Kajian RutinTafsir Al-Qur'an

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 203: Dzikir pada Hari-hari Tasyrik dan Nahar dalam Ibadah Haji


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Oleh: Ustadz Ikmal Fahad Dawud, S.Pd.I., M.P.I.
🕌┃Tempat : Masjid An-Nur
📍Jl. Kapten Mulyadi, Kedung Lumbu, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kodepos 57118


Ikhwatifillah, jamaah Masjid An-Nuur rahimakumullah.

Kita bersyukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sampai malam hari ini masih memberikan limpahan karunia dan kenikmatan-Nya kepada kita. Terutama nikmat berupa kemudahan dan kemampuan untuk menjalankan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan.

Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menerima seluruh amal ketaatan yang kita usahakan dan memberikan taufik kepada kita ketika kelak menghadap-Nya. Allahumma amin.

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 203

Kita melanjutkan pembahasan tafsir Surah Al-Baqarah. Pembahasan kali ini berkaitan dengan ayat terakhir dari rangkaian ayat yang membahas ibadah haji dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya. Sebelumnya telah dibahas ayat 202, dan kali ini kita membahas ayat 203 sebagai penyempurna pembahasan tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Dan berzikirlah kepada Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barang siapa yang ingin segera berangkat dari Mina sesudah dua hari, maka tidak ada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya, maka tidak ada dosa baginya, bagi orang yang bertakwa. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 203)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Wadzkurullaha fii ayyaamin ma’duudaat”, yaitu perintah untuk memperbanyak menyebut dan mengagungkan nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya.

Kemudian Allah berfirman:

فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۖ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ

Barang siapa yang bersegera meninggalkan Mina setelah dua hari, tidak ada dosa baginya. Demikian pula orang yang mengakhirkan keberangkatannya, tidak ada dosa baginya.

Kemudian Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya:

لِمَنِ اتَّقَىٰ

“Bagi orang yang bertakwa.”

Dan Allah mengingatkan:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.”

Rangkaian Ibadah Haji dan Hari-Hari di Mina

Ayat ini berkaitan erat dengan ayat-ayat sebelumnya. Setelah jamaah haji selesai melaksanakan wukuf, mereka diperintahkan untuk bermalam di Muzdalifah. Kemudian pada pagi harinya bertolak menuju Mina untuk melempar jumrah, menyelesaikan rangkaian manasik, termasuk tawaf, sa’i, penyembelihan hewan, dan tahallul.

Setelah itu masih tersisa rangkaian manasik berupa bermalam di Mina pada hari-hari Tasyrik, yaitu:

  • 11 Dzulhijjah.
  • 12 Dzulhijjah.
  • 13 Dzulhijjah.

Pada hari-hari tersebut jamaah haji diperintahkan untuk memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Memperbanyak Dzikir pada Hari Tasyrik

Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelumnya juga berfirman:

فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا

“Maka berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, atau bahkan lebih banyak lagi.” (QS. Al-Baqarah: 200)

Makna أَوْ pada ayat tersebut tidak selalu bermakna pilihan antara dua perkara. Dalam konteks ini, maknanya adalah bal, yaitu “bahkan“. Artinya, kaum muslimin diperintahkan untuk memperbanyak zikir kepada Allah, bahkan lebih banyak daripada ketika mereka menyebut dan mengagungkan nenek moyang mereka.

Hal serupa terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS. Al-Baqarah: 74)

Demikian pula firman Allah:

يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً

“Mereka takut kepada manusia sebagaimana mereka takut kepada Allah, bahkan lebih takut lagi.” (QS. An-Nisa’: 77)

Dari sini kita memahami pentingnya merujuk kepada penafsiran para ulama. Tidak cukup seseorang hanya berpegang pada makna kebahasaan secara langsung. Al-Qur’an memang berbahasa Arab, tetapi memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan memahami bahasa Arab.

Tahapan Menafsirkan Al-Qur’an

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam mukadimah tafsirnya, penafsiran Al-Qur’an dilakukan secara bertahap:

  1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lain.
  2. Menafsirkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah.
  3. Menafsirkannya dengan perkataan para sahabat.
  4. Menafsirkannya dengan perkataan para tabi’in.
  5. Setelah itu barulah menggunakan pendekatan kebahasaan.

Pendekatan kebahasaan bukan berarti tidak penting. Akan tetapi, ia tidak semestinya langsung digunakan sebelum melihat penafsiran berdasarkan sumber-sumber yang lebih utama.

