits ke-649: Do’a Dari Perbuatan Dzalim

649. Al-Hasan bin Ar-Rabi’ mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu ldris mengabarkan kepada kami dari Laits, dari Muharib bin Ditsar:

٦٤٩ – عَنْ جَابِرٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي سَمْعِي وَبَصَرِي، وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَيْنِ مِنِّي، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ ظَلَمَنِي، وَأَرِنِي مِنْهُ ثَأْرِي». صحيح

Dari Jabir, ia berkata, Rasulullah ﷺ mengucapkan (doa), ‘Allaahuma ashlih lii sam’ii wa basharii waj’ alhumal waaritsaini minnii, wanshurnii ‘alaa man zhalamanii wa arinii minhu tsa’rii’ (ya Allah, perbaikilah pendengaran dan penglihatanku, dan jadikanlah keduanya pewaris diriku, serta tolonglah aku atas orang yang menzhalimiku dan tampakkanlah kepadaku akibat buruknya dari pembalasanku.”

Shahih lighairihi. Kecuali lafazh “ashlih lii”, karena yang betul adalah “matti’nii“. Dalam isnad ini ada Laits bin Abi Sutaim, ia shaduuq namun sangat kacau hafalannya, haditsnya tidak dapat diklarifikasi sehingga ia ditinggatkan. Lihat Ash-Shahihah (3170). Diriwayatkan juga Al-Bazzar (3194/Kasyful Astaar) dari jalur Laits, namun hadits Abu Hurairah berikut ini memperkuatnya.

📃Kosa Kata Hadits

  • Makna وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَيْنِ مِنِّي: Jagalah keduanya tetap dalam kondisi sehat dan selamat -hingga aku meninggal, atau ingin agar keduanya tetap hidup dan kuat ketika sudah berusia tua dan ketika kekuatannya berkurang.
  • Makna ُالثَّأر :darah. Dikatakan: Tsa’artul qatiila wa tsa’artu bihi, fa anaa tsaa’ir, artinya aku membunuh orang yang membunuhnya.

Makna doa tersebut

Pertama, memohon agar pendengaran dan penglihatan tetap terjaga.

Pendengaran dan penglihatan merupakan nikmat yang sangat besar. Dengan pendengaran, seseorang dapat mendengar nasihat, membaca Al-Qur’an melalui audio, dan mempelajari ilmu. Dengan penglihatan, ia dapat membaca kitab, melihat tanda-tanda kebesaran Allah, dan menjalankan berbagai aktivitas.

Kehilangan fungsi kedua indra tersebut dapat membuat seseorang menghadapi kesulitan dalam menjalankan berbagai kegiatan. Karena itu, seorang muslim hendaknya mensyukuri nikmat pendengaran dan penglihatan serta menggunakannya untuk ketaatan.

Syukur tersebut tidak hanya dilakukan dengan ucapan, tetapi juga dengan menjaga keduanya dari perkara yang diharamkan. Mata hendaknya tidak digunakan untuk melihat kemaksiatan, sedangkan telinga hendaknya tidak sengaja digunakan untuk menikmati perkara yang dilarang.

Kedua, memohon agar keduanya tetap berfungsi hingga akhir hayat.

Ungkapan “jadikanlah keduanya sebagai pewaris dariku” dipahami sebagai permohonan agar pendengaran dan penglihatan tetap terjaga sampai akhir kehidupan. Dengan demikian, seseorang masih dapat menikmati manfaat kedua indra tersebut selama hidupnya.

Kita tidak dapat memastikan bahwa kesehatan akan selalu sempurna, tetapi kita dianjurkan untuk berdoa, menjaga kesehatan, dan melakukan ikhtiar yang dibenarkan.

Ketiga, memohon pertolongan ketika dizalimi.

Seorang muslim yang mengalami kezaliman boleh mengadukan keadaannya kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Ia tidak harus memendam semua kesulitan tanpa berdoa. Namun, permohonan tersebut hendaknya tetap berada dalam batas keadilan dan tidak berubah menjadi tindakan zalim yang baru.

Dari pembahasan ini, kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa kebutuhan seorang hamba hendaknya digantungkan kepada Allah. Allah adalah tempat memohon pertolongan, sedangkan ikhtiar dilakukan melalui cara-cara yang dibenarkan oleh syariat.

Dalam kajian, pemateri menjelaskan bahwa doa Rasulullah ﷺ dalam hadis sebelumnya mencakup permohonan pertolongan terhadap orang yang menzalimi beliau.

