FikihKajian Rutin

Sifat Shalat Nabi ﷺ | Doa Istiftah: Memohon Ampunan dan Dibersihkan dari Dosa

Do’a Istiftah #1: Memohon Ampunan dan Dibersihkan dari Dosa

Bismillah

✒️┃Materi: Kitab Sifat Shalat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam
🎙┃Pemateri: Ustadz Arif Nurrohim, S.Pd.I., M.Pd. Hafidzahullah | Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo
📆┃Hari: Setiap Hari Selasa Pekan Ke-3 & Pekan Ke-4
🕰️┃Waktu: Ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat: Masjid Raya Fatimah – Jl. Dr. Radjiman No. 193 Serengan, Surakarta.


 

1. Mensyukuri nikmat Allah dan memahami naik turunnya iman

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan begitu banyak nikmat kepada kita. Apabila kita berusaha menghitung seluruh nikmat yang Allah berikan, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa bersyukur dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua yang kita miliki merupakan karunia dari-Nya.

Pernahkah kita merasakan bahwa pada suatu waktu kita begitu bersemangat dalam beribadah, tetapi pada waktu yang lain kita merasa malas? Terkadang kita mudah menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, dan mengerjakan amalan sunah. Namun, ada kalanya kita merasa berat melakukan amalan-amalan tersebut.

Keadaan ini berkaitan dengan naik turunnya iman. Dalam perjalanan hidup, semangat beribadah seseorang tidak selalu berada pada tingkat yang sama. Ada kalanya iman terasa kuat dan ada kalanya melemah.

Hal ini pernah dialami oleh para sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa Hanzhalah bin Ar-Rabi’ radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu , dimana dia merasa khawatir dirinya telah menjadi munafik karena merasakan perbedaan keadaan ketika bersama Rasulullah ﷺ dan ketika kembali kepada keluarga serta kesibukan dunia.

Hanzhalah menceritakan bahwa ketika berada di sisi Rasulullah ﷺ, beliau mengingatkan mereka tentang surga dan neraka sehingga seakan-akan keduanya terlihat di hadapan mata. Akan tetapi, setelah kembali kepada keluarga, anak-anak, dan pekerjaan, mereka banyak melupakan suasana tersebut.

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun mengatakan bahwa dirinya mengalami keadaan yang serupa. Mereka kemudian mendatangi Rasulullah ﷺ untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ، سَاعَةً وَسَاعَةً»

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian terus-menerus berada dalam keadaan seperti ketika kalian berada di sisiku dan dalam keadaan berzikir, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, ada waktunya begini dan ada waktunya begitu.”

Sumber: Shahih Muslim, Kitab At-Taubah, hadis no. 2750, dari Hanzhalah Al-Usayyidi radhiyallahu ‘anhu.

Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat pun merasakan perubahan keadaan hati. Ketika berada dalam majelis Rasulullah ﷺ, mereka sangat teringat kepada akhirat. Namun, ketika kembali menjalani kehidupan sehari-hari, perhatian mereka juga tertuju kepada keluarga dan pekerjaan.

Karena itu, jangan langsung menganggap diri kita munafik hanya karena semangat ibadah terkadang menurun. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menyikapi keadaan tersebut.

Ketika semangat beribadah sedang kuat, manfaatkanlah kesempatan itu sebaik-baiknya. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, mengerjakan salat sunah, berzikir, dan melakukan amal saleh. Ketika semangat melemah, berusahalah mengembalikannya dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syariat, seperti menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, beristirahat secukupnya, berolahraga, atau melakukan kegiatan bermanfaat.

Yang terpenting, jangan sampai menurunnya semangat membuat kita meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang diharamkan Allah.

2. Majelis ilmu sebagai sarana menguatkan iman

Majelis ilmu merupakan salah satu sarana untuk mengingatkan hati kepada Allah dan kehidupan akhirat. Kita bisa mengibaratkan hati seperti baterai yang membutuhkan pengisian kembali. Ketika semangat beribadah mulai melemah, menghadiri majelis ilmu dapat menjadi salah satu sebab untuk menguatkannya.

