FikihKajian Rutin

Kitab Fiqih Al-Wajiz: Sifat Azan, Hukum Menjawabnya dan Adab Muazin

Bismillah

Pembahasan Kitab Fiqih Al-Wajiz: Sifat Azan, Hukum Menjawabnya dan Adab Muazin

Oleh: Ustadz Deka Mujahidin, S.Pdi
Penyelenggara: SoloMengaji TV (Kajian Rutin Masjid Raya Fatimah Solo)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Kepada-Nya kita memohon pertolongan dalam urusan dunia dan agama. Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, imam orang-orang bertakwa dan teladan bagi kaum muslimin.

Jamaah sekalian, bapak-bapak dan ibu-ibu yang semoga senantiasa diberkahi dan dirahmati Allah Subhanahu wa Ta‘ala, marilah kita mengawali aktivitas kita dengan memuji Allah atas berbagai nikmat yang telah diberikan kepada kita, terutama nikmat kesehatan dan waktu luang.

Waktu luang merupakan nikmat yang sering tidak disadari. Banyak orang yang masih sibuk bekerja ketika waktu salat telah tiba. Demikian pula dengan kesehatan. Saudara-saudara kita yang sedang terbaring di rumah sakit, barangkali keinginannya saat itu hanya satu, yaitu sembuh. Ketika seseorang sakit, ia tidak lagi memikirkan makanan yang lezat atau bepergian ke mana-mana. Ia hanya ingin mendapatkan kembali kesehatan.

Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang sering membuat manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang.

Sifat Azan

Pembahasan kita melanjutkan kajian tentang azan, khususnya sifat-sifat azan.

Dari Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa ketika para sahabat berkumpul untuk memikirkan bagaimana cara mengumpulkan kaum muslimin untuk melaksanakan salat, muncul beberapa usulan.

Sebagian mengusulkan penggunaan lonceng sebagaimana yang digunakan oleh orang-orang Nasrani. Sebagian lainnya mengusulkan penggunaan terompet sebagaimana yang digunakan oleh orang-orang Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memilih kedua cara tersebut.

Kemudian Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu bermimpi bertemu seseorang yang membawa lonceng. Ia bertanya apakah lonceng tersebut akan dijual. Orang itu justru menawarkan sesuatu yang lebih baik daripada lonceng, yaitu lafaz azan.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, di antaranya dalam Sunan Abi Dawud no. 499.

Lafaz azan yang diajarkan dalam hadis tersebut adalah:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya:

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Marilah menuju salat. Marilah menuju keberuntungan. Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”

Pada pagi harinya, Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu menyampaikan mimpinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa mimpi tersebut benar dan memerintahkan agar Bilal radhiyallahu ‘anhu mengumandangkan azan dengan lafaz tersebut.

Dalam riwayat lain, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma juga menyebutkan bahwa ketika kaum muslimin berada di Madinah dan belum memiliki panggilan untuk salat, ada usulan menggunakan lonceng seperti orang-orang Nasrani dan terompet seperti orang-orang Yahudi. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Bilal untuk menyeru manusia kepada salat. HR. Bukhari no. 604 dan Muslim no. 377.

Mimpi Tidak Bisa Dijadikan Dasar Syariat Setelah Nabi Wafat

Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mimpi Abdullah bin Zaid menjadi bagian dari proses ditetapkannya azan karena mimpi tersebut kemudian dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, seseorang tidak boleh menetapkan suatu ajaran agama hanya berdasarkan mimpi. Apabila ada seseorang mengaku bermimpi bertemu Nabi kemudian mendapatkan perintah tertentu, hal tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan syariat baru.

