
Bismillah
SEMINAR AL-QUR’AN PPQ AL-MAHIR KARANGANYAR
Muqaddimah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Amma ba’du.
Ikhwatul iman, para hadirin, bapak dan ibu, serta saudara-saudara kaum muslimin yang senantiasa dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Alhamdulillah, kita tidak bosan-bosannya untuk senantiasa saling mengingatkan tentang ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketakwaan yang seharusnya selalu kita bawa kapan pun dan di mana pun kita berada.
Takwa merupakan bekal kehidupan di dunia dan akhirat. Sebaik-baik bekal adalah takwa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Wa tazawwadu fa inna khairaz-zadit-taqwa wattaquni ya ulil-albab.
“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197).
Kita membutuhkan bekal dalam menjalani kehidupan karena akan selalu menghadapi berbagai macam keadaan. Terkadang ada perkara yang tidak pernah kita duga sebelumnya sehingga kita membutuhkan pedoman untuk menghadapinya.
Takwa merupakan perisai bagi seorang mukmin. Takwa berarti menjadikan antara diri kita dan kemurkaan Allah sebuah batas perlindungan, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Ada orang yang menjalani kehidupannya dengan biasa saja tanpa terlalu memperhatikan batasan-batasan Allah. Namun, ada pula yang benar-benar berhati-hati agar tidak melanggar batasan tersebut.
Oleh karena itu, ketakwaan harus senantiasa kita bawa dalam seluruh aspek kehidupan: ketika mencari rezeki, belajar, bekerja, bersosialisasi, berteman, bahkan ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Rasulullah ﷺ bersabda:
التَّقْوَى هَاهُنَا
Beliau mengucapkannya sambil menunjuk ke arah dada beliau.
“Takwa itu berada di sini.” (HR. Muslim no. 2564).
Takwa bukan sekadar ucapan di lisan. Takwa bersemayam di dalam hati, kemudian tercermin dalam perilaku dan seluruh aktivitas kehidupan kita.
Ada sebuah kisah yang masyhur tentang Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika bertanya kepada Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu tentang hakikat takwa. Hudzaifah kemudian memberikan perumpamaan seseorang yang melewati jalan penuh duri. Orang tersebut tentu akan berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak terkena duri.
Demikian pula kehidupan seorang mukmin. Ia harus berhati-hati dalam setiap langkahnya agar tidak terjerumus ke dalam perkara yang dilarang Allah.
Itulah bekal dalam seluruh aspek kehidupan kita.
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.
1. Jangan Berhenti pada Membaca dan Menghafalkan Al-Qur’an
Ikhwatal iman rahimakumullah.
Kita mengetahui bahwa saat ini pesantren-pesantren berbasis tahfiz Al-Qur’an semakin menjamur. Banyak lembaga pendidikan yang memberikan perhatian besar terhadap hafalan Al-Qur’an.
Namun, ada satu hal penting yang harus kita ingat: inti dari berinteraksi dengan Al-Qur’an bukan sekadar menghafalkannya.
Intinya adalah bagaimana menjadikan Al-Qur’an senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Kita merenungkan kandungannya, memikirkan pesan-pesannya, kemudian berusaha mengamalkannya.
Kita memiliki banyak saudara dan kerabat yang hafal Al-Qur’an, bahkan hafal 30 juz. Bacaan mereka bagus dan hafalannya kuat. Namun, muncul sebuah pertanyaan besar: sejauh mana Al-Qur’an tercermin dalam kehidupan mereka?
Terkadang kita menjumpai orang yang hafal Al-Qur’an, tetapi perilakunya justru jauh dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ada yang melakukan pelanggaran, terjerumus dalam kemaksiatan, bahkan menjadikan hafalan Al-Qur’an sebagai sarana untuk mendapatkan keuntungan duniawi semata.
Tentu hal ini menjadi bahan introspeksi bagi kita semua. Kita perlu memperbaiki cara memperlakukan Al-Qur’an dalam kehidupan. Jangan sampai kita merasa sudah mencapai tujuan hanya karena telah mampu membaca dan menghafalkannya.
Membaca dan menghafalkan Al-Qur’an merupakan permulaan yang sangat baik. Namun, masih ada tahapan berikutnya yang harus kita tempuh. Rasulullah ﷺ memuliakan orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadis disebutkan:
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
“Sesungguhnya Allah memiliki orang-orang istimewa di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah ahlul Qur’an, yaitu keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, diriwayatkan dari Anas bin Malik).
Siapakah ahlul Qur’an yang dimaksud? Apakah mereka sekadar orang yang hafal Al-Qur’an?
Tentu kita perlu memahami lebih jauh. Sebab, kedekatan dengan Al-Qur’an seharusnya melahirkan perubahan dalam akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah seseorang.
Oleh karena itu, mari kita belajar bersama, tahap demi tahap, bagaimana meningkatkan kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an.
2. Level Pertama: Menyadari Betapa Kita Membutuhkan Al-Qur’an
Langkah pertama untuk meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Al-Qur’an adalah menyadari posisi diri sendiri.
Kita perlu bertanya:
- Sudah sampai di tingkat mana interaksi kita dengan Al-Qur’an?
- Apakah Al-Qur’an sudah menjadi pedoman hidup kita?
