Dahsyatnya Istighfar

Keutamaan Istigfar: Jalan Ampunan, Rahmat, dan Keberkahan Hidup
Pendahuluan: Istigfar, Amalan Orang-Orang Saleh
Di antara kebiasaan para salaf dan para sahabat Nabi ﷺ adalah menghidupkan malam dengan salat, membaca Al-Qur’an, dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada sepertiga malam terakhir, rumah-rumah kaum muslimin dahulu dipenuhi lantunan bacaan Al-Qur’an. Qiyamulail menjadi salah satu syiar orang-orang saleh.
Namun, pembahasan kita kali ini bukan semata-mata tentang keutamaan qiyamulail, melainkan tentang salah satu amalan yang mengiringi ibadah malam mereka, yaitu istigfar atau memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Istigfar bukan hanya amalan yang dilakukan ketika seseorang terjatuh dalam dosa. Istigfar juga merupakan ibadah yang dilakukan oleh orang-orang saleh, orang-orang bertakwa, bahkan para nabi dan rasul. Mereka memperbanyak istigfar karena menyadari betapa besarnya kebutuhan seorang hamba terhadap ampunan dan rahmat Allah.
Seorang muslim tidak pernah lepas dari kekurangan. Ada kalanya ia lalai, melakukan kesalahan, atau belum menunaikan hak Allah sebagaimana mestinya. Karena itulah, istigfar hendaknya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya dilakukan pada waktu tertentu.
1. Istigfar pada Waktu Sahur dan Sepertiga Malam Terakhir
Di antara waktu yang utama untuk beristigfar adalah waktu sahur, yaitu menjelang terbitnya fajar. Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang bertakwa yang memohon ampun pada waktu tersebut.
Allah berfirman:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 17–18:
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Artinya:
Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.
Ayat ini menunjukkan salah satu sifat orang-orang saleh. Mereka menggunakan sebagian malam untuk beribadah, kemudian menjelang sahur mereka memperbanyak istigfar.
Mereka tidak merasa bahwa banyaknya ibadah telah membuat mereka bebas dari kekurangan. Justru setelah beribadah, mereka semakin menyadari kebutuhan untuk memohon ampun kepada Allah.
Dalam sebuah riwayat sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Artinya:
“Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”
HR. Muslim no. 2702.
Perhatikanlah, Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling bertakwa dan paling mengenal Allah. Meskipun demikian, beliau tetap memperbanyak tobat dan istigfar. Hal ini menunjukkan bahwa istigfar bukan hanya kebutuhan orang yang banyak berbuat dosa, tetapi juga amalan orang-orang yang ingin semakin dekat dengan Allah.
Istigfar sebagai penutup ibadah malam
Setelah seseorang menunaikan salat malam, membaca Al-Qur’an, dan melakukan berbagai amal saleh, hendaknya ia tidak merasa kagum terhadap amalannya sendiri. Ia tetap membutuhkan ampunan Allah atas kekurangan dalam ibadahnya.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya membiasakan diri memperbanyak istigfar, terutama pada waktu sahur. Adapun jumlah istigfar sebanyak tujuh puluh kali yang disebutkan dalam ceramah perlu dibedakan dari riwayat sahih tentang istigfar Nabi ﷺ sebanyak seratus kali sehari. Keduanya tidak boleh dicampuradukkan tanpa pemeriksaan sumber riwayatnya.
2. Istigfar Merupakan Sifat Orang-Orang Bertakwa
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya agar bersegera meraih ampunan dan surga. Setelah itu, Allah menjelaskan sejumlah sifat orang bertakwa, termasuk kebiasaan mereka memohon ampun ketika melakukan kesalahan.
Allah berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 133–136.
Surah Ali ‘Imran ayat 133:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya:
“Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Surah Ali ‘Imran ayat 134:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Surah Ali ‘Imran ayat 135:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Artinya:
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.”
Surah Ali ‘Imran ayat 136:
أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
Artinya:
“Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.”
Apa saja sifat orang bertakwa dalam ayat tersebut?
Dari ayat-ayat di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting.
1. Berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit. Orang bertakwa tidak menjadikan keterbatasan harta sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik. Mereka berinfak sesuai kemampuan dan menjaga kesinambungan amal.
2. Menahan amarah. Ketika emosi muncul, mereka berusaha mengendalikan diri dan tidak membiarkan amarah mendorongnya berbuat zalim.