Pada prinsipnya, orang yang dizalimi boleh mengadukan kezaliman yang menimpanya dan memohon pertolongan Allah. Akan tetapi, doa dan tindakan yang diambil tetap harus memperhatikan batas-batas syariat.

Allah berfirman:

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ

“Allah tidak menyukai perkataan buruk yang diucapkan secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi.”

QS. An-Nisa’ [4]: 148.

Ayat tersebut menunjukkan adanya pengecualian bagi orang yang dizalimi untuk mengungkapkan kezaliman yang dialaminya. Namun, ayat ini tidak boleh dipahami sebagai izin untuk melakukan segala bentuk penghinaan, menyebarkan kebohongan, atau melampaui batas dalam membalas kezaliman.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat memohon agar Allah mengembalikan haknya, menghentikan kezaliman, memberi petunjuk kepada pihak yang berbuat zalim, dan memberikan keputusan yang adil.

Doa merupakan bentuk penghambaan kepada Allah. Karena itu, ketika mengalami kesulitan, seorang muslim hendaknya tidak melupakan doa, di samping menempuh langkah yang benar untuk menyelesaikan masalahnya.

💡Kandungan Hadits

  1. Bolehnya mendo’akan keburukan kepada orang yang mendzalimi kita.
  2. Do’anya orang yang didzalimi mustajab
  3. Pentingnya mensyukuri nikmat pendengaran dan penglihatan.
  4. Anjuran bagi setiap hamba agar meminta setiap kebutuhannya kepada Rabb-nya.
  5. Disunnahkan menyibukkan diri dengan doa dan dzikir karena yang demikian termasuk ketaatan dan sesuatu yang mudah dilakukan, namun sangat berat dalam timbangan pada hari kiamat kelak.

*****

Tanya Jawab

1. Istidraj: Kenikmatan yang Dapat Menjadi Ujian

Dalam sesi tanya jawab, muncul pembahasan mengenai istidraj.

Istidraj secara umum merujuk pada keadaan ketika seseorang terus mendapatkan kelapangan atau kenikmatan, sementara ia tetap tenggelam dalam kemaksiatan dan tidak mengambil pelajaran dari peringatan Allah. Kenikmatan tersebut justru dapat membuatnya semakin lalai.

Istidraj tidak boleh ditetapkan secara sembarangan kepada orang tertentu hanya karena ia kaya, sehat, atau sukses. Keadaan seseorang secara khusus merupakan perkara yang tidak dapat kita pastikan tanpa dasar.

Kekayaan bukan dengan sendirinya tanda istidraj, sebagaimana kemiskinan bukan dengan sendirinya tanda bahwa seseorang sedang dihukum. Keduanya dapat menjadi ujian.

Pertanyaan yang lebih penting bagi seorang muslim adalah bagaimana ia menyikapi nikmat yang diterimanya.

  • Apakah kekayaan membuatnya semakin bersyukur atau semakin sombong?
  • Apakah kesehatan membuatnya lebih giat beribadah atau justru melalaikannya?
  • Apakah kelapangan hidup mendorongnya membantu orang lain atau menjadikannya semakin kikir?
  • Apakah ia menggunakan nikmat untuk ketaatan atau untuk melakukan kemaksiatan?

Karena itu, jangan menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. Demikian pula, jangan menganggap kesulitan duniawi sebagai bukti bahwa seseorang tidak dicintai Allah.

Yang perlu diperhatikan adalah iman, ketaatan, rasa syukur, dan kesungguhan seseorang dalam memperbaiki diri.

2. Adab dalam Mengganti Nama dan Memanggil Orang Lain

Dalam sesi tanya jawab berikutnya, dibahas persoalan mengganti nama seseorang yang dianggap kurang baik atau memiliki kebiasaan yang tidak disukai.

Penggantian nama hendaknya dilakukan dengan mempertimbangkan makna nama dan keadaan orang yang bersangkutan. Apabila nama tersebut memiliki makna yang buruk, kita dapat menyarankan penggantian dengan cara yang santun.

Namun, mengganti nama seseorang menjadi bahan candaan atau julukan yang merendahkan bukanlah adab yang baik. Sekalipun orang tersebut tampak tidak keberatan, kita sebaiknya tidak membiasakan diri memanggilnya dengan sebutan yang dapat menyakiti hati.

