Aqidah Wasithiyah: Iman adalah Ucapan dan Amalan

Ma‘asyiral muslimin wal muslimat, ikhwan dan akhwat rahimakumullah.
Kita melanjutkan pembahasan kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, yang memuat prinsip-prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Pada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa termasuk prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah meyakini bahwa agama dan iman terdiri dari ucapan dan amalan. Ucapan dan amalan tersebut mencakup hati, lisan, serta anggota badan.
Iman bukan sekadar pengakuan dalam hati, bukan pula sekadar ucapan dengan lisan atau pelaksanaan amalan lahiriah. Iman mencakup seluruh unsur tersebut. Selain itu, iman dapat bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
1. Iman Terdiri dari Ucapan dan Amalan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
وَمِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ الدِّينَ وَالْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ، وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ.
Artinya:
“Termasuk prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwa agama dan iman terdiri dari ucapan dan amalan: ucapan hati dan lisan, serta amalan hati, lisan, dan anggota badan.”
Sumber: Ibnu Taimiyah, Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, bagian prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah tentang iman.
Pernyataan ini merupakan landasan penting dalam memahami hakikat iman. Dalam pembahasan ini, agama dan iman mencakup keyakinan, perkataan, serta perbuatan. Ketiganya tidak boleh dipahami secara terpisah dari makna iman yang utuh.
Secara garis besar, iman mencakup tiga unsur:
- Hati, meliputi keyakinan dan amalan hati.
- Lisan, meliputi pengakuan iman dan amalan yang dilakukan dengan lisan.
- Anggota badan, meliputi berbagai perbuatan yang menunjukkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Jika dijabarkan lebih terperinci, terdapat lima bagian sebagaimana disebutkan dalam perkataan Ibnu Taimiyah: ucapan hati, ucapan lisan, amalan hati, amalan lisan, dan amalan anggota badan.
A. Iman dalam hati
Iman dalam hati mencakup keyakinan terhadap kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan Rasul-Nya ﷺ. Seorang muslim harus meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi dan bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan Allah yang wajib dibenarkan dan ditaati.
Selain keyakinan, hati juga memiliki amalan-amalan yang termasuk bagian dari iman, di antaranya:
- Tawakal, yaitu menyandarkan hati kepada Allah disertai usaha yang dibenarkan syariat.
- Khauf, yaitu rasa takut kepada Allah.
- Raja‘, yaitu berharap kepada rahmat dan pahala Allah.
- Mahabbah, yaitu mencintai Allah.
- Ikhlas, yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah.
- Yakin, yaitu keteguhan hati terhadap kebenaran dan janji Allah.
- Niat, yaitu kehendak hati dalam melakukan suatu amalan.
Amalan-amalan hati tersebut memiliki pengaruh besar terhadap kualitas iman seseorang. Semakin baik dan sempurna amalan hatinya, semakin baik pula kualitas imannya.
Seorang muslim tidak cukup hanya mengetahui bahwa Allah adalah Rabb yang menciptakan dirinya. Ia juga harus beribadah kepada Allah dengan ikhlas, bertawakal kepada-Nya, mencintai-Nya, takut terhadap azab-Nya, dan mengharapkan rahmat-Nya.
B. Iman dalam lisan
Iman juga mencakup ucapan lisan. Dalam hal ini terdapat dua bentuk utama.
Pertama, pengakuan iman. Seseorang mengikrarkan keimanannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Artinya:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Pengakuan ini merupakan bagian penting dari keislaman seseorang, dengan memperhatikan keadaan dan ketentuan syariat yang berkaitan dengannya.
Kedua, amalan lisan. Di antara amalan lisan yang termasuk bagian dari iman adalah:
- Membaca Al-Qur’an.
- Berzikir kepada Allah.
- Berdoa.
- Mengucapkan perkataan yang baik.
- Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai ilmu dan kemampuan.
- Menyampaikan kebenaran dengan cara yang dibenarkan syariat.
