Kekhawatiran Nabi Terhadap Umatnya

Pendahuluan: Besarnya Kasih Sayang Rasulullah ﷺ kepada Umatnya
Di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung bagi umat manusia adalah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Beliau merupakan penutup para nabi dan rasul. Jika kita memperhatikan perjalanan hidup beliau, hadis-hadisnya, serta ayat-ayat Al-Qur’an, kita akan mendapati betapa besar perhatian dan kasih sayang Rasulullah ﷺ terhadap umatnya.
Rasulullah ﷺ sangat bersemangat mendakwahkan agama Allah, menyampaikan nasihat, dan menunjukkan jalan hidayah kepada manusia. Beliau menginginkan agar umatnya mendapatkan keimanan dan keselamatan, serta terhindar dari berbagai perkara yang dapat membinasakan mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan sangat penyantun serta penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 128).
Ayat ini menjelaskan beberapa sifat Rasulullah ﷺ:
- عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ – Berat bagi beliau penderitaan yang menimpa umatnya.
- حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ – Beliau sangat menginginkan kebaikan dan keimanan bagi umatnya.
- بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ – Beliau sangat penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman.
Di antara bukti kasih sayang tersebut adalah peringatan Rasulullah ﷺ mengenai berbagai fitnah dan bahaya yang akan menimpa umatnya. Beliau mengingatkan umat agar senantiasa waspada dan mempersiapkan diri dengan ilmu serta keimanan.
Berikut beberapa perkara yang dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ menimpa umatnya.
1. Syirik Kecil (Asy-Syirkul Ashghar), Khususnya Riya
Perkara pertama yang sangat dikhawatirkan Rasulullah ﷺ menimpa umatnya adalah syirik kecil atau asy-syirkul ashghar.
Adapun syirik besar tentu merupakan perkara yang sangat jelas bahayanya, yaitu memalingkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, syirik kecil terkadang tersembunyi dan tidak tampak secara lahiriah.
Seseorang mungkin terlihat sedang beribadah kepada Allah, tetapi di dalam hatinya terdapat tujuan lain, seperti mengharapkan pujian, sanjungan, atau pengakuan manusia.
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ sangat memperingatkan umatnya agar berhati-hati terhadap syirik kecil.
Dalil tentang syirik kecil
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad, Al-Musnad, no. 23630; dari Mahmud bin Labid Radhiyallohu’anhu. Hadis ini dinilai hasan).
Riya merupakan perbuatan melakukan amal ibadah dengan tujuan agar dilihat dan dipuji manusia. Bahayanya sangat besar karena dapat merusak keikhlasan dan menghilangkan pahala amal.
Beberapa contoh perbuatan riya
1. Memperindah shalat karena dilihat manusia
Seseorang memperbagus shalatnya, memperpanjang bacaan, atau memperindah gerakan ketika mengetahui bahwa dirinya sedang diperhatikan orang lain.
Secara lahiriah, orang melihatnya sedang melaksanakan salat dengan baik. Namun, Allah mengetahui tujuan yang tersembunyi di dalam hatinya.
2. Bersedekah untuk mendapatkan pujian
Seseorang mengeluarkan sedekah atau infak dengan tujuan agar dipuji dan mendapatkan sanjungan manusia.
Bukan berarti setiap sedekah harus disembunyikan. Sedekah boleh ditampakkan, terlebih apabila hal tersebut dapat memotivasi orang lain untuk melakukan kebaikan. Akan tetapi, yang paling penting adalah menjaga keikhlasan.
3. Membaca Al-Qur’an untuk mendapatkan sanjungan
Seseorang memperindah bacaan Al-Qur’an agar dipuji manusia, bukan karena mengharapkan rida Allah.
Padahal Al-Qur’an dapat menjadi sebab terangkatnya derajat seseorang, tetapi juga dapat menjadi sebab kehinaan apabila tidak diamalkan dengan ikhlas.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dan merendahkan kaum yang lain dengannya.” (HR. Muslim, no. 817, dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallohu’anhu).
4. Menuntut ilmu syar’i untuk mendapatkan pujian
Menuntut ilmu seharusnya bertujuan mencari rida Allah, menghilangkan kebodohan, memahami halal dan haram, serta mendekatkan diri kepada-Nya.
