Ahadits Ishlahul Qulub #19: Nasihat yang Menghidupkan Hati

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
KAJIAN ILMIYYAH RUTIN MASJID AL MUBAROK MANAHAN SOLO
✒┃Materi: PESAN NABI DALAM MENATA HATI #19
✍🏼Karya : Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad Al-Badr حفظه الله تعالى
🎙┃Narasumbar : Ustadz Fadzla Mujadid, Lc حفظه الله تعالى
▪Alumnus Universitas Islam Madinah KSA Fakultas Dakwah
📆┃Insya Allah Rutin Dibahas Setiap Hari Kamis Malam Jum’at “Pekan Ke-2 & Pekan Ke-4”
🕰┃Waktu : Ba’da Maghrib – Isya
Nasihat yang Menghidupkan Hati: Wasiat Nabi ﷺ agar Tetap Istikamah di Atas Sunnah
Pendahuluan
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Kita memuji-Nya dalam segala keadaan dan bersyukur atas nikmat-Nya, karena dengan nikmat-Nya segala amal saleh dapat disempurnakan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.
Amma ba‘du.
Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā serta mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Semoga setiap langkah kaki kita menuju masjid untuk menuntut ilmu dicatat sebagai amal saleh dan usaha di jalan Allah.
Pada kesempatan ini, kita akan membahas beberapa hadis yang berkaitan dengan nasihat dan upaya memperbaiki hati. Nasihat merupakan salah satu sebab hidupnya hati. Manusia membutuhkan nasihat karena tidak selamanya mampu menyadari kesalahan sendiri. Ada kalanya seseorang menyimpang, lupa, atau lalai, sehingga ia membutuhkan orang lain yang mengingatkannya agar kembali kepada jalan Allah.
1. Nasihat Merupakan Sebab Hidupnya Hati
Hati manusia membutuhkan nasihat sebagaimana tubuh membutuhkan makanan. Hati yang senantiasa mendapatkan peringatan akan lebih mudah mengingat Allah, menyadari kesalahan, dan memperbaiki diri. Sebaliknya, orang yang selalu menolak nasihat, merasa dirinya benar, dan tidak mau menerima teguran berisiko memiliki hati yang keras.
Kita tidak boleh merasa bahwa diri kita selalu benar. Ketika melakukan kesalahan, kita membutuhkan orang yang mengingatkan. Ketika lupa, kita membutuhkan orang yang membangunkan kita dari kelalaian. Inilah salah satu bentuk kasih sayang di antara kaum muslimin.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian bagiannya menguatkan bagian yang lain.”
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 481, dan Muslim, no. 2585, dari Abu Musa al-Asy‘ari رضي الله عنه.
Hadis ini mengajarkan bahwa kaum muslimin seharusnya saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan, menjauhkan, atau mempertajam perselisihan. Penguatan tersebut mencakup urusan hati, akhlak, dan agama.
Terlebih dalam masalah akidah dan pemahaman agama, seorang muslim hendaknya mengingatkan saudaranya ketika melihat kesalahan. Nasihat itu harus disampaikan dengan ilmu, kasih sayang, dan cara yang sesuai dengan tuntunan syariat. Tujuannya bukan mempermalukan atau merendahkan, melainkan membantu saudaranya kembali kepada kebenaran.
Nasihat yang tulus merupakan bentuk kepedulian. Karena itu, ketika mendapatkan nasihat yang benar, hendaknya kita tidak langsung tersinggung atau menolaknya. Kita perlu memeriksa isi nasihat tersebut dan berusaha menerima kebenaran meskipun terkadang terasa berat bagi diri sendiri.
2. Wasiat Terakhir Nabi ﷺ: Bertakwa dan Berpegang Teguh pada Sunnah
Salah satu hadis penting tentang nasihat diriwayatkan dari sahabat al-‘Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه. Hadis ini memuat wasiat Nabi ﷺ yang sangat berharga bagi umat Islam, khususnya ketika menghadapi perselisihan.
Al-‘Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه berkata:
«صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا، فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً، ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ»
“Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ mengimami kami salat. Kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasihat yang sangat menyentuh. Mata pun berlinang air mata dan hati bergetar karenanya.”