Di majelis ilmu, kita diingatkan kembali tentang surga, neraka, pahala, dosa, serta tujuan hidup yang sesungguhnya. Tanpa mengingat akhirat, seseorang bisa terlalu sibuk mengejar urusan dunia hingga melupakan tujuan akhirnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”

Sumber: QS. Adz-Dzariyat [51]: 55.

Karena itu, hendaknya kita menjaga hubungan dengan majelis ilmu, memilih teman yang saleh, dan terus mempelajari agama. Semua itu merupakan ikhtiar agar hati tidak terlalu larut dalam kesibukan dunia.

3. Sifat Shalat Nabi ﷺ : Bacaan Istiftah

Pada kajian sebelumnya, pembahasan telah sampai pada takbiratul ihram, posisi tangan ketika shalat, dan letak tangan setelah takbir. Ada beberapa riwayat yang menjadi pembahasan para ulama mengenai posisi tangan, sehingga seorang muslim hendaknya mempelajari dalil-dalilnya dan mengikuti tuntunan yang sahih.

Dalam perkara ibadah, kita tidak boleh menetapkan tata cara hanya berdasarkan kebiasaan atau keinginan pribadi. Ibadah harus dibangun di atas dalil dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah ﷺ.

Setelah takbiratul ihram dan meletakkan tangan, kita membaca doa istiftah, yaitu doa pembukaan shalat sebelum membaca surah Al-Fatihah.

Doa istiftah memiliki beberapa redaksi yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah:

  • Subhanakallahumma wa bihamdika wa tabarakasmuka…
  • Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas-samawati wal-ardha…
  • Allahumma Rabba Jibrila wa Mika’ila wa Israfil…
  • Allahumma ba’id baini wa baina khathayaya…

Keberadaan beberapa redaksi doa istiftah mengajarkan kepada kita untuk mempelajari berbagai tuntunan Rasulullah ﷺ yang memiliki dasar. Kita dapat mengamalkan doa-doa tersebut secara bergantian sesuai dengan riwayatnya, tanpa meyakini bahwa hanya satu redaksi yang boleh dibaca.

Namun, pergantian bacaan harus tetap didasarkan pada dalil yang sahih. Tidak setiap variasi yang dikenal di masyarakat otomatis memiliki landasan yang sama kuat.

4. Doa Istiftah #1: Do’a Memohon Dijauhkan dari Dosa

Salah satu doa istiftah yang diriwayatkan secara sahih adalah doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Abu Hurairah menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ biasanya terdiam sejenak antara takbir dan bacaan Al-Qur’an. Abu Hurairah kemudian bertanya tentang apa yang beliau baca ketika jeda tersebut.

Rasulullah ﷺ menjawab dengan doa berikut.

Lafaz doa istiftah

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Allahumma ba’id baini wa baina khathayaya kama ba’adta bainal-masyriqi wal-maghrib. Allahumma naqqini minal-khathaya kama yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas. Allahummaghsil khathayaya bil-ma’i wats-tsalji wal-barad.

“Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari dosa-dosa sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah dosa-dosaku dengan air, salju, dan hujan es.”

Sumber hadis: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Shahih al-Bukhari, hadis no. 744, Kitab Al-Adzan, bab bacaan setelah takbir.

Doa ini mengandung tiga permohonan yang sangat agung: dijauhkan dari dosa, dibersihkan dari dosa, dan dicuci dari dosa.

Pertama: Memohon agar dijauhkan dari dosa

Rasulullah ﷺ mengajarkan permohonan agar jarak antara seorang hamba dan dosa-dosanya sejauh jarak antara timur dan barat.

Timur dan barat merupakan dua arah yang sangat berjauhan. Dengan perumpamaan ini, kita memohon kepada Allah agar tidak terjerumus ke dalam dosa dan kesalahan.