3. Memaafkan kesalahan orang lain. Mereka berusaha melapangkan dada, tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan, dan berharap memperoleh ampunan Allah.
4. Segera beristigfar setelah berbuat dosa. Ketika melakukan kesalahan, mereka mengingat Allah, mengakui kekurangan, dan kembali memohon ampunan-Nya.
5. Tidak terus-menerus melakukan dosa dengan sadar. Mereka tidak menjadikan istigfar sebagai alasan untuk meremehkan maksiat. Istigfar yang benar mendorong seseorang meninggalkan dosa dan memperbaiki diri.
Ayat-ayat ini memberikan pelajaran penting: orang bertakwa bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan orang yang ketika terjatuh dalam dosa segera kembali kepada Allah dan tidak bersikeras mempertahankan kemaksiatannya.
Jangan berputus asa ketika terjatuh dalam dosa
Terkadang, seseorang telah berusaha menjaga salat, lisan, dan perilakunya. Namun, pada suatu waktu ia melakukan kesalahan. Setan kemudian membisikkan bahwa dirinya sudah tidak pantas disebut orang bertakwa, bahwa seluruh kebaikannya telah sia-sia, dan bahwa tidak ada gunanya lagi memperbaiki diri.
Bisikan seperti ini dapat menyeret seseorang kepada keputusasaan. Setelah melakukan satu dosa, ia merasa dirinya sudah telanjur rusak, lalu terus melakukan maksiat karena menganggap dirinya tidak mungkin menjadi lebih baik.
Seorang muslim tidak boleh menyerah kepada bisikan tersebut. Allah memerintahkan kita agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Ayat ini merupakan panggilan penuh harapan bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah. Sebesar apa pun dosa seseorang, ia tidak boleh menutup pintu tobat bagi dirinya sendiri selama kesempatan bertobat masih terbuka.
Namun, ayat ini bukan pembenaran untuk terus bermaksiat. Harapan kepada ampunan Allah harus disertai pertobatan yang sungguh-sungguh, penyesalan, dan usaha meninggalkan dosa.
Istigfar harus diikuti pertobatan yang nyata
Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 110:
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
Artinya:
“Siapa yang mengerjakan kejahatan atau menzalimi dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Ayat ini menegaskan luasnya ampunan Allah. Seorang hamba yang berbuat dosa hendaknya segera kembali kepada-Nya, bukan membiarkan dosanya menumpuk tanpa pertobatan.
3. Istigfar Harus Disertai Keyakinan dan Kesungguhan Hati
Istigfar memiliki dua sisi yang saling berkaitan. Pertama, istigfar merupakan zikir kepada Allah. Kedua, istigfar merupakan permohonan agar Allah mengampuni dosa.
Karena itu, seseorang hendaknya tidak sekadar mengucapkan astagfirullah dengan lisannya, sementara hatinya tidak peduli terhadap dosa yang dilakukan dan dirinya sama sekali tidak berniat memperbaiki keadaan.
Istigfar yang bermanfaat adalah istigfar yang disertai kesadaran akan dosa, harapan terhadap ampunan Allah, dan kesungguhan untuk kembali kepada-Nya.
Hal ini tidak berarti seseorang harus menunggu sampai hatinya mencapai kekhusyukan yang sempurna sebelum beristigfar. Justru ia perlu terus beristigfar sambil berusaha menghadirkan hati dan memperbaiki amal.
Jangan berhenti berdoa karena takut doa tidak dikabulkan
Dalam beribadah, seorang muslim memang berharap agar amalnya diterima. Namun, ia tidak boleh menjadikan ketidakpastian tentang penerimaan amal sebagai alasan untuk berhenti beramal.
Tugas seorang hamba adalah terus berusaha menaati Allah, memperbaiki niat, dan memperbanyak amal saleh. Ia berdoa agar amalnya diterima, memohon ampun atas kekurangannya, dan melanjutkan kebaikan berikutnya.
Jika hari ini seseorang menyadari bahwa ia belum banyak beristigfar, hendaknya ia mulai beristigfar. Jika pekan ini ia lalai, hendaknya ia memperbaikinya. Jangan sampai penyesalan atas kekurangan masa lalu justru membuatnya meninggalkan amal pada hari ini.