Para sahabat merasakan bahwa nasihat tersebut begitu mendalam. Salah seorang dari mereka kemudian berkata:
«يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟»
“Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan. Apa yang engkau wasiatkan kepada kami?”
Rasulullah ﷺ lalu bersabda:
«أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah serta mendengar dan taat, sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyah. Sesungguhnya, siapa di antara kalian yang hidup setelahku akan melihat banyak perselisihan. Maka, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk lagi lurus. Peganglah sunnah itu erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bidah, dan setiap bidah adalah kesesatan.”
Sumber: HR. Abu Dawud, no. 4607, dan at-Tirmidzi, no. 2676, dari al-‘Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه. Hadis ini dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis.
Hadis ini memberikan beberapa pelajaran penting.
A. Wasiat pertama: bertakwa kepada Allah
Rasulullah ﷺ memulai nasihatnya dengan takwa. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya berdasarkan petunjuk yang benar.
Orang yang bertakwa berusaha menjaga dirinya agar tidak terjerumus ke dalam perkara yang mendatangkan murka Allah. Ia tidak menjalani kehidupan dengan sembarangan, tetapi berhati-hati terhadap ucapan, perbuatan, dan pilihan yang diambilnya.
Takwa bukan sekadar pengakuan di lisan. Takwa harus tampak dalam ketaatan, kejujuran, penjagaan diri dari maksiat, dan kesungguhan mengikuti petunjuk Allah.
Dalam transkrip kajian disebutkan sebuah gambaran tentang takwa melalui perumpamaan seseorang yang melewati jalan penuh duri. Ia akan mengangkat pakaiannya dan melangkah dengan hati-hati agar tidak terkena duri. Demikian pula seorang mukmin: ia menjalani kehidupan dengan kewaspadaan terhadap dosa dan perkara yang dapat merusak agamanya.
Perumpamaan ini sering dinukil dalam penjelasan tentang takwa, tetapi sumber primer perkataannya tidak disebutkan dalam transkrip. Oleh karena itu, kisah tersebut disampaikan sebagai ilustrasi, bukan sebagai hadis Nabi ﷺ.
B. Mendengar dan menaati pemimpin dalam perkara yang benar
Wasiat berikutnya adalah mendengar dan menaati pemimpin. Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya menjaga ketaatan agar kehidupan masyarakat tidak terjerumus ke dalam kekacauan dan perselisihan.
Namun, ketaatan kepada manusia bukanlah ketaatan mutlak. Ketaatan kepada pemimpin tetap berada dalam batas ketaatan kepada Allah. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta.
Pelajaran penting dari hadis tersebut ialah bahwa keselamatan umat tidak ditentukan semata-mata oleh sosok pemimpin yang sesuai dengan selera pribadi. Seorang muslim perlu menyikapi kepemimpinan berdasarkan tuntunan syariat, bukan hanya berdasarkan kebanggaan, kesukaan, atau ketidaksukaan terhadap orang yang memimpin.
C. Perselisihan akan banyak terjadi
Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa umat yang hidup setelah beliau akan menghadapi banyak perselisihan. Perselisihan dapat muncul dalam berbagai urusan, termasuk masalah pemahaman agama, sikap, dan kepentingan manusia.
Ketika perselisihan mudah menyulut amarah dan permusuhan, seorang muslim perlu mengingat kembali wasiat Nabi ﷺ. Jangan sampai perbedaan membuat kaum muslimin saling membenci, padahal mereka diperintahkan untuk saling menasihati dan menguatkan dalam kebenaran.
D. Jalan keselamatan adalah berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah ﷺ memberikan solusi yang jelas: berpegang teguh pada sunnah beliau dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنهم.
Ketika terjadi perselisihan, persoalan hendaknya dikembalikan kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), serta ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Sumber: QS. an-Nisa’ [4]: 59.
Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran kebenaran bukan semata-mata pendapat pribadi, kebiasaan masyarakat, atau perkataan tokoh yang diikuti. Ketika terjadi perselisihan, seorang muslim harus berusaha memahami dalil dan merujuk kepada penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Berpegang teguh pada sunnah berarti mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dengan pemahaman yang benar, bukan sekadar mengutip teks tanpa memahami maksud dan penerapannya.
