Ahadits Ishlahul Qulub #15: Hati yang Bersih dan Lisan yang Jujur

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Washshalātu wassalāmu ‘alā asyrafil anbiyā’i wal mursalīn, nabiyyinā Muhammad, wa ‘alā ālihi wa shahbihi ajma‘īn.
Amma ba‘du.
Ikhwatul iman yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta‘ala, alhamdulillah senantiasa kita memuji Allah Subhanahu wa Ta‘ala atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Di antara nikmat tersebut adalah nikmat Islam, nikmat tauhid, nikmat iman, dan nikmat kesehatan sehingga kita bisa kembali berjumpa dalam sebuah majelis ilmu.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala senantiasa memberkahi setiap langkah kita menuju majelis ilmu dalam rangka menggali ilmu agama, menghilangkan kebodohan yang ada pada diri kita, serta menambah amal yang dibangun di atas pondasi ilmu agama.
Selawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan siapa saja yang mengikuti jejak beliau hingga hari kiamat.
Penyakit Hati dan Obatnya
Ikhwatul iman rahimakumullah.
Kita masih melanjutkan pembahasan dalam kitab Ahadits Islāhil Qulūb karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr hafizhahullahu Ta‘ala, pada hadis yang kesembilan tentang penyakit-penyakit hati yang tidak akan hilang kecuali dengan pengobatan.
Penyakit hati merupakan penyakit yang menyakitkan dan dapat memberikan dampak yang berkepanjangan kepada manusia. Di antaranya adalah al-ghaidh, yaitu rasa dongkol dan amarah. Amarah dapat menyakitkan hati dan membuat hati tersibukkan sehingga dada menjadi tidak lapang. Obat dari penyakit amarah dan kemurkaan adalah Al-Qur’anul Karim.
Demikian pula dengan al-jahl, yaitu kebodohan. Kebodohan yang ada pada diri seseorang merupakan penyakit yang membuat hati sakit secara maknawi.
Sebagian orang berusaha mencari obat bagi penyakit tersebut dengan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat. Mereka mengira bahwa dengan ilmu tersebut penyakitnya akan hilang dan hatinya menjadi sehat. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Ilmu yang tidak bermanfaat dapat menambah penyakit di atas penyakit.
Adapun penyakit kebodohan, obatnya adalah ilmu yang bermanfaat. Inilah syarat agar hati dapat kembali sehat.
Hal ini sebagaimana kisah yang terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seseorang yang terluka di kepalanya dan tidak boleh terkena air. Kemudian pada suatu pagi dia dalam keadaan junub. Ia bertanya kepada orang-orang di sekitarnya tentang apa yang harus dilakukan. Mereka menjawab, “Engkau harus mandi, karena engkau sedang junub.”
Orang tersebut kemudian mandi dan akhirnya meninggal dunia.
Berita tersebut sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun marah hingga wajah beliau memerah dan bersabda:
“Qatalahumullāh.”
“Semoga Allah membinasakan mereka.”
Mengapa mereka tidak bertanya jika memang tidak mengetahui jawabannya?
Inilah pelajaran penting bagi kita. Obat kebodohan adalah bertanya. Ketika kita menghadapi sebuah persoalan yang samar atau belum kita ketahui jawabannya, jangan tergesa-gesa menyimpulkan sendiri. Kewajiban orang yang tidak mengetahui adalah bertanya kepada orang yang memiliki ilmu.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.”
Keraguan dan Kebodohan Membuat Hati Sempit
Penyakit hati lainnya adalah asy-syakk, yaitu keraguan. Keraguan terhadap sesuatu dapat membuat hati menjadi sakit. Yang dapat mengusir penyakit tersebut adalah ilmu dan keyakinan.
Kebodohan dan penyimpangan membuat hati menjadi sempit. Dari keadaan tersebut kemudian muncul berbagai penyakit lain seperti hasad, dengki, dan sebagainya.