Do’a yang Hanya Meminta Dunia dan Do’a yang Mencakup Akhirat

Pada ayat sebelumnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mencela orang yang ketika berdoa hanya meminta perkara dunia.

Allah berfirman:

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

“Di antara manusia ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia,’ sedangkan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.” (QS. Al-Baqarah: 200)

Orang seperti ini hanya memikirkan kebutuhan dunia: rezeki, kelancaran usaha, kesehatan, keselamatan, dan berbagai kenikmatan duniawi. Sementara kebutuhan yang jauh lebih penting, yaitu keselamatan di akhirat, tidak menjadi perhatian dalam doanya.

Allah kemudian memuji orang yang berdoa:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.'” (QS. Al-Baqarah: 201)

Allah berfirman:

أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka usahakan. Dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 202)

Maka seorang muslim hendaknya tidak hanya meminta kebaikan dunia. Ia juga harus memikirkan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.

Makna “Hari-Hari yang Berbilang”: Hari Tasyrik

Allah berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berzikirlah kepada Allah dalam beberapa hari yang berbilang.”

Yang dimaksud dengan ayyamin ma’dudat dalam ayat ini adalah hari-hari Tasyrik, yaitu hari-hari ketika jamaah haji berada di Mina.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-ayyamul ma’dudat adalah ayyamut-tasyriq, yaitu hari-hari Tasyrik.

Hari Tasyrik merupakan hari untuk memperbanyak zikir kepada Allah sekaligus hari untuk menikmati makanan dan minuman dari hewan sembelihan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ

“Hari-hari Tasyrik adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arafah, hari Nahr, dan hari-hari Tasyrik adalah hari raya kita, kaum muslimin. Hari-hari tersebut adalah hari untuk makan dan minum.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Dengan demikian, hari Tasyrik adalah tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Nama-Nama Hari dalam Bulan Dzulhijjah

Hari-hari pada bulan Dzulhijjah memiliki beberapa nama:

  • 8 Dzulhijjah: Yaumut Tarwiyah.
  • 9 Dzulhijjah: Yaumu ‘Arafah.
  • 10 Dzulhijjah: Yaumun Nahr.
  • 11 Dzulhijjah: Yaumul Qar, yaitu hari menetapnya jamaah haji di Mina. Hari ini juga disebut Yaumur Ru’us.
  • 12 Dzulhijjah: hari Nafar Awal.
  • 13 Dzulhijjah: hari Nafar Tsani.

Mengapa Disebut Hari Tasyrik?

Istilah Tasyrik berkaitan dengan kata syarraqa, yang memiliki hubungan dengan arah timur. Pada masa dahulu belum terdapat kulkas atau freezer. Daging hasil sembelihan diawetkan dengan cara dikeringkan dan dijemur di bawah sinar matahari.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan:

وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ ثَلَاثَةٌ بَعْدَ يَوْمِ النَّحْرِ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِتَشْرِيقِ النَّاسِ لُحُومَ الْأَضَاحِيِّ فِيهَا

“Hari-hari Tasyrik ada tiga hari setelah hari Nahr. Dinamakan demikian karena manusia menjemur daging hewan kurban pada hari-hari tersebut.”

Daging tersebut dikeringkan untuk menghilangkan kandungan air sehingga dapat bertahan lebih lama.

Nafar Awal dan Nafar Tsani

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۖ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang ingin segera berangkat dalam dua hari, maka tidak ada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya, maka tidak ada dosa baginya.”
(QS. Al-Baqarah: 203)

Nafar Awal

Nafar Awal adalah ketika jamaah haji meninggalkan Mina lebih dahulu pada tanggal 12 Dzulhijjah setelah melempar jumrah. Jamaah yang memilih Nafar Awal melakukan rangkaian ibadah pada tanggal 12, kemudian meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam.

Apabila seseorang masih berada di Mina hingga matahari terbenam, maka ia melanjutkan mabit dan rangkaian ibadah pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Nafar Tsani

Nafar Tsani adalah keberangkatan pada tanggal 13 Dzulhijjah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah di Mina dan melempar jumrah pada hari tersebut.

Dengan demikian, perbedaan keduanya adalah:

  • Nafar Awal: meninggalkan Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah.
  • Nafar Tsani: tetap di Mina hingga tanggal 13 Dzulhijjah dan meninggalkannya setelah menyelesaikan rangkaian ibadah.

