Ahadits Ishlahul QulubKajian Rutin

Ahadits Ishlahul Qulub #17: Seorang Mukmin Seperti Pohon Kurma

بسم الله الرحمن الرحيم

📚┃Materi : “Pesan Nabi Dalam Menata Hati” [Pertemuan#17]
✍🏼Karya : Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad Al-Badr حفظه الله تعالى
🎙┃Pemateri : Ustadz Fadzla Mujadid, Lc حفظه الله تعالى (Alumnus Universitas Islam Madinah KSA Fakultas Dakwah)
🗓┃Hari & Tanggal : Setiap Hari Kamis Genap “Pekan Ke-2 & Pekan Ke-4”
🕰┃Waktu : Ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat : Masjid Al Mubarok – Kampung Gondang Wetan Jl.Bangau I, Manahan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta

Hadits Permisalan dalam Al-Qur’an | Seorang Mukmin Seperti Pohon Kurma

Salah satu permisalan yang sangat indah dalam Al-Qur’an dan hadis adalah permisalan seorang mukmin dengan pohon kurma. Permisalan ini mengandung banyak pelajaran tentang bagaimana seorang mukmin membangun iman, memperbaiki amal, menjaga adab, serta memberikan manfaat kepada orang lain.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمًا لأَصْحَابِهِ « أَخْبِرُونِى عَنْ شَجَرَةٍ مَثَلُهَا مَثَلُ الْمُؤْمِنِ ». فَجَعَلَ الْقَوْمُ يَذْكُرُونَ شَجَرًا مِنْ شَجَرِ الْبَوَادِى. قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأُلْقِىَ فِى نَفْسِى أَوْ رُوعِىَ أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَجَعَلْتُ أُرِيدُ أَنْ أَقُولَهَا فَإِذَا أَسْنَانُ الْقَوْمِ فَأَهَابُ أَنْ أَتَكَلَّمَ فَلَمَّا سَكَتُوا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هِىَ النَّخْلَةُ ».

“Suatu hari, Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang sebuah pohon yang perumpamaannya seperti seorang mukmin?’ Maka para sahabat pun menyebutkan jenis-jenis pohon di lembah-lembah. Ibnu Umar berkata, ‘Terlintas dalam benakku untuk menjawab pohon kurma, tetapi aku segan menjawabnya karena banyak para sahabat yang lebih tua dariku’. Tatkala para sahabat diam, Rasulullah bersabda, ‘Pohon itu adalah pohon kurma’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Bukhari dalam Shahihnya, kitab Al Ilmu, Bab: Qaulul Muhadits Hadatsana, no. 61 (1/145 Fathul Bari) dan
Muslim dalam Shahihnya, kitab Sifatul Munafiqin, Bab: Mitslul Mukmin Matsalun Nakhlah, no. 7029 (17/151 Syarah Nawawi).

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan dan menyerupakan seorang muslim dengan pohon Kurma. Menunjukkan adanya sisi kesamaan antara keduanya. Memang mengenal dan mengetahui sisi kesamaan ini perlu mendapat perhatian yang cukup. Terlebih lagi Allah telah menjelaskan hal ini, agar manusia selalu ingat kepadaNya, sebagaimana firmanNya:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. [Ibrahim/14:24-25].

Sungguh Allah telah memberi permisalan seorang mukmin dengan permisalan yang baik. Itulah pohon kurma yang kita dapati persamaannya dengan seorang mukmin. Rasulullah ﷺ sengaja mengajak para sahabat untuk berpikir. Beliau tidak langsung memberikan jawabannya. Ini merupakan salah satu metode pengajaran Nabi ﷺ, yaitu mengajak orang yang belajar untuk berpikir, berdialog, dan menemukan jawaban.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma sebenarnya mengetahui jawabannya. Dalam pikirannya, pohon yang dimaksud adalah pohon kurma. Namun, ketika itu ia enggan menjawab karena di antara para sahabat terdapat Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma yang lebih tua dan lebih senior.