Sebaliknya, hati akan menjadi lapang dan seseorang akan mampu berpikir dengan jernih serta penuh kehati-hatian ketika mendapatkan petunjuk.
Semakin seseorang mendapatkan petunjuk dan semakin banyak belajar ilmu, semakin Allah Ta‘ala memberikan kepadanya petunjuk menuju jalan yang benar. Hatinya semakin baik dan semakin lapang.
Ia menjadi lapang dalam menghadapi perbedaan, lapang dalam menghadapi persoalan, dan lapang dalam menghadapi pertikaian. Ia tidak tergesa-gesa, tidak terburu-buru, tidak mudah menimbulkan perpecahan dan permusuhan.
Timbulnya permusuhan, perpecahan, dan sikap saling menjustifikasi sering kali terjadi karena kebodohan dan ketergesa-gesaan dalam menghukumi sesuatu.
Oleh karena itu, semakin seseorang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan banyak belajar, semakin jelas pula baginya cahaya untuk memahami dan menyikapi berbagai persoalan.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman dalam Surah Al-An‘am ayat 125:
“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam.”
Sebaliknya, barang siapa yang Allah kehendaki untuk sesat, Dia menjadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan ia sedang mendaki ke langit.
Al-Qur’an adalah Obat bagi Penyakit Hati
Penyakit-penyakit hati tersebut tidak akan hilang kecuali dengan pengobatan yang syar‘i dan bersifat imani. Al-Qur’an menjawab dan mengobati berbagai penyakit hati.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Tuhan kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang terdapat dalam dada.”
Al-Qur’an adalah penawar, baik bagi penyakit yang bersifat maknawi maupun penyakit yang bersifat fisik.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala juga berfirman dalam Surah Al-Isra’ ayat 82:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Maka jangan sampai kita meninggalkan Al-Qur’anul Karim.
Kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa hasad, amarah, dan kebencian yang tidak mendasar muncul karena kita jarang berinteraksi dengan Al-Qur’an dan jarang mempelajari kandungannya.
Dua Sumber Penyakit Hati: Syubhat dan Syahwat
Telah kita bahas sebelumnya bahwa berbagai macam penyakit hati bermuara pada dua perkara: syubhat dan syahwat.
Syubhat merupakan penyakit yang menimbulkan berbagai keraguan dan kerancuan sehingga seseorang menolak petunjuk dan semakin menjauh dari jalan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Adapun syahwat membuat seseorang terjatuh ke dalam dosa, maksiat, dan kemungkaran.
Syubhat tidak akan hilang kecuali dengan terus menggali ilmu agama. Adapun syahwat tidak akan hilang kecuali dengan terus mendekatkan diri kepada Allah dan banyak mengingat Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Mengingat Allah merupakan salah satu penawar bagi penyakit-penyakit hati.
Al-Qur’an juga memberikan nasihat yang sangat kuat untuk mengobati syahwat. Di dalam Al-Qur’an terdapat mau‘izhah hasanah, nasihat yang baik, serta targhib dan tarhib.
Targhib adalah dorongan berupa kabar tentang surga dan berbagai kenikmatannya sehingga hati terdorong untuk melakukan ketaatan. Sementara tarhib adalah peringatan tentang neraka dan azabnya sehingga hati terdorong untuk meninggalkan dosa.
Karena itu, kita perlu membaca ayat-ayat tersebut.
Jangan membaca Al-Qur’an sekadar sebagai rutinitas atau hanya karena ingin mendapatkan pahala membaca. Kita perlu membaca, memahami, dan menghayatinya.
Seseorang yang benar-benar tenggelam dalam Al-Qur’an dan menghayati bacaannya tidak akan cepat merasa bosan meskipun membaca dalam waktu yang lama. Berbeda dengan orang yang membaca hanya karena mengejar target. Biasanya ia lebih cepat bosan karena pikirannya hanya tertuju pada seberapa banyak yang harus diselesaikan.