Syarat-syarat pertobatan yang sungguh-sungguh
Ketika dosa berkaitan dengan pelanggaran terhadap hak Allah, pertobatan harus disertai kesungguhan untuk kembali menaati-Nya. Adapun jika dosa menyangkut hak manusia, seseorang juga perlu menyelesaikan hak tersebut sesuai kemampuannya.
Secara umum, pertobatan yang benar mencakup:
- Menyesali dosa yang telah dilakukan.
- Meninggalkan dosa tersebut.
- Bertekad untuk tidak mengulanginya.
- Jika menyangkut hak orang lain, mengembalikan hak atau menyelesaikan tanggungan yang berkaitan dengannya.
Apabila seseorang kembali terjatuh setelah sungguh-sungguh bertobat, ia tidak boleh berputus asa. Ia harus kembali bertobat, memperbarui tekad, dan mencari sebab yang membuatnya terjatuh agar dapat memperbaiki diri.
4. Istigfar Mendatangkan Ampunan Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan ampunan bagi hamba yang memohon ampun kepada-Nya. Akan tetapi, seorang muslim tidak boleh memahami janji ampunan ini sebagai izin untuk terus melakukan dosa tanpa penyesalan.
Dalam hadis qudsi, Allah menjelaskan betapa luas ampunan-Nya bagi hamba yang mengakui dosa dan kembali memohon ampun kepada-Nya.
Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah:
أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا، فَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ
Makna hadis:
Seorang hamba melakukan dosa, kemudian memohon kepada Allah agar dosanya diampuni. Allah menjelaskan bahwa hamba tersebut mengetahui dirinya mempunyai Rabb yang mengampuni dosa sekaligus memberikan hukuman atas dosa itu.
HR. Sahih al-Bukhari no. 7507, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini berlanjut dengan kisah seorang hamba yang berulang kali berbuat dosa, lalu kembali memohon ampun.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa seorang hamba tidak boleh berputus asa ketika terjatuh dalam dosa. Ia harus kembali kepada Allah, mengakui kesalahannya, dan memohon ampun.
Namun, bagian akhir hadis ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk sengaja mempertahankan dosa. Maksudnya bukanlah seseorang boleh berkata, “Saya akan terus bermaksiat karena Allah pasti mengampuni.” Yang benar, ia terus kembali kepada Allah setiap kali terjatuh, tanpa meremehkan dosa dan tanpa meninggalkan usaha untuk memperbaiki diri.
Ampunan Allah tidak memiliki batas waktu selama pintu tobat masih terbuka
Kesempatan untuk bertobat tidak boleh disia-siakan. Seseorang tidak mengetahui kapan ajal akan menjemputnya. Karena itu, selama masih hidup, hendaknya ia segera kembali kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.”
HR. At-Tirmidzi no. 3537, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma; dinilai hasan oleh sejumlah ahli hadis.
Adapun salah satu tanda besar menjelang hari kiamat adalah terbitnya matahari dari arah barat. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa tobat tidak lagi bermanfaat bagi orang yang baru beriman setelah tanda tersebut muncul.
Karena itu, jangan menunda tobat sampai usia tua, ketika sakit, atau ketika merasa sudah tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
5. Istigfar Mendatangkan Kebaikan dan Keberkahan
Di antara faedah istigfar yang dijelaskan dalam Al-Qur’an adalah menjadi sebab datangnya berbagai kebaikan dan keberkahan. Allah menyebutkan nasihat Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada kaumnya.
Allah berfirman dalam Surah Nuh ayat 10–12:
Ayat 10
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
Artinya:
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun.’”
Ayat 11
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
Artinya:
“Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.”
Ayat 12
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Artinya:
“Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.”
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa istigfar merupakan sebab datangnya kebaikan dengan izin Allah. Nabi Nuh ‘alaihissalam mengajak kaumnya memohon ampun karena Allah Maha Pengampun dan berkuasa memberikan berbagai karunia kepada mereka.
Di antara karunia yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah:
- Hujan yang membawa manfaat bagi kehidupan.
- Harta dan rezeki.
- Keturunan.
- Kebun-kebun yang subur.
- Sungai-sungai yang mengalir.
Namun, kita perlu memahami dalil ini dengan benar. Istigfar bukanlah rumus untuk memaksa Allah memberikan kekayaan, keturunan, atau hasil duniawi tertentu. Allah memberikan karunia menurut ilmu, hikmah, dan kehendak-Nya. Tugas kita adalah beribadah dengan ikhlas dan berharap kepada-Nya.
