Kajian RutinTafsir Al-Qur'an

Tafsir Surah Al-‘Asr: Empat Pilar Keselamatan dari Kerugian

Bismillah
✒️┃Materi : Tafsir Al Qur’an Surat Al-Ashr
🎙┃Pemateri : Ustadz Ghulam Hafiyyan Anggara, B.A. Hafidzahullah
▪️Alumnus Universitas Islam Madinah KSA
▪️Pengajar Ilmu Syar’i Pondok Pesantren Imam Bukhari
🕌┃Tempat : Masjid Al Mubarok



Pendahuluan

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ.

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba‘du.

Para jamaah yang dirahmati Allah, segala puji bagi Allah ta’aala yang telah memberikan kepada kita nikmat yang sangat besar sehingga kita dapat menghadiri shalat Magrib berjama’ah dan melanjutkannya dengan majelis ilmu.

Insyaallah, pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kajian tafsir Al-Qur’an dengan membahas salah satu surah yang sangat pendek, tetapi memiliki kandungan makna yang luar biasa, yaitu Surah Al-‘Asr.

Surah ini hanya terdiri dari tiga ayat. Meskipun demikian, ketiga ayat tersebut merangkum pelajaran penting tentang hakikat kehidupan manusia, nilai waktu, penyebab kerugian, dan jalan keselamatan dari kerugian tersebut.

1. Hubungan Surah Al-Humazah dengan Surah Al-‘Asr

Surah Al-‘Asr terletak setelah Surah Al-Humazah dalam susunan mushaf Al-Qur’an. Kedua surah ini memiliki keterkaitan makna yang dapat kita renungkan.

Dalam Surah Al-Humazah, Allah ta’ala menggambarkan orang yang gemar mengumpulkan harta, menghitung-hitungnya, dan merasa bahwa hartanya dapat membuatnya kekal. Allah berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝١ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝٢ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ ۝٣

“Celakalah setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” (QS. Al-Humazah [104]: 1–3).

Orang yang dikuasai kecintaan terhadap harta dapat terjerumus ke dalam kesombongan, merendahkan orang lain, dan melupakan kehidupan akhirat. Padahal, harta yang dikumpulkannya tidak akan menjadikannya hidup abadi.

Kemudian, Surah Al-‘Asr datang dengan peringatan yang lebih umum: sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali mereka yang memenuhi empat kriteria yang disebutkan dalam ayat terakhir.

Dengan demikian, kita dapat mengambil pelajaran bahwa banyaknya harta, tingginya kedudukan, dan berbagai pencapaian duniawi tidak dengan sendirinya menyelamatkan seseorang dari kerugian. Yang menjadi ukuran adalah bagaimana seseorang menggunakan kehidupannya untuk beriman, beramal saleh, menyampaikan kebenaran, dan bersabar.

2. Tafsir Ayat Pertama: Allah Bersumpah dengan Waktu

Allah ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝١

“Demi masa.” (QS. Al-‘Asr [103]: 1).

Allah membuka surah ini dengan sumpah atas nama waktu. Dalam Al-Qur’an, Allah juga bersumpah dengan berbagai makhluk-Nya, seperti waktu duha, malam, dan siang.

Allah berhak bersumpah dengan apa pun dari makhluk-Nya yang Dia kehendaki. Adapun manusia sebagai makhluk-Nya tidak boleh bersumpah dengan nama selain Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa hendak bersumpah, hendaklah dia bersumpah dengan nama Allah atau diam.” (HR. Al-Bukhari, no. 2679; Muslim, no. 1646).

Hadis ini menunjukkan bahwa sumpah merupakan perkara yang harus dijaga. Seorang muslim tidak boleh bersumpah dengan nama makhluk, termasuk waktu, matahari, atau makhluk lainnya.

Makna kata Al-‘Asr

Kata al-‘asr dalam bahasa Arab berkaitan dengan makna waktu atau masa. Kata ini juga memiliki hubungan dengan akar kata yang bermakna memeras, sebagaimana terdapat dalam kata ‘aṣīr yang berarti perasan, misalnya perasan buah.