E. Berhati-hati terhadap perkara baru dalam agama
Di akhir wasiat tersebut, Nabi ﷺ memperingatkan umatnya agar menjauhi perkara-perkara baru dalam agama yang tidak memiliki landasan syariat.
Beliau bersabda:
«وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
Artinya: “Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bidah, dan setiap bidah adalah kesesatan.”
Sumber: HR. Abu Dawud, no. 4607, dan at-Tirmidzi, no. 2676.
Peringatan ini berkaitan dengan perkara baru yang diada-adakan dalam agama sebagai bagian dari ibadah atau ajaran syariat tanpa landasan yang benar. Seorang muslim hendaknya tidak menetapkan suatu ritual sebagai ibadah yang memiliki keutamaan khusus hanya berdasarkan kebiasaan atau pendapat seseorang, melainkan perlu memeriksa dalilnya.
Agama Islam telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ. Karena itu, jalan keselamatan adalah mengikuti petunjuk beliau dan tidak menjadikan keinginan pribadi sebagai ukuran dalam beragama.
3. Nasihat Tidak Harus Selalu Panjang, tetapi Harus Membekas
Dalam kajian ini dijelaskan bahwa nasihat Nabi ﷺ tidak selalu disampaikan dalam bentuk ceramah panjang. Ada nasihat yang disampaikan pada kesempatan tertentu ketika para sahabat membutuhkannya. Nasihat yang singkat, tepat sasaran, dan sesuai keadaan dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap hati.
Nasihat berbeda dengan pelajaran yang disampaikan secara sistematis. Pelajaran ilmu agama perlu dipelajari secara teratur agar pemahaman menjadi kuat dan tidak terputus. Adapun nasihat sering kali berkaitan dengan keadaan tertentu, untuk mengingatkan manusia terhadap sesuatu yang mungkin dilalaikannya.
Karena itu, orang yang menyampaikan nasihat hendaknya memperhatikan kebutuhan orang yang dinasihati, memilih perkara yang penting, serta menyampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami.
A. Nasihat Nabi ﷺ kepada orang yang meminta wasiat
Dalam hadis sahih, Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa seseorang meminta nasihat kepada Nabi ﷺ. Beliau menjawab:
«لَا تَغْضَبْ»
Artinya: “Jangan marah.”
Orang tersebut mengulangi permintaannya beberapa kali, tetapi Nabi ﷺ tetap menjawab, “Jangan marah.”
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 6116.
Jawaban yang singkat ini mengandung pelajaran yang luas. Seseorang yang mampu mengendalikan amarah akan lebih mudah menjaga lisannya, menahan diri dari tindakan yang merugikan, dan menghindari keputusan yang disesali kemudian.
Nasihat tersebut menunjukkan bahwa satu kalimat yang tepat dapat menjadi pegangan hidup seseorang. Tidak semua nasihat harus disampaikan dengan uraian panjang agar memberikan manfaat.
B. Nasihat Nabi ﷺ kepada Abdullah bin Abbas
Contoh lainnya adalah nasihat Nabi ﷺ kepada Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما ketika ia masih muda. Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ»
Artinya: “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.”
Sumber: HR. at-Tirmidzi, no. 2516. Hadis ini merupakan bagian dari nasihat panjang tentang menjaga perintah Allah, memohon pertolongan kepada-Nya, dan meyakini ketetapan-Nya.
Nasihat ini memperlihatkan bagaimana Nabi ﷺ memberikan arahan yang sesuai kepada orang yang dinasihati. Beliau mengajarkan prinsip-prinsip penting dengan kalimat yang mudah diingat, tetapi memiliki makna yang mendalam.
C. Nasihat perlu disampaikan dengan mempertimbangkan keadaan
Dalam menyampaikan nasihat, kita perlu memperhatikan siapa yang menjadi sasaran nasihat tersebut. Nasihat untuk anak-anak tentu tidak selalu sama dengan nasihat untuk orang dewasa. Demikian pula nasihat kepada orang yang baru belajar agama perlu disesuaikan dengan tingkat pemahamannya.