Karena itu, sebuah klaim semacam itu harus diperiksa dan dibandingkan dengan ajaran yang telah sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menjawab Azan

Ketika seseorang mendengar azan, disunahkan untuk mengulang lafaz yang diucapkan muazin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، قَالَ أَحَدُكُمْ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَإِذَا قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَإِذَا قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Artinya:

“Apabila muazin mengucapkan ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar’, hendaknya salah seorang di antara kalian mengucapkan ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar’. Apabila muazin mengucapkan ‘Asyhadu alla ilaha illallah’, hendaknya ia mengucapkan ‘Asyhadu alla ilaha illallah’. Apabila muazin mengucapkan ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’, hendaknya ia mengucapkan ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’. Apabila muazin mengucapkan ‘Hayya ‘alash-shalah’, hendaknya ia mengucapkan ‘La haula wa la quwwata illa billah’. Demikian pula ketika muazin mengucapkan ‘Hayya ‘alal-falah’. Kemudian ketika muazin mengucapkan ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar’, ia mengucapkan hal yang sama. Apabila muazin mengucapkan ‘La ilaha illallah’, lalu ia mengucapkannya dari hatinya, niscaya ia masuk surga.”

HR. Muslim no. 385.

Dengan demikian, ketika muazin mengucapkan hayya ‘alash-shalah dan hayya ‘alal-falah, jawaban yang disyariatkan adalah:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Jika Masuk Masjid Saat Khatib Sudah Berkhutbah

Ada persoalan yang sering terjadi ketika salat Jumat. Seseorang datang ke masjid ketika khatib sudah berada di atas mimbar dan azan sedang dikumandangkan.

Dalam keadaan seperti ini, hendaknya ia tidak berdiri lama hanya untuk menjawab azan. Ia masuk kemudian melaksanakan salat tahiyatul masjid dua rakaat secara ringkas, lalu duduk mendengarkan khutbah.

Hal ini berdasarkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang yang datang ketika beliau sedang berkhutbah. Orang tersebut langsung duduk, lalu Nabi memerintahkannya untuk berdiri dan melaksanakan dua rakaat.

أَصَلَّيْتَ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: قُمْ فَصَلِّ الرَّكْعَتَيْنِ

“Apakah engkau telah salat?” Ia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Berdirilah dan salatlah dua rakaat.”

Dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kedua rakaat tersebut diringankan. HR. Muslim no. 875.

Maka, ketika khatib sudah berkhutbah dan seseorang baru masuk masjid, ia tetap melaksanakan tahiyatul masjid terlebih dahulu, bukan duduk menunggu selesai azan.

Perbedaan dalam Masalah Lafaz Azan Subuh

Dalam azan Subuh terdapat tambahan lafaz:

الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Ash-shalatu khairum minan-naum, yang berarti:

“Salat lebih baik daripada tidur.”

Dalam pembahasan fikih terdapat perbedaan pendapat mengenai rincian lafaz dan pelaksanaannya. Riwayat Abu Mahdzurah menunjukkan adanya lafaz tersebut dalam azan Fajar. Di antaranya diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud no. 500, serta beberapa riwayat lainnya.

Perkara-perkara seperti ini termasuk persoalan khilafiah dalam masalah ibadah. Karena itu, hendaknya seorang muslim berlapang dada terhadap perbedaan pendapat yang memiliki landasan ilmiah.

Demikian pula dalam beberapa persoalan fikih lainnya yang memang memiliki perbedaan riwayat atau pendapat ulama. Tidak semestinya perbedaan dalam perkara seperti ini menjadi sebab munculnya pertengkaran dan saling menyalahkan.

Menjawab Azan Berlaku bagi Laki-Laki dan Perempuan

Menjawab azan dianjurkan bagi siapa saja yang mendengarnya, baik laki-laki maupun perempuan.

Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

“Apabila kalian mendengar panggilan azan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muazin.” HR. Muslim no. 383.

Bersalawat dan Meminta Al-Wasilah Setelah Azan

Setelah menjawab azan, seorang muslim dianjurkan bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memohon kepada Allah agar memberikan al-wasilah kepada beliau.

Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya. Kemudian bersalawatlah kepadaku. Sesungguhnya barang siapa bersalawat kepadaku satu kali, Allah akan bersalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah al-wasilah untukku. Sesungguhnya al-wasilah adalah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi salah seorang hamba Allah. Aku berharap akulah orang tersebut. Barang siapa memohonkan al-wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” HR. Muslim no. 384.

Al-wasilah adalah kedudukan yang tinggi di surga yang Allah khususkan bagi salah seorang hamba-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berharap beliau mendapatkan kedudukan tersebut.