Kisah nasihat Hasan al-Bashri tentang istigfar
Dalam sejumlah kitab tafsir dan literatur nasihat, terdapat kisah yang masyhur tentang Hasan al-Bashri rahimahullah. Dikisahkan bahwa beberapa orang datang kepadanya dengan persoalan yang berbeda-beda: ada yang mengeluhkan kekeringan, kemiskinan, atau belum memperoleh keturunan. Ia menasihati mereka agar memperbanyak istigfar.
Kisah ini sering dijadikan pengingat tentang hubungan istigfar dengan ayat-ayat dalam Surah Nuh. Akan tetapi, redaksi kisah yang beredar memiliki beberapa versi. Karena itu, kisah tersebut sebaiknya dipahami sebagai atsar yang perlu ditelusuri sanad dan sumber spesifiknya, bukan sebagai hadis Nabi ﷺ.
Pelajaran utamanya tetap jelas: seorang muslim hendaknya menjadikan istigfar sebagai amalan rutin, sambil tetap menempuh sebab-sebab yang halal untuk mengatasi persoalan hidupnya.
6. Istigfar Menjadi Sebab Turunnya Rahmat Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Naml ayat 46:
قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya:
“Dia (Saleh) berkata, ‘Wahai kaumku! Mengapa kamu meminta disegerakan keburukan sebelum (datangnya) kebaikan? Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah agar kamu mendapat rahmat?’”
Ayat ini merupakan perkataan Nabi Saleh ‘alaihissalam kepada kaumnya. Beliau mengajak mereka agar tidak tergesa-gesa meminta keburukan, tetapi hendaknya memohon ampunan Allah dan berharap mendapatkan rahmat-Nya.
Istigfar menunjukkan bahwa seorang hamba menyadari kelemahannya dan membutuhkan kasih sayang Allah. Ia tidak merasa cukup dengan amalnya, tidak sombong terhadap ketaatannya, serta tidak menutup pintu pertobatan ketika melakukan kesalahan.
Karena itu, siapa pun yang mengharapkan rahmat Allah hendaknya memperbanyak istigfar dan memperbaiki amalnya.
7. Istigfar Menjadi Sebab Terhindar dari Azab Allah
Allah berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 33:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Artinya:
“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka memohon ampunan.”
Ayat ini menyebutkan dua keadaan yang berkaitan dengan terhindarnya suatu kaum dari azab Allah pada konteks ayat tersebut: keberadaan Rasulullah ﷺ di tengah mereka dan istigfar mereka.
Hal ini mengingatkan kita bahwa istigfar merupakan amalan yang agung. Seorang muslim tidak hanya berusaha menghindari dosa, tetapi juga senantiasa memohon agar Allah mengampuni kekurangan dan kesalahannya.
Meski demikian, ayat ini tidak berarti bahwa orang yang beristigfar pasti terbebas dari setiap musibah duniawi. Musibah dapat menjadi ujian, penghapus dosa, atau memiliki hikmah lain yang tidak selalu kita ketahui. Yang ditekankan adalah pentingnya kembali kepada Allah dan tidak merasa aman dari dosa.
8. Istigfar Mendatangkan Kebaikan dan Kekuatan
Allah berfirman dalam Surah Hud ayat 3:
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ
Artinya:
“Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik.” (QS. Hud: 3, kutipan ayat).
Ayat tersebut menggabungkan dua amalan: istigfar dan tobat. Keduanya tidak sepatutnya dipisahkan. Istigfar merupakan permohonan ampun, sedangkan tobat menunjukkan kembalinya seseorang kepada ketaatan.
Seorang muslim yang memperbanyak istigfar hendaknya juga memperbaiki hubungan dengan Allah, menjaga kewajiban, menjauhi maksiat, dan berusaha menunaikan hak orang lain.
Kebaikan yang Allah berikan dapat berupa ketenangan hati, kemudahan dalam menjalani ketaatan, keberkahan rezeki, atau karunia lain sesuai kehendak-Nya. Kita tidak boleh memastikan bentuk karunia tertentu tanpa dalil.