Tujuan nasihat adalah agar kebenaran dapat dipahami dan diterima, bukan sekadar agar orang yang menyampaikan merasa telah menunaikan kewajibannya. Oleh karena itu, cara menyampaikan nasihat perlu memperhatikan adab, kebijaksanaan, dan keadaan orang yang dinasihati.
4. Nasihat Jangan Disampaikan dengan Cara yang Membuat Orang Bosan
Dalam hadis berikutnya, dijelaskan bagaimana Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه mengatur waktu untuk memberikan nasihat kepada orang-orang yang hadir dalam majelisnya.
Abu Wa’il meriwayatkan:
«كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُذَكِّرُ النَّاسَ فِي كُلِّ خَمِيسٍ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ. قَالَ: أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ، وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا، مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا»
Artinya: “Abdullah biasa memberikan nasihat kepada orang-orang setiap hari Kamis. Seseorang berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman, sungguh aku berharap engkau menasihati kami setiap hari.’ Abdullah menjawab, ‘Sesungguhnya, yang menghalangiku melakukan hal itu adalah karena aku tidak suka membuat kalian bosan. Aku memilih waktu-waktu yang tepat untuk menasihati kalian, sebagaimana dahulu Nabi ﷺ memilih waktu yang tepat untuk menasihati kami, karena khawatir kami merasa bosan.’”
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 70, dan Muslim, no. 2821, dengan sedikit perbedaan redaksi.
Hadis ini memberikan pelajaran penting bahwa nasihat perlu disampaikan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang yang mendengarkan. Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه tidak menolak nasihat harian karena menganggap nasihat tidak penting. Justru, ia ingin agar nasihat tetap memberikan manfaat dan tidak menjadi sesuatu yang membosankan.
Apabila nasihat diberikan terlalu sering tanpa mempertimbangkan keadaan pendengarnya, orang dapat kehilangan perhatian. Akhirnya, pesan yang sebenarnya penting tidak lagi meresap ke dalam hati.
Penerapan dalam mendidik anak
Prinsip ini juga dapat diterapkan dalam pendidikan anak. Orang tua memang perlu membimbing, mengingatkan, dan meluruskan kesalahan anak. Akan tetapi, jika setiap percakapan selalu berisi teguran dan kemarahan, anak dapat merasa jenuh dan memilih menghindar.
Bayangkan seorang anak yang setiap kali bangun tidur dimarahi, hendak berangkat sekolah dimarahi, saat makan dimarahi, bahkan ketika melakukan kegiatan sehari-hari pun selalu mendapatkan teguran. Lama-kelamaan, nasihat orang tua mungkin tidak lagi didengarkan dengan baik.
Karena itu, orang tua perlu menggabungkan nasihat dengan keteladanan, kasih sayang, penghargaan terhadap kebaikan anak, serta pemilihan waktu yang tepat. Teguran tetap diperlukan ketika ada kesalahan, tetapi cara penyampaiannya harus membantu anak memahami kebenaran.
Penerapan dalam majelis ilmu
Hal serupa berlaku dalam kajian agama. Apabila sebuah pertemuan secara khusus bertujuan memberikan nasihat, penyelenggara dapat mempertimbangkan waktu dan jeda agar jamaah tidak kehilangan perhatian.
Namun, pembelajaran ilmu yang disusun secara sistematis tentu membutuhkan kesinambungan. Kajian yang membahas kitab, penjelasan ayat, atau pembahasan hadis secara terstruktur perlu diikuti secara teratur agar ilmu yang dipelajari tidak mudah terlupakan.
Jadi, yang perlu diperhatikan bukan sekadar sering atau jarangnya suatu pertemuan, melainkan tujuan, metode, dan kebutuhan orang yang belajar.
5. Nasihat dalam Khutbah Jumat Hendaknya Ringkas dan Bermanfaat
Jabir bin Samurah رضي الله عنه meriwayatkan:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ»
Artinya: “Rasulullah ﷺ tidak memanjangkan nasihat pada hari Jumat. Sesungguhnya, nasihat itu berupa beberapa kalimat yang ringkas.”
Sumber: HR. Abu Dawud, no. 1107. Al-Albani menilainya hasan dalam Sahih Abi Dawud.