- Seberapa besar kebutuhan kita terhadap Al-Qur’an?
Sebelum bertanya, “Sudah berapa banyak Al-Qur’an yang kita baca?”, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Mengapa kita membutuhkan Al-Qur’an? Pertanyaan ini harus kita ajukan kepada diri sendiri.
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang kita lantunkan setiap hari. Al-Qur’an merupakan petunjuk yang membimbing manusia untuk:
- Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
- Memahami tujuan penciptaan dan tujuan hidup.
- Mengetahui apa yang diperintahkan dan diwajibkan oleh Allah.
- Mengetahui perkara yang harus dijauhi.
- Memahami ke mana kita akan kembali setelah kehidupan dunia.
Al-Qur’an membimbing kita agar mengenal siapa Rabb yang kita sembah, apa tujuan kehidupan kita, dan bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan.
Tanpa petunjuk Al-Qur’an, manusia mudah kehilangan arah. Ia bisa saja memiliki banyak aktivitas, harta, kedudukan, dan pencapaian duniawi, tetapi tidak memahami tujuan akhir kehidupannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam firman-Nya dalam Surah Al-Isra ayat 9
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Inna hadzal-qur’ana yahdi lillati hiya aqwamu wa yubasysyirul-mu’mininalladzina ya’malunash-shalihati anna lahum ajran kabira.
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.” (QS. Al-Isra: 9).
Perhatikan firman Allah:
يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan paling tepat.
Kita tidak boleh mengabaikan petunjuk Al-Qur’an hanya karena mengikuti arahan manusia yang hidup pada zaman sekarang. Pendapat tokoh, ustaz, pemimpin, maupun orang yang kita kagumi harus tetap ditimbang dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Kita juga sering mendengar sebuah ungkapan:
تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي
“Aku tinggalkan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan tersesat setelahku.”
Ungkapan ini sering disebut dengan redaksi yang menyertakan Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, redaksi dan derajat riwayatnya memiliki pembahasan tersendiri di kalangan ahli hadis. Adapun prinsip bahwa Al-Qur’an dan Sunnah merupakan pedoman agama adalah perkara yang sangat mendasar.
Para pengajar dan tokoh agama juga harus memahami bahwa mereka bukan sekadar menyampaikan ilmu. Masyarakat memperhatikan perilaku mereka. Seorang guru, ustaz, dan tokoh masyarakat hendaknya menjaga diri agar menjadi teladan dalam kehidupan.
Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ menjalani kehidupan dengan kesederhanaan, padahal Allah memberikan kepada beliau kedudukan yang sangat mulia. Demikian pula para ulama salaf, yang memberikan teladan dalam kesungguhan beribadah, kezuhudan, dan kehati-hatian terhadap perkara dunia.
Penjelasan para ulama tentang Surah Al-Isra ayat 9
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa makna jalan yang paling lurus dalam ayat tersebut adalah jalan yang paling benar, paling adil, dan paling tepat.
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan paling jelas.
Adapun kabar gembira dalam ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an. Ini memberikan pelajaran penting bahwa amal saleh tidak cukup hanya berdasarkan anggapan manusia.
Tidak semua sesuatu yang dianggap baik otomatis menjadi ibadah yang disyariatkan. Amal saleh harus memiliki landasan dan sesuai dengan tuntunan agama.
Diriwayatkan sebuah perkataan dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:
مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدِ ابْتَدَعَ
“Barang siapa menganggap baik (suatu perkara dalam agama tanpa landasan), sungguh ia telah melakukan bid’ah.”
Karena itu, ketika kita melakukan suatu amalan, jangan hanya bertanya apakah amalan tersebut terlihat baik. Kita juga harus bertanya apakah amalan tersebut memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Allah Mengangkat Derajat Manusia dengan Al-Qur’an
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dan merendahkan kaum yang lain dengannya.” (HR. Muslim no. 817).
Hadis ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an menjadi sebab kemuliaan bagi orang yang beriman, mempelajari, dan mengamalkannya. Sebaliknya, orang yang berpaling dari petunjuknya akan kehilangan kemuliaan tersebut.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang membenarkan berita dalam Al-Qur’an, menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, serta mengikuti petunjuknya.
Jadi, tujuan kita belajar Al-Qur’an bukan sekadar membaca, menghafal, dan mengumpulkan mushaf. Akan tetapi, bagaimana Al-Qur’an memberikan pengaruh nyata terhadap kehidupan kita.
Bahkan, ketika seorang anak dibiasakan membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an sejak kecil, hal itu merupakan bagian dari keberkahan Al-Qur’an dalam pendidikan dan pembentukan karakternya.
3. Waspadai Bahaya Menjauhi Al-Qur’an
Ikhwatal iman rahimakumullah.
Setelah memahami betapa pentingnya Al-Qur’an, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: seberapa sering kita benar-benar berinteraksi dengannya? Di rumah mungkin kita memiliki banyak mushaf. Ada mushaf untuk hafalan, mushaf terjemahan, mushaf tadabur, dan berbagai jenis mushaf lainnya.
Belum lagi aplikasi Al-Qur’an yang kita unduh di telepon genggam. Bahkan ada aplikasi yang dilengkapi terjemahan dan tafsir. Namun, pertanyaannya bukan seberapa banyak mushaf yang kita miliki atau aplikasi yang kita unduh. Seberapa sering kita membacanya?