Setelah tidak ada seorang pun yang menjawab, Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon kurma.

Ketika Abdullah bin Umar keluar bersama ayahnya, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa sejak awal ia telah mengetahui jawabannya. Umar kemudian bertanya, “Apa yang menghalangimu untuk mengatakannya?”

Abdullah bin Umar menjawab bahwa ia tidak melihat Abu Bakar dan Umar berbicara, sehingga ia tidak suka mendahului mereka.

Ini menunjukkan salah satu adab para sahabat. Mengetahui jawaban tidak berarti seseorang harus tergesa-gesa menyampaikannya. Ketika berada di tengah orang-orang yang lebih tua atau lebih berilmu, hendaknya seseorang tetap memperhatikan adab dan menghormati mereka.

Permisalan Pohon Kurma dalam Al-Qur’an

Permisalan ini juga berkaitan dengan firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 24–25:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan izin Rabb-nya.”

Allah kemudian berfirman bahwa Dia membuat berbagai permisalan bagi manusia agar mereka mengambil pelajaran.

Kalimat yang baik dalam ayat tersebut mencakup kalimat iman, zikir, ucapan yang baik, ilmu, dan berbagai bentuk kebaikan. Dalam penjelasan yang dinukil dari Ibnu Abbas, kalimat yang baik tersebut adalah kalimat tauhid.

Pohon yang baik memiliki akar yang kokoh. Demikian pula seorang mukmin. Kokohnya seorang mukmin bergantung pada kokohnya tauhid dan imannya kepada Allah.

Jika akar sebuah pohon lemah, maka cabang dan buahnya juga tidak akan kokoh. Demikian pula seseorang yang memiliki banyak pengetahuan, tetapi tidak memiliki fondasi iman dan tauhid yang kuat. Ilmu tersebut tidak akan memberikan hasil sebagaimana mestinya.

Karena itu, yang pertama kali harus diperkuat adalah tauhid dan iman. Dari akar yang kuat akan tumbuh amal saleh dan berbagai kebaikan.

Mengapa Seorang Mukmin Diumpamakan dengan Pohon Kurma?

Mengapa Rasulullah ﷺ memilih pohon kurma, bukan pohon yang lain?

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa pohon kurma memiliki banyak manfaat. Hampir seluruh bagian pohon kurma dapat dimanfaatkan. Demikian pula seorang mukmin.

Seorang mukmin seharusnya menjadi pribadi yang terus-menerus memberikan manfaat. Kehidupannya diisi dengan berbagai ketaatan:

  • Salat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  • Puasa.
  • Membaca Al-Qur’an.
  • Berzikir.
  • Bersedekah.
  • Menuntut ilmu.
  • Menyambung silaturahmi.
  • Berakhlak mulia.
  • Melakukan berbagai bentuk kebaikan.

Dengan demikian, seorang mukmin bukan hanya baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Bagian-Bagian Permisalan Mukmin dengan Pohon Kurma

1. Akar: Iman dan Tauhid

Akar pohon yang kokoh menggambarkan iman dan tauhid.

Ashluha tsabit — dasarnya kokoh.

Kekokohan seorang mukmin bergantung pada keteguhan tauhidnya kepada Allah.

2. Batang dan Cabang: Amal Saleh

Dari iman dan tauhid yang kuat akan tumbuh amal saleh.

Karena itu, jika seseorang ingin memiliki amal yang lurus, berkualitas, dan banyak, maka yang harus dipupuk terlebih dahulu adalah akidah, tauhid, dan iman kepada Allah.

Iman yang kuat akan menjadi fondasi bagi tumbuhnya amal saleh.

3. Buah: Manfaat bagi Orang Lain

Pohon kurma menghasilkan buah yang dapat dimanfaatkan. Demikian pula seorang mukmin.

Seorang mukmin tidak cukup hanya menjadi orang saleh bagi dirinya sendiri. Ia juga harus berusaha memberikan manfaat kepada orang lain.