Namun, apabila seseorang menuntut ilmu agar dikenal, mendapatkan gelar, dipuji, atau memperoleh kedudukan di tengah masyarakat, maka hal tersebut dapat merusak keberkahan ilmunya.
Bahaya menyekutukan Allah dalam amal
Dalam hadis qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan selain-Ku bersama-Ku di dalamnya, Aku akan meninggalkan dirinya dan kesyirikannya.”
(HR. Muslim, no. 2985, dari Abu Hurairah Radhiyallohu’anhu).
Hadis ini menunjukkan bahwa Allah tidak menerima amal yang dilakukan dengan mencampurkan tujuan ibadah kepada-Nya dengan tujuan kepada selain-Nya.
Karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa memperbaiki dan menata niat dalam seluruh amal salehnya.
Ketika hendak menghadiri majelis ilmu, niatkan untuk mencari ilmu syar’i, menghilangkan kebodohan, dan mengharapkan wajah Allah. Ketika pergi ke masjid, niatkan untuk memenuhi panggilan Allah dan mendapatkan pahala dari-Nya.
Jangan sampai amal yang secara lahiriah terlihat baik ternyata rusak karena niat yang tidak benar.
Keikhlasan dan kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah ﷺ
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110).
Ayat ini mengandung dua prinsip penting dalam beramal:
- عَمَلًا صَالِحًا – Amal harus benar dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.
- وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا – Amal harus ikhlas karena Allah dan tidak dicampuri kesyirikan.
Dengan demikian, seorang muslim harus senantiasa memperbaiki niat sekaligus memastikan bahwa amalnya sesuai dengan petunjuk Rasulullah ﷺ.
2. Fitnah Al-Masih Ad-Dajjal
Perkara kedua yang dikhawatirkan Rasulullah ﷺ adalah fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.
Fitnah Dajjal merupakan salah satu fitnah terbesar menjelang hari kiamat. Perlu dibedakan antara Dajjal besar yang akan muncul menjelang kiamat dengan para pendusta yang mengaku sebagai nabi dan rasul.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ada berbagai perkara lain selain Dajjal yang juga harus diwaspadai umatnya. Namun, fitnah Dajjal tetap merupakan fitnah yang sangat besar.
Besarnya fitnah Dajjal
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ أَمْرٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ
“Tidak ada suatu perkara sejak penciptaan Adam hingga terjadinya hari kiamat yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.” (HR. Muslim, no. 2946, dari Imran bin Hushain Radhiyallohu’anhu).
Hadis ini menunjukkan betapa besar bahaya fitnah Dajjal. Oleh karena itu, setiap muslim harus mempersiapkan diri dan memohon perlindungan kepada Allah agar tidak terjerumus dalam fitnah tersebut.
Cara melindungi diri dari fitnah Dajjal
1. Memohon perlindungan kepada Allah
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah memohon perlindungan dari empat perkara sebelum salam dalam tasyahud akhir, salah satunya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai dari tasyahud akhir, hendaklah dia berlindung kepada Allah dari empat perkara: dari azab Jahanam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim, no. 588, dari Abu Hurairah Radhiyallohu’anhu).
2. Menjaga tauhid dan keimanan
Seorang muslim harus senantiasa menjaga akidah dan keimanannya. Tauhid merupakan benteng utama dalam menghadapi berbagai fitnah.
3. Mengenali ciri-ciri Dajjal
Rasulullah ﷺ telah menjelaskan berbagai ciri Dajjal, di antaranya:
- Dajjal memiliki cacat pada salah satu matanya.
- Di antara kedua matanya tertulis kata كَافِرٌ (kafir).
- Dajjal akan membawa berbagai fitnah yang dapat mengguncang keimanan manusia.
Seorang muslim hendaknya mempelajari penjelasan Rasulullah ﷺ mengenai Dajjal agar tidak tertipu ketika fitnah tersebut muncul.
4. Menghafal sepuluh ayat pertama Surah Al-Kahfi
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari Surah Al-Kahfi, dia akan terlindungi dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim, no. 809, dari Abu Darda Radhiyallohu’anhu).
Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim berusaha menghafalkan ayat-ayat tersebut dan memahami kandungannya.
3. Fitnah Dunia dan Perhiasannya
Perkara ketiga yang dikhawatirkan Rasulullah ﷺ adalah fitnah dunia.