Doa Setelah Azan

Di antara doa yang dianjurkan untuk dibaca setelah azan adalah:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

“Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan salat yang akan ditegakkan. Berikanlah kepada Muhammad al-wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa orang yang membaca doa tersebut setelah mendengar azan akan mendapatkan syafaat beliau pada hari kiamat. HR. Bukhari no. 614.


٦١٤ – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَيَّاشٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعَيۡبُ بۡنُ أَبِي حَمۡزَةَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ الۡمُنۡكَدِرِ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ قَالَ حِينَ يَسۡمَعُ النِّدَاءَ: اللّٰهُمَّ رَبَّ هَٰذِهِ الدَّعۡوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الۡقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الۡوَسِيلَةَ وَالۡفَضِيلَةَ، وَابۡعَثۡهُ مَقَامًا مَحۡمُودًا الَّذِي وَعَدۡتَهُ، حَلَّتۡ لَهُ شَفَاعَتِي يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ). [الحديث ٦١٤ – طرفه في: ٤٧١٩].

614. ‘Ali bin ‘Ayyasy telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’aib bin Abu Hamzah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir bin ‘Abdullah: Bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Siapa saja yang ketika mendengar azan mengucapkan:

Allaahumma rabba haadzihid da’watit taammah wash shalaatil qaa`imah, aati Muhammadanil wasiilata wal fadhiilah, wab’atshu maqaaman mahmuudanil ladzi wa’adtah

(Ya Allah, Tuhan seruan yang sempurna ini dan salat yang akan ditegakkan ini, berilah kepada Muhammad al-wasilah (tempat yang tinggi di janah) dan keutamaan, serta bangkitkan beliau di tempat yang dipuji (maqam mahmud) yang telah Engkau janjikan kepadanya);

niscaya akan mendapat syafaatku pada hari kiamat.”

Memanfaatkan Waktu antara Azan dan Iqamat

Di antara waktu yang sangat baik untuk memperbanyak doa adalah waktu antara azan dan iqamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

“Doa tidak akan ditolak antara azan dan iqamat.”

HR. Abu Dawud no. 521 dan Tirmidzi no. 212.

Karena itu, waktu menunggu iqamat jangan dihabiskan dengan percakapan yang tidak bermanfaat. Gunakan kesempatan tersebut untuk berdoa kepada Allah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan mempersiapkan hati untuk melaksanakan salat.

Setiap orang memiliki kebutuhan dan persoalan hidup. Ada yang memiliki persoalan dalam keluarga, pekerjaan, kesehatan, hubungan dengan tetangga, pendidikan anak, dan berbagai urusan lainnya. Semua itu dapat kita adukan kepada Allah melalui doa.

Menjaga Kebersihan dan Kenyamanan Masjid

Orang yang hendak pergi ke masjid juga hendaknya memperhatikan kebersihan badan, pakaian, dan bau mulut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang yang memakan bawang atau makanan lain yang menimbulkan bau mengganggu untuk mendatangi masjid sampai bau tersebut hilang.

Jabir radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ الثُّومِ ـ وَقَالَ مَرَّةً: مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ ـ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ

“Barang siapa memakan tanaman ini, yaitu bawang putih”—dan pada riwayat lain disebutkan bawang merah, bawang putih, dan bawang prei—“janganlah ia mendekati masjid kami, karena para malaikat terganggu oleh sesuatu yang mengganggu manusia.” HR. Muslim no. 564.

Prinsipnya adalah menjaga agar keberadaan kita di masjid tidak mengganggu orang lain. Masjid dikondisikan agar jamaah dapat beribadah dengan khusyuk. Karena itu, seorang muslim juga perlu memperhatikan pakaian, kebersihan, bau badan, dan bau mulutnya.

Masuk Surga dengan Iman dan Amal Saleh

Menjawab azan merupakan salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar. Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang menjawab azan dengan ikhlas akan mendapatkan janji masuk surga.

Jalan menuju surga memang sangat banyak. Ada amalan yang dilakukan dengan lisan, anggota badan, harta, maupun hati. Seorang muslim hendaknya berusaha memperbanyak amal saleh.