Rasulullah ﷺ menggambarkan seorang mukmin seperti pohon kurma: apa pun yang diambil darinya, terdapat manfaat di dalamnya—daunnya bermanfaat, batangnya bermanfaat, buahnya bermanfaat, dan akarnya pun memiliki manfaat.

Tauhid Adalah Gizi bagi Amal Saleh

Dalam membangun agama, kita perlu memahami bahwa amal tidak akan tumbuh dengan baik tanpa fondasi iman dan tauhid. Mengajak seseorang untuk shalat atau beramal baik tidak cukup hanya dengan perintah dan ancaman. Harus ditumbuhkan terlebih dahulu rasa takut dan cinta kepada Allah.

Karena itu, pendidikan tauhid bukan sesuatu yang hanya diberikan sekali, tetapi harus terus dipupuk sepanjang kehidupan. Tauhid menjadi seperti gizi bagi amal saleh.

Tanpa tauhid dan iman, seseorang tidak memiliki fondasi yang kuat dalam beramal. Bahkan seseorang dapat melakukan amal dengan tujuan riya, mencari pujian, atau mengejar kepentingan dunia karena tidak memahami pentingnya tauhid dan keikhlasan.

Inilah pentingnya manhaj kenabian dalam membangun agama: memulai dari fondasi yang benar sebelum membangun cabang-cabang amal.

Mukmin Harus Bermanfaat bagi Orang Lain

Allah mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Allah berfirman:

وَاتَّقُوۡا فِتۡنَةً لَّا تُصِيۡبَنَّ الَّذِيۡنَ ظَلَمُوۡا مِنۡكُمۡ خَآصَّةً​ ۚ وَاعۡلَمُوۡۤا

“Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu secara khusus.”

Salah satu sebab datangnya kerusakan adalah ketika orang-orang yang baik tidak peduli terhadap kemungkaran di sekitarnya.

Gambaran sederhananya seperti sebuah kapal yang ditumpangi banyak orang. Jika seseorang melubangi bagian bawah kapal dan orang lain membiarkannya dengan alasan “yang penting bukan bagian saya”, maka kerusakan tersebut akhirnya akan membahayakan semua orang.

Demikian pula seorang mukmin. Ia tidak cukup hanya menjadi baik untuk dirinya sendiri. Ia juga perlu berusaha memberikan manfaat kepada lingkungan sekitarnya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Pelajaran-Pelajaran Penting dari Hadis

1. Mukmin yang baik harus kokoh sekaligus bermanfaat

Seorang mukmin harus kokoh akidah dan tauhidnya sekaligus memberikan manfaat kepada orang lain.

Ukhuwah tidak dibangun dengan mengorbankan tauhid. Sebaliknya, tauhid yang kuat akan melahirkan amal saleh, akhlak yang baik, dan ukhuwah.

Kita dapat melihat bagaimana Rasulullah ﷺ memupuk tauhid selama bertahun-tahun di Makkah sebelum kemudian persaudaraan kaum Muhajirin dan Ansar terwujud di Madinah.

2. Tauhid adalah akar seluruh kebaikan

Jika akar sebuah pohon sehat, maka cabang dan buahnya akan baik.

Demikian pula kehidupan seorang mukmin. Jika tauhidnya baik, maka ucapan, amal, dan perilakunya akan mendapatkan fondasi yang kuat.

Karena itu, perbaikan amal harus dimulai dengan memperbaiki iman dan keikhlasan.

Amal yang sederhana tetapi ikhlas dan sesuai dengan Sunnah lebih bermakna daripada banyak amal yang tidak memiliki landasan yang benar. Dalam beramal, seseorang tidak mengikuti sekadar persepsinya sendiri, tetapi tunduk kepada apa yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan.

3. Mukmin memberikan manfaat secara terus-menerus

Seorang mukmin tidak pelit dalam memberikan manfaat.

Jika tidak mampu memberikan manfaat berupa harta, ia dapat memberikan manfaat berupa ilmu. Tidak harus selalu melalui mimbar atau kajian besar.