Coba bandingkan kebiasaan kita membuka aplikasi Al-Qur’an dengan membuka Facebook, Instagram, TikTok, atau aplikasi lainnya.
Ketika sedang menunggu, bepergian, atau memiliki waktu luang, kita sering kali membuka media sosial. Namun, apakah kebiasaan yang sama sudah kita bangun untuk membaca Al-Qur’an?
Ini menjadi bahan introspeksi bagi kita. Kita perlu membangun kebiasaan agar Al-Qur’an senantiasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Rasulullah ﷺ Mengadukan Kaumnya yang Meninggalkan Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan pengaduan Rasulullah ﷺ dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Furqan ayat 30
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Wa qalar-rasulu ya rabbi inna qaumittakhadzu hadzal-qur’ana mahjura.
“Berkatalah Rasul (Muhammad), ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.'”
Ayat ini merupakan pengaduan Rasulullah ﷺ kepada Allah tentang kaumnya yang meninggalkan Al-Qur’an.
Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan meninggalkan Al-Qur’an? Apakah hanya orang yang sama sekali tidak pernah membacanya? Para ulama tafsir menjelaskan bahwa meninggalkan Al-Qur’an memiliki beberapa bentuk. Tidak terbatas pada meninggalkan bacaannya saja.
Penjelasan Al-Imam Al-Baghawi
Al-Imam Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna mahjura adalah sesuatu yang ditinggalkan. Di antara bentuk meninggalkan Al-Qur’an adalah berpaling darinya, tidak mengimaninya, dan tidak mengamalkan kandungannya.
Dengan demikian, seseorang dapat dikatakan berpaling dari Al-Qur’an ketika ia tidak mau menjadikannya sebagai pedoman kehidupan. Contohnya, ketika seseorang mengetahui bahwa Al-Qur’an telah memberikan petunjuk dalam suatu persoalan, tetapi ia justru berpaling dan lebih memilih pedoman lain yang bertentangan dengannya.
Termasuk pula tidak mau membenarkan berita-berita yang disampaikan Al-Qur’an dan tidak mau mengamalkan kandungannya.
Penjelasan Al-Imam Al-Qurthubi
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah juga menjelaskan beberapa bentuk pengabaian terhadap Al-Qur’an. Di antaranya adalah berbicara tentang Al-Qur’an dengan perkataan yang tidak benar, seperti menuduh Al-Qur’an sebagai sihir atau syair.
Beliau juga menukil penjelasan dari para ulama salaf mengenai makna mahjura, yaitu sesuatu yang ditinggalkan atau diabaikan.
Penjelasan Al-Imam Ibnu Katsir
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa kaum musyrikin ketika itu berpaling dari Al-Qur’an dan tidak mau mendengarkannya.
Beliau juga menerangkan bentuk-bentuk lain dari meninggalkan Al-Qur’an, di antaranya:
- Meninggalkan upaya untuk mentadaburi dan memahami Al-Qur’an.
- Meninggalkan pengamalan terhadap kandungan Al-Qur’an.
- Meninggalkan pelaksanaan perintah-perintahnya.
- Tidak menjauhi larangan-larangannya.
Penjelasan ini seharusnya membuat kita melakukan introspeksi. Jangan sampai kita merasa sudah dekat dengan Al-Qur’an hanya karena sering membacanya, padahal kita tidak berusaha memahami dan mengamalkan kandungannya.
Karena itu, kita perlu memperbanyak majelis ilmu yang membahas tafsir Al-Qur’an. Tidak harus langsung mengkaji kitab tafsir yang besar dan pembahasan yang sangat panjang. Kita bisa memulai dari kitab-kitab tafsir ringkas yang mudah dipahami, seperti Tafsir As-Sa’di atau Tafsir Al-Muyassar.
Kita juga bisa memulai dari surah-surah pendek, seperti Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlas. Jangan sampai kita merasa harus memulai dari pembahasan yang sangat berat sehingga akhirnya tidak pernah memulai sama sekali.
Lima Bentuk Meninggalkan Al-Qur’an Menurut Ibnu Qayyim
Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al-Fawa’id tentang beberapa bentuk meninggalkan Al-Qur’an.
Penjelasan beliau dapat diringkas menjadi lima bentuk berikut.
- Pertama, meninggalkan mendengarkan Al-Qur’an, mengimaninya, dan memperhatikannya.
Bentuk pertama adalah meninggalkan kebiasaan mendengarkan Al-Qur’an dengan penuh perhatian. Seorang muslim hendaknya memiliki hubungan dengan Al-Qur’an, baik melalui membaca maupun mendengarkannya.
Di antara kesempatan untuk mendengarkan Al-Qur’an adalah ketika melaksanakan salat berjamaah, khususnya ketika imam membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara keras.
- Kedua, meninggalkan pengamalan Al-Qur’an.
Seseorang membaca Al-Qur’an, tetapi tidak peduli terhadap halal dan haram, perintah dan larangan, serta ketentuan yang terkandung di dalamnya. Ia mengetahui petunjuk Al-Qur’an, tetapi tidak berusaha menjalankannya.
- Ketiga, meninggalkan Al-Qur’an sebagai pedoman hukum.