9. Istigfar Merupakan Kebiasaan Para Nabi dan Rasul
Istigfar bukan hanya amalan umat Nabi Muhammad ﷺ. Para nabi terdahulu pun mengajarkan istigfar dan tobat kepada umat mereka. Al-Qur’an mengabadikan doa dan nasihat mereka agar menjadi pelajaran bagi kita.
A. Doa Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimas salam
Ketika Nabi Adam dan Hawa melakukan kesalahan, mereka mengakui telah menzalimi diri sendiri dan memohon ampunan Allah.
Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 23:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya:
“Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’”
Doa ini mengajarkan adab yang penting ketika berbuat dosa. Keduanya tidak menyalahkan orang lain, tidak membela kesalahan, dan tidak menganggap diri bebas dari tanggung jawab. Mereka mengakui kesalahan dan memohon ampunan Allah.
B. Doa Nabi Nuh ‘alaihissalam
Nabi Nuh juga berdoa agar Allah mengampuninya dan mengampuni orang-orang beriman.
Allah berfirman dalam Surah Nuh ayat 28:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا
Artinya:
“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman, laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim itu selain kehancuran.”
Doa ini memperlihatkan luasnya cakupan permohonan ampun Nabi Nuh. Beliau tidak hanya memohon untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk kedua orang tua dan orang-orang beriman.
C. Nasihat Nabi Hud ‘alaihissalam
Nabi Hud mengajak kaumnya untuk memohon ampun dan bertobat kepada Allah.
Allah berfirman dalam Surah Hud ayat 52:
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
Artinya:
“Dan wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu. Janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.”
Ayat ini kembali menegaskan bahwa istigfar dan tobat merupakan amalan yang diajarkan oleh para nabi. Nabi Hud menjelaskan bahwa ketaatan dan pertobatan merupakan sebab datangnya karunia Allah.
D. Nasihat Nabi Saleh ‘alaihissalam
Allah berfirman dalam Surah Hud ayat 61:
فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ
Artinya:
“Maka mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”
E. Nasihat Nabi Syu’aib ‘alaihissalam
Allah berfirman dalam Surah Hud ayat 90:
وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ
Artinya:
“Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih.”
Dari doa Nabi Adam, Nabi Nuh, dan ajakan Nabi Hud, Saleh, serta Syu’aib, kita memahami bahwa istigfar merupakan bagian penting dari ajaran para nabi.
Mereka mengajarkan manusia untuk mengakui kelemahan, memohon ampun, bertobat, dan berharap kepada Allah. Karena itu, memperbanyak istigfar merupakan amalan yang patut dijaga oleh setiap muslim.
10. Rasulullah ﷺ Memperbanyak Istigfar sebagai Wujud Penghambaan
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam ibadah, rasa syukur, dan penghambaan kepada Allah. Beliau memperbanyak salat malam hingga kedua kakinya bengkak.
Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya mengapa beliau beribadah sedemikian rupa padahal Allah telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang, Rasulullah ﷺ menjawab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Artinya:
“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
HR. Sahih al-Bukhari no. 4837 dan Sahih Muslim no. 2820.
Jawaban Nabi ﷺ ini mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya dilakukan karena takut terhadap hukuman, tetapi juga sebagai bentuk syukur atas nikmat dan ampunan Allah.
Semakin seseorang mengenal nikmat Allah, seharusnya semakin besar pula rasa syukurnya. Ia tidak menggunakan ampunan Allah sebagai alasan untuk bermalas-malasan dalam ibadah, melainkan menjadikannya motivasi untuk semakin taat.
11. Beberapa Keutamaan Istigfar dalam Hadis Nabi ﷺ
Selain ayat-ayat Al-Qur’an, terdapat sejumlah hadis yang menganjurkan umat Islam memperbanyak istigfar dan mengajarkan doa-doa yang dapat diamalkan sehari-hari.
A. Memperbanyak istigfar setiap hari
Sebagaimana telah disebutkan, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Artinya:
“Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”
HR. Sahih Muslim no. 2702b.
Hadis ini menjadi landasan yang kuat untuk membiasakan istigfar setiap hari. Seorang muslim dapat menetapkan waktu tertentu agar amalan tersebut terjaga, tanpa mengabaikan kesempatan beristigfar di waktu-waktu lainnya.