Dengan demikian, lisan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan iman melalui ketaatan. Sebaliknya, lisan juga dapat menjadi sebab berkurangnya iman apabila digunakan untuk melakukan kemaksiatan.
C. Iman dalam perbuatan anggota badan
Unsur ketiga adalah amalan anggota badan. Amalan ini menjadi wujud ketaatan seorang hamba terhadap apa yang diyakini dalam hati dan diikrarkan dengan lisannya.
Di antara contohnya adalah:
- Mendirikan salat.
- Menunaikan zakat.
- Berpuasa.
- Menunaikan ibadah haji bagi yang memenuhi syarat.
- Bersedekah.
- Menolong orang yang membutuhkan.
- Melaksanakan berbagai kewajiban dan amalan ketaatan lainnya.
Ketika seseorang meyakini kebenaran syariat Islam dan mengakui dirinya sebagai seorang muslim, keimanannya menuntut adanya ketundukan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Oleh karena itu, amalan anggota badan bukanlah sesuatu yang berada di luar pembahasan iman. Amalan tersebut termasuk bagian dari iman dan menjadi salah satu wujud ketaatan seorang hamba kepada Allah.
2. Keyakinan, Pengakuan, dan Ketundukan Harus Dipahami secara Utuh
Untuk memperjelas pentingnya unsur-unsur iman, pemateri memberikan beberapa contoh dari kisah para nabi dan orang-orang yang menentang kebenaran.
A. Para penyihir Fir‘aun mengakui kebenaran dan beriman kepada Allah
Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam memperlihatkan mukjizat dengan izin Allah, para penyihir Fir‘aun mengetahui bahwa apa yang dibawa Musa bukanlah sihir biasa. Mereka menyaksikan kekalahan sihir mereka dan memahami bahwa mukjizat tersebut merupakan tanda kekuasaan Allah.
Mereka kemudian menyatakan keimanan kepada Rabb semesta alam.
Allah berfirman:
فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ ٤٦ قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ ٤٧ رَبِّ مُوسَىٰ وَهَارُونَ
Artinya:
“Maka para penyihir itu tersungkur bersujud. Mereka berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun.’”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Asy-Syu‘ara (26): 46–48.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa setelah mengetahui kebenaran, mereka menyatakan iman dan tunduk kepada Allah. Mereka tidak sekadar menyimpan keyakinan di dalam hati, tetapi juga mengikrarkan keimanan dan menunjukkan ketundukan kepada Allah.
Fir‘aun justru bersikap sebaliknya. Al-Qur’an menjelaskan bahwa ia dan kaumnya mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah, padahal hati mereka meyakini kebenarannya, karena kezaliman dan kesombongan.
Allah berfirman:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Artinya:
“Mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakini kebenarannya, karena kezaliman dan kesombongan. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah An-Naml (27): 14.
Ayat ini menunjukkan bahwa mengetahui dan meyakini kebenaran saja tidak menjadikan seseorang sebagai orang beriman yang taat apabila ia tetap menolak kebenaran karena kesombongan dan kezaliman.
B. Pengakuan Fir‘aun ketika akan tenggelam tidak menyelamatkannya
Ketika tenggelam, Fir‘aun akhirnya menyatakan beriman kepada Tuhan yang diimani oleh Bani Israil.
Allah berfirman:
حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya:
“Hingga ketika Fir‘aun hampir tenggelam, dia berkata, ‘Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri).’”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Yunus (10): 90.
Namun, pengakuan tersebut datang ketika azab telah dihadapi dan kematian sudah berada di depan mata. Allah kemudian berfirman:
آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
Artinya:
“Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu dan engkau termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Yunus (10): 91.
Kisah ini mengingatkan kita agar tidak menunda-nunda keimanan dan tobat. Selama masih diberi kesempatan hidup, seorang hamba hendaknya segera kembali kepada Allah, memperbaiki keyakinan, memperbanyak amal saleh, dan meninggalkan kemaksiatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.”
Sumber: Jami‘ At-Tirmidzi, no. 3537, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Imam At-Tirmidzi menilainya hasan gharib.