Seseorang tidak mau menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan dalam menyelesaikan persoalan kehidupan. Ketika ketentuan Al-Qur’an tidak sesuai dengan keinginannya, ia justru berpaling dan memilih sesuatu yang lain.
- Keempat, meninggalkan tadabur dan pemahaman Al-Qur’an.
Seseorang membaca Al-Qur’an, tetapi tidak berusaha memahami makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Padahal, membaca Al-Qur’an seharusnya mendorong kita untuk memikirkan petunjuk Allah.
- Kelima, meninggalkan pengobatan dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan petunjuk dan penawar bagi penyakit hati. Ketika seseorang memiliki penyakit hati, seperti hasad, iri, mudah marah, cinta dunia secara berlebihan, dan berbagai penyakit lainnya, ia seharusnya kembali kepada petunjuk Al-Qur’an.
Jangan sampai kita mencari berbagai macam solusi untuk mengatasi kegelisahan, tetapi justru melupakan Al-Qur’an. Ketika hati terasa sempit, mudah marah, mudah membenci orang lain, atau dipenuhi ambisi duniawi, salah satu jalan yang harus kita tempuh adalah kembali membaca, memahami, dan merenungkan Al-Qur’an.
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan petunjuk yang membimbing dan memperbaiki kehidupan manusia.
Fenomena yang Perlu Menjadi Bahan Introspeksi
Termasuk hal yang perlu kita perhatikan adalah pengaruh hiburan dan permainan terhadap kehidupan kaum muslimin, khususnya generasi muda. Saat ini, permainan digital dapat diakses dengan sangat mudah. Sebagian orang bahkan menghabiskan banyak waktunya untuk bermain, di mana pun dan kapan pun.
Ada fenomena yang sangat memprihatinkan ketika seseorang tidak mampu melepaskan diri dari permainan, bahkan saat sedang berlangsung khutbah Jumat. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mendengarkan nasihat dan mengingat Allah justru dipakai untuk bermain. Ini merupakan masalah yang perlu diperhatikan oleh orang tua, guru, dan para pendidik.
Terlebih jika kebiasaan tersebut menjangkiti para penghafal Al-Qur’an. Tentu hal itu lebih menyedihkan. Karena itu, siapa pun yang merasa sudah jauh dari Al-Qur’an hendaknya segera kembali. Mulailah menyibukkan diri dengan membaca, mengulang hafalan, mempelajari, dan mentadaburi Al-Qur’an.
4. Mengapa Kita Menjauh dari Al-Qur’an?
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa sebagian dari kita jarang membaca dan mempelajari Al-Qur’an? Kita perlu melakukan introspeksi terhadap diri sendiri.
Bagi para santri di pesantren tahfiz, membaca dan menghafalkan Al-Qur’an mungkin sudah menjadi aktivitas sehari-hari. Namun, bagaimana ketika mereka pulang ke rumah? Apakah kebiasaan baik yang dibangun di pesantren tetap berlanjut?
Terkadang orang tua mengeluhkan perubahan perilaku anak ketika pulang liburan. Aktivitas yang biasanya dilakukan di pesantren justru berhenti ketika berada di rumah. Yang biasanya rajin membaca Al-Qur’an menjadi jarang membaca. Yang biasanya rajin ke masjid justru tidak lagi terbiasa memakmurkannya. Padahal, kebiasaan baik yang telah dibangun di pesantren seharusnya tetap terbawa ke rumah.
Seorang santri yang pulang ke rumah mestinya dapat menjadi contoh bagi adik-adiknya, teman-temannya, bahkan orang tuanya. Namun, kita juga tidak boleh sepenuhnya menyalahkan anak. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk tetap memberikan perhatian dan pendidikan.
Anak bukan robot yang otomatis berubah hanya karena sudah belajar di pesantren. Mereka tetap manusia yang memiliki akal, hati, dan keinginan. Karena itu, pendidikan Al-Qur’an membutuhkan kerja sama antara anak, orang tua, dan para pendidik.
5. Level Kedua: Mulai Membaca Al-Qur’an
Setelah menyadari pentingnya Al-Qur’an dan bahaya menjauhinya, langkah berikutnya adalah memulai kembali kebiasaan membaca. Tidak ada jalan untuk dekat dengan Al-Qur’an selain memulai membacanya. Mulailah meskipun belum lancar.
Jangan malu apabila belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Ada orang yang ingin belajar, tetapi terhalang rasa malu karena merasa sudah dewasa atau sudah tua. Padahal, belajar tidak mengenal batas usia. Ada orang yang baru mulai belajar agama ketika usianya sudah tidak muda lagi. Namun, dengan kesungguhan dan ketekunan, ia dapat mencapai kedudukan yang tinggi dalam ilmu.
Contohnya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau masuk Islam tidak sejak masa kanak-kanak, tetapi kemudian menjadi salah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis.
Hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi penentu bukan semata-mata kapan seseorang memulai, melainkan kesungguhan, semangat, dan ketekunannya.
Orang yang cerdas tetapi malas bisa tertinggal dari orang yang memiliki kemampuan biasa tetapi rajin dan tekun. Jadi, mengapa kita harus malu untuk memulai belajar membaca Al-Qur’an?