Dunia memiliki berbagai keindahan, kenikmatan, dan perhiasan yang dapat membuat manusia lalai dari mengingat Allah. Ketika seseorang terlalu mencintai dunia, dia dapat mengutamakan kehidupan dunia dibandingkan akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مَا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا
“Sesungguhnya di antara perkara yang aku khawatirkan menimpa kalian adalah apa yang Allah bukakan bagi kalian berupa keindahan dan perhiasan dunia.”
Bukan berarti Islam melarang manusia menikmati dunia. Allah justru memerintahkan manusia agar mencari karunia-Nya dengan cara yang halal dan tidak melupakan kehidupan akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77).
Seorang muslim boleh bekerja, mencari nafkah, mengumpulkan harta, dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan dia memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, istri, dan anak-anaknya.
Para sahabat juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Rasulullah ﷺ pun menjalani kehidupan dunia dengan tetap menunaikan kewajiban kepada Allah.
Yang menjadi masalah bukanlah memiliki harta, melainkan ketika harta menguasai hati dan membuat seseorang lalai dari Allah.
Dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185).
Orang beriman dan cerdas akan menjadikan dunia sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan akhirat. Harta yang dimiliki digunakan untuk beribadah, membantu orang lain, memenuhi kebutuhan keluarga, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dunia itu manis dan hijau
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah dan memikat). Sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai pengelola di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka berhati-hatilah terhadap dunia.” (HR. Muslim, no. 2742, dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallohu’anhu).
Hadis ini mengingatkan bahwa dunia merupakan ujian. Allah akan melihat bagaimana manusia menggunakan nikmat yang telah diberikan kepadanya.
Dunia seharusnya berada di tangan, bukan di hati
Para ulama menjelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya menjadikan dunia berada di tangannya, bukan di hatinya.
Maksudnya, harta digunakan ketika dibutuhkan dan diberikan ketika orang lain membutuhkan. Jangan sampai kecintaan terhadap dunia menguasai hati sehingga seseorang mengorbankan ibadah dan agamanya.
Ada orang yang mampu bersabar ketika hidup dalam kekurangan, tetapi tidak mampu bersabar ketika memperoleh kelapangan.
Ketika kekurangan harta, dia rajin berdoa, menangis, memohon kepada Allah, dan menghadiri majelis ilmu. Namun, ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, dia justru lalai.
Dia mulai meninggalkan majelis ilmu, menjauh dari masjid, mengurangi ibadah, bahkan menggunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat.
Inilah salah satu bentuk ujian dunia yang dikhawatirkan Rasulullah ﷺ menimpa umatnya.
4. Orang Munafik yang Pandai Berbicara (Munafik Fasih Lisannya)
Perkara berikutnya yang dikhawatirkan Rasulullah ﷺ adalah munculnya orang-orang munafik yang memiliki kemampuan berbicara dan beretorika dengan sangat baik.
Mereka pandai menyusun kata-kata, berbicara dengan fasih, dan mampu memengaruhi manusia melalui lisannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمُ اللِّسَانِ
“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan menimpa umatku adalah setiap orang munafik yang pandai berbicara.”
Jangan tertipu oleh kefasihan berbicara
Seorang muslim harus memiliki prinsip bahwa kebenaran tidak dinilai berdasarkan kefasihan seseorang, banyaknya pengikut, gelar akademik, ataupun kemampuan menyusun kata-kata.
Untuk menilai benar atau salahnya suatu perkataan, ukurannya adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Perhatikan beberapa hal berikut:
- Apakah perkataannya sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah?
- Apakah dia jujur dalam menyampaikan ilmu?
- Bagaimana akidah dan manhajnya?
- Bagaimana pengamalan agamanya?
- Apakah dia konsisten di atas kebenaran atau selalu berubah-ubah mengikuti keadaan?
- Apakah dalil yang disampaikan benar atau hanya dibungkus dengan retorika yang indah?
Jangan sampai seseorang tertipu karena mendengar perkataan yang memukau, padahal isi pembicaraannya merupakan kebatilan dan kerancuan yang merusak hati.
Terkadang seseorang menyampaikan sesuatu yang terdengar indah, tetapi hari ini mengatakan A, besok berubah menjadi B, dan kemudian berubah lagi. Dia tidak memiliki prinsip yang jelas.
Karena itu, jangan mudah terpukau dengan seseorang hanya karena penampilannya, gelarnya, atau kemampuan berbicaranya.
