Kajian RutinTematik

Orang-orang yang Dido’akan Malaikat #2

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita memuji, memohon pertolongan, dan meminta ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga, sahabat, serta orang-orang yang mengikuti jalan beliau hingga hari kiamat. Amma ba’du.

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala atas limpahan nikmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat melanjutkan aktivitas ibadah di tempat yang paling Allah cintai, yaitu masjid. Majelis ilmu ini menjadi sarana bagi kita untuk meraih pahala yang besar dan berikhtiar menuju tempat abadi di surga-Nya. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa siapa saja yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada suri teladan kita, Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan pembahasan mengenai golongan orang-orang pilihan yang mendapatkan keberuntungan besar karena dido’akan oleh para malaikat. Sebelumnya, kita telah mempelajari empat golongan pertama, yaitu:

  1. Orang yang bertobat kepada Allah.
  2. Orang yang tidur malam dalam keadaan bersuci (setelah berwudu).
  3. Orang yang menunggu shalat di masjid setelah menunaikan shalat.
  4. Orang yang melaksanakan shalat berjamaah di shaf terdepan.

Selanjutnya, mari kita bahas golongan kelima hingga kedelapan dari kelompok orang-orang yang beruntung tersebut.

5. Orang yang Menyambung Shaf dalam Shalat Berjamaah

Dalam pelaksanaan shalat berjamaah, adakalanya shaf menjadi renggang atau terputus. Hal ini bisa terjadi ketika makmum bangkit untuk rakaat berikutnya atau saat ada makmum yang batal wudu sehingga harus keluar dari barisan. Syariat Islam mengajarkan agar shaf tersebut segera ditutup dan disambung kembali, baik dengan bergeser maupun dengan maju dari barisan belakang. Langkah menyambung shaf ini sangat dianjurkan dan mendapatkan keutamaan luar biasa, yaitu didoakan langsung oleh para malaikat.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf (shalat).” (HR. Ahmad no. 24521, Ibnu Majah no. 995)

Shalawat dari Allah berarti ampunan dan rahmat bagi hamba-Nya, sedangkan shalawat dari para malaikat berupa doa mohon ampunan kepada Allah untuk orang-orang yang menyambung shaf. Betapa pentingnya kelurusan dan kerapatan shaf hingga Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam turun tangan langsung mengatur barisan para sahabat. Beliau menepuk pundak sahabat yang terlalu maju atau mundur sambil mengingatkan:

اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

“Janganlah kalian berselisih (dalam meluruskan shaf), karena hal itu dapat menyebabkan hati kalian saling berselisih.” (HR. Muslim no. 432)

Oleh karena itu, setiap imam hendaknya selalu mengingatkan makmum untuk meluruskan dan merapatkan barisan, dan setiap makmum yang melihat celah kosong hendaknya segera mengisinya demi menyempurnakan shalat dan meraih doa malaikat.

6. Orang yang Mengucapkan “Amin” Bersamaan dengan Malaikat

Golongan keenam yang beruntung adalah orang yang mengucapkan lafal “amin” setelah imam selesai membaca surah Al-Fatihah dalam shalat. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Apabila imam mengucapkan “aamiin”, maka ucapkanlah “aamiin”. Karena barangsiapa yang mengucapkan “aamiin” berbarengan dengan ucapan “aamiin” malaikat, niscaya dosanya yang telah lalu diampuni.” (HR. Bukhari no. 780 dan Muslim no. 410)

Ketika membaca Al-Fatihah, kita memohon petunjuk dan perlindungan kepada Allah. Saat ucapan “amin” (yang bermakna “Ya Allah, kabulkanlah”) diucapkan berbarengan dengan aminnya para malaikat, doa-doa tersebut menjadi lebih diijabah dan menjadi pembersih dosa-dosa masa lalu.

Dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, 

إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَنَا فَبَيَّنَ لَنَا سُنَّتَنَا وَعَلَّمَنَا صَلَاتَنَا. فَقَالَ: ” إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذْ قَالَ {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] ، فَقُولُوا: آمِينَ، يُجِبْكُمُ اللهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kita, lalu menjelaskan kepada kita sunnah-sunnahnya, dan mengajarkan kepada kita tentang shalat kita. Beliau bersabda, 

“Apabila kalian shalat, maka luruskanlah shaf-shaf kalian. Kemudian hendaklah salah seorang dari kalian mengimami kalian. Apabila dia bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Dan apabila dia mengucapkan, “Ghairil Maghdhuubi ‘Alaihim wala adh-Dhallin (Bukan jalan orang yang dimurkai dan tidak pula jalan orang yang sesat)”, maka katakanlah, “Aamiin”. Niscaya Allah akan mengabulkan doa kalian.” (HR. Muslim no. 410)

Keutamaan ucapan amin dan salam ini bahkan membuat kaum Yahudi merasa sangat dengki kepada umat Islam. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa tidak ada hal yang paling didengki oleh kaum Yahudi melainkan ucapan salam dan ucapan amin dalam shalat kita. Oleh sebab itu, jangan sekali-kali menyepelekan atau mempermainkan ucapan amin.

Cara Pengucapan Lafal “Amin”

Para ulama menjelaskan tata cara pengucapan lafal “amin” agar tidak merusak keabsahan shalat:

  • Lafal yang dibolehkan:
    1. Memanjangkan hamzah dan memanjangkan mim (Āmīn).
    2. Memendekkan hamzah dan memanjangkan mim (Amīn).
  • Lafal yang tidak dibolehkan (dapat membatalkan shalat):
    1. Memanjangkan hamzah, bertasydid pada mim, dan memendekkan ya (Āmmin).
    2. Memendekkan hamzah, bertasydid pada mim, dan memendekkan ya (Ammin).
    3. Memendekkan hamzah, tidak bertasydid pada mim, tetapi memendekkan ya (Amin).

7. Orang yang Melaksanakan Makan Sahur

Golongan ketujuh yang didoakan oleh para malaikat adalah orang-orang yang makan sahur sebelum berpuasa. Makan sahur merupakan amalan sunah yang penuh berkah. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpesan agar kita tidak meninggalkannya, meskipun hanya dengan seteguk air atau sebiji kurma.

Beliau Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اَلسَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ, فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ

“Makan sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah seorang di antara kalian hanya meminum seteguk air. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad no. 11086)

Selain mendatangkan berkah dan doa malaikat, sahur juga menjadi pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa Ahlul Kitab. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim no. 1096)

8. Orang yang Melaksanakan Shalat Subuh dan Asar Berjamaah

Golongan kedelapan yang mendapat doa dari malaikat adalah mereka yang menunaikan shalat Subuh dan Asar secara berjamaah. Para malaikat yang bertugas di malam hari dan siang hari akan berkumpul pada waktu shalat Subuh dan Asar. Ketika bergantian tugas dan kembali kepada Allah, Allah bertanya kepada mereka—meski Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya:

كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، فَاغْفِرْ لَهُمْ

“‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab: ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat, dan kami mendatangi mereka juga dalam keadaan sedang shalat. Maka ampunilah mereka, ya Rabb.'” (HR. Bukhari no. 555, Muslim no. 610, Ahmad no. 9140)

Kalimat “Fagfir lahum” (ampunilah mereka) merupakan doa permohonan ampunan dari para malaikat secara khusus bagi orang-orang yang menjaga shalat Subuh dan Asar secara berjamaah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan keistiqamahan kepada kita di atas Islam, iman, dan amal saleh, serta mengumpulkan kita kelak di dalam surga-Nya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button