Dua Pahala bagi Orang yang Kesulitan Membaca Al-Qur’an
Rasulullah ﷺ memberikan motivasi kepada orang-orang yang belajar membaca Al-Qur’an. Beliau bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan dalam membacanya, baginya dua pahala.” (HR. Al-Bukhari no. 4937 dan Muslim no. 798).
Hadis ini memberikan motivasi yang sangat besar. Orang yang mahir membaca Al-Qur’an mendapatkan keutamaan berupa kebersamaan dengan para malaikat yang mulia dan taat.
Sementara itu, orang yang masih kesulitan membaca Al-Qur’an, tetapi tetap berusaha membacanya, mendapatkan dua pahala: pahala membaca dan pahala atas kesungguhannya menghadapi kesulitan.
Karena itu, jangan berkecil hati apabila bacaan kita belum lancar. Mulailah terlebih dahulu. Seiring berjalannya waktu, bacaan kita akan semakin baik dengan izin Allah. Namun, memulai dan menjaga konsistensi merupakan dua perkara yang harus terus kita perjuangkan.
Carilah Guru untuk Memperbaiki Bacaan
Apabila belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, carilah guru yang dapat membimbing. Datanglah ke kelas belajar Al-Qur’an. Mintalah agar bacaan kita diperiksa dan diperbaiki.
Tidak perlu malu apabila guru kita lebih muda. Bisa jadi orang yang lebih muda memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yang jauh lebih baik. Belajar kepada orang yang lebih muda bukanlah sebuah kehinaan. Yang penting adalah mendapatkan ilmu yang benar.
Setiap perjalanan memiliki permulaan. Keberanian untuk memulai belajar merupakan langkah awal yang sangat baik.
Membaca Al-Qur’an sebagai Bagian dari Kehidupan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Surah Fatir ayat 29–30
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
Innalladzina yatluna kitaballahi wa aqamush-shalata wa anfaqu mimma razaqnahum sirraw wa ‘alaniyatay yarjuna tijaratal lan tabur. Liyuwaffiyahum ujurahum wa yazidahum min fadlih, innahu ghafurun syakur.
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”
(QS. Fatir: 29–30).
Ayat ini menyebutkan beberapa amalan yang sangat mulia:
- Senantiasa membaca Kitab Allah.
- Menegakkan salat.
- Menginfakkan sebagian rezeki, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
- Mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah merugi di sisi Allah.
Membaca Al-Qur’an dan menegakkan salat memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam salat, seorang muslim membaca Al-Qur’an, terutama Surah Al-Fatihah. Karena itu, orang yang menjaga salatnya juga memiliki kesempatan untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Bangun Kebiasaan Sedikit demi Sedikit
Dalam membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an, jangan langsung memaksakan target yang terlalu berat. Tidak harus langsung satu hari satu juz apabila sebelumnya kita jarang membaca Al-Qur’an. Mulailah dari satu atau dua halaman setiap hari.
Kita bisa memilih waktu yang paling memungkinkan, misalnya:
- Setelah salat Subuh.
- Setelah salat Magrib.
- Sebelum tidur.
- Pada waktu sepertiga malam.
- Ketika berada di masjid setelah salat berjamaah.
Jika merasa lebih mudah membaca Al-Qur’an di masjid, manfaatkan waktu sebelum pulang ke rumah. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan agar setiap hari ada waktu khusus untuk membaca Al-Qur’an.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Al-Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783).
Inilah prinsip penting dalam membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an: sedikit tetapi rutin.
6. Level Ketiga: Memahami Apa yang Kita Baca
Setelah membiasakan diri membaca Al-Qur’an, kita perlu naik ke tahap berikutnya, yaitu memahami kandungannya. Jangan sampai kita hanya membaca tanpa mengetahui pesan yang disampaikan Allah.
Mungkin ada yang berkata, “Ustaz, saya tidak bisa bahasa Arab.” Tidak mengapa. Kita dapat memanfaatkan terjemahan Al-Qur’an dan kitab-kitab tafsir yang mudah dipahami.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Kitabun anzalnahu ilaika mubarakul liyaddabbaru ayatihi wa liy tadzakkara ulul-albab.
“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Sad: 29).
Perhatikan tujuan diturunkannya Al-Qur’an. Allah menyebutkan agar manusia mentadaburi ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran darinya. Karena itu, kita perlu belajar memahami Al-Qur’an.
Tidak harus langsung memahami seluruh ayat dari awal sampai akhir. Kita bisa memulai dari ayat-ayat yang menarik perhatian ketika sedang membaca. Misalnya, ketika membaca sebuah ayat dan menemukan pesan yang menyentuh hati, berhentilah sejenak. Ulangi bacaannya, lihat terjemahannya, kemudian buka tafsir untuk mengetahui penjelasan para ulama.
Dengan demikian, kita mulai belajar berinteraksi lebih dalam dengan Al-Qur’an.
Apa Makna Tadabur Al-Qur’an?
Secara sederhana, tadabur adalah membaca, merenungkan, memahami penjelasan ayat, kemudian mengambil pelajaran untuk diri sendiri. Jadi, bukan sekadar membaca lalu selesai.
Kita harus bertanya kepada diri sendiri:
- Apa pesan Allah dalam ayat ini?
- Apa yang harus saya perbaiki?
- Apa yang harus saya lakukan setelah membaca ayat ini?