Hadis ini menegaskan pentingnya segera bertobat sebelum datangnya sakaratul maut. Ketika seseorang telah menghadapi kematian dan menyaksikan kenyataan akhirat, kesempatan untuk beriman dan bertobat seperti ketika masih hidup tidak lagi tersedia.
C. Iblis mengetahui keberadaan Allah, tetapi menolak untuk taat
Contoh lainnya adalah Iblis. Iblis mengetahui keberadaan Allah, tetapi menolak menaati perintah-Nya untuk bersujud kepada Adam ‘alaihissalam. Ia menolak karena kesombongan.
Allah berfirman:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Artinya:
“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah (2): 34.
Iblis tidak kekurangan pengetahuan tentang Allah. Akan tetapi, ia menolak perintah-Nya karena kesombongan. Kisah ini memperlihatkan bahaya besar ketika seseorang mengetahui kebenaran, tetapi tidak mau tunduk kepadanya.
Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak berhenti pada pengetahuan dan pengakuan. Ia harus berusaha merealisasikan keimanannya melalui ketundukan dan ketaatan kepada Allah.
Perlu dipahami bahwa kisah-kisah tersebut memiliki keadaan dan ketentuan masing-masing. Tidak setiap kekurangan amal seorang muslim dapat disamakan dengan keadaan Fir‘aun atau Iblis. Penetapan hukum terhadap individu tertentu memerlukan penjelasan syariat dan terpenuhinya ketentuan yang berlaku.
3. Setiap Unsur Ketaatan Termasuk Bagian dari Iman
Setelah memahami bahwa iman mencakup hati, lisan, dan anggota badan, kita juga perlu memahami bahwa setiap amalan ketaatan yang dilakukan melalui unsur-unsur tersebut merupakan bagian dari iman.
A. Amalan hati dapat meningkatkan iman
Semakin baik amalan hati seseorang, semakin baik pula kualitas imannya. Seorang hamba yang semakin ikhlas, semakin mencintai Allah, semakin bertawakal kepada-Nya, dan semakin besar harapannya terhadap rahmat Allah, berarti sedang menyempurnakan amalan hati yang merupakan bagian dari iman.
Seorang mukmin juga menggabungkan rasa takut dan harap kepada Allah dengan kecintaan dan pengagungan kepada-Nya. Rasa takut kepada Allah tidak seharusnya membuat seorang hamba berputus asa dari rahmat-Nya. Sebaliknya, rasa takut tersebut mendorongnya untuk menjauhi larangan-Nya dan semakin mendekat melalui ketaatan.
Tawakal pun bukan berarti meninggalkan usaha. Seorang muslim tetap bekerja, berdagang, mencari nafkah, dan melakukan usaha yang dibenarkan syariat, sembari menyandarkan hatinya kepada Allah.
B. Amalan lisan dapat meningkatkan iman
Orang yang membiasakan diri berzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan mengucapkan perkataan yang baik sedang melakukan amalan yang termasuk bagian dari iman.
Semakin banyak ketaatan yang dilakukan dengan lisan, semakin banyak pula amalan saleh yang dapat menjadi sebab bertambahnya iman, selama amalan tersebut dilakukan dengan benar dan sesuai tuntunan syariat.
Sebaliknya, lisan yang digunakan untuk berdusta, mencela, menggunjing, mengadu domba, dan menyakiti orang lain dapat menjadi sebab berkurangnya iman.
C. Amalan anggota badan dapat meningkatkan iman
Demikian pula dengan amalan anggota badan. Salat wajib merupakan kewajiban, sedangkan salat-salat sunah seperti rawatib, duha, tahajud, dan witir termasuk amalan tambahan yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah.
Orang yang menjaga salat wajib sekaligus berusaha memperbanyak salat sunah telah menambahkan amalan ketaatan dalam kehidupannya.
Demikian juga dengan puasa, sedekah, zakat, dan berbagai amal saleh lainnya. Semua itu termasuk bagian dari iman dan menjadi sebab bertambahnya iman apabila dilaksanakan sesuai tuntunan syariat.