Maka niatkan ketika membaca Al-Qur’an untuk berusaha menghayatinya. Tidak harus membaca dalam jumlah yang sangat banyak. Satu atau dua ayat yang kita pahami dan renungkan bisa memberikan pengaruh yang besar.
Bagi kita yang belum memahami bahasa Arab, kita perlu mengakui keadaan tersebut dan berusaha belajar. Kita juga membutuhkan pembimbing dalam mempelajari dan mengkaji Al-Qur’an. Saat ini sarana untuk belajar Al-Qur’an sangat banyak. Kita bisa memanfaatkannya dengan baik. Teknologi, termasuk berbagai aplikasi dan perangkat AI, dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, termasuk membantu mempelajari kitab-kitab dan tafsir.
Jika tidak terbiasa menggunakan teknologi, kita bisa kembali kepada buku. Ada tafsir yang ringkas, ada pula berbagai bentuk pemetaan Al-Qur’an yang membantu kita memahami kandungan setiap surat dan ayat. Ketika kita menelaah setiap surat dan ayat, kita akan mulai memahami, “Oh, ternyata maksud ayat ini demikian.” Saat itulah hati semakin lapang, semakin yakin, dan semakin tenang.
Kehidupan seseorang yang dekat dengan Al-Qur’an berbeda dengan kehidupan orang yang jauh dari Al-Qur’an. Orang yang jauh dari Al-Qur’an akan lebih mudah dipenuhi kebimbangan dan kebingungan sehingga kehilangan arah dalam hidupnya.
Hadis Kesepuluh: Hati yang Bersih [Makhmūmul Qalb]
Ikhwatul iman rahimakumullah.
Kita melanjutkan hadis yang kesepuluh tentang makhmūmul qalb, yaitu hati yang bersih.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan yang lainnya dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma.
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Manusia manakah yang paling utama?”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab dengan menyebut nama seseorang. Beliau menjawab dengan menyebutkan sifat yang bisa diraih oleh siapa saja yang bersungguh-sungguh.
Beliau bersabda:
“Setiap orang yang memiliki hati yang bersih dan lisan yang jujur.”
Inilah dua sifat yang disebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: hati yang bersih dan lisan yang jujur.
Hati yang bersih berarti hati yang tidak dipenuhi penyakit, sedangkan lisan yang jujur adalah lisan yang tidak banyak berdusta.
Apakah dua sifat ini mudah atau sulit? Sebenarnya mudah bagi orang yang Allah berikan kemudahan. Namun akan menjadi sulit apabila seseorang sudah terbiasa dengan kebalikannya: hatinya kotor dan lisannya suka berdusta. Untuk mencapai dua sifat tersebut dibutuhkan perjuangan dari diri sendiri dan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Perubahan Dimulai dari Hati
Semua orang bisa berubah. Inti perubahan karakter seseorang ada pada hatinya. Ketika hati berubah, insyaallah anggota badan dan perilakunya juga akan berubah.
Hati disebut qalb karena sifatnya yang mudah berubah. Hari ini seseorang bisa mengatakan sesuatu, kemudian besok pendapatnya berubah. Tidak ada hati manusia yang benar-benar kokoh seperti baja. Semua hati bisa melunak, sekeras apa pun sebelumnya.
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta‘ala memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam ketika menghadapi Fir‘aun:
“Maka berbicaralah kalian kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut.”
Ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang menyentuh hati dalam mengubah manusia.
Dalam mendidik anak, santri, atau siswa, terkadang kita terlalu cepat memberikan cap bahwa seseorang adalah anak nakal. Padahal orang yang dahulu nakal ketika kecil bisa berubah menjadi orang yang sangat baik ketika dewasa. Sebaliknya, anak yang dahulu dikenal alim, tenang, dan rajin salat ketika kecil juga bisa berubah ketika dewasa.
