Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 204–207: Sifat Orang Munafik dan Orang yang Mengorbankan Dirinya demi Keridhaan Allah

Bismillah
✒️┃Materi: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 204–207: Sifat Orang Munafik dan Orang yang Mengorbankan Dirinya demi Keridaan Allah
🎙┃Pemateri: Ustadz Ikmal Fahad Dawud, S.Pd.I., M.P.I Hafidzahullah | Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo
📆┃Hari: Rabu, 10 Jumadil Awal 1448 / 21 Oktober 2026
🕰️┃Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat: Masjid An-Nur Pasar Kliwon, Surakarta.
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat.
Pembahasan kali ini berkaitan dengan tafsir Surah Al-Baqarah ayat 204–207. Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjelaskan dua karakter manusia yang sangat berbeda. Kelompok pertama adalah orang yang perkataannya tampak indah, tetapi tindakannya justru mendatangkan kerusakan. Ketika dinasihati agar bertakwa kepada Allah, ia malah bersikap sombong dan terus melakukan dosa.
Sebaliknya, kelompok kedua adalah orang yang rela mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah. Ia tidak menjadikan harta dan kepentingan dunia sebagai tujuan tertinggi, melainkan berusaha menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Dua gambaran ini mengajarkan kepada kita agar tidak menilai seseorang hanya berdasarkan perkataannya. Kejujuran, ketakwaan, dan kesungguhan seseorang dalam menjalankan agama juga harus tampak dalam perbuatannya.
1. Orang yang Perkataannya Mengagumkan, tetapi Hatinya Menyimpan Keburukan
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 204:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
Artinya:
“Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah [2]: 204).
Ayat ini berkaitan dengan dua ayat sebelumnya yang menjelaskan karakter manusia. Ada orang yang pandai berbicara sehingga perkataannya membuat orang lain kagum. Ia bahkan bersumpah dengan nama Allah untuk menunjukkan bahwa apa yang dikatakannya sesuai dengan isi hatinya.
Namun, di balik tutur kata yang manis tersebut, terdapat keburukan yang tidak tampak oleh manusia. Allah menyebutnya sebagai أَلَدُّ الْخِصَامِ (aladdul-khishām), yaitu orang yang sangat keras dalam permusuhan dan perdebatan.
Dalam penjelasan kajian, ayat ini dikaitkan dengan Al-Akhnas bin Syuraiq Ats-Tsaqafi, yang disebut sebagai salah seorang tokoh kaum munafik pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia datang kepada Rasulullah dengan perkataan yang manis dan menampakkan kecintaan kepada beliau. Akan tetapi, perilakunya tidak mencerminkan apa yang diucapkannya.
Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa kemampuan berbicara dengan baik tidak selalu menunjukkan baiknya hati seseorang. Ada orang yang menggunakan perkataan untuk menutupi keburukan, memengaruhi orang lain, atau memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri.
Karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati agar tidak tertipu oleh penampilan dan tutur kata semata. Perkataan yang baik seharusnya diiringi kejujuran dan perbuatan yang benar.
2. Orang yang Berbuat Kerusakan Ketika Memiliki Kekuasaan
Allah Subhanahu wa Ta‘ala melanjutkan firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 205:
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
Artinya:
“Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 205).
Dua penjelasan tentang makna tawallā
Dalam kajian, pemateri menjelaskan dua penafsiran terhadap kata tawallā pada ayat ini.
Pertama, berpaling atau kembali kepada kelompoknya. Setelah menampakkan perkataan yang baik di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang tersebut kembali kepada kelompoknya dan melakukan perbuatan yang merusak.
Dalam penjelasan yang disampaikan, Al-Akhnas bin Syuraiq dikaitkan dengan perbuatan membakar kebun kurma milik seorang dari kalangan Anshar. Kerusakan itu juga menimpa hewan ternak yang berada di tempat tersebut.
Kedua, memperoleh kekuasaan dan kemampuan untuk bertindak. Menurut penafsiran yang lebih umum, ayat ini juga menggambarkan orang yang ketika mendapatkan kekuasaan justru menggunakannya untuk berbuat kerusakan di muka bumi.
Pelajaran ayat tidak terbatas pada sebab khusus turunnya. Kandungannya juga menjadi peringatan bagi siapa saja yang memiliki kekuasaan, jabatan, atau kemampuan untuk memengaruhi kehidupan orang lain.