Namun, kualitas iman tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya amalan lahiriah. Keikhlasan, kebenaran amalan, ketundukan hati, dan kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah ﷺ juga sangat penting.
4. Kualitas Ibadah Dipengaruhi oleh Hati, Lisan, dan Perbuatan
Untuk memahami hubungan ketiga unsur tersebut, perhatikan contoh ibadah salat.
Dua orang sama-sama mendirikan salat. Akan tetapi, yang satu mengerjakannya sekadar memenuhi kewajiban, sedangkan yang lain berusaha melaksanakannya dengan ikhlas, khusyuk, penuh pengagungan kepada Allah, dan berharap agar salatnya diterima.
Keduanya melakukan amalan lahiriah yang sama, tetapi keadaan hati dan kualitas pelaksanaannya dapat berbeda. Oleh karena itu, seorang muslim tidak cukup hanya memperhatikan bentuk lahiriah ibadahnya, tetapi juga harus memperbaiki niat dan keadaan hatinya.
Hal yang sama berlaku pada sedekah. Seseorang mungkin bersedekah sebesar Rp100.000 dengan ikhlas, tidak mengharapkan pujian manusia, tidak mengungkit pemberiannya, dan mengharapkan pahala dari Allah. Orang lain mungkin memberikan jumlah yang sama, tetapi masih mengharapkan pujian atau merasa berat karena hartanya berkurang.
Nilai kedua amalan tersebut di sisi Allah tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan jumlah uang yang diberikan. Allah mengetahui niat, keikhlasan, dan keadaan hati setiap hamba.
Dalil tentang perkataan baik dan larangan menyakiti penerima sedekah
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
Artinya:
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah (2): 263.
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah (2): 264. Ayat ini merupakan bagian awal ayat; kelanjutannya menjelaskan perumpamaan sedekah yang tidak menghasilkan pahala seperti tanah di atas batu licin yang tersapu hujan deras.
Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa amalan lahiriah harus dijaga dari hal-hal yang merusak pahalanya. Sedekah tidak seharusnya disertai dengan sikap menyakiti, mengungkit-ungkit pemberian, atau mencari pujian manusia.
Karena itu, seorang muslim hendaknya memperhatikan tiga hal ketika beribadah:
- Memperbaiki hati, dengan meluruskan niat dan mengikhlaskan ibadah kepada Allah.
- Menjaga lisan, dengan memperbanyak ucapan yang baik dan menjauhi ucapan yang menyakiti.
- Menyempurnakan perbuatan, dengan melaksanakan ibadah sesuai tuntunan syariat.
Ketika ketiganya diperhatikan, seorang hamba tidak hanya memperbanyak amal, tetapi juga berusaha meningkatkan kualitas amalnya.
5. Iman Bertambah dengan Ketaatan dan Berkurang karena Kemaksiatan
Setelah menjelaskan bahwa iman mencakup ucapan dan amalan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah melanjutkan:
وَأَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ
Artinya:
“Dan bahwa iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.”
Sumber: Ibnu Taimiyah, Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, bagian prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah tentang iman.
Inilah prinsip penting dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena ketaatan termasuk bagian dari iman, bertambahnya ketaatan menjadi sebab bertambahnya iman. Sebaliknya, kemaksiatan yang dilakukan seorang hamba menjadi sebab berkurangnya iman.
Dalil Al-Qur’an tentang bertambahnya iman
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Anfal (8): 2.
Ayat ini dengan jelas menyebutkan bahwa iman dapat bertambah. Ketika ayat-ayat Allah dibacakan, orang beriman yang menerima dan merenunginya akan mendapatkan tambahan iman. Hatinya semakin takut kepada Allah, dan tawakalnya semakin kuat.
Pertambahan iman juga berkaitan dengan berbagai bentuk ketaatan. Ketika seseorang memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, menjaga salat, bersedekah, dan memperbaiki amalan hati, ia sedang menempuh sebab-sebab yang dapat meningkatkan imannya.