B. Keutamaan istigfar yang sering disebutkan dalam ceramah
Dalam ceramah, sering dikutip sebuah riwayat yang berbunyi:
مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya:
“Barang siapa membiasakan istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Riwayat ini dinisbatkan kepada Nabi ﷺ dalam Sunan Abi Dawud no. 1518 menurut sejumlah penomoran yang beredar, tetapi terdapat pembahasan mengenai kualitas sanadnya. Karena itu, statusnya perlu diperiksa menurut penilaian ahli hadis sebelum dinyatakan sahih. Maknanya juga tidak boleh dijadikan jaminan bahwa setiap masalah duniawi pasti langsung selesai setelah seseorang beristigfar.
C. Keutamaan memperbanyak istigfar dalam catatan amal
Terdapat pula ungkapan yang populer di masyarakat:
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
Artinya:
“Beruntunglah orang yang mendapati banyak istigfar dalam catatan amalnya.”
Ungkapan ini dikenal sebagai riwayat yang mendorong memperbanyak istigfar. Namun, sumber dan kualitas sanadnya perlu diverifikasi sebelum dicantumkan sebagai hadis sahih. Oleh karena itu, keutamaan memperbanyak istigfar sebaiknya terutama didasarkan pada dalil-dalil sahih yang telah disebutkan di atas.
12. Istigfar dan Tauhid: Berharap Hanya kepada Allah
Di antara hadis yang sangat menggembirakan bagi orang yang ingin bertobat adalah hadis qudsi tentang luasnya ampunan Allah bagi hamba yang tidak menyekutukan-Nya.
Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَىٰ مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي
Artinya:
“Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampuni dosa-dosamu yang telah engkau lakukan dan Aku tidak memedulikannya.”
Dalam kelanjutan hadis tersebut, Allah menjelaskan bahwa dosa yang sangat banyak pun tidak menghalangi ampunan-Nya apabila seorang hamba benar-benar kembali kepada-Nya. Hadis ini juga menegaskan pentingnya tauhid dan menjauhi kesyirikan.
HR. At-Tirmidzi no. 3540 dalam sejumlah penomoran; dikenal sebagai hadis qudsi tentang luasnya ampunan Allah.
Pelajaran yang perlu kita perhatikan adalah bahwa seorang muslim harus menjaga tauhid, menjauhi syirik, dan terus memohon agar diteguhkan di atas agama yang benar.
Dakwah kepada tauhid sangat penting karena tauhid merupakan fondasi ibadah. Istigfar pun harus disertai keikhlasan, yaitu memohon ampun kepada Allah semata, bukan menggantungkan harapan ibadah kepada selain-Nya.
13. Bentuk-Bentuk Istigfar yang Diajarkan dalam Syariat
Ada beberapa doa istigfar yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Seorang muslim hendaknya mempelajarinya, memahami maknanya, dan mengamalkannya sesuai tuntunan.
A. Sayyidul istigfar
Sayyidul istigfar adalah doa istigfar yang paling utama. Rasulullah ﷺ mengajarkannya sebagai zikir yang dibaca pada pagi dan sore hari.
Bacaan lengkapnya:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَىٰ عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
Artinya:
“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang pada perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa siapa yang membacanya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal sebelum sore, akan termasuk penghuni surga. Demikian pula orang yang membacanya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal sebelum pagi.
HR. Sahih al-Bukhari no. 6306.
Doa ini memuat pengakuan terhadap rububiyah Allah, penghambaan diri, pengakuan atas nikmat, pengakuan dosa, dan permohonan ampunan. Karena itu, hendaknya kita tidak hanya menghafal lafaznya, tetapi juga memahami maknanya.
B. Doa istigfar yang diajarkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah meminta Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang dapat dibacanya dalam salat.
Rasulullah ﷺ mengajarkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
HR. Sahih al-Bukhari no. 834.
Doa ini sangat baik untuk dihafalkan karena mengandung pengakuan atas kelemahan diri dan keyakinan bahwa hanya Allah yang mampu mengampuni dosa.
C. Istigfar dengan menyebut nama-nama Allah
Di antara bacaan istigfar yang dikenal adalah:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Artinya:
“Aku memohon ampun kepada Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, dan aku bertobat kepada-Nya.”
Bacaan ini dapat diamalkan sebagai istigfar. Namun, keutamaan khusus yang menyebutkan pengampunan dosa tertentu hendaknya dikaitkan dengan riwayat yang benar-benar terverifikasi, bukan sekadar berdasarkan kutipan populer.