Nasihat Muhammad bin Sirin tentang mengambil ilmu
Al-Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
(Sumber: Muqaddimah Shahih Muslim, pembahasan tentang pentingnya memperhatikan sanad dan orang yang menjadi sumber pengambilan ilmu).
Nasihat ini sangat penting. Ilmu yang dipelajari seorang muslim merupakan bagian dari agamanya. Oleh karena itu, tidak boleh sembarangan mengambil ilmu dari siapa pun.
Perhatikan siapa yang menjadi guru dan sumber ilmu kita. Jangan sampai kita mengambil agama dari orang yang pandai beretorika, tetapi memiliki akidah dan prinsip yang menyimpang.
Fitnah dan syubhat terkadang tidak terlihat oleh orang awam
Fitnah dan syubhat sering kali diketahui oleh para ahli ilmu, tetapi orang awam justru menganggapnya sebagai ilmu dan kebenaran.
Ketika fitnah tersebut telah menimbulkan kerusakan, barulah sebagian orang menyadari bahwa apa yang selama ini diikutinya ternyata merupakan kesesatan.
Karena itu, seorang muslim harus berhati-hati dalam memilih guru dan mengambil ilmu. Jangan hanya melihat retorika dan kata-kata, tetapi perhatikan akidah, manhaj, serta kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
5. Bahaya Lisan dan Penyakit-Penyakitnya
Perkara berikutnya yang sangat dikhawatirkan Rasulullah ﷺ adalah bahaya lisan.
Lisan merupakan anggota tubuh yang tidak bertulang, tetapi bahayanya sangat besar. Banyak pertengkaran, keributan, bahkan peperangan yang bermula dari perkataan.
Suami istri dapat bertengkar karena lisan. Teman dapat bermusuhan karena lisan. Bahkan hubungan antara rakyat dan penguasa dapat mengalami kerusakan karena perkataan yang tidak dijaga.
Nasihat Rasulullah ﷺ kepada Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi
Sahabat Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi رضي الله عنه pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ. قَالَ: قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ، ثُمَّ اسْتَقِمْ. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ؟ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذَا
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu perkara yang dapat aku jadikan pegangan.” Beliau menjawab, “Katakanlah, Rabbku adalah Allah, kemudian istiqamahlah.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apakah perkara yang paling engkau khawatirkan menimpaku?” Kemudian Rasulullah ﷺ memegang lisannya sendiri dan bersabda, “Ini.”
(HR. At-Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972; Ahmad, no. 15419. Hadis ini dinilai sahih).
Jawaban Rasulullah ﷺ sangat singkat, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam. Beliau memegang lisannya dan menjelaskan bahwa lisan merupakan salah satu perkara yang paling dikhawatirkan akan membinasakan manusia.
Dengan lisan, seseorang dapat mencela orang lain, menuduh, mencaci maki, bahkan mengucapkan perkataan yang mengandung penghinaan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan agama.
Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar menjaga lisannya.
Beberapa penyakit lisan yang harus diwaspadai
1. Berdusta
Dusta merupakan penyakit lisan yang sering dianggap ringan oleh sebagian orang.
Seseorang mudah mengucapkan janji, tetapi tidak menepatinya. Dia mudah memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dan mengucapkan sesuatu yang tidak benar.
Seorang muslim harus menjauhi kebiasaan berdusta karena dusta merupakan akhlak yang tercela.
2. Ghibah
Ghibah adalah membicarakan keburukan atau sesuatu yang tidak disukai oleh saudara kita ketika dia tidak ada, meskipun hal tersebut benar adanya.
Perbuatan ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan terkadang dianggap sebagai bahan percakapan biasa.
3. Namimah
Namimah adalah mengadu domba seseorang dengan orang lain melalui perkataan.
Akibatnya, hubungan persaudaraan dapat rusak, persahabatan menjadi permusuhan, dan keluarga dapat mengalami perpecahan.
4. Menghina dan mencela orang lain
Seorang muslim tidak boleh meremehkan, menghina, atau mencela orang lain dengan lisannya.
Perkataan yang dianggap sebagai candaan sekalipun dapat melukai hati dan menimbulkan permusuhan.
5. Menuduh orang lain tanpa bukti
Di antara tuduhan yang sangat besar dosanya adalah menuduh seseorang melakukan zina tanpa menghadirkan bukti yang disyariatkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berbuat zina), kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali dan janganlah kamu menerima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 4).