Sebaliknya, seorang muslim yang membiarkan dirinya terus-menerus melakukan kemaksiatan tanpa bertobat perlu mengkhawatirkan keadaan imannya.
A. Kemaksiatan hati mengurangi iman
Kemaksiatan tidak hanya berupa perbuatan yang terlihat oleh orang lain. Hati pun dapat melakukan perkara yang tercela, seperti hasad, kesombongan, riya, dan berbagai penyakit hati lainnya.
Contoh yang disebutkan dalam kajian antara lain:
- Hasad, yaitu kedengkian terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.
- Kesombongan, yaitu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
- Riya, yaitu melakukan ibadah agar dilihat dan dipuji manusia.
- Kebakhilan, yaitu sifat enggan mengeluarkan harta pada perkara yang memang diwajibkan atau dianjurkan untuk dikeluarkan.
- Kelalaian dan keengganan dalam ketaatan, ketika seseorang membiarkan dirinya malas melaksanakan kewajiban tanpa berusaha memperbaiki keadaan.
Penyakit hati tersebut dapat mengurangi kualitas iman. Oleh sebab itu, upaya meningkatkan iman bukan hanya memperbanyak amal saleh, melainkan juga membersihkan hati dari berbagai penyakit yang merusaknya.
B. Kemaksiatan lisan mengurangi iman
Lisan merupakan nikmat yang harus dijaga. Seorang muslim hendaknya menggunakan lisannya untuk membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, menyampaikan ilmu, dan mengucapkan perkataan yang baik.
Sebaliknya, beberapa kemaksiatan lisan yang harus dihindari adalah:
- Berdusta.
- Mencela dan menghina orang lain.
- Ghibah, yaitu membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai jika mengetahuinya.
- Namimah, yaitu mengadu domba dengan menyampaikan perkataan untuk merusak hubungan antarmanusia.
- Menyakiti orang lain dengan ucapan.
- Mengucapkan perkataan yang mengandung kebatilan.
Kemaksiatan lisan dapat mengurangi iman sebagaimana kemaksiatan yang dilakukan melalui hati dan anggota badan. Oleh karena itu, menjaga lisan merupakan bagian dari usaha memelihara keimanan.
C. Kemaksiatan anggota badan mengurangi iman
Kemaksiatan juga dapat dilakukan melalui anggota badan, seperti melakukan perbuatan yang diharamkan, meninggalkan kewajiban, atau menggunakan anggota badan untuk melanggar larangan Allah.
Sebagai contoh, dua orang muslim sama-sama melaksanakan salat wajib. Salah satunya menjaga diri dari minuman keras, sedangkan yang lain meminumnya. Keduanya tidak berada pada keadaan yang sama dari sisi ketaatan. Perbuatan maksiat yang dilakukan orang kedua menjadi sebab berkurangnya iman.
Hal ini tidak berarti setiap pelaku dosa otomatis keluar dari Islam. Ahlus Sunnah wal Jamaah membedakan antara kemaksiatan yang mengurangi iman dan perbuatan yang benar-benar membatalkan iman. Penetapan hukum terhadap suatu perbuatan dan pelakunya harus didasarkan pada dalil serta penjelasan para ulama.
6. Mengurangi Kemaksiatan Sama Pentingnya dengan Menambah Ketaatan
Apabila seseorang ingin meningkatkan iman, ia tidak cukup hanya menambah amalan ketaatan. Ia juga perlu berusaha meninggalkan kemaksiatan.
Seseorang mungkin memperbanyak salat sunah, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah, tetapi pada saat yang sama masih membiarkan dirinya berdusta, menggunjing, berbuat zalim, atau memelihara kesombongan. Kemaksiatan tersebut dapat mengurangi kesempurnaan iman dan merusak pahala amal.
Karena itu, usaha meningkatkan iman hendaknya dilakukan melalui dua jalan yang berjalan bersama:
- Menambah ketaatan, seperti menjaga salat, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, bersedekah, dan memperbaiki amalan hati.
- Mengurangi kemaksiatan, dengan meninggalkan dosa hati, dosa lisan, dan dosa anggota badan serta segera bertobat apabila terjatuh ke dalamnya.