Ada perbedaan antara memperbaiki nama dan merendahkan seseorang melalui nama panggilan.

Pelajaran yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

  1. Pilih nama yang baik dan memiliki makna yang pantas.
  2. Jika hendak menyarankan perubahan nama, jelaskan alasannya dengan santun.
  3. Jangan mengaitkan nama dengan keyakinan takhayul tentang kesialan.
  4. Jangan menggunakan nama atau julukan untuk mempermalukan orang lain.
  5. Hormati nama dan perasaan seseorang dalam pergaulan.

Adab yang baik tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga dalam cara kita berbicara dan memperlakukan sesama.

3. Mendoakan Kebaikan bagi Pemimpin

Bagian akhir kajian membahas pertanyaan mengenai doa untuk pemimpin, termasuk ketika seorang pemimpin melakukan kezaliman.

Pemateri mengutip perkataan Imam Al-Barbahari dalam kitab Syarhus Sunnah mengenai sikap terhadap penguasa. Dalam pembahasannya, beliau membedakan antara mendoakan keburukan bagi pemimpin dan mendoakan agar pemimpin memperoleh kebaikan serta perbaikan.

Imam Al-Barbahari berkata:

وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو عَلَى السُّلْطَانِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى، وَإِذَا سَمِعْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو لِلسُّلْطَانِ بِالصَّلَاحِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Artinya:

“Apabila engkau melihat seseorang mendoakan keburukan bagi penguasa, ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu. Apabila engkau mendengar seseorang mendoakan kebaikan bagi penguasa, ketahuilah bahwa ia adalah pengikut sunnah, insyaallah.”

Sumber: Al-Barbahari, Syarhus Sunnah, pembahasan tentang sikap terhadap penguasa, butir 107 dalam salah satu penomoran teks.

Kutipan tersebut merupakan perkataan ulama dalam pembahasan akidah dan manhaj, bukan hadis Nabi ﷺ. Karena itu, penyebutannya perlu dibedakan dari dalil yang berasal langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Perkataan Fudhail bin ‘Iyadh tentang doa bagi pemimpin

Dalam bagian yang sama, Al-Barbahari juga menukil perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah:

لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ

“Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya aku akan menggunakannya untuk mendoakan pemimpin.”

Ketika ditanya alasannya, Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan bahwa kebaikan pemimpin dapat membawa manfaat bagi masyarakat dan negeri secara luas.

Sumber: Dinukil dalam Syarhus Sunnah karya Al-Barbahari, pada pembahasan yang sama.

Pesan yang ditekankan dalam kajian ini adalah pentingnya mendoakan kebaikan dan perbaikan bagi pemimpin, karena kebijakan dan keadaan pemimpin dapat memengaruhi kehidupan banyak orang.

Bagaimana jika pemimpin melakukan kezaliman?

Pembahasan mengenai pemimpin yang zalim perlu dilakukan dengan cermat. Mendoakan kebaikan bagi pemimpin tidak berarti membenarkan kezalimannya atau menghalangi masyarakat dari upaya memperbaiki keadaan.

Seorang muslim dapat memohon agar pemimpin diberi petunjuk, diperbaiki keadaannya, dihentikan dari tindakan zalim, dan mampu menjalankan amanah dengan adil. Pada saat yang sama, masyarakat tetap dapat menempuh cara-cara yang dibenarkan untuk menuntut hak, menyampaikan kritik, dan memperbaiki keadaan.

Dalam transkrip kajian, pemateri juga menyebut kisah Hasan Al-Bashri dan Al-Hajjaj bin Yusuf. Pembahasan tersebut digunakan untuk membedakan persoalan kezaliman yang bersifat pribadi dengan persoalan yang dapat menimbulkan kekacauan sosial atau politik.

Namun, rincian sebab dan konteks sejarah setiap riwayat perlu diteliti dari sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan sebelum disajikan sebagai fakta yang pasti.

Karena itu, pelajaran praktis yang dapat diambil dari bagian ini adalah agar seorang muslim menjaga keadilan, tidak berlebihan dalam doa, tidak membenarkan kezaliman, serta senantiasa memohon kebaikan bagi dirinya dan masyarakat.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk memahami ilmu yang bermanfaat, mengamalkannya dengan ikhlas, dan menjaga diri dari berbagai fitnah yang dapat merusak agama serta kehidupan kita.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu.

Poster Ringkasan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button