Hadis ini menunjukkan bahwa khutbah tidak harus panjang untuk memberikan manfaat. Nasihat yang ringkas, jelas, dan sesuai kebutuhan dapat lebih mudah dipahami serta diingat oleh jamaah.
Dalam praktiknya, khatib perlu memilih pokok pembahasan yang penting, menjelaskan dalil dengan benar, dan menghindari uraian yang terlalu melebar sehingga pesan utama menjadi kabur.
Khutbah yang ringkas bukan berarti asal singkat. Khatib tetap harus memenuhi ketentuan dan rukun khutbah menurut tuntunan fikih, menyampaikan nasihat yang bermanfaat, serta memastikan jamaah memperoleh pelajaran yang diperlukan.
Inti pembahasannya adalah bahwa ukuran keberhasilan nasihat bukan semata-mata panjangnya waktu berbicara, melainkan manfaat yang diperoleh pendengar.
6. Nabi ﷺ Memberikan Nasihat kepada Laki-Laki dan Perempuan
Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما menceritakan bahwa ia menghadiri salat Id bersama Rasulullah ﷺ. Beliau memulai dengan salat sebelum menyampaikan khutbah, tanpa azan dan iqamah. Setelah itu, beliau berdiri dengan bersandar kepada Bilal رضي الله عنه, kemudian memberikan nasihat kepada jamaah.
Dalam hadis tersebut disebutkan:
«ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ، فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ، ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ»
Artinya: “Kemudian beliau berdiri dengan bersandar kepada Bilal. Beliau memerintahkan agar bertakwa kepada Allah, mendorong ketaatan kepada-Nya, menasihati manusia, dan mengingatkan mereka. Kemudian beliau pergi hingga mendatangi para wanita, lalu menasihati dan mengingatkan mereka.”
Sumber: HR. Muslim, no. 885, dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما. Riwayat lengkapnya juga terdapat dalam Sahih al-Bukhari, no. 961.
Hadis tersebut menunjukkan perhatian Rasulullah ﷺ terhadap kebutuhan jamaah. Setelah memberikan nasihat kepada orang-orang yang hadir, beliau secara khusus mendatangi para wanita dan memberikan peringatan yang mereka perlukan.
Di antara nasihat beliau adalah anjuran untuk memperbanyak sedekah. Dalam riwayat yang sama disebutkan:
«تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ»
Artinya: “Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya banyak di antara kalian menjadi bahan bakar neraka.”
Seorang wanita kemudian bertanya tentang sebab peringatan tersebut. Nabi ﷺ menjawab:
«لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ»
Artinya: “Karena kalian banyak mengeluh dan mengingkari kebaikan suami.”
Redaksi hadis memiliki variasi dalam jalur periwayatannya. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa perempuan banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.
Sumber: HR. Muslim, no. 885, dan al-Bukhari, no. 304, dalam riwayat terkait peringatan kepada para wanita.
Hadis ini merupakan peringatan serius agar seseorang tidak meremehkan dosa lisan dan sikap mengingkari kebaikan orang lain. Dalam kehidupan rumah tangga, seseorang hendaknya berusaha bersyukur atas kebaikan yang diterima dan tidak membiarkan keluhan menghapus pengakuan terhadap kebaikan tersebut.
Namun, hadis ini tidak boleh dipahami sebagai larangan bagi seorang istri untuk menyampaikan keluhan yang benar, meminta pertolongan ketika dizalimi, atau membicarakan masalah rumah tangga yang perlu diselesaikan. Yang dicela adalah perilaku tercela yang disebutkan dalam hadis, bukan setiap bentuk pengaduan atau penyampaian kesulitan.
Pelajaran dari respons para wanita
Jabir رضي الله عنه menceritakan bahwa setelah mendengar nasihat Nabi ﷺ, para wanita segera bersedekah dengan perhiasan mereka. Mereka menyerahkan anting dan cincin untuk dikumpulkan pada pakaian Bilal رضي الله عنه.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa nasihat yang diterima dengan hati yang terbuka dapat mendorong seseorang untuk segera melakukan perbaikan. Para wanita tersebut tidak sekadar mendengar, tetapi merespons nasihat dengan tindakan nyata.