Dalam ilmu tafsir dikenal kaidah:
الْعِبْرَةُ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ
Artinya: “Pelajaran diambil berdasarkan keumuman lafaz, bukan semata-mata kekhususan sebab.”
Kaidah ini menjelaskan bahwa ketika suatu ayat turun berkaitan dengan peristiwa tertentu, pelajaran yang terkandung di dalamnya dapat berlaku secara umum selama cakupan lafaz dan maknanya memang demikian.
Bentuk-bentuk kerusakan
Pemateri menjelaskan bahwa kerusakan yang dimaksud dalam ayat ini dapat dipahami dalam dua bentuk.
a. Kerusakan fisik atau nyata
Allah menyebutkan al-harts dan an-nasl. Kata al-harts berkaitan dengan tanaman atau hasil pertanian, sedangkan an-nasl berkaitan dengan keturunan. Ayat ini menunjukkan bahwa tindakan merusak dapat menimpa sumber penghidupan dan kehidupan makhluk.
Contoh kerusakan fisik yang dibahas dalam kajian meliputi:
- Menebang hutan secara merusak dan membakar kawasan hutan.
- Merusak tanaman, kebun, dan lahan pertanian.
- Mengganggu keseimbangan lingkungan dan kehidupan hewan.
- Mengakibatkan hilangnya kemampuan lingkungan untuk menahan air sehingga meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor.
Ketika hutan dirusak demi kepentingan pribadi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga oleh masyarakat luas. Kerusakan lingkungan dapat menghilangkan sumber penghidupan dan mendatangkan bencana bagi banyak orang.
b. Kerusakan maknawi
Kerusakan juga dapat berbentuk dosa dan kemaksiatan. Dalam penjelasan kajian, orang yang menyalahgunakan kekuasaan bukan hanya dapat merusak kehidupan secara fisik, melainkan juga membuka jalan bagi kemaksiatan dan keburukan dalam masyarakat.
Karena itu, jabatan dan kekuasaan semestinya digunakan untuk menegakkan kebaikan, menjaga amanah, serta mencegah kerusakan, bukan menjadi sarana untuk mengikuti hawa nafsu.
Pada akhir ayat, Allah menegaskan:
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
Artinya: “Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 205).
Ayat ini menjadi peringatan bahwa segala bentuk kerusakan, baik yang menimpa kehidupan fisik maupun yang berkaitan dengan dosa dan kemaksiatan, bukanlah sesuatu yang dicintai oleh Allah.
Catatan tentang pembahasan keturunan
Dalam kajian, pemateri juga menghubungkan kata an-nasl dengan persoalan keturunan dan menyebut anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar umatnya memperbanyak keturunan. Dalil yang disampaikan adalah hadis berikut:
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ
Artinya:
“Nikahilah perempuan yang penyayang lagi subur (banyak keturunan), karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 2050, dari Ma‘qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu. <PRIVATE_PERSON>
Hadis tersebut menunjukkan keutamaan menikah dengan perempuan yang penyayang dan subur. Namun, pembahasan mengenai kebijakan kependudukan, perencanaan keluarga, dan hukum setiap metode pengaturan keturunan memerlukan perincian tersendiri. Hal-hal tersebut tidak sepatutnya disamakan begitu saja tanpa penjelasan hukum dan konteksnya.
3. Kesombongan Orang yang Menolak Nasihat
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 206:
وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
Artinya:
“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah,’ bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka Jahanam, dan sungguh (Jahanam) itu tempat tinggal yang terburuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 206).
Ayat ini menggambarkan karakter orang yang ketika dinasihati agar bertakwa kepada Allah justru bereaksi dengan kesombongan. Ia tidak menjadikan nasihat sebagai sarana memperbaiki diri, tetapi merasa tersinggung dan mempertahankan kesalahannya.
Dalam penjelasan kajian, hal ini disebut sebagai salah satu ciri buruk kaum munafik: ketika diberikan nasihat dan diarahkan kepada kebenaran, ia enggan menerima perintah yang baik dan larangan dari kemungkaran.
Nasihat “Ittaqillāh” berarti “Bertakwalah kepada Allah.” Kalimat ini mengingatkan seseorang agar takut kepada Allah, memperhatikan batasan-batasan-Nya, dan menyadari bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.