Permohonan tersebut mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh merasa aman dari dosa. Kita harus terus berusaha menjaga diri, menjauhi kemaksiatan, dan meminta pertolongan kepada Allah agar diberi keteguhan.

Upaya menjaga diri dari dosa dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

  • Mempelajari agama agar mengetahui perkara yang diperintahkan dan dilarang.
  • Memilih lingkungan pergaulan yang baik.
  • Menjauhi sebab-sebab yang dapat menyeret kepada kemaksiatan.
  • Memperbanyak doa dan memohon pertolongan kepada Allah.
  • Segera bertobat ketika terjatuh dalam kesalahan.

Kedua: Memohon dibersihkan dari dosa

Dalam bagian kedua doa tersebut, kita memohon agar dibersihkan dari dosa sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran.

Mengapa pakaian putih dijadikan perumpamaan? Karena noda pada pakaian putih mudah terlihat. Kotoran sekecil apa pun dapat tampak dengan jelas. Demikian pula, seorang mukmin hendaknya menyadari dosa dan kesalahannya, tidak meremehkan kemaksiatan, serta tidak merasa dirinya telah bersih dari kekurangan.

Kita memang bukan manusia yang maksum. Karena itu, selain berusaha menjauhi dosa, kita juga harus senantiasa memohon ampunan kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24]: 31).

Ayat ini memerintahkan kaum mukminin untuk bertobat kepada Allah. Oleh karena itu, janganlah seseorang menunda-nunda tobat dengan alasan bahwa dirinya masih muda, masih sehat, atau merasa memiliki banyak waktu.

Ketika menyadari kesalahan, segeralah bertobat, menyesalinya, meninggalkannya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Apabila dosa berkaitan dengan hak orang lain, hak tersebut juga harus diselesaikan sesuai ketentuannya.

Ketiga: Memohon agar dosa dicuci dengan air, salju, dan hujan es

Pada bagian terakhir, Rasulullah ﷺ mengajarkan permohonan agar dosa-dosa dicuci dengan air, salju, dan hujan es.

Penceramah menjelaskan perumpamaan ini dengan gambaran pakaian yang terkena noda. Ketika pakaian putih terkena kotoran, noda tersebut perlu dibersihkan. Jika masih tersisa bekasnya, pakaian itu perlu dicuci hingga bersih.

Akan tetapi, air, salju, dan hujan es dalam doa ini bukan berarti dosa merupakan kotoran fisik yang dapat dihilangkan melalui proses pencucian biasa. Ini adalah permohonan kepada Allah agar dosa diampuni dan kesalahan dibersihkan secara sempurna.

Para ulama menjelaskan bahwa penyebutan air, salju, dan hujan es merupakan bagian dari redaksi doa yang diajarkan Nabi ﷺ. Kita mengimaninya dan membacanya sebagaimana tuntunan beliau, tanpa perlu menetapkan penjelasan yang tidak memiliki landasan.

Dosa dan kemaksiatan memiliki akibat yang berat. Karena itu, seorang hamba perlu memohon ampunan, rahmat, dan perlindungan Allah dari hukuman-Nya.

5. Meneladani Rasulullah ﷺ dalam beribadah dan bersyukur

Setelah menjelaskan doa istiftah, penceramah mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ merupakan teladan terbaik dalam ibadah. Beliau telah mendapatkan keutamaan yang besar dari Allah, tetapi tetap bersungguh-sungguh dalam beribadah, memperbanyak istigfar, dan melaksanakan salat malam.

Dalam sebuah hadis, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.”

Sumber: Shahih al-Bukhari, hadis no. 6307, Kitab Ad-Da’awat.

Hadits ini menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah ﷺ terhadap istighfar dan tobat. Beliau mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa kembali kepada Allah, bukan merasa cukup dengan amal yang telah dikerjakan.