Sebagai contoh, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Ya ayyuhalladzina amanuttaqullaha waltanzhur nafsum ma qaddamat lighad, wattaqullah, innallaha khabirum bima ta’malun.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Ketika membaca ayat ini, kita tidak cukup hanya memahami bahwa Allah memerintahkan orang beriman untuk bertakwa.
Kita juga harus merenungkan: apa yang sudah saya persiapkan untuk kehidupan akhirat? Amal saleh apa yang sudah saya kerjakan? Kewajiban apa yang belum saya tunaikan? Kemaksiatan apa yang masih harus saya tinggalkan? Inilah salah satu bentuk tadabur.
Contoh lainnya, Allah berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Wa likulli ummatin ajal, fa idza ja’a ajaluhum la yasta’khiruna sa’ataw wa la yastaqdimun.
“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Al-A’raf: 34).
Apa pelajaran yang dapat kita ambil? Ketika ajal datang, tidak mungkin kita meminta penundaan agar dapat kembali beramal saleh. Tidak mungkin pula kita meminta agar ajal dipercepat sesuai keinginan.
Jika ajal telah tiba, semuanya selesai. Karena itu, sebelum ajal datang, kita harus berusaha memperbaiki amal dan mempersiapkan kehidupan akhirat.
Ayat-ayat seperti inilah yang seharusnya terus kita hubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Tadabur Harus Berdasarkan Pemahaman yang Benar
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Tadabur bukan berarti kita bebas menafsirkan ayat berdasarkan pemikiran sendiri.
Kita harus berpijak pada makna yang benar. Bacalah terjemahan dengan cermat, pelajari penjelasan para ulama tafsir, dan bertanyalah kepada guru apabila menemukan perkara yang belum dipahami. Jangan terburu-buru membuat kesimpulan sendiri.
Sebab, seseorang bisa saja keliru memahami suatu ayat karena tidak mengetahui konteks dan penjelasan yang benar. Karena itu, tadabur membutuhkan ilmu, kehati-hatian, dan bimbingan.
Nasihat Ibnu Qayyim tentang Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an
Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah memberikan nasihat yang sangat berharga:
إِذَا أَرَدْتَ الِانْتِفَاعَ بِالْقُرْآنِ فَاجْمَعْ قَلْبَكَ عِنْدَ تِلَاوَتِهِ وَسَمَاعِهِ، وَأَلْقِ سَمْعَكَ وَاحْضُرْ حُضُورَ مَنْ يُخَاطِبُهُ بِهِ مَنْ تَكَلَّمَ بِهِ سُبْحَانَهُ مِنْهُ إِلَيْهِ
“Apabila engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an, hadirkanlah hatimu ketika membacanya dan mendengarkannya. Pasanglah pendengaranmu dan hadirkanlah dirimu seakan-akan engkau sedang diajak berbicara oleh Allah melalui firman-Nya.”
Nasihat ini memberikan pelajaran bahwa ketika membaca Al-Qur’an, kita perlu menghadirkan hati. Jangan sampai mata membaca ayat, tetapi pikiran kita ke mana-mana. Fokuslah pada bacaan. Renungkan maknanya. Perhatikan pesan yang disampaikan Allah.
Dengan cara ini, insyaallah kita akan lebih mudah mengambil manfaat dari Al-Qur’an.
Latihan Praktis: Satu Ayat, Satu Tindakan
Bagaimana cara melatih diri untuk mentadaburi Al-Qur’an? Kita bisa memulainya dengan metode sederhana: satu ayat, satu pelajaran, dan satu tindakan. Ambil contoh firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 23.
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Wa bil-walidaini ihsana.
“Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23).
Apabila kita hanya membaca terjemahannya, mungkin kita memahami bahwa ayat ini memerintahkan kita berbuat baik kepada orang tua. Namun, jika kita renungkan lebih dalam, kandungannya sangat luas.
Allah juga berfirman dalam ayat yang sama:
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
Ini memberikan pelajaran bahwa berbakti kepada orang tua bukan sekadar memberikan uang atau memenuhi kebutuhan mereka. Berbakti juga mencakup menjaga ucapan, sikap, dan perilaku. Bahkan perkataan sederhana yang menyakitkan hati orang tua harus kita hindari.
Mari kita renungkan dengan tiga pertanyaan:
Pertama, apa pesan ayat ini? Kita diperintahkan berbuat baik kepada kedua orang tua, tidak membentak, tidak menyakiti hati, dan berbicara dengan perkataan yang baik.
Kedua, apa pelajaran untuk diri saya? Saya harus menjaga cara berbicara, menjaga sikap, dan tidak mudah membantah orang tua sekalipun sedang berbeda pendapat.
Bagaimana apabila orang tua melakukan kesalahan dalam perkara agama? Kita tetap memiliki kewajiban untuk menjelaskan dan mengajak mereka kepada kebenaran. Namun, cara menyampaikannya harus tetap memperhatikan adab dan tidak menyakiti hati mereka.
Meluruskan kesalahan tidak harus dengan emosi atau sikap merasa paling tahu.
Ketiga, tindakan apa yang harus saya lakukan?
Mulailah dari perkara sederhana:
- Memanggil orang tua dengan panggilan yang sopan.
- Membantu pekerjaan mereka di rumah.
- Mendengarkan nasihat mereka.