Seseorang yang memiliki iman seharusnya berusaha menerima nasihat dengan rendah hati, sekalipun nasihat itu terasa berat bagi dirinya. Tidak berarti setiap nasihat dari manusia pasti benar, tetapi nasihat yang sesuai dengan dalil dan kebenaran hendaknya diterima, bukan ditolak hanya karena menyentuh kesalahan pribadi.
Orang yang takut kepada manusia, tetapi tidak takut kepada Allah
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا
Artinya:
“Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Dan Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’ [4]: 108).
Ayat ini menjelaskan keadaan orang yang berusaha menyembunyikan keburukannya dari manusia, tetapi tidak menyadari bahwa Allah mengetahui segala sesuatu.
Dalam kajian, ayat ini dijadikan pengingat bahwa seseorang tidak boleh lebih takut terhadap penilaian manusia daripada pengawasan Allah. Rasa malu kepada manusia semestinya tidak menjadi satu-satunya penghalang dari perbuatan dosa. Yang lebih penting adalah kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui perbuatan hamba-Nya.
Sebaliknya, orang beriman berusaha menjaga diri karena mengetahui bahwa Allah melihat dan mengetahui apa yang tampak maupun yang tersembunyi.
Nasihat para salaf ketika diingatkan agar bertakwa
Dalam kajian, pemateri menukil perkataan yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الذُّنُوبِ عِنْدَ اللَّهِ أَنْ يُقَالَ لِلْعَبْدِ: اتَّقِ اللَّهَ، فَيَقُولَ: عَلَيْكَ بِنَفْسِكَ
Artinya:
“Sesungguhnya di antara dosa terbesar di sisi Allah adalah ketika seseorang dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah,’ lalu ia menjawab, ‘Uruslah dirimu sendiri.’”
Perkataan ini menggambarkan betapa buruknya sikap seseorang yang menolak nasihat dengan kesombongan. Ketika diingatkan tentang Allah, akhirat, dan akibat dosa, ia justru menantang orang yang menasihatinya.
Pemateri juga menyampaikan sebuah kisah tentang Malik bin Mughawwil. Ketika seseorang berkata kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah,” ia disebut langsung merendahkan dirinya hingga meletakkan pipinya di tanah sebagai bentuk ketundukan kepada Allah.
Kisah ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana generasi salaf memandang nasihat. Mereka tidak semata-mata menilai nasihat dari siapa yang mengucapkannya, tetapi berusaha mengambil pelajaran ketika diingatkan kepada ketakwaan. Namun, sumber kisah tersebut juga perlu ditelusuri sebelum dijadikan kutipan bersanad.
Perbedaan sikap ini memberikan pelajaran penting. Orang yang menginginkan kebaikan akan berusaha memperbaiki diri ketika mengetahui kesalahannya. Adapun kesombongan dapat membuat seseorang terus mempertahankan dosa, sekalipun telah diingatkan.
Perintah untuk saling mengingatkan dalam ketakwaan
Dari ayat ini, kita juga memahami pentingnya saling menasihati. Apabila mengetahui saudara kita melakukan kesalahan, kita dapat mengingatkannya agar bertakwa kepada Allah, dengan cara yang baik, bijaksana, dan sesuai dengan keadaan.
Misalnya, ketika melihat seseorang mengambil hak orang lain, melakukan kecurangan, atau menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, kita hendaknya tidak membiarkannya begitu saja. Kita dapat menasihatinya agar takut kepada Allah dan meninggalkan perbuatan yang zalim.
Nasihat bukanlah alasan untuk menghina, mempermalukan, atau bertindak sewenang-wenang. Tujuannya adalah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan serta ketentuan syariat.
Allah menutup ayat ini dengan ancaman:
فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
Artinya:
“Maka cukuplah baginya neraka Jahanam, dan sungguh, itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah [2]: 206).
Ancaman ini menunjukkan beratnya bahaya kesombongan dan dosa. Karena itu, jangan sampai nasihat yang seharusnya menjadi jalan perbaikan justru menjadi sebab seseorang semakin jauh dari kebenaran.
Sikap terhadap ayat-ayat Allah
Allah Subhanahu wa Ta‘ala juga berfirman:
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكُمُ ۚ النَّارُ ۗ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Artinya:
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, engkau akan mengetahui pengingkaran pada wajah orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Katakanlah, ‘Apakah akan aku kabarkan kepadamu sesuatu yang lebih buruk daripada itu? (Yaitu) neraka.’ Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang kafir. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Hajj [22]: 72).