Setelah Selesai dari Mina: Tawaf Wada’

Setelah rangkaian mabit dan melempar jumrah selesai, jamaah haji yang hendak meninggalkan Makkah menuju negerinya melakukan Tawaf Wada’, yaitu tawaf perpisahan.

Tawaf Wada’ dilakukan ketika seseorang benar-benar hendak meninggalkan Makkah. Jika seseorang masih akan tinggal di Makkah untuk melakukan aktivitas lainnya, Tawaf Wada’ dilakukan menjelang keberangkatannya.

Tawaf Wada’ merupakan ibadah yang diperintahkan dalam rangkaian pelaksanaan haji. Karena itu, hendaknya jamaah haji tidak menyia-nyiakannya, terlebih kesempatan untuk kembali ke Baitullah belum tentu diberikan lagi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menjaga Haji Setelah Pulang

Setelah selesai melaksanakan ibadah haji, seorang muslim tidak boleh merasa bahwa tugasnya telah selesai. Ia justru harus menjaga amal ibadah yang telah dilakukan. Jangan sampai seseorang bersusah payah melaksanakan ibadah haji, mengorbankan harta, tenaga, dan waktu, kemudian setelah pulang justru kembali kepada kebiasaan buruk dan kemaksiatan.

Jangan pula seseorang merasa bangga dengan hajinya hingga muncul sikap ujub. Haji seharusnya memberikan perubahan pada diri seseorang menuju kebaikan. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan makna haji yang mabrur sebagai haji yang menjadikan seseorang pulang dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya.

Maka tanda yang perlu diperhatikan setelah ibadah haji adalah perubahan diri: semakin taat, semakin meninggalkan dosa, semakin menjaga ibadah, dan semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketakwaan sebagai Bekal Utama

Allah berfirman:

لِمَنِ اتَّقَىٰ

“Bagi orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 203)

Jamaah haji hendaknya tidak terburu-buru meninggalkan Mina tanpa alasan yang dibenarkan. Ia harus menjalankan manasik dengan penuh kesabaran dan mengikuti ketentuan syariat.

Allah juga berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Bekal yang paling penting bukan hanya bekal fisik dan materi untuk perjalanan haji. Bekal yang harus selalu menyertai seorang muslim adalah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Akan Dikumpulkan Menghadap Allah

Allah menutup ayat 203 dengan firman-Nya:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 203)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Setiap manusia akan dibangkitkan setelah kematian, kemudian dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.

Inilah salah satu prinsip akidah yang wajib diyakini, yaitu adanya al-ba’ts, kebangkitan setelah kematian, dan al-hasyr, dikumpulkannya seluruh manusia untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mempertanggungjawabkan amal mereka.

Karena itu, perintah bertakwa yang disebutkan dalam ayat ini memiliki makna yang sangat besar. Ketakwaan tidak hanya dibutuhkan ketika seseorang sedang melaksanakan ibadah haji, tetapi harus menjadi bekal dalam seluruh kehidupan hingga seseorang menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penutup

Dengan demikian, Surah Al-Baqarah ayat 203 menyempurnakan pembahasan tentang manasik haji dengan beberapa pelajaran penting:

  1. Jamaah haji diperintahkan memperbanyak zikir kepada Allah pada hari-hari Tasyrik.
  2. Hari Tasyrik adalah tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
  3. Hari-hari Tasyrik merupakan hari untuk makan, minum, dan memperbanyak zikir kepada Allah.
  4. Jamaah haji diperbolehkan melakukan Nafar Awal pada tanggal 12 Dzulhijjah.
  5. Jamaah yang tetap berada di Mina hingga tanggal 13 melakukan Nafar Tsani.
  6. Ketentuan tersebut berlaku bagi orang yang bertakwa dan mengikuti aturan syariat.
  7. Seorang muslim harus menjaga amal ibadahnya setelah selesai melaksanakannya.
  8. Haji yang baik semestinya memberikan perubahan menuju ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.
  9. Takwa merupakan bekal terbaik bagi seorang muslim.
  10. Setiap manusia akan dibangkitkan dan dikumpulkan untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada pertemuan berikutnya, insya Allah akan dilanjutkan pembahasan Surah Al-Baqarah ayat 204–207 yang kembali membahas karakter dan sifat orang-orang munafik.

Wallahu a’lam.

Poster Rangkuman

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button