- Menjaga ucapan ketika berbeda pendapat.
- Tidak melakukan perbuatan yang membuat mereka malu dan bersedih.
Inilah contoh bagaimana sebuah ayat Al-Qur’an dapat memberikan pengaruh langsung terhadap kehidupan kita.
Kita bukan sekadar membaca dan menghafalkan, tetapi berusaha menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman perilaku.
7. Level Keempat: Mengamalkan Al-Qur’an
Setelah membaca dan memahami, tahap berikutnya adalah mengamalkan. Biarkan Al-Qur’an terlihat dalam sikap dan perilaku kita.
Jangan sampai kita rajin membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi tidak ada perubahan dalam kehidupan. Sebagai contoh, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا
Wa aufu bil-‘ahdi innal-‘ahda kana mas’ula.
“Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 34).
Apa pengamalan ayat ini?
Ketika kita membuat janji, berusahalah untuk menepatinya. Jangan sampai kita mengatakan akan datang pada waktu tertentu, tetapi justru datang terlambat tanpa alasan yang dapat dibenarkan. Misalnya, kita sudah berjanji bertemu pada pukul tertentu. Hendaknya kita berusaha hadir tepat waktu, bahkan lebih awal. Jangan membiasakan diri meremehkan waktu orang lain.
Demikian pula dalam urusan keuangan. Jangan mudah berjanji untuk membayar utang atau menyelesaikan suatu kewajiban, tetapi tidak berusaha menepatinya. Banyak hubungan pertemanan dan persaudaraan menjadi rusak karena persoalan uang dan janji yang tidak ditepati.
Padahal, Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa janji akan dimintai pertanggungjawaban. Inilah contoh pengamalan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Tidak harus menunggu perkara besar. Mulailah dari hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari.
Pengamalan Al-Qur’an Harus Terlihat dalam Akhlak
Ketika seseorang benar-benar berusaha mengamalkan Al-Qur’an, seharusnya ada perubahan dalam dirinya.
Di antaranya:
- Lebih menjaga salat.
- Lebih jujur ketika berbicara.
- Lebih sopan kepada orang tua.
- Lebih berhati-hati dalam bertindak.
- Lebih berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
- Lebih peduli terhadap sesama.
- Lebih menjaga amanah dan janji.
Teladan terbaik dalam mengamalkan Al-Qur’an adalah Rasulullah ﷺ. Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, beliau menjelaskan:
فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ كَانَ الْقُرْآنَ
“Sesungguhnya akhlak Nabi Allah ﷺ adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 746).
Maksudnya, akhlak Rasulullah ﷺ merupakan gambaran nyata dari petunjuk dan ajaran Al-Qur’an. Beliau adalah teladan dalam menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.
Kita memang tidak akan mampu menyamai kesempurnaan Rasulullah ﷺ. Namun, kita harus terus berusaha meneladani beliau. Terkadang kita melakukan kesalahan. Itu merupakan bagian dari kelemahan manusia. Namun, jangan sampai kesalahan tersebut membuat kita berhenti berusaha memperbaiki diri.
8. Level Kelima: Jadikan Al-Qur’an sebagai Tempat Kembali
Tahapan berikutnya adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai tempat kembali ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Wa nunazzilu minal-qur’ani ma huwa syifa’uw wa rahmatul lil-mu’minina wa la yaziduz-zalimina illa khasara.
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra: 82).
Allah juga berfirman:
Surah Yunus ayat 57
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Ya ayyuhan-nasu qad ja’atkum mau’izhatum mir rabbikum wa syifa’ul lima fish-shuduri wa hudaw wa rahmatul lil-mu’minin.
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57).
Dua ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan penawar bagi penyakit hati dan sumber rahmat bagi orang-orang beriman.
Ketika kita sedang gundah, gelisah, menghadapi banyak persoalan, atau merasa kehidupan begitu berat, jangan sampai kita melupakan Al-Qur’an. Kembalilah kepadanya.
Pengalaman Kembali kepada Al-Qur’an Ketika Menghadapi Masalah
Pemateri kemudian menceritakan pengalaman pribadi ketika masih kuliah. Pada suatu kesempatan, beliau sedang menghadapi banyak persoalan. Ketika mengikuti pelajaran usul fikih di Masjid Nabawi, seorang guru dari Maroko memperhatikan bahwa beliau tampak kurang fokus.
Setelah pelajaran selesai, sang guru memanggil dan bertanya apakah ada masalah yang sedang dipikirkan. Awalnya beliau tidak ingin menceritakannya. Namun, sang guru mengetahui bahwa ada sesuatu yang sedang membebani pikirannya.
Kemudian sang guru memberikan nasihat berdasarkan pelajaran dari gurunya terdahulu. Apabila memiliki masalah, datanglah ke masjid. Laksanakan salat dua rakaat, bacalah Al-Qur’an, dan renungkan ayat-ayatnya. Nasihat itu kemudian dipraktikkan.
Beliau datang ke Masjid Nabawi, membaca Al-Qur’an, dan berusaha menenangkan hati. Dengan izin Allah, beliau merasakan ketenangan.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa ketika menghadapi kesulitan, jangan hanya sibuk mencari solusi duniawi. Kita juga harus kembali kepada Allah melalui ibadah, doa, dan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an menjadi penawar bagi hati yang gelisah dan petunjuk dalam menghadapi kehidupan.