Ayat ini menggambarkan penolakan orang-orang kafir terhadap ayat-ayat Allah. Dalam kajian, pemateri mengingatkan agar kaum muslimin tidak meniru sikap menolak kebenaran ketika mendengar nasihat atau dalil yang mengingatkan mereka kepada Allah dan akhirat.
Seorang muslim hendaknya berusaha menerima kebenaran dengan rendah hati. Apabila suatu dalil belum dipahami, jalan yang benar adalah bertanya dan mencari penjelasan, bukan langsung menolak karena tidak sesuai dengan keinginan pribadi.
4. Orang yang Mengorbankan Dirinya demi Keridaan Allah
Setelah menjelaskan karakter orang yang berbuat kerusakan dan menolak nasihat, Allah Subhanahu wa Ta‘ala menyebutkan karakter manusia yang berbeda dalam ayat berikutnya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 207:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Artinya:
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 207).
Ayat ini menggambarkan orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah. Kata yasyri pada ayat tersebut bermakna menjual atau mengorbankan diri. Maksudnya bukan menjual diri dalam pengertian transaksi duniawi biasa, melainkan mengerahkan jiwa dan segala yang dimiliki untuk menaati Allah dan mencari keridaan-Nya.
Pemateri menjelaskan bahwa ayat ini secara khusus dikaitkan oleh para ahli tafsir dengan sahabat Suhaib bin Sinan Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, pelajarannya tidak terbatas pada satu orang. Ayat ini juga menjadi pelajaran bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh mengorbankan jiwa, tenaga, waktu, dan hartanya dalam ketaatan kepada Allah.
Kisah Suhaib bin Sinan Ar-Rumi
Suhaib bin Sinan Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu berasal dari wilayah Romawi dan kemudian datang ke Makkah. Dalam penjelasan kajian, beliau digambarkan sebagai seorang yang pada awal kedatangannya tidak memiliki banyak harta. Dengan berdagang, beliau kemudian memperoleh kekayaan.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Suhaib masuk Islam. Setelah datang perintah hijrah ke Madinah, beliau bersiap meninggalkan Makkah untuk menyusul Rasulullah dan kaum muslimin.
Namun, orang-orang Quraisy menghalanginya. Mereka mempersoalkan harta yang telah dikumpulkannya di Makkah dan meminta agar harta tersebut diserahkan jika ia ingin meninggalkan kota itu.
Suhaib akhirnya memilih meninggalkan hartanya demi dapat berhijrah. Ia lebih mengutamakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya daripada mempertahankan kekayaan yang telah dikumpulkannya.
Dalam kisah yang disebutkan dalam kajian, ketika Suhaib tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambutnya dengan ungkapan:
رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى، رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى
Artinya:
“Perdaganganmu sungguh menguntungkan, wahai Abu Yahya. Perdaganganmu sungguh menguntungkan, wahai Abu Yahya.”
Kisah ini memberikan gambaran tentang pengorbanan Suhaib. Harta yang ditinggalkannya tidak sebanding dengan ketaatan yang hendak dijaganya. Ia memilih sesuatu yang lebih utama di sisi Allah daripada keuntungan dunia yang fana.
Pelajaran dari kisah Suhaib
Dari kisah tersebut, ada beberapa pelajaran yang dapat diambil:
- Ketaatan kepada Allah harus lebih diutamakan daripada kepentingan dunia. Harta memiliki manfaat, tetapi tidak boleh menjadi penghalang seseorang dalam menjalankan agama.
- Pengorbanan tidak selalu berbentuk kehilangan nyawa. Mengorbankan waktu, tenaga, harta, kenyamanan, dan keinginan pribadi untuk menjalankan ketaatan juga merupakan bentuk kesungguhan.
- Keikhlasan merupakan tujuan utama. Pengorbanan yang terpuji adalah yang dilakukan untuk mencari keridaan Allah, bukan untuk memperoleh pujian manusia.
- Pelajaran ayat berlaku secara umum. Sebab khusus turunnya ayat tidak menghalangi umat Islam untuk mengambil pelajaran dari kandungannya yang bersifat umum.
Dalam kajian, pemateri menukil penjelasan yang dinisbatkan kepada Ibnu Katsir bahwa banyak ahli tafsir memahami ayat ini sebagai mencakup orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Qatadah bin Di‘amah juga disebut menafsirkan cakupannya dengan kaum Muhajirin dan Anshar.