Mengajarkan Al-Fatihah kepada satu orang, mengajarkan membaca Al-Qur’an kepada dua orang, atau memberikan ilmu sesuai kemampuan juga merupakan bentuk manfaat.

Banyaknya orang yang mengikuti seseorang bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan dalam memberikan manfaat. Yang penting adalah adanya atsar, yaitu pengaruh kebaikan yang ditinggalkan.

4. Manfaat tidak hanya diberikan ketika keadaan mudah

Pohon kurma tidak hanya bermanfaat ketika sedang berbuah. Batang, daun, pelepah, biji, dan bagian lainnya juga dapat dimanfaatkan.

Demikian pula seorang mukmin. Dalam keadaan lapang maupun berat, ia tetap berusaha memberikan manfaat sesuai kemampuannya.

5. Menghormati orang yang lebih tua merupakan akhlak yang tinggi

Sikap Abdullah bin Umar menunjukkan bagaimana seseorang menghormati orang yang lebih tua dan lebih senior.

Mengetahui jawaban tidak berarti harus tergesa-gesa berbicara. Adab dalam majelis ilmu harus tetap dijaga.

6. Adab tidak berarti harus diam ketika memiliki ilmu

Menghormati orang yang lebih tua bukan berarti seseorang yang lebih muda tidak boleh berbicara ketika mengetahui sesuatu.

Jika memiliki jawaban yang belum diketahui orang yang lebih tua, ia dapat menyampaikannya dengan penuh adab. Misalnya dengan meminta izin terlebih dahulu dan menyampaikan jawabannya dengan sopan.

Jadi, ilmu membutuhkan adab sekaligus keberanian.

7. Orang tua bergembira ketika anaknya memiliki ilmu

Sikap Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu kepada Abdullah bin Umar menunjukkan kegembiraan orang tua ketika melihat anaknya memiliki pemahaman dan ilmu yang baik.

8. Metode pengajaran Nabi ﷺ sangat mendalam

Rasulullah ﷺ tidak selalu memberikan jawaban secara langsung. Beliau terkadang memberikan pertanyaan, permisalan, dan kesempatan kepada para sahabat untuk berpikir.

Hadis ini juga menunjukkan bolehnya menggunakan perumpamaan dan analogi dalam mengajar.

Seorang pendidik tidak cukup hanya membaca dan menerjemahkan materi. Ia perlu memperhatikan apakah orang yang belajar benar-benar memahami dan mendapatkan manfaat. Cara Rasulullah ﷺ mengajar merupakan pelajaran penting bagi para pendidik.

Al-Mu’min Kan-Nakhlah

Ringkasan permisalan ini dapat dituangkan dalam tiga kalimat:

Al-mu’min kan-nakhlah
Seorang mukmin seperti pohon kurma.

Ashluhu tsabitun bil-iman
Dasarnya kokoh dengan iman.

Wa far’uhu ‘alin bith-tha’ah
Cabangnya menjulang tinggi dengan ketaatan.

Wa tsamaruhu da’imun bin-naf’i wal-ihsan
Buahnya terus-menerus memberikan manfaat dan kebaikan.

Inilah gambaran seorang mukmin: akarnya kokoh, cabangnya tinggi, dan buahnya memberikan manfaat.

Menata hati tidak hanya berarti memikirkan diri sendiri. Seseorang yang berusaha memberikan manfaat kepada orang lain juga dapat menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.

Tiga Bentuk Berbuat Baik kepada Al-Qur’an

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seorang hamba membutuhkan ihsan terhadap Al-Qur’an dalam tiga perkara:

1. Ihsan fil-qira’ah — Berbuat baik dalam membaca

Al-Qur’an hendaknya dibaca dengan baik, tartil, dan secara rutin, disertai perhatian dan penghayatan terhadap apa yang dibaca.

2. Ihsan fil-fahmi — Berbuat baik dalam memahami

Seorang muslim hendaknya berusaha memahami Al-Qur’an dengan benar.