Rasulullah ﷺ ingin menjadi hamba yang bersyukur

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah melaksanakan shalat malam begitu lama hingga kedua kaki beliau pecah-pecah. Aisyah kemudian bertanya mengapa beliau melakukan hal tersebut, padahal Allah telah memberikan ampunan kepada beliau atas dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang.

Rasulullah ﷺ menjawab:

أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

Sumber: Shahih al-Bukhari, hadis no. 4837; juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih Muslim, hadis no. 2820.

Inilah pelajaran penting bagi kita. Ibadah bukan semata-mata dilakukan karena takut terhadap hukuman, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat-Nya.

Jika Rasulullah ﷺ saja bersungguh-sungguh dalam beribadah, bagaimana dengan kita yang masih banyak melakukan kesalahan dan sangat membutuhkan ampunan Allah?

Karena itu, jangan sampai seseorang merasa telah mencapai derajat spiritual tertentu lalu menganggap dirinya tidak perlu lagi mengerjakan salat atau kewajiban agama. Siapa pun yang mengaku telah mengenal Allah dengan baik semestinya semakin mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, bukan justru meninggalkan sunah dan kewajiban beliau.

6. Hukum membaca doa istiftah

Doa istiftah dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah. Hukum membaca doa istiftah adalah sunah, bukan rukun shalat.

Dengan demikian, orang yang tidak membaca doa istiftah karena lupa atau sengaja tidak membacanya tidak otomatis batal shalatnya. Namun, membaca doa istiftah merupakan kesempatan untuk mengamalkan sunah Rasulullah ﷺ sekaligus memohon ampunan kepada Allah sejak awal shalat.

Dalam kajian ini, penceramah mengingatkan bahwa kita hendaknya tidak sekadar menghafal doa, tetapi juga memahami maknanya. Ketika membaca permohonan agar dijauhkan dari dosa, kita seharusnya berusaha menjauhi kemaksiatan. Ketika memohon agar dosa dibersihkan, kita harus bersungguh-sungguh bertobat. Dan ketika memohon ampunan, kita tidak boleh terus-menerus meremehkan kesalahan.

Ilmu yang telah dipelajari hendaknya diamalkan secara konsisten agar semakin melekat dalam hati dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

7. Pelajaran yang dapat diambil

Dari pembahasan kajian ini, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita terapkan.

  • Bersyukur atas nikmat Allah. Semua yang kita miliki merupakan karunia Allah. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lupa kepada-Nya.
  • Memahami naik turunnya semangat ibadah. Ketika semangat menurun, jangan menyerah. Carilah sebab yang dapat menguatkan kembali iman, terutama dengan belajar agama dan bergaul dengan orang-orang saleh.
  • Menjaga hubungan dengan majelis ilmu. Majelis ilmu membantu kita mengingat akhirat dan memperbaiki amal.
  • Mengamalkan sunah Rasulullah ﷺ. Pelajari doa-doa yang sahih dan amalkan sesuai tuntunan.
  • Memperbanyak istigfar dan tobat. Jangan merasa aman dari dosa atau menganggap diri telah bersih dari kesalahan.
  • Menjadikan ibadah sebagai bentuk syukur. Teladan Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa semakin mengenal nikmat Allah, semestinya semakin besar pula rasa syukur kita.
  • Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Ilmu tentang salat, termasuk doa istiftah, hendaknya diterapkan dalam ibadah sehari-hari.

Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah, pembahasan pada kesempatan ini masih berada pada doa istiftah yang pertama, yaitu doa memohon agar dijauhkan dari dosa, dibersihkan dari kesalahan, dan dicuci dari dosa-dosa.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk memahami sunah Rasulullah ﷺ, mengamalkannya dengan ikhlas, memperbanyak istigfar, dan menjadi hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur.

Kajian kemudian ditutup dengan doa kafaratul majelis.

Poster Ringkasan

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

*****

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button