Ayat ini menunjukkan beratnya dosa menuduh seseorang melakukan zina tanpa bukti. Perbuatan tersebut termasuk dosa besar dan memiliki konsekuensi hukum yang berat dalam syariat.
6. Berbicara tentang halal dan haram tanpa ilmu
Seseorang tidak boleh sembarangan berbicara mengenai hukum agama tanpa memiliki dalil dan landasan ilmu.
Berbicara tentang halal dan haram merupakan perkara serius. Jangan sampai seseorang menyampaikan hukum berdasarkan hawa nafsu atau perkiraan semata.
7. Memalsukan hadits
Termasuk penyakit lisan yang sangat berbahaya adalah membuat-buat hadis dan menisbatkannya kepada Rasulullah ﷺ.
Seseorang dengan mudah mengatakan, “Rasulullah bersabda,” padahal perkataan tersebut bukan berasal dari Rasulullah ﷺ.
Apabila seseorang berani memalsukan hadis Nabi, tentu dia juga dapat dengan mudah membuat cerita-cerita palsu dan menyebarkan berbagai kisah yang tidak memiliki dasar.
8. Menyebarkan berita sebelum memastikan kebenarannya
Seorang muslim tidak boleh terburu-buru menyebarkan berita sebelum mengetahui kebenarannya.
Jangan sampai seseorang menyebarkan informasi hanya berdasarkan kabar yang diterimanya, tanpa melakukan pemeriksaan dan memastikan bukti-buktinya.
Setiap perkataan dicatat oleh Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18).
Tidak ada satu pun perkataan yang keluar dari lisan manusia yang luput dari catatan malaikat.
Karena itu, seorang mukmin harus berhati-hati dalam berbicara. Jangan sampai perkataan yang dianggap ringan ternyata menjadi sebab datangnya dosa dan penyesalan pada hari kiamat.
Prinsip berbicara atau diam
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari, no. 6018, dan Muslim, no. 47, dari Abu Hurairah Radhiyallohu’anhu).
Hadis ini merupakan prinsip penting dalam menjaga lisan. Apabila perkataan yang hendak diucapkan mengandung kebaikan, silakan diucapkan. Namun, apabila tidak mengandung kebaikan atau justru mendatangkan keburukan, lebih baik diam.
6. Para Pemimpin dan Tokoh yang Menyesatkan (Al-A’immatul Mudhillun)
Perkara berikutnya yang dikhawatirkan Rasulullah ﷺ adalah munculnya para pemimpin dan tokoh yang menyesatkan manusia.
Dalam kajian ini, pemateri menyebutkan hadis:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةُ الْمُضِلُّونَ
“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan menimpa umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.”
Yang dimaksud dengan al-a’immatul mudhillun adalah orang-orang yang menjadi panutan di tengah masyarakat, tetapi justru mengarahkan manusia kepada kesesatan.
Beberapa golongan yang termasuk dalam pembahasan al-a’immatul mudhillun
1. Pemimpin yang zalim
Para pemimpin yang memiliki kekuasaan, tetapi tidak menjalankan amanah dan justru menzalimi rakyatnya.
Kedudukan yang seharusnya digunakan untuk menegakkan kebenaran malah dijadikan sarana untuk melakukan kezaliman.
2. Tokoh agama yang menyesatkan
Orang-orang yang memiliki kedudukan dalam bidang agama, bahkan memiliki ilmu, tetapi menggunakan ilmu dan dakwahnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.
Mereka dapat menyesatkan melalui perkataan, fatwa, maupun contoh perbuatan.
3. Orang-orang yang menyeru kepada bid’ah dan kesesatan
Termasuk di dalamnya orang-orang yang mengajak masyarakat kepada amalan dan keyakinan yang tidak memiliki landasan dari Al-Qur’an dan Sunnah.
4. Orang-orang yang mengajak meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah
Petunjuk yang benar terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Karena itu, sangat berbahaya apabila seseorang mengajak manusia untuk meninggalkan keduanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2).
Allah juga berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153).
Beberapa bentuk ajakan meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah
Pertama, menganggap Al-Qur’an dan Sunnah terlalu sulit dipelajari.
Sebagian orang mengatakan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah tidak mungkin dipahami oleh manusia biasa. Mereka mengajak masyarakat agar cukup mengikuti perkataan guru atau tokoh tertentu tanpa perlu mempelajari dalil.