Namun, perlu dipahami bahwa masuk surga pada hakikatnya adalah karena rahmat Allah. Amal saleh merupakan sebab yang Allah syariatkan bagi seorang hamba untuk mendapatkan rahmat tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” QS. Al-Kahf: 107.

Jadi, bukan sekadar mengaku beriman, tetapi iman tersebut harus melahirkan amal saleh.

Keutamaan Mengharap Wajah Allah

Di antara sifat yang hendaknya ada pada orang yang mengumandangkan azan adalah ikhlas, yaitu mengharapkan wajah Allah.

Tujuan utama mengumandangkan azan bukan mencari pujian, popularitas, ataupun keuntungan duniawi, tetapi mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Mengharap wajah Allah merupakan cita-cita besar seorang mukmin. Kenikmatan terbesar penduduk surga adalah memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Karena itu, ketika seseorang melakukan ibadah, termasuk azan, hendaknya ia mengikhlaskan amal tersebut untuk Allah.

Tidak Meminta Bayaran untuk Azan

Dalam hadis Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْنِي إِمَامَ قَوْمِي

“Wahai Rasulullah, jadikanlah aku imam bagi kaumku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنْتَ إِمَامُهُمْ، وَاقْتَدِ بِأَضْعَفِهِمْ، وَاتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا

“Engkau adalah imam mereka. Perhatikanlah orang yang paling lemah di antara mereka, dan ambillah seorang muazin yang tidak mengambil upah atas azannya.” HR. Abu Dawud no. 531.

Pembahasan tentang menerima kompensasi bagi muazin memiliki rincian dalam pembahasan fikih. Karena itu, hadis tersebut tidak semestinya dipahami secara tergesa-gesa tanpa melihat penjelasan para ulama mengenai kondisi dan kebutuhan muazin.

Sifat-Sifat yang Dianjurkan bagi Muazin

Di antara sifat yang disebutkan dalam pembahasan ini adalah:

  1. Mengharap wajah Allah.
    Azan hendaknya dilakukan dengan ikhlas dan bukan untuk mencari pujian manusia.
  2. Suci dari hadas.
    Muazin dianjurkan berada dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun hadas besar.
  3. Menghadap kiblat.
    Muazin hendaknya menghadap ke arah kiblat ketika mengumandangkan azan.
  4. Menoleh ke kanan dan kiri ketika mengucapkan hayya ‘alash-shalah dan hayya ‘alal-falah.
    Muazin tidak perlu memutar seluruh badan, tetapi cukup menolehkan kepala dan leher.Praktik Bilal radhiyallahu ‘anhu ketika azan disebutkan dalam hadis Abu Juhaifah. Ia melihat Bilal menoleh ke kanan dan ke kiri ketika mengumandangkan azan. HR. Bukhari no. 634.
  5. Meletakkan kedua jari telunjuk pada telinga.
    Hal tersebut juga disebutkan dalam riwayat tentang Bilal radhiyallahu ‘anhu.
  6. Mengeraskan suara ketika azan.
    Azan merupakan panggilan yang ditujukan untuk memberitahukan masuknya waktu salat dan mengajak kaum muslimin menghadiri salat. Karena itu, suara azan hendaknya terdengar dengan jelas.

Penutup

Azan bukan sekadar suara yang terdengar dari menara masjid. Azan adalah syiar Islam dan panggilan menuju salat. Karena itu, seorang muslim hendaknya memahami adab ketika mendengar azan, menjawabnya dengan benar, bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memohon al-wasilah untuk beliau, membaca doa setelah azan, serta memanfaatkan waktu antara azan dan iqamat untuk memperbanyak doa.

Demikian pula bagi seorang muazin, hendaknya ia memperhatikan keikhlasan, kebersihan, menghadap kiblat, cara menoleh ketika mengumandangkan azan, serta mengeraskan suara sesuai tuntunan.

Semoga Allah memberikan kepada kita taufik untuk menjaga syiar-syiar agama-Nya, mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menjadikan setiap panggilan azan sebagai sebab bertambahnya keimanan dan amal saleh kita.

Wallahu a‘lam.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button