9. Level Keenam: Bagikan dan Ajarkan Al-Qur’an
Setelah berusaha memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an, tahapan berikutnya adalah membagikan ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5027).
Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang mempelajari Al-Qur’an sekaligus mengajarkannya. Mengajarkan Al-Qur’an tidak harus menunggu kita menjadi seorang ustaz atau memiliki kedudukan tertentu.
Kita bisa memulainya dari lingkungan keluarga. Misalnya:
- Mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an.
- Membantu adik atau anggota keluarga memperbaiki bacaan.
- Mengajarkan surah-surah pendek.
- Menyampaikan nasihat berdasarkan ayat yang telah dipelajari.
- Mengajak keluarga untuk membiasakan membaca Al-Qur’an.
Namun, jangan hanya mengajarkan bacaan. Berusahalah juga menjelaskan kandungan dan pesan yang dapat dipahami sesuai kemampuan mereka.
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
10. Level Ketujuh: Menjaga Konsistensi dalam Berinteraksi dengan Al-Qur’an
Tahapan berikutnya adalah menjaga langkah agar terus berjalan. Jangan sampai setelah berhasil membangun kebiasaan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an, kita justru kembali menjauh darinya.
Konsistensi merupakan perkara yang sangat penting. Terkadang kita mengalami penurunan semangat. Itu merupakan sesuatu yang bisa terjadi. Namun, jangan sampai penurunan tersebut membuat kita berhenti sama sekali.
Apabila suatu hari terlewat, mulailah kembali. Apabila selama ini kita hanya membaca, cobalah meningkatkan kualitas dengan memahami kandungannya. Apabila sudah memahami, berusahalah mengamalkan. Jangan berhenti pada satu tahapan saja.
Rumus Sederhana untuk Meningkatkan Kualitas Interaksi dengan Al-Qur’an
Secara ringkas, ada beberapa prinsip yang perlu kita pegang.
- Sedikit: Mulailah dari amalan yang ringan dan mampu kita lakukan. Jangan memaksakan target yang terlalu berat sehingga akhirnya justru berhenti.
- Rutin: Setelah memulai dari sedikit, jadikan aktivitas tersebut sebagai kebiasaan harian.
- Pahami: Jangan hanya membaca. Pelajari maknanya, renungkan kandungannya, dan ambil pelajaran dari ayat-ayat yang dibaca.
- Amalkan: Berusahalah mempraktikkan petunjuk Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Tidak harus menunggu mampu mengamalkan semuanya sekaligus. Mulailah dari perkara yang bisa dilakukan dan sesuai dengan keadaan kita.
Amalan yang sedikit tetapi benar dan dilakukan secara berkelanjutan jauh lebih baik daripada semangat sesaat yang kemudian berhenti.
11. Penutup: Mari Meningkatkan Level Kita Bersama Al-Qur’an
Ikhwatal iman rahimakumullah.
Inilah beberapa tahapan yang perlu kita perhatikan dalam meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Al-Qur’an. Jangan sampai kita hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan, hafalan, atau sesuatu yang tersimpan rapi di rumah.
Kita harus berusaha agar Al-Qur’an benar-benar hadir dalam kehidupan. Mulailah dari membaca, kemudian memahami, mentadaburi, mengamalkan, menjadikannya sebagai petunjuk ketika menghadapi persoalan, mengajarkannya kepada orang lain, dan menjaga konsistensi dalam berinteraksi dengannya.
Jangan menunda untuk memulai. Apabila selama ini kita jarang membaca Al-Qur’an, mulailah hari ini. Apabila selama ini kita hanya membaca tanpa memahami, mulailah mempelajari tafsirnya. Apabila selama ini kita sudah memahami tetapi belum mengamalkan, mulailah memperbaiki perilaku dan kehidupan kita.
Jangan merasa puas hanya karena sudah mampu menghafalkan Al-Qur’an. Teruslah meningkatkan kualitas diri agar Al-Qur’an benar-benar memberikan pengaruh terhadap akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah kita.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita agar senantiasa dekat dengan Al-Qur’an, mencintainya, memahami kandungannya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.
Demikian yang dapat disampaikan. Apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penyampaian, pemateri memohon maaf.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
Ringkasan Tahapan Level Up with Al-Qur’an
| Tahapan | Fokus pembelajaran |
|---|---|
| 1. Sadar kebutuhan | Menyadari bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan. |
| 2. Membaca | Membiasakan membaca Al-Qur’an meskipun sedikit. |
| 3. Memahami | Mempelajari terjemahan dan tafsir Al-Qur’an. |
| 4. Mengamalkan | Menerapkan petunjuk Al-Qur’an dalam perilaku. |
| 5. Kembali kepada Al-Qur’an | Menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan penawar penyakit hati. |
| 6. Mengajarkan | Membagikan ilmu dan mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain. |
| 7. Istiqamah | Menjaga kebiasaan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. |
Pesan utama kajian
Jangan berhenti pada membaca dan menghafalkan Al-Qur’an.
Teruslah naik tingkat: baca, pahami, tadaburi, amalkan, ajarkan, dan istiqamahlah bersama Al-Qur’an.
Poster Ringkasan