Padahal Allah telah memudahkan Al-Qur’an bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Sungguh, Kami benar-benar telah memudahkan Al-Qur’an sebagai pelajaran. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).
Pemateri menghubungkan bentuk pemikiran tersebut dengan pembahasan Ushul Sittah karya Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Kedua, menganggap Al-Qur’an dan Sunnah tidak relevan dengan zaman sekarang.
Sebagian orang beranggapan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah hanya berlaku pada zaman dahulu dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.
Pemikiran seperti ini sangat berbahaya karena mengajak manusia meninggalkan wahyu Allah dan petunjuk Rasulullah ﷺ.
Ketiga, mengajak manusia mencukupkan diri dengan Al-Qur’an dan meninggalkan Sunnah.
Sebagian orang mengaku mengikuti Al-Qur’an, tetapi justru menolak Sunnah Rasulullah ﷺ.
Padahal Sunnah merupakan penjelas dan petunjuk Rasulullah ﷺ yang tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur’an.
Mengajak manusia menerima Al-Qur’an tetapi meninggalkan Sunnah pada hakikatnya merupakan ajakan untuk meninggalkan petunjuk Rasulullah ﷺ.
Oleh karena itu, seorang muslim harus waspada terhadap siapa pun yang mengajak manusia menjauh dari Al-Qur’an dan Sunnah, baik penguasa yang zalim, tokoh agama yang menyesatkan, maupun para penyeru bid’ah dan kesesatan.
7. Pelajaran dan Wasiat Penting dari Hadis-Hadis Nabi ﷺ
Setelah membahas berbagai perkara yang dikhawatirkan Rasulullah ﷺ menimpa umatnya, terdapat beberapa pelajaran penting yang perlu diperhatikan.
1. Besarnya perhatian dan kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya
Hadis-hadis tersebut menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah ﷺ terhadap umatnya. Beliau senantiasa memberikan peringatan dan nasihat agar umatnya terhindar dari berbagai fitnah yang dapat merusak agama dan kehidupan mereka.
Sebagai umat Rasulullah ﷺ, bentuk kecintaan dan bakti kita kepada beliau adalah dengan mengikuti petunjuknya, berpegang teguh kepada wasiatnya, membela Sunnahnya, dan menyebarkan dakwahnya.
2. Bahaya-bahaya yang sering dianggap remeh ternyata sangat besar
Banyak perkara yang diperingatkan Rasulullah ﷺ justru dianggap ringan oleh sebagian manusia, seperti riya, fitnah dunia, penyakit lisan, dan mengikuti tokoh yang menyesatkan.
Padahal perkara-perkara tersebut dapat membahayakan agama dan keselamatan seseorang di akhirat.
3. Pentingnya ilmu syar’i dan akidah yang benar
Ilmu merupakan benteng seorang muslim dalam menghadapi berbagai fitnah dan syubhat.
Karena itu, seorang muslim wajib terus belajar dan mendalami ilmu agama, di antaranya:
- Mempelajari tauhid dan mengenali berbagai bentuk kesyirikan.
- Mempelajari iman dan perkara-perkara yang dapat merusaknya.
- Mempelajari Sunnah dan mengenali bid’ah.
- Memahami perkara halal dan haram.
- Mempelajari akidah yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
- Memahami cara menghadapi berbagai fitnah yang muncul di tengah masyarakat.
Dengan ilmu, seseorang dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan serta tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai syubhat.
4. Senantiasa memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah
Tidak ada yang dapat menyelamatkan seorang hamba dari berbagai fitnah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian dengan usaha yang benar, yaitu mempelajari dan mengamalkan ilmu syar’i.
Pemateri mengutip nasihat Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah bahwa keselamatan pada zaman fitnah tidak akan diperoleh kecuali dengan pertolongan Allah dan ilmu syar’i.
Dengan ilmu, seseorang dapat mengenali bahaya, menjaga dirinya, dan berhati-hati dalam menghadapi berbagai fitnah. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki ilmu akan lebih mudah terombang-ambing dan mengikuti syubhat.
5. Mengamalkan ilmu dan menyampaikan kebaikan kepada umat
Hadis-hadis yang disampaikan dalam kajian hendaknya menjadi motivasi bagi kita untuk terus belajar, memperbaiki amal, dan berdakwah menyampaikan ilmu kepada masyarakat.