Dalam penjelasan tafsir yang dinisbatkan kepada Ibnu ‘Asyur, makna waktu pada ayat ini dapat direnungkan melalui sifat waktu yang terus berlalu dan berkurang. Setiap detik yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan. Kehidupan manusia berjalan bersama waktu, sementara kesempatan untuk beramal semakin berkurang.

Kata al-‘asr juga dikenal dalam penggunaan bahasa Arab untuk waktu sore. Berlalunya sore menuju malam memberikan gambaran tentang pergantian waktu yang tidak dapat dihentikan manusia.

Karena itu, waktu bukan sekadar angka pada jam atau kalender. Waktu merupakan bagian dari umur dan kesempatan hidup yang Allah berikan kepada kita.

Mengapa waktu begitu penting?

Allah mengingatkan manusia tentang waktu karena kehidupan tidak pernah berhenti berjalan. Ketika seseorang menggunakan waktunya untuk belajar, beribadah, bekerja dengan cara yang halal, dan membantu sesama, dia sedang memanfaatkan kesempatan hidupnya untuk memperoleh kebaikan.

Sebaliknya, apabila waktunya dihabiskan untuk perkara sia-sia, kelalaian, dan kemaksiatan, kesempatan tersebut akan hilang tanpa menghasilkan manfaat yang semestinya.

Kita perlu memahami bahwa waktu merupakan modal yang sangat berharga. Tidak semua orang memiliki kekayaan yang sama, kedudukan yang sama, atau kesempatan yang sama dalam kehidupan. Akan tetapi, setiap orang yang masih hidup memiliki kesempatan untuk melakukan amal selama ajalnya belum tiba.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di Rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Allah bersumpah dengan masa karena di dalamnya terdapat berbagai keadaan manusia, amal perbuatan, dan perubahan kehidupan yang menjadi bukti kekuasaan Allah serta pelajaran bagi manusia.

Rujukan: Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir Surah Al-‘Asr.

Dengan demikian, pertanyaan penting bagi kita bukan sekadar berapa banyak waktu yang kita miliki, melainkan untuk apa waktu tersebut digunakan.

3. Tafsir Ayat Kedua: Manusia Berada dalam Kerugian

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝٢

“Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Asr [103]: 2).

Ayat ini singkat, tetapi mengandung penegasan yang kuat. Allah memberitakan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang dikecualikan pada ayat berikutnya.

Empat unsur penegasan dalam ayat

Dalam penjelasan kebahasaan, terdapat beberapa unsur yang memperkuat makna ayat ini.

Pertama, kata إِنَّ (inna).

Kata ini berfungsi sebagai penegas. Allah tidak menyampaikan kerugian manusia sebagai sesuatu yang meragukan, melainkan sebagai kenyataan yang harus diperhatikan.

Kedua, kata الْإِنْسَانَ (al-insān).

Kata ini menggunakan alif lam yang dalam konteks ayat tersebut mencakup jenis manusia secara umum. Artinya, hukum asal yang disebutkan berlaku bagi manusia secara keseluruhan, bukan hanya kelompok tertentu.

Kekayaan, kemiskinan, kedudukan, ketenaran, dan keadaan lahiriah lainnya tidak dengan sendirinya mengeluarkan seseorang dari kerugian yang dimaksud.

Ketiga, huruf لَ (lam) pada لَفِي (lafī).

Huruf lam ini berfungsi sebagai penegas, yang semakin menguatkan kepastian berita tentang kerugian manusia.

Keempat, kata فِي (fī).

Kata ini berarti “di dalam”. Ungkapan lafī khusr menggambarkan manusia seakan-akan berada di dalam keadaan kerugian. Ini menunjukkan betapa seriusnya keadaan yang sedang diperingatkan oleh Allah.

Dengan demikian, ayat ini bukan sekadar mengatakan bahwa manusia mungkin mengalami kerugian. Ayat ini menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang memiliki sifat-sifat keselamatan sebagaimana diterangkan dalam ayat ketiga.

Perumpamaan penjual es

Ibnu Katsir Rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya sebuah perumpamaan tentang seorang penjual es yang menawarkan dagangannya. Modal penjual tersebut terus mencair seiring berjalannya waktu. Apabila tidak ada pembeli, modalnya akan habis begitu saja.