Inilah salah satu tujuan nasihat: membangunkan hati, menumbuhkan kesadaran, dan mendorong seseorang untuk memperbaiki amalnya.
Nasihat harus disampaikan dengan cara yang tepat
Dari peristiwa tersebut, kita juga belajar bahwa nasihat dapat diberikan secara umum dan kemudian secara khusus kepada kelompok yang memerlukan penjelasan tambahan.
Orang yang memberikan nasihat perlu memperhatikan keadaan pendengarnya. Materi yang sesuai untuk orang dewasa belum tentu sesuai untuk anak-anak. Demikian pula pendekatan kepada orang yang baru belajar agama mungkin berbeda dari pendekatan kepada orang yang telah lama mempelajarinya.
Perbedaan pendekatan bukan berarti mengubah kebenaran, melainkan memilih cara penyampaian yang paling membantu orang memahami dan mengamalkannya.
7. Nasihat Ulama tentang Hati dan Pentingnya Mengingat Allah
Salah satu pelajaran utama dari pembahasan ini adalah bahwa hati manusia perlu terus dijaga. Nasihat, ilmu, zikir, dan amal saleh merupakan bagian dari usaha seorang muslim untuk menjaga hatinya agar tidak larut dalam kelalaian.
Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan pentingnya zikir dalam menjaga kehidupan hati. Beliau berkata:
«فِي الْقَلْبِ خَلَّةٌ وَفَاقَةٌ لَا يَسُدُّهَا شَيْءٌ أَلْبَتَّةَ إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
Artinya: “Di dalam hati terdapat kekosongan dan kebutuhan yang sama sekali tidak dapat dipenuhi oleh sesuatu pun selain mengingat Allah عز وجل.”
Sumber: Ibnul Qayyim, Al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib, pembahasan tentang keutamaan dan pengaruh zikir.
Perkataan ini mengingatkan kita bahwa kebutuhan hati tidak cukup dipenuhi dengan urusan dunia. Manusia mungkin memperoleh kesenangan, harta, kedudukan, dan berbagai kenikmatan, tetapi semua itu tidak menggantikan kebutuhan hati untuk mengenal Allah, mengingat-Nya, dan menaati-Nya.
Karena itu, ketika hati mulai terasa keras, hendaknya kita segera melakukan introspeksi. Bisa jadi kita mulai menjauh dari Al-Qur’an, mengurangi zikir, meremehkan salat, atau terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.
Dalam keadaan seperti itu, kita perlu kembali kepada sumber-sumber yang menghidupkan hati: membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir yang disyariatkan, menghadiri majelis ilmu, bergaul dengan orang-orang saleh, serta menerima nasihat yang benar.
Nasihat ulama tersebut merupakan perkataan ulama, bukan hadis Nabi ﷺ. Ia menjadi pengingat bahwa hati membutuhkan hubungan yang terus-menerus dengan Allah melalui ibadah dan ketaatan.
8. Nasihat Bisa Datang dari Berbagai Jalan
Nasihat tidak selalu datang melalui ceramah atau perkataan seseorang. Terkadang, nasihat dapat diperoleh dari peristiwa yang kita saksikan, berita yang kita dengar, pengalaman hidup, atau musibah yang menimpa orang lain.
Kematian seseorang, misalnya, dapat mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya. Kesalahan yang dilakukan orang lain dapat menjadi pelajaran agar kita tidak mengulangi kesalahan serupa. Nikmat yang diterima juga dapat menjadi pengingat agar kita memperbanyak syukur.
Akan tetapi, nasihat hanya akan memberikan manfaat apabila kita bersedia mengambil pelajaran darinya. Tidak semua orang yang mendengar nasihat akan menerima dan mengamalkannya. Oleh sebab itu, kita perlu memohon kepada Allah agar diberikan hati yang lembut dan kemampuan untuk menerima kebenaran.
Jangan sampai kita begitu mudah menunjukkan kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kesalahan diri sendiri. Jangan pula kita mencari nasihat hanya ketika sedang mengalami kesulitan, lalu melupakannya setelah keadaan kembali menyenangkan.
Sebaliknya, jadikan nasihat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Setiap kali mendapatkan peringatan yang benar, berusahalah bertanya kepada diri sendiri: apa yang harus saya perbaiki, kebiasaan apa yang harus saya tinggalkan, dan amal apa yang perlu saya tingkatkan?