Ketika ada ayat yang belum dipahami, bukan berarti Al-Qur’an yang dianggap tidak masuk akal. Justru seseorang perlu menyadari keterbatasan pemahamannya dan terus berusaha mempelajarinya.

Al-Qur’an adalah kalam Allah, sedangkan jangkauan akal manusia terbatas.

3. Ihsan fil-‘amal — Berbuat baik dalam mengamalkan

Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca dan dipahami, tetapi juga untuk diamalkan dalam kehidupan.

Sebagian orang memberikan perhatian besar kepada bacaan dan hafalan Al-Qur’an, tetapi belum memberikan perhatian yang sama terhadap pemahaman dan pengamalannya.

Karena itu, hubungan dengan Al-Qur’an harus mencakup membaca, memahami, dan mengamalkan.

Bentuk-Bentuk Meninggalkan Al-Qur’an

Ibnul Qayyim juga mengingatkan agar seorang muslim tidak sampai meninggalkan Al-Qur’an. Allah menyebutkan dalam Surah Al-Furqan ayat 30 tentang pengaduan Rasulullah ﷺ:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.”

Meninggalkan Al-Qur’an tidak hanya berarti tidak membacanya. Ada beberapa bentuk hajrul Qur’an yang perlu diperhatikan:

1. Meninggalkan mendengarkan dan mengimaninya

Termasuk meninggalkan Al-Qur’an adalah tidak mau mendengarkan bacaannya dengan baik serta tidak mengimani kandungannya.

Ketika Al-Qur’an sedang dibacakan, seseorang hendaknya memperhatikan dan mendengarkannya dengan baik.

2. Meninggalkan pengamalannya

Seseorang dapat membaca dan mengimani Al-Qur’an, tetapi jika ia tidak berhenti pada batas-batas halal dan haram yang ditetapkan Al-Qur’an, maka hal tersebut termasuk bentuk meninggalkannya.

Al-Qur’an harus menjadi pedoman dalam menentukan apa yang halal dan apa yang haram.

3. Meninggalkan berhukum dengannya

Termasuk meninggalkan Al-Qur’an adalah tidak menjadikannya sebagai rujukan dalam pokok-pokok dan cabang agama.

4. Meninggalkan tadabbur dan pemahaman

Meninggalkan Al-Qur’an juga berarti tidak mau mentadabburinya, tidak berusaha memahaminya, dan tidak berusaha mengenali maksud yang Allah kehendaki dalam firman-Nya.

Al-Qur’an perlu direnungkan: apa yang Allah sampaikan, apa hikmahnya, dan bagaimana petunjuk tersebut diterapkan dalam kehidupan.

5. Meninggalkan Al-Qur’an sebagai obat bagi hati

Ibnul Qayyim menyebutkan pula meninggalkan Al-Qur’an sebagai sarana mencari kesembuhan dan penawar bagi berbagai penyakit hati.

Al-Qur’an merupakan petunjuk dan obat bagi hati. Karena itu, ketika hati mengalami penyakit, seorang mukmin hendaknya kembali kepada Al-Qur’an untuk mencari petunjuk dan penawarnya.

Penutup

Seorang mukmin hendaknya berusaha menjadi seperti pohon kurma: kokoh dalam iman dan tauhid, tumbuh dalam ketaatan, serta terus memberikan manfaat dan kebaikan kepada orang lain.

Jangan sampai perhatian kita hanya tertuju pada banyaknya amal, sementara akar iman, tauhid, dan keikhlasan belum diperbaiki.

Demikian pula dengan Al-Qur’an. Hubungan kita dengannya tidak boleh berhenti pada membaca dan menghafal. Kita perlu membacanya dengan baik, memahaminya, mentadabburinya, dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Jangan sampai kita meninggalkan Al-Qur’an, karena meninggalkannya dapat menyebabkan hati menjadi keras, gelisah, dan kehilangan arah. Karena itu, hadirkan selalu Al-Qur’an dalam kehidupan kita.

Ringkasan Poster

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button