Ungkapan Arab yang terkenal dalam perumpamaan ini berbunyi:

ارْحَمُوا مَنْ يَذُوبُ رَأْسُ مَالِهِ

“Kasihanilah orang yang modalnya terus mencair.”

Perumpamaan ini menggambarkan keadaan manusia yang umurnya terus berkurang. Sebagaimana es mencair sedikit demi sedikit, umur manusia juga berlalu dari waktu ke waktu.

Seorang pedagang biasa mungkin masih dapat menyimpan barang dagangannya untuk dijual esok hari. Namun, penjual es yang modalnya mencair tidak dapat menghentikan proses tersebut hanya dengan menunggu. Demikian pula manusia: setiap hari yang berlalu mengurangi sisa umurnya.

Apabila waktu digunakan untuk ketaatan, manusia dapat memperoleh keuntungan berupa amal saleh. Namun, apabila waktu dibiarkan berlalu tanpa manfaat, kesempatan itu hilang.

Ketika ajal tiba, kesempatan untuk beramal di dunia pun berakhir. Oleh karena itu, manusia perlu menyadari bahwa modal hidupnya bukan hanya harta, tetapi juga umur dan waktu yang Allah berikan.

Rujukan tafsir: Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Al-‘Asr. Redaksi perumpamaan di atas disajikan secara ringkas; nomor halaman bergantung pada edisi kitab.

4. Tafsir Ayat Ketiga: Empat Pilar Keselamatan dari Kerugian

Allah ta’ala berfirman:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ۝٣

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr [103]: 3).

Setelah menyebutkan bahwa manusia berada dalam kerugian, Allah memberikan jalan keselamatan. Ada empat sifat yang harus dimiliki dan dijaga oleh seorang hamba:

  1. Beriman.
  2. Beramal saleh.
  3. Saling menasihati dalam kebenaran.
  4. Saling menasihati dalam kesabaran.

Keempatnya saling melengkapi. Keimanan tidak boleh berhenti pada pengetahuan semata, amal saleh tidak boleh terpisah dari petunjuk yang benar, dakwah membutuhkan ilmu, dan semua itu memerlukan kesabaran.

Pilar Pertama: Beriman kepada Allah

Allah ta’ala menyebutkan:

آمَنُوا

“Orang-orang yang beriman.”

Iman merupakan fondasi keselamatan. Seorang hamba harus mengenal Allah, mengenal agama Islam, dan mengenal Rasulullah ﷺ beserta ajaran yang beliau bawa.

Keimanan juga menuntut seorang muslim mempelajari perkara-perkara yang wajib diimani, di antaranya:

  • Mengenal Allah dan mengesakan-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, serta nama dan sifat-Nya.
  • Mengimani para malaikat dan tugas-tugas mereka.
  • Mengimani kitab-kitab Allah.
  • Mengimani para nabi dan rasul.
  • Mengimani hari akhir.
  • Mengimani takdir yang baik maupun yang buruk.

Keimanan tidak dibangun di atas ketidaktahuan. Seorang muslim perlu mempelajari agamanya agar dapat beribadah kepada Allah berdasarkan ilmu dan petunjuk yang benar.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan pentingnya ilmu dalam pembahasan empat perkara yang wajib dipelajari oleh setiap muslim, yaitu ilmu, amal, dakwah, dan kesabaran.

Rujukan: Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Uṣūl ats-Tsalātsah beserta penjelasannya, pada pembahasan empat perkara yang wajib dipelajari.

Pilar Kedua: Beramal Saleh

Allah menyebutkan:

وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Dan mengerjakan kebajikan.”

Setelah beriman dan mempelajari ilmu, seorang muslim harus mengamalkan ilmunya. Ilmu yang benar semestinya membimbing pemiliknya untuk beribadah dan memperbaiki perilaku.

Apabila seseorang telah mempelajari tata cara salat, dia harus berusaha mendirikan salat sesuai tuntunan. Apabila telah mengetahui kewajiban zakat, dia harus menunaikannya ketika syarat-syaratnya terpenuhi. Demikian pula puasa, haji, dan berbagai kewajiban lainnya.