Catatan referensi: Penukilan tersebut merujuk pada pembahasan tafsir Surah Al-Baqarah ayat 207 dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim karya Ibnu Katsir.
5. Allah Membeli Jiwa dan Harta Orang-Orang Beriman dengan Surga
Gambaran tentang orang yang mengorbankan dirinya demi keridaan Allah berhubungan dengan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 111:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah [9]: 111).
Dalam ayat ini, Allah mengumpamakan pengorbanan orang beriman sebagai sebuah transaksi. Orang beriman menyerahkan jiwa dan hartanya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, sedangkan Allah menjanjikan surga bagi mereka.
Tentu, hal ini bukan berarti manusia dapat memaksa Allah dengan amalnya. Semua itu merupakan karunia dan janji Allah yang benar. Allah memberi petunjuk kepada hamba-Nya untuk beramal, kemudian menjanjikan balasan sesuai dengan rahmat dan keadilan-Nya.
Pemateri mengingatkan bahwa perdagangan dengan Allah tidak akan membawa kerugian bagi orang yang benar-benar beriman dan mengerjakan amal saleh sesuai tuntunan syariat. Keuntungan yang dijanjikan Allah jauh lebih besar daripada harta dunia yang fana.
Perdagangan yang tidak akan merugi
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman dalam Surah Fathir ayat 29–30:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir [35]: 29).
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir [35]: 30).
Pemateri menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an, mendirikan salat, dan berinfak merupakan contoh amal ibadah yang membutuhkan pengorbanan dalam bentuk berbeda.
- Membaca Al-Qur’an memerlukan waktu, perhatian, dan kesungguhan.
- Mendirikan salat melibatkan ibadah fisik dan ketundukan kepada Allah.
- Berinfak menuntut seseorang mengeluarkan sebagian harta yang dimilikinya untuk kebaikan.
Ketiga amalan tersebut bukanlah pembatasan bahwa ibadah hanya terdiri atas tiga hal. Ketiganya merupakan contoh dari berbagai bentuk pengorbanan yang dapat dilakukan seorang hamba.
Ketika seseorang menginfakkan harta, misalnya, ia menyerahkan sesuatu yang diperolehnya melalui kerja dan usaha. Ketika ia meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an atau mengerjakan salat, ia juga mengorbankan kesempatan untuk melakukan kegiatan lain.
Allah menyebut amal-amal tersebut sebagai perdagangan yang tidak merugi. Balasannya tidak berhenti pada pahala yang setimpal, tetapi Allah juga menjanjikan tambahan karunia-Nya.
Karunia Allah di dunia dan akhirat
Pemateri mengingatkan bahwa kehidupan yang baik tidak selalu identik dengan banyaknya harta. Kebahagiaan dapat hadir melalui ketenteraman keluarga, kehidupan yang penuh keberkahan, hati yang merasa cukup, serta kemampuan untuk tetap taat kepada Allah.
Karunia Allah yang paling besar bagi orang beriman adalah keselamatan dan kenikmatan di akhirat, termasuk surga yang dijanjikan-Nya kepada hamba-hamba yang beriman dan beramal saleh.
Ayat tersebut ditutup dengan firman Allah:
إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir [35]: 30).
Allah Maha Pengampun terhadap dosa hamba yang bertobat dan Maha Mensyukuri amal mereka dengan memberikan balasan serta karunia-Nya. Ini menunjukkan keluasan rahmat Allah kepada orang-orang yang berusaha menjalankan ketaatan.
6. Allah Maha Penyantun kepada Hamba-Hamba-Nya
Allah menutup Surah Al-Baqarah ayat 207 dengan firman-Nya:
وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
“Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 207).
Dalam kajian, pemateri menjelaskan bahwa kata ra’ūf menunjukkan kasih sayang yang sangat besar dan kelembutan terhadap hamba-hamba-Nya.
Kasih sayang Allah tampak dalam banyak bentuk: Allah memberikan petunjuk melalui wahyu, menjelaskan jalan kebaikan dan keburukan, mengingatkan manusia melalui ayat-ayat-Nya, serta menjanjikan pahala bagi orang-orang yang taat.
Ayat ini juga memberikan keseimbangan dalam memahami pengorbanan. Orang beriman tidak semata-mata beramal karena takut terhadap hukuman, tetapi juga berharap kepada rahmat, ampunan, dan keridaan Allah.