Jangan cukup hanya mengetahui berbagai bahaya, tetapi berusahalah menghindarinya dan mengajak orang lain agar turut waspada.
Penutup
Demikian beberapa hadis Rasulullah ﷺ yang menunjukkan besarnya kasih sayang dan perhatian beliau kepada umatnya.
Semoga pembahasan ini menjadi sebab bagi kita untuk semakin bersemangat menuntut ilmu, memperbaiki keimanan, menjaga amal agar tetap ikhlas, memelihara lisan, dan senantiasa berlindung kepada Allah dari berbagai fitnah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
SESI TANYA JAWAB
Pertanyaan 1: Benarkah Syaikh Al-Albani Melemahkan Hadis-Hadis dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim?
Pertanyaan
Bagaimana menyikapi tuduhan sebagian orang bahwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah melemahkan hadis-hadis dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim?
Jawaban
Pemateri menjelaskan bahwa tuduhan tersebut perlu diperinci dan tidak boleh diterima begitu saja.
Tidak benar apabila dikatakan bahwa Syaikh Al-Albani melemahkan keseluruhan kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Memang terdapat sejumlah hadis tertentu yang beliau kritik dan teliti dari sisi sanad maupun kualitas periwayatannya. Namun, hal tersebut tidak berarti beliau melemahkan kedua kitab tersebut secara keseluruhan.
Dalam sejarah keilmuan hadis, kritik terhadap sebagian riwayat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bukanlah sesuatu yang baru dilakukan oleh Syaikh Al-Albani. Para ulama sebelum beliau juga telah melakukan penelitian dan pembahasan terhadap sejumlah hadis tertentu.
Apakah Syaikh Al-Albani satu-satunya ulama yang mengkritik sebagian hadis dalam Shahih Al-Bukhari?
Tidak. Pemateri menjelaskan bahwa para ulama sebelum Syaikh Al-Albani telah membahas dan mengkritik sejumlah riwayat dalam kitab-kitab hadis, termasuk riwayat yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Dalam sesi ini, pemateri menyebut Muhammad Zahid Al-Kautsari dan Abdul Fattah Abu Ghuddah sebagai tokoh yang juga memiliki pembahasan kritis terhadap sejumlah riwayat hadis.
Karena itu, tidak tepat menjadikan kritik ilmiah terhadap satu atau beberapa hadis sebagai alasan untuk menyimpulkan bahwa seseorang telah melemahkan keseluruhan Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Mengapa Syaikh Al-Albani mendapatkan banyak kritikan?
Menurut penjelasan pemateri, salah satu sebab kritik terhadap Syaikh Al-Albani adalah perbedaan akidah dan manhaj yang beliau pegang.
Pemateri menekankan bahwa penilaian terhadap seorang ulama seharusnya dilakukan secara objektif berdasarkan karya ilmiah, dalil, dan penjelasannya, bukan semata-mata berdasarkan kelompok atau kecenderungan pemikiran yang berbeda.
Bagaimana kontribusi Syaikh Al-Albani dalam ilmu hadis?
Pemateri menyoroti besarnya usaha Syaikh Al-Albani dalam penelitian, takhrij, dan penilaian hadis.
Beliau dikenal melalui karya-karya penelitian hadis, termasuk pembahasan hadis-hadis dalam kitab Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah.
Karya-karya tersebut memberikan sumbangan besar dalam memudahkan kaum muslimin mempelajari kualitas hadis dan mengetahui sumber periwayatannya.
Pemateri juga menyebut bahwa karya-karya beliau telah memberikan manfaat luas bagi umat Islam, meskipun terdapat pihak-pihak yang mengkritik dan tidak menyetujui sebagian pendapat beliau.
Pelajaran dari pembahasan ini
- Kritik ilmiah terhadap hadis harus dibedakan dari tuduhan yang bersifat umum.
- Tidak boleh menyimpulkan bahwa seseorang melemahkan seluruh Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim hanya karena mengkritik beberapa riwayat.
- Penilaian terhadap ulama harus didasarkan pada ilmu dan bukti.
- Perbedaan pendapat dalam penelitian hadis perlu dikembalikan kepada kaidah ilmu hadis.
- Seorang muslim hendaknya menghargai usaha para ulama dalam menjaga dan meneliti hadis Rasulullah ﷺ.
****
Poster Ringkasan

*****