Amal saleh juga mencakup kebaikan kepada sesama manusia, selama sesuai dengan tuntunan syariat. Menghormati tetangga, memuliakan tamu, menunaikan amanah, membantu orang yang membutuhkan, dan menjaga hak orang lain merupakan bagian dari perilaku yang baik.

Dengan demikian, amal saleh tidak terbatas pada ibadah yang bersifat ritual. Seorang muslim juga perlu memperbaiki akhlak dan hubungannya dengan manusia.

Ilmu yang tidak diamalkan akan kehilangan buah yang semestinya dihasilkan. Karena itu, kita hendaknya selalu berusaha menerapkan ilmu yang telah dipelajari, meskipun dimulai dari amalan-amalan sederhana.

Pilar Ketiga: Saling Menasihati dalam Kebenaran

Allah berfirman:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ

“Dan saling menasihati untuk kebenaran.”

Pilar ketiga adalah saling mengingatkan dalam kebenaran. Hal ini mencakup dakwah, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, mengingatkan orang lain terhadap kesalahan, dan mengajak kepada ketaatan berdasarkan ilmu.

Perlu diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata tawāṣaw, yang menunjukkan adanya tindakan saling menasihati. Artinya, seorang muslim bukan hanya menyampaikan nasihat kepada orang lain, tetapi juga bersedia menerima nasihat.

Jangan sampai seseorang senang mengingatkan orang lain, tetapi menolak ketika dirinya diingatkan. Jangan sampai seseorang hanya ingin menasihati, tetapi tidak bersedia memperbaiki diri.

Apabila seorang guru atau ustaz melakukan kekeliruan, misalnya, lalu seorang murid mengingatkannya dengan cara yang baik dan berdasarkan ilmu, nasihat tersebut patut dipertimbangkan. Kedudukan seseorang tidak menjadikannya terbebas dari kesalahan.

Demikian pula ketika seseorang mendapatkan teguran atas kekeliruannya, hendaknya dia tidak langsung menolak atau merasa direndahkan. Nasihat yang benar merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Tentu saja, nasihat harus disampaikan dengan ilmu, adab, dan cara yang tepat. Tujuannya bukan mempermalukan orang lain, melainkan membantu sesama muslim tetap berada di atas kebenaran.

Pilar Keempat: Saling Menasihati dalam Kesabaran

Allah berfirman:

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Ilmu, amal saleh, dan dakwah semuanya membutuhkan kesabaran. Tanpa kesabaran, seseorang mudah berhenti ketika menghadapi kesulitan.

Kesabaran dalam menjalankan agama mencakup beberapa keadaan.

Pertama, bersabar dalam menuntut ilmu.

Belajar membutuhkan waktu dan kesungguhan. Seseorang harus menghadiri majelis ilmu, mendengarkan penjelasan guru, membaca kitab, mengulang pelajaran, dan menghadapi rasa lelah atau kantuk. Semua itu membutuhkan kesabaran.

Kedua, bersabar dalam menjalankan ketaatan.

Mendirikan salat tepat waktu, berpuasa pada bulan Ramadan, menunaikan kewajiban, dan menjaga ibadah secara konsisten membutuhkan perjuangan melawan kemalasan.

Ketiga, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan.

Seorang muslim harus menahan diri dari perkara yang diharamkan Allah, meskipun terkadang hawa nafsunya menginginkannya. Meninggalkan maksiat merupakan bagian penting dari ketaatan.

Keempat, bersabar menghadapi ujian dalam dakwah.

Orang yang berdakwah tidak selalu mendapatkan sambutan yang baik. Ada kalanya nasihat ditolak, ajakan kepada kebenaran tidak diterima, atau seseorang menghadapi gangguan ketika berusaha menyampaikan agama.

Para nabi dan rasul juga menghadapi penolakan dari kaumnya. Rasulullah ﷺ sendiri mengalami berbagai gangguan ketika mendakwahkan Islam. Namun, beliau tetap menyampaikan risalah dan bersabar dalam menjalankan tugasnya.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا

“Sungguh, rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, lalu mereka bersabar terhadap pendustaan dan gangguan yang ditujukan kepada mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.” (QS. Al-An‘am [6]: 34).

Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran merupakan bagian dari perjalanan dakwah. Seorang muslim harus tetap berpegang pada kebenaran, menyampaikan nasihat dengan cara yang baik, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Keempat pilar dalam Surah Al-‘Asr tersebut tidak dapat dipisahkan. Iman harus diwujudkan dalam amal, amal dan ilmu harus memberi manfaat kepada orang lain, dan semua itu harus dijalankan dengan kesabaran.

5. Perkataan Imam Asy-Syafi‘i tentang Surah Al-‘Asr

Para ulama memberikan perhatian besar terhadap kandungan Surah Al-‘Asr. Salah satu perkataan yang masyhur dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah adalah bahwa seandainya manusia hanya diberi hujah melalui surah ini, niscaya surah tersebut telah mencukupi mereka.

Redaksi Arab yang sering dikutip adalah:

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ

“Seandainya manusia merenungkan surah ini, niscaya surah ini telah mencukupi mereka.”

Kutipan ini populer dalam literatur penjelasan Surah Al-‘Asr, tetapi redaksi dan penisbatannya perlu diperiksa berdasarkan sumber yang digunakan. Karena itu, jangan memperlakukannya sebagai kutipan verbatim yang telah dipastikan berasal dari kitab tertentu tanpa verifikasi naskah dan edisinya.

Makna yang terkandung di dalamnya sangat jelas. Surah Al-‘Asr merangkum prinsip-prinsip penting dalam kehidupan seorang muslim: iman yang benar, amal saleh, mengajak kepada kebenaran, dan saling menguatkan dalam kesabaran.

Tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Untuk menjalankan ibadah dengan benar, seseorang memerlukan ilmu. Setelah mempelajari ilmu, dia harus mengamalkannya. Kemudian, dia turut menyampaikan kebenaran kepada orang lain dan bersabar dalam seluruh proses tersebut.

Oleh sebab itu, Surah Al-‘Asr merupakan pedoman ringkas yang sangat mendalam bagi kehidupan manusia.

6. Kesimpulan: Jangan Biarkan Waktu Berlalu Tanpa Keuntungan

Dari pembahasan Surah Al-‘Asr, terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat kita ambil.

  • Pertama, manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang memiliki empat sifat keselamatan. Keempat sifat tersebut adalah iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.
  • Kedua, waktu merupakan modal kehidupan yang sangat berharga. Harta yang hilang mungkin masih dapat dicari kembali, tetapi waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan. Setiap detik yang berlalu mengurangi sisa umur kita.
  • Ketiga, ilmu harus diikuti dengan amal. Mengetahui kebenaran saja tidak cukup apabila seseorang tidak berusaha mengamalkannya. Demikian pula, seseorang tidak semestinya merasa cukup dengan amal pribadinya tanpa peduli terhadap kebaikan orang lain.
  • Keempat, nasihat harus berjalan dua arah. Kita perlu menyampaikan kebenaran kepada orang lain sekaligus bersedia menerima nasihat ketika melakukan kesalahan.
  • Kelima, semua itu memerlukan kesabaran. Menuntut ilmu, menjalankan ibadah, meninggalkan kemaksiatan, dan berdakwah merupakan jalan yang membutuhkan keteguhan.

Jangan sampai kita merugi dengan modal yang telah Allah berikan secara cuma-cuma. Ketika kehilangan harta, seseorang mungkin masih dapat mengusahakannya kembali. Namun, ketika satu detik telah berlalu, dia tidak dapat mengulang detik tersebut.

Allah mengabarkan tentang penyesalan orang-orang yang telah datang ajalnya. Mereka berharap dapat dikembalikan ke dunia agar bisa mengerjakan amal saleh.

Allah ta’ala berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝٩٩ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 99–100, dikutip sampai bagian awal ayat 100).

Ayat ini menjadi peringatan bahwa kesempatan beramal berada di dunia, sebelum kematian datang. Setelah kesempatan tersebut berakhir, penyesalan tidak akan mengembalikan kehidupan.

Maka, marilah kita memanfaatkan waktu yang masih Allah berikan untuk belajar, beribadah, memperbaiki diri, beramal saleh, dan menyampaikan kebenaran dengan kesabaran. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang selamat dari kerugian sebagaimana diterangkan dalam Surah Al-‘Asr. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

*****

Poster Ringkasan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button