D. Doa Nabi Adam dan Hawa
Selain doa-doa di atas, kita juga dapat mengamalkan doa dalam Surah Al-A’raf ayat 23:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya:
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
Doa ini sangat tepat dibaca ketika seseorang menyadari kekurangan dan ingin kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.
14. Nasihat Hasan al-Bashri: Perbanyak Istigfar di Mana Pun Berada
Dalam ceramah tersebut dinukil perkataan yang dinisbatkan kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, yang maknanya menganjurkan manusia agar memperbanyak istigfar di rumah, tempat makan, pasar, jalan, dan berbagai tempat aktivitas.
Nasihat tersebut mengingatkan kita agar tidak membatasi istigfar hanya pada waktu salat atau setelah melakukan dosa besar. Istigfar dapat menjadi kebiasaan harian yang menyertai berbagai aktivitas yang halal.
Seseorang dapat beristigfar ketika sedang berjalan, berkendara, bekerja, memasak, atau mengerjakan pekerjaan rumah. Selama tidak mengganggu kewajiban dan adab yang harus dijaga, ia dapat membiasakan zikir kepada Allah.
Catatan sumber: Redaksi Arab lengkap perkataan Hasan al-Bashri dalam rekaman belum dapat dipastikan sumber kitabnya secara spesifik. Oleh karena itu, perkataan tersebut tidak saya cantumkan sebagai kutipan Arab yang pasti atau menisbatkannya kepada kitab tertentu tanpa verifikasi. Untuk artikel ilmiah, sumber primer dan sanad atsar ini sebaiknya diperiksa sebelum diterbitkan.
15. Pelajaran Penting dari Istigfar
Dari seluruh pembahasan tersebut, ada beberapa pelajaran yang patut kita jadikan pegangan.
1. Istigfar adalah kebutuhan setiap muslim. Bukan hanya orang yang banyak berbuat dosa, tetapi juga orang yang berusaha menjaga ketaatan.
2. Waktu sahur merupakan waktu yang utama untuk memohon ampun. Orang-orang saleh menjadikan penghujung malam sebagai waktu beribadah dan beristigfar.
3. Orang bertakwa bukan orang yang tidak pernah salah. Mereka adalah orang yang segera kembali kepada Allah ketika melakukan kesalahan dan tidak bersikeras mempertahankan dosa.
4. Istigfar harus disertai kesungguhan hati. Lisan memohon ampun, sementara hati berusaha menyesali dosa dan meninggalkan kemaksiatan.
5. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sebesar apa pun dosa yang dilakukan, seseorang harus segera bertobat dan tidak menyerah kepada bisikan setan.
6. Istigfar merupakan sebab datangnya kebaikan dan rahmat. Namun, bentuk dan waktu datangnya karunia Allah berada dalam kehendak-Nya.
7. Para nabi mengajarkan istigfar kepada umat mereka. Ini menunjukkan kedudukan istigfar yang sangat penting dalam kehidupan seorang hamba.
8. Pelajari doa istigfar yang bersumber dari dalil. Sayyidul istigfar dan doa yang diajarkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq merupakan contoh doa yang patut dihafalkan dan diamalkan.
9. Jaga tauhid dan ikhlaskan ibadah kepada Allah. Istigfar harus disertai keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi dan hanya Dia yang mampu mengampuni dosa.
Penutup
Jamaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, istigfar adalah amalan yang sederhana dalam ucapan, tetapi besar maknanya bagi kehidupan seorang muslim. Melalui istigfar, seorang hamba mengakui kelemahannya, menyadari dosa-dosanya, dan berharap kepada luasnya ampunan Allah.
Jangan menunggu sampai merasa menjadi orang yang saleh untuk mulai beristigfar. Justru karena kita memiliki kekurangan, kita perlu terus memohon ampun. Jangan pula menjadikan dosa yang telah dilakukan sebagai alasan untuk meninggalkan amal saleh. Jika terjatuh, bangkitlah. Jika berbuat salah, bertobatlah. Jika lalai, kembalilah mengingat Allah.
Marilah kita membiasakan istigfar pada pagi dan sore hari, setelah salat, pada waktu sahur, serta di sela-sela aktivitas sehari-hari. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, melimpahkan rahmat-Nya, dan meneguhkan kita di atas tauhid serta ketaatan sampai akhir hayat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَارْحَمْنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, rahmatilah kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.