Allah tidak menyia-nyiakan amal saleh yang dikerjakan hamba-Nya. Karena itu, seorang muslim hendaknya tetap berusaha menjalankan ketaatan, sekalipun harus mengorbankan sebagian harta, waktu, tenaga, atau kenyamanan dunia.
7. Tanya Jawab: Membaca Al-Qur’an dalam Keadaan Mengantuk
Pada akhir kajian, seorang peserta bertanya apakah membaca Al-Qur’an dalam keadaan tidak sengaja mengantuk dapat mengurangi pahala membaca Al-Qur’an.
Pemateri menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an membutuhkan waktu dan perhatian. Seseorang hendaknya berusaha membaca dengan tenang, tidak terburu-buru, dan menjaga konsentrasi agar dapat membaca dengan benar.
Jika rasa kantuk sangat kuat, sebaiknya seseorang beristirahat terlebih dahulu. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَا يَدْرِي لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ
Artinya:
“Apabila salah seorang di antara kalian mengantuk ketika sedang salat, hendaklah ia berbaring hingga rasa kantuknya hilang. Sebab, apabila salah seorang di antara kalian salat dalam keadaan mengantuk, ia tidak mengetahui apakah sedang memohon ampun atau justru mencela dirinya sendiri.”
(HR. Shahih al-Bukhari, no. 212).
Hadis ini secara langsung membahas orang yang mengantuk ketika salat. Pesan yang ditekankan adalah agar seseorang tidak memaksakan ibadah ketika rasa kantuk mengganggu kesadaran dan ketepatan ucapannya.
Dalam konteks membaca Al-Qur’an, prinsip kehati-hatian ini dapat menjadi pengingat agar seseorang memilih waktu yang memungkinkan dirinya membaca dengan baik. Namun, hadis tersebut tidak secara langsung menyatakan bahwa setiap orang yang mengantuk ketika membaca Al-Qur’an kehilangan pahala.
Pemateri juga menjelaskan bahwa orang yang mengantuk dapat keliru mengucapkan kata-kata yang bermaksud memohon ampun. Oleh sebab itu, ketika rasa kantuk mulai mengganggu bacaan, lebih baik beristirahat, kemudian melanjutkan kembali ketika sudah segar.
Kesimpulan jawaban: Jangan menjadikan rasa kantuk sebagai alasan untuk meninggalkan Al-Qur’an, tetapi jangan pula memaksakan diri sampai bacaan tidak terjaga. Atur waktu membaca ketika tubuh lebih segar dan pikiran lebih fokus.
Penutup
Pembahasan Surah Al-Baqarah ayat 204–207 mengajarkan perbedaan antara orang yang menggunakan perkataan untuk menutupi keburukan dan orang yang bersungguh-sungguh mengorbankan dirinya demi keridaan Allah.
Dari ayat-ayat tersebut, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting:
- Jangan tertipu oleh perkataan yang indah. Perkataan yang baik harus disertai kejujuran dan perbuatan yang benar.
- Jangan menggunakan kekuasaan untuk berbuat kerusakan. Jabatan, kemampuan, dan harta merupakan amanah yang harus digunakan untuk kebaikan.
- Terimalah nasihat dengan rendah hati. Nasihat yang benar hendaknya menjadi sarana memperbaiki diri, bukan alasan untuk bersikap sombong.
- Biasakan saling mengingatkan dalam ketakwaan. Nasihat hendaknya disampaikan dengan cara yang baik, sesuai tuntunan syariat, dan bertujuan membawa perbaikan.
- Dahulukan keridaan Allah daripada kepentingan dunia. Kisah Suhaib bin Sinan Ar-Rumi menjadi pelajaran tentang pengorbanan demi menjaga ketaatan.
- Manfaatkan waktu, tenaga, dan harta untuk amal saleh. Membaca Al-Qur’an, mendirikan salat, dan berinfak termasuk contoh perdagangan yang tidak merugi di sisi Allah.
- Berharaplah kepada rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri, dan Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.
Insyaallah, pada pertemuan berikutnya pembahasan dilanjutkan dengan Surah Al-Baqarah ayat 208, yang berisi perintah untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjadikan kita orang-orang yang menerima kebenaran, rendah hati ketika dinasihati, menjauhi kerusakan, dan bersungguh-sungguh mengorbankan apa yang kita miliki untuk mencari keridaan-Nya.
Subhānakallāhumma wa bihamdika, asyhadu an lā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaika.
Poster Ringkasan

*****