9. Majelis Ilmu Merupakan Tempat Penting untuk Mendapatkan Nasihat
Pada masa sekarang, nasihat dapat diperoleh melalui berbagai sarana. Kita dapat membaca buku, mendengarkan rekaman kajian, menyimak ceramah, atau mempelajari tulisan para ulama.
Meskipun demikian, menghadiri majelis ilmu tetap merupakan kesempatan yang sangat berharga. Di dalamnya, seseorang tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memperoleh pengingat tentang tujuan hidup, kewajiban beribadah, akhlak, dan persiapan menghadapi akhirat.
Majelis ilmu membantu kita mengingat kembali perkara yang mungkin telah dilupakan. Terkadang seseorang sudah mengetahui suatu kewajiban, tetapi karena kesibukan dan kelalaian, ia tidak lagi memberikan perhatian yang semestinya. Nasihat yang didengarnya dapat membangkitkan kembali semangat untuk beramal.
Karena itu, jangan memandang majelis ilmu hanya sebagai tempat menambah informasi. Jadikanlah majelis ilmu sebagai sarana memperbaiki diri, menata hati, dan memperkuat ketakwaan kepada Allah.
Ketika menghadiri kajian, hendaknya kita datang dengan niat yang benar, menyimak penjelasan dengan baik, memeriksa dalil yang disampaikan, serta berusaha mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Ilmu yang bermanfaat bukan hanya ilmu yang banyak diingat, melainkan ilmu yang membawa seseorang semakin dekat kepada Allah dan mendorongnya memperbaiki amal.
Kesimpulan: Teruslah Menjaga Hati dengan Nasihat dan Ilmu
Dari pembahasan hadis-hadis di atas, terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat kita ambil.
- Nasihat merupakan salah satu sebab hidupnya hati. Seorang muslim membutuhkan orang yang mengingatkan ketika ia lupa, lalai, atau melakukan kesalahan.
- Takwa adalah wasiat utama Nabi ﷺ. Takwa diwujudkan dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya berdasarkan petunjuk yang benar.
- Ketika terjadi perselisihan, kembalikan persoalan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Jangan menjadikan hawa nafsu, fanatisme, atau kebiasaan sebagai ukuran kebenaran.
- Nasihat perlu disampaikan dengan bijaksana. Perhatikan keadaan orang yang dinasihati, pilih materi yang bermanfaat, dan gunakan cara yang membantu kebenaran diterima.
- Jangan membuat orang bosan dengan nasihat yang disampaikan tanpa mempertimbangkan keadaan mereka. Nasihat dapat diberikan pada waktu yang tepat, sedangkan pembelajaran ilmu secara sistematis perlu dijaga kesinambungannya.
- Nasihat harus mendorong perubahan nyata. Setelah mendengar peringatan, berusahalah memperbaiki amal, menjaga lisan, meningkatkan syukur, dan menjauhi kemaksiatan.
- Hadirilah majelis ilmu dan jagalah hubungan dengan Al-Qur’an. Keduanya menjadi sarana untuk terus mengingat Allah dan memperbaiki diri.
Pada akhirnya, kita semua membutuhkan nasihat. Tidak ada manusia yang selalu benar dan tidak pernah lalai. Karena itu, jangan merasa terlalu tinggi untuk menerima teguran, jangan malu mengakui kesalahan, dan jangan berhenti belajar memperbaiki diri.
Ketika hati mulai keras, segera cari sebabnya dan berusahalah mengobatinya dengan ketaatan. Ketika Al-Qur’an mulai jarang dibaca, kembalilah membacanya. Ketika zikir mulai ditinggalkan, hidupkan kembali kebiasaan mengingat Allah. Ketika salat mulai dilakukan tanpa kesungguhan, perbaikilah kualitas salat kita.
Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjadikan kita termasuk orang-orang yang mau mendengar nasihat, mengikuti petunjuk yang benar, dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Segala kebenaran datang dari Allah, sedangkan kekurangan dalam penyusunan tulisan ini merupakan hal yang perlu diperbaiki.
Poster Ringkasan

*****