Jangan sampai seseorang hanya memperhatikan banyaknya amal saleh, tetapi tidak peduli terhadap dosa yang terus-menerus dilakukannya.
Kemaksiatan yang dibiarkan dapat menyeret seseorang kepada kemaksiatan lain. Apabila seseorang terus-menerus meremehkan dosa, ia semakin terbiasa melanggar batas-batas Allah dan semakin jauh dari ketaatan.
Para ulama mengingatkan tentang bahaya jalan menuju kekufuran. Akan tetapi, tidak tepat jika setiap kemaksiatan langsung dihukumi sebagai kekufuran. Ada dosa yang mengurangi iman tanpa mengeluarkan pelakunya dari Islam, sedangkan ada perkataan atau perbuatan tertentu yang dapat membatalkan iman apabila memenuhi ketentuan syariat.
Waspada terhadap perbuatan yang dapat membatalkan iman
Pemateri mengingatkan beberapa contoh perbuatan yang sangat berbahaya bagi keimanan, di antaranya:
- Berdoa kepada selain Allah dalam bentuk ibadah.
- Menyembah berhala atau mempersembahkan ibadah kepada selain Allah.
- Mengucapkan penghinaan terhadap Allah atau Rasul-Nya ﷺ.
- Mengingkari kebenaran Al-Qur’an dengan ucapan yang menolaknya.
Perbuatan-perbuatan tersebut tidak boleh dianggap sebagai dosa biasa yang ringan. Namun, pembahasan hukum atas ucapan dan perbuatan tertentu harus dilakukan berdasarkan dalil yang tepat, dengan memperhatikan penjelasan ulama mengenai jenis perbuatan, maksudnya, dan ketentuan yang berlaku terhadap pelakunya.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjaga akidah, mempelajari tauhid, menjauhi kesyirikan, serta berhati-hati dalam berbicara tentang Allah, Rasul-Nya ﷺ, dan Al-Qur’an.
7. Kesimpulan: Menjaga dan Meningkatkan Keimanan
Dari penjelasan di atas, terdapat beberapa pelajaran penting yang perlu kita perhatikan.
- Iman mencakup hati, lisan, dan anggota badan. Keyakinan, pengakuan, serta amalan ketaatan merupakan unsur penting dalam pembahasan iman.
- Amalan hati termasuk bagian dari iman. Ikhlas, tawakal, cinta kepada Allah, rasa takut kepada-Nya, dan berharap terhadap rahmat-Nya merupakan amalan hati yang harus dijaga.
- Amalan lisan dan anggota badan termasuk bagian dari iman. Membaca Al-Qur’an, berzikir, mendirikan salat, bersedekah, dan melakukan ketaatan lainnya merupakan amalan yang dapat meningkatkan iman.
- Iman bertambah dengan ketaatan. Semakin seseorang memperbaiki keyakinan dan memperbanyak ketaatan yang sesuai syariat, semakin besar peluang bertambahnya iman dan semakin baik kualitas ibadahnya.
- Iman berkurang karena kemaksiatan. Dosa hati, lisan, dan anggota badan dapat mengurangi iman. Karena itu, seorang muslim harus menjaga diri dari kemaksiatan dan tidak meremehkan dosa.
- Kualitas ibadah tidak hanya dilihat dari bentuk lahiriahnya. Keikhlasan, ketundukan hati, dan kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah ﷺ merupakan perkara penting dalam pelaksanaan ibadah.
- Menambah ketaatan harus disertai usaha meninggalkan dosa. Seorang muslim hendaknya memperbanyak amal saleh sekaligus bertobat dan memperbaiki diri dari kemaksiatan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan kepada kita keimanan yang benar, hati yang ikhlas, lisan yang terjaga, serta anggota badan yang senantiasa digunakan untuk menaati-Nya. Semoga Allah menolong kita untuk istiqamah di atas kebenaran hingga akhir hayat.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Wallahu a‘lam bish-shawab. Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran.
Poster Ringkasan

*****