Apa yang memengaruhi perubahan tersebut? Salah satunya adalah hati dan lingkungan. Karena itu, ketika kita ingin mengubah seseorang, berusahalah mengambil hatinya terlebih dahulu. Jika hatinya sudah tersentuh, insyaallah nasihat akan lebih mudah diterima.
Lisan yang Jujur
Para sahabat sudah memahami makna shidqul lisan, yaitu lisan yang jujur. Mereka hidup di tengah generasi yang sangat memperhatikan kejujuran. Di zaman sekarang, menjaga kejujuran lisan merupakan perkara yang perlu diperjuangkan.
Salah satu gambaran keadaan menjelang hari kiamat adalah ketika yang baik digambarkan buruk dan yang buruk justru digambarkan baik.
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sifat makhmūmul qalb dan shidqul lisan, para sahabat tidak sekadar ingin mengetahui definisinya. Mereka ingin mengetahui bagaimana cara mendapatkannya.
Inilah semangat para sahabat dalam mengejar kebaikan.
Berbeda dengan sebagian keadaan manusia pada zaman sekarang. Terkadang ketika ada suatu tugas, kita berpikir, “Kalau orang lain bisa, mengapa harus saya?” Bahkan ada yang berpikir, “Kalau orang lain bisa, sekalian saja tugas saya dikerjakan.”
Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita, khususnya sebagai orang tua dan pendidik.
Apa Itu Hati yang Bersih?
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa hati yang bersih adalah hati yang bertakwa dan bersih dari penyakit-penyakit hati. Kata takwa memiliki makna yang luas. Takwa bukan sekadar takut kepada Allah.
Sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu pernah menggambarkan makna takwa ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bertanya kepadanya tentang takwa. Hudzaifah bertanya kepada Umar, “Pernahkah engkau berjalan melewati sebuah jalan yang penuh dengan duri?”
Umar menjawab bahwa ia akan berhati-hati dan bersungguh-sungguh menjaga langkah agar tidak terkena duri. Hudzaifah mengatakan bahwa itulah takwa.
Maka dalam seluruh aspek kehidupan, kita harus menghadirkan sikap berhati-hati: dalam pergaulan, belajar, bekerja, bermuamalah, berdagang, dan seluruh aktivitas kehidupan.
Takwa berarti seseorang senantiasa menjaga dirinya agar tidak terjatuh kepada sesuatu yang membahayakan agama dan kehidupannya. Seorang mukmin tidak semestinya merasa aman dari kesalahan dan dosa. Seorang mukmin menggabungkan antara khauf dan raja’, yaitu rasa takut dan harapan.
Ia terus memikirkan apakah ketaatannya sudah maksimal, apakah amal yang dilakukannya benar-benar diterima Allah atau tidak. Ia berharap kepada Allah sekaligus takut jika amalnya tidak diterima. Berbeda dengan sikap merasa aman dari dosa dan tidak memiliki harapan kepada Allah.
Makna Takwa
Thalq bin Habib rahimahullahu Ta‘ala menjelaskan bahwa takwa adalah seseorang menjadikan antara dirinya dan azab serta kemurkaan Allah sebuah penghalang atau benteng.
Bagaimana caranya? Dengan melaksanakan segala perintah Allah di atas cahaya dari Allah, yaitu berdasarkan ilmu, dan menjauhi segala larangan Allah di atas cahaya dari Allah, serta mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta‘ala semata.
Jadi, takwa bukan sekadar menjalankan perintah, tetapi harus dilakukan berdasarkan ilmu dan dengan mengharap pahala dari Allah. Apakah kita mampu mengusahakannya? Kita harus terus mengusahakannya.
Jatuh dan bangun dalam perjalanan bukan masalah. Namanya juga manusia. Tidak selamanya seseorang berjalan lurus tanpa kesalahan. Terkadang ia menyimpang, jatuh, kemudian bangkit kembali. Demikianlah seorang mukmin. Ia terus berusaha meningkatkan ketakwaannya.
Bersih dari Dosa, Kezaliman, Marah, dan Hasad
Hati yang bersih adalah hati yang tidak dipenuhi dosa, tidak memiliki keinginan untuk melampaui batas atau menzalimi orang lain, serta tidak dipenuhi kemarahan dan kedengkian.
Ketika ia dizalimi, ia berusaha memaafkan. Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya, ia tidak berlebihan dalam kecewa. Dadanya tetap lapang. Ia juga tidak memiliki hasad kepada orang lain. Tentu ini bukan perkara ringan. Untuk mencapai keadaan tersebut dibutuhkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Apakah kita bisa melakukannya? Bisa, insyaallah. Caranya adalah dengan terus belajar, terus mempraktikkan, dan terus melatih diri sedikit demi sedikit. Tidak mungkin perubahan terjadi dalam sekejap. Kita perlu bersabar dalam proses memperbaiki hati.
Keutamaan Hati dan Lisan
Syekh Abdurrazzaq hafizhahullahu Ta‘ala menjelaskan bahwa hadis ini merupakan hadis yang sangat agung. Pertanyaan para sahabat tentang manusia yang paling utama menunjukkan perhatian mereka terhadap tingkatan iman dan amal.
Para sahabat mengetahui bahwa perkara iman, sifat-sifat iman, ciri-ciri iman, dan amalan-amalan iman memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Iman tidak berada pada satu tingkatan yang sama.
Jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang manusia yang paling utama mencakup dua perkara yang sangat agung: hati dan lisan. Hati yang bersih dan lisan yang jujur. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan secara khusus kedua anggota badan tersebut karena ada hubungan yang sangat erat antara hati dan lisan.
Lisan merupakan ungkapan dari apa yang ada di dalam hati. Karena itu, perbaikan diri harus dimulai dari hati dan kemudian tercermin pada lisan serta anggota badan lainnya. Hati ibarat panglima. Ia menggerakkan seluruh anggota badan. Jika panglimanya baik, insyaallah anggota tubuh dan amalnya akan baik. Jika panglimanya buruk, anggota tubuh pun akan mengikuti keburukannya.
Maka ketika memperbaiki diri, perhatian kita harus terpusat pada dua perkara: hati dan lisan.
Menjaga Hati dengan Majelis Ilmu
Hati perlu terus dipupuk dengan iman, zikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, dan menghadiri majelis ilmu. Majelis ilmu merupakan salah satu sarana untuk menjaga hati agar tetap segar dengan iman. Ketika seseorang jarang menghadiri majelis ilmu, hatinya bisa menjadi keras dan sempit. Ia membutuhkan penyegaran dengan kembali menghadiri majelis yang di dalamnya dipelajari firman Allah dan hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, jangan asal memilih majelis. Tidak setiap perkumpulan adalah majelis ilmu. Ada berbagai macam majelis yang hanya berisi hiburan, lawakan, atau bahkan gibah. Karena itu, kita perlu pandai memilih majelis yang kita hadiri. Kita harus memahami bahwa menghadiri majelis ilmu adalah kebutuhan kita sendiri. Kita membutuhkan ilmu.
Karena itu, ketika menghadiri majelis ilmu, jangan hanya memperhatikan siapa ustaznya. Perhatikan juga materi apa yang akan disampaikan dan apa yang kita butuhkan dari majelis tersebut.
Jangan sekadar berpikir, “Yang penting ustaznya siapa.”
Yang lebih penting adalah apa yang akan dipelajari, apa yang akan diajarkan, dan seberapa besar ilmu tersebut kita butuhkan dalam kehidupan. Terlebih lagi ketika kita ingin mendalami ilmu agama, kita perlu memilih majelis yang memberikan ilmu yang lebih mendalam dan bermanfaat bagi kehidupan kita. Demikian pembahasan kita.
Subhānakallāhumma wa bihamdika, asyhadu allā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik.



